Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
112. Langsung pucat


__ADS_3

"Bisa jalan kan Bu?" tanya Jingga ke Bu Maysa, pasien Jingga.


"Bisa Nona!" Jawab Bu Maysa.


Jingga memberikan injeksi antinyeri bertujuan agar pasien nya bertahan sampai ke puskesmas di kota kecamatan.


Setelah rundingan dengan Yuri, pamit dengan Nita dan yang lain, Jingga mantap merujuk Nyonya Maysa ke kota seorang diri. Hal itu dikarenakan perahu hanya bermuatan sedikit, lebih dari itu anak- anak harus menuntaskan programnya. 


Sebagai kenang- kenangan pernah ada di situ, mahasiswa menyusunkan berbagai media belajar untuk anak- anak. Seperti bangun- bangun ruang, alat hitung dan sebagainya. Karena di desa itu hal sesederhana itu juga tidak ada. 


Setelah bersiap- siap, Jingga pun mendampingi Bu Maysa dan suaminya pergi ke puskesmas. Mereka berjalan kaki dari poskeskes ke dermaga. Awalnya Bu Maysa berjalan sendiri, tapi kemudian digendong suaminya.


"Hati- hati Jingga!" ucap Prilly ikut mengantarkan Jingga.


"Iyah!" jawab Jingga mengangguk tersenyum.


"Kapan kembali?" tanya Yuri. 


"Insya Alloh nanti sore juga balik! Doain ya, cuaca bagus dan semua lancar!" ucap  Jingga berpamitan dan tersenyum ke Yuri.


“Iya... pasti kudo’ain Kak Jingga!” jawab Yuri. 


“Nih... titip belikan ini ya! Ini uangnya!” ucap Nita membelikan beberapa keperluan untuk anak- anak di sekolah. 


“Oke!” jawab Jingga mengangguk.


 


Sejak kejadian ada gempa dan angin badai, Nita, Jingga dan Siska jadi bekerja sama. Apalagi setelah Adip ataupun Aji sama- sama tidak ada di antara mereka. Tak ada alasan lagi untuk mereka bertengkar, ya walau perbedaan pemikiran dan sikap tetap selalu ada. 


Jingga pergi setali tiga uang, merujuk pasien diniati tulus. Ditambah Jingga belanja banyak barang kebutuhan sekolah ataupun makanan. Yang terakhir, Jingga berharap bisa ketemu Adip atau bertanya tentang kantor Adip, atau Jingga ingin tahu di desa mana Adip sekarang berada.


Jingga memang sedikit lebih agresif dan nekad, berbeda saat bersama Tama dulu, apalagi dengan Rendi. 


Di otak dan pemikiran Jingga tidak peduli Adip sudah punya pacar atau belum, siapa yang disukai Adip.  Jingga hanya ingin bertemu Adip lagi sebelum pulang. Jingga tidak mau pertanyaanya digantung tanpa jawaban, apa Adip tukang ojek itu?


Jingga juga ingin tahu kenapa Adip tidak mau jujur? Siapa Adip sebenarnya? Kenapa Adip kenal dengan Om Gery? Lebih dari itu, Jingga ingin terus berteman dengan Adip, bahkan berharap lebih dari itu jika bisa. 


“Mari, Nona!” sapa tukang perahu memberitahu Jingga agar Jingga segera naik perahu. 


“Baik Pak!” 


“Hati- hati Nona!” ucap Tukang perahu, membantu Jingga naik ke perahu. Jingga yang sekarang pun tak ragu menerima bantuan dari orang asing, tidak seperti dulu yang melihat orang asing seperti jijik. 


Jingga duduk di samping kiri Bu Maysa, sementara suami Bu Maysa di sisi kanan. Dan di perahu itu masih da 3 orang penumpang yang membawa hasil pertanian untuk dijual ke kota. 


“Bismillahirrohmanirraohim,” batin Jingga dalam hati saat tukang perahu menyalakan mesin. 


