Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
220. Masih Sempat


__ADS_3

Pertanyaan Baba cukup menyentak perasaan Emak, Om Dika dan Dokter Dinda.


Om Dika dan Dokter Dinda menjadi merasa kecolongan, seharusnya keluarga pihak Letnan Indra diberitahu kabar sepenting itu.


Emak jadi semakin terlihat seperti terdakwa. Adip lahir dari perkawinan sah, dua orang yang secara ekonomi dan kedudukan mapan, jelas.


Seharusnya mengenai Adip, Uwak selayaknya Uwak yang mempunyai itikad baik, ada anak, pantasnya melibatkan keluarga besanya apalagi masih ada Yang Utinya.


Apalagi, satu hal yang jelas diketahui oleh Eyang Utinya Adip. Tuan Indra meninggalkan warisan, aset tanah, mobil, uang tunjangan kematian belum lagi tabungan semasa hidupnya.


Semua orang tahu, meski bekerja bertaruh nyawa, di tempat rusuh, dimana warganya tak mengenal agama, saling membunuh, beringas, tapi gaji Ayah Adip besar. Tunjangan yang diberikan doble lebih banyak dibanding tempat lain. Terlebih lagi Ayah Adip sebagai pimpinan. Sudah ditebak tabungan Bu Maharani banyak.


Di rumah orang tua Adip saja dulu, semua dilayani bawahan. Ayah Adip juga punya ajudan tim khusus yang semua handal.


Seharusnya saat Ibu Adip meninggal bukan hal sulit untuk Uwak menelpon keluarga Letnan Indra. Penderita ODHA (Oranga dengan HIV/Aids) juga tidak menutup diri dari keluarga. Apalagi setahu Om Dika, Ibu Maharani juga mempunyai keluarga yang beradab.


"Iya.. Mak. Kok ada orang kaya Uwak jahat banget. Ibu mertuaku kasian, meski sakit kan tak seharusnya begitu. Suamiku juga kan kasian jadi nggak kenal keluarga Ayah mertua, ngesellin!" ceplos Jingga dengan ekspresi jujurnya.


Belum bertemu dengan Uwak, hanya mendengar ceritanya saja kebencian Jingga ke Uwak Adip sudah bercokol kuat.


Berbeda dengan Adip. Wajah Adip masih kondusif dan relatif tenang. Jika membicarakan tentang keaadaan ibunya dan Ayahnya, Adip memang terkoyak.


Angan dan bayangan Adip seakan terbang kembali ke masa lampau. Masuk ke dunia yang seakan dia melihat ibu dan adiknya menyedihkan.


Tapi jika mengenai Emak. Adip tak begitu berespon. Bukan Tak peduli atau tidak ingin tahu. Justru pertanyaan Baba dan Om Dika seperti pertanyaan rangkuman yang mewakili Adip.


Adip sudah bertahun- tahun lamanya, memendam ribuan tanya tentang Uwaknya dan orang tuanya. Kalau diketik dan dicetak. Mungkin akan berjilid- jilid. Apalagi ditambah semua ketahanan emosi yang Adip tahan menerima semua perlakuan buruk keluarga Uwaknya itu.


Sakit hatihya Adip bisa dibilang sudah kapalan sampai tak terasa sakit lagi. Bertanya tapi tak ada jawabnya.


Emak hanya selalu bilang, Adip harus hormat ke Uwak karena Uwak yang dulu kasih tempat untuk keluarganya.


Adip tak puas dengan jawaban Emak, lari je Abah Anwar yang katanya dulu guru Ayahnya. Abah Anwar pun hanya bisa bilang, orang yang memaafkan akan lebih mulia.


Kata Abah, daripada sibuk memikirkan hal yang menyakitkan, merepotkan dan menimbulkan perpecahan, mending Adip fokus merajut asa. Belajar tekun, ibadah yang rajin.


Abah pun merentangkan tangan membuka dada dan rumahnya, sebagai tempat berlindung Adip. Adip jangan sedih karena Uwak, sebab Adip masih punya Abah dan keluarganya serta Bapak dan Emaknya.


Ya merekalah dua keluarga yang kemudian membersamai kehidupan Adip sampai lulus SMA. Setelah itu Adip merantau ke Ibukota.


Satu hal yang paling utama yang Adip pegang. Terserah orang mau jahat ke Adip, yang penting Adip tak menjadi seperti mereka. Adip tetap baik.


