
Malam pun tiba, malam itu bintang bertaburan menghiasi langit yang hitam menjadi cerah. Rembulan pun tampak percaya diri menampakan keanggunaya sebagai penguasa malam.
Jingga, Yuri, Nita, Siska dan Prilly sudah bersiap menuju ke masjid setempat. Bersyukut sekali di desa hilir justru muslim jadi mayoritas, buat Jingga dan kawan- kawan akan mudah beradaptasi. Tapi Untuk Prilly dan Siska yang Non Muslim biasa saja. Mereka pun hanya ikut saja ke teman- temanya.
Mereka pun melakukan jamaah magrib di sebuah masjid. Sebenarnya kalau dilihat bentuk dan ukuranya, untuk Jingga itu bukan masjid. Lebih tepatnya mungkin surau atau mushola. Sebab dengan tempat sholat di rumah makan atau kafe milik Jingga masih lebih luas tempat sholat di kafe Babanya Jingga.
Bangunanya pun terbuat dari kayu, dinding kayu,lantai kayu atapnya seng.
Di luar dugaan Adip Jingga dan yang lain, meski kecil jamaahnya penuh. Untuk di bilik laki- laki Adip sampai harus sholat bersama anak- di serambi. Di dalam muat 6 shaf yang berjumlah sekitar 30 orang.
Sementara di bilik perempuan hanya berkisar 15 orang. Masjid pun menjadi pusat berkumpulnya warga desa itu.
Saat sholat berlangsung mereka pun tercengang, karena bacaan sholatnya sangat fasih. Salah sebenarnya, tapi reflek muncul di hati
Selesai sholat Pak Ahmad, seorang imam dan pemuka agama di situ yang sudah berkoordinasi dengan Tuan Abraham mengkode jamaahnya untuk jangan pulang dulu.
Pak Abraham adalah kepala desa yang merupakan penduduk Asli desa T. Sementara kake buyut Pak Ahmad, dan beberapa keluarga lain seorang pendatang.
Kakek Buyut Pak Ahmad dulu seorang tentara. Pak Ahmad juga iya. Bu Siti juga merupakan seorang guru PNS.
Selain untuk bertugas mengabdi pada negara, mereka juga berdakwah di desa itu.Tidak memaksakan, karena mereka berdakwah dengan suri tauladan. Beberapa orang ikut menjadi muslim, tapi masih banyam juga yang tetap sesuai ajaran asli daerah situ.
Keluarga Pak Ahmad pun mengenalkan agamanya dengan pelan- pelan. Sesuai dengan bahasa dan pemahaman orang sekitar, itu sebabnya Pak Ahmad lebih dihormati ketimbanh Pak Abraham. Meski begitu, Pak Ahmad tidak sombong, dia selalu merendah dan melibatkan apapun dan menyerahkan keputusan ke Pak Abraham.
Warga pun berkumpul membentuk setengah lingkaran. Pak Ahmad kemudian mempersilahkan Adip dan kawan- kawanya duduk ke depan. Siska dan Prilly mesko bukan muslim pun diperbolehkan masuk.
Pak Ahmad pun memberikan pengertian ke jamaahnya, bahwa di desa mereka akan kedatangan warga baru. 5 orang perempuan yang akan mengisi kekosongan guru, mengenalkan berbagai profesi dan semangat belajar anak- anak. Mereka juga akan melakukan pendampingan mengajari ibu- ibu setempat berbagai keterampilan
"Silahkan perkenalkan diri kalian, Nona!" tutur Pak Ahmad sopan
__ADS_1
Dimulai dari Nita, semua peserta ruang Inspirasi memperkenalkan diri. Setelah selesai anak- anak perempuan memperkenalkan diri kini giliran Adip..
"Perkenalkan nama saya Adipati Wirajaya, saya biasa dipanggil Adip. Di sini saja akan menemani Bapak- bapak semua untuk memberdayakan hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bahan mata pencaharian." ucap Adip memberitahu.
Adip juga menjelaskan sedikit agendanya. Dimulai dari mengumpulkan warga agar dijelaskan langkah- langkahnya. Setelah iti Adip akan ke kota untuk mendapatkan bibit dan fasilitas lainya bekerjasama dengan dinas terkait.
