
Rasanya dunia milik berdua. Tidak melihat siapa yang ada di sekitar. Mata panda dan sembab Jingga akibat mabuk laut dan kelelahan hanya tertuju pada sesosok pemuda bertubuh tinggi dengan kaos santainya.
Jingga tak punya malu, mendekap erat dengan penuh kerinduan. Rasanya sangat nyaman, menyandarkan kepalanya pada dada biidang itu.
"Jingga kangen Bang. Jingga takut nggak bisa lihat Bang Adip lagi. Jingga nggak mau pisah dari Bang Adip lagi,"
"Iya tapi..," jawab Adip sangat bingung, antara melepaskan atau membiarkan dirinya hanyut dalam pelukan Jingga. Sungguh celana Adip jadi sangat sesak.
"Please biarin Jingga peluk kamu. 5 menit aja!" jawab Jingga ngotot.
Adip pun menyerah, meski malu akhirnya membiarkan Jingga memeluk dan balas membelai kepala Jingga dengan kedua tanganya. Membiarkan energi hangat dari mereka saling bertukar dan adiknya berdenyut- denyut sesukanya.
***
“Kurang ajar,” gumam Baba.
Baba yang baru saja mengungkap cinta pada menantunya dengan Pak Dino, tiba- tiba di hadapkan pada pemandangan adegan mesra. Adip dipeluk seorang perempuan berhijab
Baba tersulut cemburu yang sangat parah, melebihi cemburunya Jingga.
Baba merasa tidak rela kalau orang yang diinginkan Putrinya diambil orang lain. Kali ini Baba akan bantu putrinya untuk memiliki Adip seorang diri, begitu pikir Baba saat itu.
Baba tidak tahu kalau perempuan berhijab itu putrinya sendiri. Baba sungguh tidak mengira Jingga susah berhijab..
Baba pun bangun membawa emosi tidak terima melihat adegan tak seharusnya itu.
“Ehm!" Dehem Baba keras. Sehingga membuat Adip kaget dan malu lalu melepaskan tanganya.
__ADS_1
"Ada apa ini?” tanya Baba mendekat. "Siapa kamu?" tanya Baba.
"Sayang lepas," bisik Adip mau tidak mau mengurai tangan Jingga dan memutus suana hangat yang sedang berjalan dan bertukar di antara mereka. Jingga sendiri kaget dan kesal mendengarnya.
“Baba,..” pekik Jingga kaget, melihat Babanya dan melepaskan pelukanya.
“Jingga,” pekik Baba melongo jauh lebih kaget dari siapapun bahkan reflek kakinya mundur satu langkah.
“Hoh!”
Jingga langsung kembali merapatkan badanya mengambil tanga Adip dan memeluknya posesif dengan tatapan kesal, dendam dan benci ke Babanya.
Adip jadi bingung dan kikuk sendiri kenapa Jingga malah peluk dia lagi. Adip kan tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Jingga ada di situ dan Baba mencarinya.
“Ehm... Jingga, ini Baba!" tutur Baba mendelik cemburu melihat tangan Jingga sangat erat memegang Adip.
"Baba senang kamu selamat Nak. Baba juga senang kamu pakai hijab. Alhamdulillah. Kamu tidak ingin memeluk Baba juga?” ucap Baba lagi merasa malu sudah membentak, dan tambah cemburunya sekaligus tersinggung melihat ekspresi Jingga.
Jingga kan tahunya Babanya berhianat dan memaksa menikah dengan Rendi. Jingga tahunya Babanya benci Adip. Jingga jadi berfikir pas tadi Babanya membentak Babanya juga seedang memarahinya.
“Jingga benci, sama Baba!” celetuk Jingga mengeratkan peganganya pada tangan Adip.
“Wuah,” pekik Adip syok mendengar ucapan istrinya.
Baba juga tambah tersinggung dan membulatkan matanya tengsin pada Adip.
Baba kan sedang jual mahal ke Adip mempertahankan Jingga, dan menunjukan ke Adip kalau Jingga anak berharganga dan hanya mantu qualified yang harus seijinya untuk mendapatkan Jingga. Kenapa keadaab berbalik dirinya diacuhkan Jingga.
__ADS_1
“Ehhm...” Baba berdehem malu dan mau menjawab Jingga juga, tapi sudah dipotong Jingga.
“Baba ngapain di sini? Baba ngapain susul Jingga! Jangan sakiti Bang Adip! Ini Bang Adipku. Baba pergi aja sana!” tutur Jingga lagi melawan Babanya.
“Jingga kamu ngomong apa sih? Dia Babamu lho,” bisik Adip ke Jingga merasa tidak enak dikira Adip ngajari Jingga tidak sopan. Tangan Adip juga berat dan risih juga dipegang terlalu kuat.
“Jingga, aku ini, Babamu, kenapa kamu berkata begitu? Baba tidak melakukan apapun! Apalagi menyakiti temanmu ini!” jawab Baba tersinggung.
“Terus ngapain Baba di sini?”
“Baba yang tanya ke kamu? Kenapa kamu pergi tanpa ijin Baba dan Buna terus apa ini, siapa yang ajarin kamu centil centil begini? Kamu lebih milih dia dari Baba?” tanya Baba memperhatikan tangan putrinya yang posesif memeluk Adip.
Baba sangat dipermalukan Jingga di depan Adip.
“Ehm..., lepas dulu, Sayang,” bisik Adip ke Jingga mengalah, semakin menunjukan ke Baba. Yang ngebet nikah itu anak Baba bukan Adip.
“Jingga nggak centil, ini kan suami Jingga, Jingga benci Baba. Sana Baba sama Pak Rendi aja!” jawab Jingga dengan tampang bawel dan mulut cemberutnya lagi semakin menyudutkan Baba.
Baba benar-benar kalah telak.
“Mana bukti dia suamimu, Baba tidak pernah merasa menikahkan kamu, ijab qobul kalian itu belum sah, lepas!” tutur Baba sekarang kaya anak kecil mau melepaskan tangan Jingga.
“Nggak mau!” jawab Jingga dengan wajah kesalnya malah semakin kencang memegang Adip.
“Kamu jangan bikin malu, Baba! Kalian belum sah nikahnya!”
“Ya udah, kalau Baba masih ragu sama pernikahan kami, nikahin kami sekarang! Sahkan sekarang!” tutur Jingga ngotot.
__ADS_1
“Haishh...,” desis Adip mengernyit, Adip tidak menyangka ayah dan anaknya ini sama- sama memalukan.