"Iya, maaf Mak. Sejak Mas Indra ditugaskan ke kota B. Dulu masih baru lulus Perwira muda, saya sering lho main ke asramanya Mas Indra. Bahkan sebelum Mas Indra nikah dengan Mbak Rani. Setiap tahap perkenalan mereka, mulai dari tunangan, sasrahan, nikahan unduh mantu, setahu saya Mbak Rani anak tunggal. Ini Uwak yang mana? Uwak dari siapa?" sambung Om Dika bertanya.


"Iya, Mak. Emak kan dekat sama Mbak Rani. Apa selama sakit Mbak Rani nggak pernah sebatas membahas atau mengingat Mas Indra dan keluarganya. Kan Adip masih kecil, mungkin ungkapan pasrah atau bagaimana gitu?" tanya Dokter Dinda menambahi.


Emak seperti diserbu pertanyaan yang menyudutkanya. Suaminya nggak di rumah lagi.


Emak menunduk dengan tangan saling mengait gemetaran.


Adip kemudian merangkul Emak lagi.


"Nggak apa- apa Mak. Adip ataupun Om Dika nggak akan marah. Kita semua sekarang keluarga. Ceritakan semuanya apa adanya seingat Emak. Adip sayang Emak dan Bapak sampai kapanpun!" ucap Adip mengelus bahu Emak.


Emak terdengar terisak pelan. Emak mengambil nafasnya sesaat lalu mengangkat wajahnya dengan tatapan kosong. Seakan jiawanya dia bawa le masa lampau.


"Saya hanya tukang setrika, Tuan, Nyonya," tutur Emak terbata.


"Saya tidak bisa menjawab pasti tentang silsilah keluarga Bu Odah apanya Bu Rani. Saya tidak punya kuasa untuk menghubungi Keluarga Pak Indra. Akan tetapi selama 4 tahun saya bekerja, Saya lihat Bu Rani pertama kali memang ya hanya saat pulang itu,"

__ADS_1


"Jadi si Uwak bukan saudaranya Abang?" celetuk Jingga ngegas dan emosi.


"Sayangg...,ssstt" lerai Adip menahan Jingga untuk tidak ngegas. "Lanjutkan Mak," tutur Adip.


"Ya memang Bu Rani cerita banyak. Hanya saja... saat Bu Rani lemah dan saya merawatnya, Bu Rani selalu tanya. Apa saya tidak takut dekat-dekat dengan beliau? Apa saya tidak jijik? Kenapa saya mau? Bu Rani sampai bilang begitu. Sebab...," tutur emak terhenti dan meneteskan air matanya lagi.


"Sebab apa Mak?" tanya Dokter Dinda.


"Sebab...kata Bu Rani, teman- teman Bu Rani tidak mau dekat- dekat Bu Rani dan Non Dira. Bahkan katanya Bu Rani dituduh berbuat tidak baik. Saya sakit hatinya, sakit banget Tuan, dengar curhatan Bu Rani... apalagi kalau lihat Non Dira dia masih bayi, tidak berdosa tapi dianggap membawa penyakit. Sudah ditinggal bapaknya lagi. Saya juga kasian sama Adip sampai dijauhi Ibunya. Bu Rani ingin Adip tetap sehat," tutur emak berderai air mata, tapi terlihat masih ingin cerita.


"Bu Rani bahkan bersumpah pada saya. Bu Rani tidak pernah berhubungan selain dengan Bapaknya Adip,"


"Bu Rani bersinggungan dengan orang yang sakit penyakit itu. Ya itu, saat Ibu hamil Non Dira, Ibu katanya kurang fit, Bu Rani hanya menjalankan tugasnya, saat menolong kurang alat atau bagaimana saya nggk paham? Ternyata pasienya itu orang nakal bawa penyakit, abis berkelahi atau kecelakaan saya nggak paham."


"Saya yang bodoh jadi membayangkan jadi Bu Rani, kasian sekali. Bu Rani nolong orang, Bu Rani malah kena sakit, masih difitnah, dijauhi orang- orang. Saya yang cuma denger ceritanya aja saya jadi benci sama pasien itu. Kenapa ada orang yang nakal sendiri, sudah sakit, tapi malah nulari yang nolong. Saya jadi berfikir jangan sampai Adip kerja kaya ibunya lagi,"


"Saya juga jadi benci sama keluarga Pak Indra. Kenapa tega tuduh Bu Rani. Maaf ya Tuan. Ini saya bicara jujur!" tutur Emak menggebu dan menyeka air matanya.