Para warga pun antusias setelah mendengarkan perkenalan mereka. Setelah acara perkenalan selesai, para warga pun mengeluarkan sajian makanan.
Mata para peserta ruang isnpirasi langsung berbinar. Mereka memang kelaparan karena masih bingung bagaimana harus memasaknya, dan ini benar- benar berkat.
Ternyata setelah jamaah Pak Ahmad memang membiaaakan kajian dan tadarusan. Malam itu pun untuk pertama kalinya Jingga mengikuti acara tadarus bersama orang banyak.
Tadarus dilakukan secara serentak dan bergilir. Jadi dalam satu malam itu harus khatam satu Alqur'an tapi dibagi sejumlah warha yang ada. Pak Ahmad memberlakukan itu agar Pak Ahmad mendorong warhanya mau belajar membaca Al Quran.
Karena Adip pendatang dan dituakan. Ujian pertama yang diberikan Pak Ahmad Adip disuruh baca giliran pertama. Lebih tepatnga membaca surah Al Baqoroh sampai satu nisfu jus.
Tidak pernah diterka oleg Jingga. Adip membacanya dengan suara lantang dan indah. Setiap makhroj yang dia lafalkan menggetarkan hati Jingga dan semua yang mendengarnya. Bahkan warga sekitar ikut terdiam menyimak.
"Dia penampilanya seperti urakan, kenapa dia sangat lancar sih?" batin Jingga dalam hatinya mencuri pandang laki- laki yang sudah membuatnya sakit hati itu.
Karena kecil, dan masih ala kadarnya antar bilik itu belum tersekat sempurna seperti seharusnya, hanya papan setinggi lutut yang memisahkan bilik laki- laki dan perempuan, sehingga mereka masih bisa melihat lawan jenisnya.
Sementara Yuri dan yang lain mengagumi Adip dengan jujur dan tanpa sembunyi.
Adip menyudahi jatahnya, menghela nafas istirahat tanpa sengaja menengadahkan mukanya membuang pandanganya ke Jingga. Jingga yang sedang curi- curi pandang pun seperti mendapatkan sengatan listrik. Jingga langsung menunduk dan membuang pandanganya.
Bacaan selanjunta dilanjutkan ke giliran warga desa. Jingga bersyukur, semua ayat dibabat habis oleh warga desa laki-laki. Jadi Jingga dan kawan putrinya tak diberi kesempatan
Setelah acara mengaji selesai warga pun bubar. Anak- anak kecil langsung menempel pada Adip. Entah magnet apa yang Adip punya sehingga mereka langsung akrab.
__ADS_1
"Ish... kenapa dia selalu terlihat ramah pada semua orang?" batin Jingga tanpa sengaja melihat itu semua.
Saat Jingga turun, dari atas ke bawah sementara Adip sudah berjalan di tanah lapanh di bawah rembulan bersama anak- anak Pak Ahmad keluar mengejar Adip.
"Nak Adip. Nak Adip!" Jingga dan Yuri yang tidak dipanggil tapi mendengar kemduian berhenti menoleh..
Adip yang dengar ikut menoleh.
"Ya Pak, Ada yang bisa saya bantu?"
Pak Ahmad kemudian turun dengan tergesa melewati Jingga dan menghampiri Adip.
"Apa Nak Adip sebelumnya pernah menimba ilmu di pesantren?" tanya Pak Ahmad.
Adip mendengarnya hanya tertawa.
"Tidak Pak!" jawab Adip.
"Tapi makhroj Nak Adip sangat bagus!"
"Saya hanya anak yang hobby main Pak!" jawab Adip, belum benar masih harus banyak belajar.
"Bukan begitu. Saya lihat Nak Adip akran dan suka anak- anak. Lusa saya dan istri ada kepentingan dinas ke kota. Apa saya bisa minta bantuanya?" tutur Pak Ahmad.
"Bantuan apa?"
"Tolong imami dan ajari anak- anak!" ucap Pak Ahmad. Jingga yang dibekang mereka tanpa sengaja ikut mendengar karena jalan mereka lambat.
Adip melirik Jingga yang berjalan menjauh.
__ADS_1
"Insya Alloh Pak!"