Semua yang mendengarkan ikut tegang. Adip juga hanya menunduk tidak bisa berespon. Jingga tetap selalu yang paling ekspresif meneteskan air mata lagi.


"Saya bisa ngerti Bu!" jawab Om Dika dengan suara berat dan penuh penyesalan.


"Emak tahu siapa yang buat keluarga Mas Indra salah paham dengan Bu Rani?" celetuk Dokter Dinda tak kalah menggebu dan menahan emosi juga.


"Ya tidak to Nyonya. Kan saya cuma dicurhati Bu Rani,"


"Si Odah, odah itu, hughs!" sergah Dokter Dinda cepat, dengan mulut mencucu dan airmatanya tumpah.


"Bu Odah?" pekik Emak kaget.


Dokter Dinda tampak mengelap air matanya. Kemudian mengangkat wajahnya bercerita lagi.


"Astaghfirulloh Bu Odah," gumam Emak lemas dan tatapanya kosong. Keji sekali Bu Odah.


"Maafkan saya, saya tidak tahu permasalahanya. Saya hanya tahu, dan saya sering dengar, Bu Odah sering bilang ke Bu Rani...agar Bu Rani percaya, hanya Bu Odah yang mau menerima Bu Rani. Bu Rani juga selalu tekankan itu ke saya. Saya juga pernah melihat, satu waktu saat Bu Rani sakit, Bu Odah dan suaminya membawa beberapa berkas dan meminta Bu Rani tanda tangan. Saya nggak paham apa itu," lanjut Emak.


"Issshhh... jahat banget si Odah itu! Itu surat kuasa pasti. Itu harta Ibu mertua!" celetuk Jingga emosi menggebu dengan mata nanarnya.


Baba terdiam terpaku tanpa ekspresi tapi terlihat rahangnya mengeras.


Sementara Buna terlihat mengulur tanganya menyeberangi bahu Jingga menepuk lembut bahu Adip yang menunduk.


"Maafkan kami. Sebab, Bu Rani juga hanya berpesan, saya disuruh patuh saja sama Bu Odah. Semua sudah diurus sama Bu Odah. Jadi saya hanya melakukan tugas saya. Rawat Bu Rani... hanya saja,"


"Apa?"


"2 bulan setelah perginya ibu, Bu Odah malah bawa Adip ke panti asuhan," lanjut Emak lagi.


"Bang Adip dibawa ke panti asuhan?" tanya Jingga lagi tanganya mengepal dan giginya mengeras. Padahal Adip malah biasa aja.


"Iya, kata Bu Odah.. takut Adip kebawa sakit ibunya. Bu Odah juga kan anaknya repot, Bu Odah nggak sanggup katanya rawat Adip,"


"Gilaa emang ya..," Jingga benar-benar emosi.


"Bu Odah bilang kalau sudah SD Adip mau diambil lagi. Tapi saya tidak tega, saya kan juga nggak punya anak... jadi saya ambil aja Adip. Saya ijin ke Ibu Odah. Tapi saya diancam nggak boleh kasih tahu keluarga Adip. Kebetulan saya juga nggak punya dan nggak tahu ya saya anggap Adip anak saya. Saya nggak hubungi siapa- siapa."


"Iiihhh dasaaarr. Nenek gendengg si Odah itu. Ayo Bang kita temui dia. Jingga pengen pukul- pukul itu orang! Jingga uleg itu mulut orang. Kek apa sih orangnya?" celetuk Jingga lagi.


Adip ternyata menunduk menahan tangis. Istrinya malah bawel dengan eskpresi manyun yang sangat disukai Adip. Adip jadi berkurang sedihnya berubah gemes melihat tingkah istrinya.

__ADS_1


"Jingaaa...,"pekik Buna ikut mengingatkan.


"Selama satu tahun pertama saya mengasuh Adip. Saya memang selalu dikasih jatah uang sama Bu Boss tiap bulan. Tahun ke dua mulai sering bolong- bolong 2 bulan sekali, tahun berikutnya 3 bulan sekali. Sampai pada saat Adip mau sekolah saya pamit mau sekolahin Adip, saya dikasih uang 1 juta, tapi saya dimarahin. Dan ya sudah saya udah nggak minta lagi," lanjut Emak lagi.


"Astagahhh...," pekik Jingga lagi.


"Lah emang dikasih jatah berapa untuk rawat Abang Mak?" tanya dokter Dinda.


"Alhamdulillah, sebulan 500 ribu Nyonya?


"500 ribu?" pekik Jingga, mengigit bibirnya melirik suaminya. 500 ribu itu mah harga satu sendal Jingga.


"Iya... Adip kan jadi anak saya, makan Adip dan tempat tinggal tanggungan saya. Saya sangat bersyukur dengan uang itu, bisa membantu saya beli susu Adip dan lauk untuk Adip. Jadi Adip bisa tumbuh dengan baik," jawab Emak masih meraaa bersyukur.


Tapi Om Dika dan Baba langsung tersenyum kecut mendengar angka itu.


"Tapi setelah SD SMP dan SMA apa diurusi, Mak?" tanya Baba.


"Kalau uang rutin hanya sampai kelas 3 SD. Pak. Saya malu saya dikatain, kalau nggak sanggup biayain Adip ya sudah balikin Adip ke panti jangan sok-sokan adopsi kalau nggak mampu kasih makan. Jadi sejak saat itu saya nggak pamit-pamit lagi. Padahal kan saya hanya ikut pesan Bu Rani, bukan saya nggak bisa urus Adip , katanya semua tentang masa depan Adip dititpkan ke Bu Odah,"


"Sebagai orang tua Adip. Saya hanya minta Adip tetap silaturrahim ke sana. Selebihnya Bu Odah suka kasih angpao Adip 200 ribu, tapi Adip disuruh bantu cuci piring dan baju. Adip memang dari kecil sudah saya ajak kerja Pak. Sebab bapak kan juga kerja," jawab Emak lagi.


Jingga yang mendengar penuturan tentang Adip kecil langsung mewek lagi, menatap suaminya dengan penuh cinta dan mengait tangan Adip kencang. "Abaaangku...," lirih Jingga.


"Sialaan. Perampok ulung!" gerutu Om Dika mengeratkan rahangnya tiba- tiba, itu pertama kalinya Om Dika berkata kasar.


Emak jadi kaget.


"Santunan kematian Mas Indra, tabungan Mbak Rani. Uang pensiun Mas Indra, itu Milyaran Mak!" tutur Dokter Dinda.


"Milyararan?" pekik Emak kaget. Emak tidak bisa membayangkan uang sebanyak itu.


"Ya... Sekarang ketemu akarnya," tutur Baba.


"Odah sengaja adu domba. Kak Rani dan Yang Ti, biar dia bisa perdaya Kak Rani,"


"Astaghfirulloh, jadi Bu Odah sengaja misahin ibu, Adip, Non Dira dari keluarganya? Maafkan emak, Emak di sini jadi ikut- ikutan! Maafkan Emak Dip." tutur Emak merasa bersalah.


"Hhhh...," Adip terdengar menghela nafasnya kasar dan akhirnya buka suara.


"Sudahlah lupakan itu Mak. Semua sudah berlalu, yang penting kan sekarang. Tanpa semua ini, Adip tidak akan jadi seperti sekarang, Adip Sayang sama Emak, sudah ya," tutur Adip memeluk emaknya dan melepaskan tangan Jingga.


Adip terluka sangat dan tidak sanggup dengar lagi ceritanya.


"Ya sudah. Sekarang temui saja si odah itu. Ini termasuk tindakan penipuan dan kejahatan," tutur Baba.


"Ya," jawab Om Dika..


"Nggak usah Ba.. Om! Uwak sekarang kena struk.. kita tunggu sembuh saja," cegah Adip.


"Lhoh kok nggak usah? Nggak bisa gitu Bang. Meski sakit kan sama aja. Suami dan anaknya make harta Abang. Enak aja. Nggak Jingga mau temui si odah itu. Tangan Jingga gatel pengen remass tu mulutt biang kerok tukang fitnah!" celetuk Jingga tidak terima, dengan eksprsi dan gerakan tangan yang menurut Adip menggemaskan.


"Nggak boleh!" jawab Adip pelan.


"Kok nggak boleh?" pekik Jingga.


Adip melirik ke sekeliling dan lalu ke Jingga, mengerlingkan matanya.


"Kamu di rumah aja, temani Emak!" ucap Adip pelan, kemudian mendekat ke kuping Jingga berbisik, "Daripada remass mulut Uwak, remass punya Bang Adip aja,"

__ADS_1


"Hoh!" pekik Jingga kaget, malu dan langsung mendelik. Entah yang lain dengar atau tidak. Sempat- sempatnya Adip menggoda Jingga.


__ADS_2