Meski masih ada rasa dheg- dhegan saat perahu mulai berjalan, tapi Jingga mulai merasa senang dan percaya diri. Bahkan Jingga duduk tegak dengan wajah cantikya memandang air dengan tatapan anggun.


Warga desa pun tak bosan menatap Jingga dengan penuh kekaguman. Meski kini kulit Jingga tidak seglowing saat pertama datang, tapi tetap saja, di situ Jingga paling putih dan bersih. 


“Kok rute sungainya beda? Bukanya masih lurus kesana? Ini ada cabang sungai lagi?” gumam Jingga kaget perahu melewati sungai berbeda, seingat Jingga kan masih lurus dan nanti bertemu sungai besar, tapi ini malah belok ke anakan sungai kecil.


Di pedalaman di tengah hutan itu, ternyata sungai seperti jalan raya. Sungai itu ada banyak cabangnya yang menghubungkan ke berbagai wilayah.


Sungai bukan hanya jalan air, tapi sungai juga sebagai wahana  transportasi mausia yang terpola dengan baik. Bahkan jika melewati sungai besar di tengah perjalanan mereka bisa berpapasan dengan banyak perahu dari desa lain, sama halnya seperti di kota banyak mobil berpapasan di jalan. 


“Memang beda Nona, kita ke hulu, jadi tidak melewati sungai besar, arusnya sangat deras, kita lewat sungai anakan, kita akan melewati banyak desa!” jawab Bu Maysa memberitahu. 


“Oh gitu?” jawab Jingga mengangguk saja, mencoba paham meski agak bingung. Kok bisa sungai ada cabang- cabangnya lalu membentuk jalan menghubungkan berbagai daerah? Siapa yang membuat sungai itu? Tapi sungainya tampak sangat alami, bahkan jika tidak sehabis hujan airnya sangat jernih. Jelas itu bukan buatan manusia.

__ADS_1


“Masya Alloh tabarakallah... ini smeua memang keajaiban Tuhan!” batin Jingga menyadari keunikan perbedaan di kota dan di hutan. 


Jika melewati sungai besar kanan kiri Jingga pohon- pohon besar, banyak juga burung- burung beterbangan. Jika sungai yang sekarang Jingga lewati, kanan kiri semak belukar rerumputan. Banyak juga terlihat rumah- rumah warga. 


“Apa aku melewati desanya Tari ya?” batin Jingga tersenyum teringat sahabatnya. 


“Bu... apa kita akan melewati desa P?” tanya Jingga berharap lewat desanya Tari.


“Ini kita masuk ke desa P, Nona!” jawab suami bu Maysa. 


“Oh ya?” tanya Jingga kegirangan. 


“Iya... sebentar lagi kita melewati dermaganya!” jawab Bu Maysa memberi tahu. 


“Benarkah? Apa kita berhenti di situ?” tanya Jingga mengira perahu seperti bus yang berhenti di terminal dan ngetem. 


“Tergantung pak Nahkoda, Nona!” jawab Bu Maysa. 


“Waah... semoga berhenti, Tari datanglah ke dermaga, aku merindukanmu!” batin Jingga tanganya ditangkupkan dan ditepuk- tepuk pelan sangat berharap bertemu Tari. 


Setelah beberapa menit, dari kejauhan Jingga mulai melihat perahu- perahu yang terikat di dekat sungai. 


“Itu dermaganya, wah kalau gitu aku bisa main ke Tari!” gumam Jingga tersenyum, ternyata desa Tari tidak terlalu jauh.


Perahu terus melaju, benar saja doa Jingga terkabul, dari arah berlawanan ada perahu dari kota yang baru sampai. Mata Jingga langsung berpatroli, mengawasi satu persatu wajah orang di perahu itu. 


“Jingga!” seru Tari lebih dulu menyapa dan melambaikan tangan. 


“Tari...!” balas Jingga kegirangan ikut melambaikan tangan kerinduan.


Mereka berdua sampai tidak sadar semua warga desa memperhatikan. Mereka berdua seperti anak SD yang bersua dengan kawan lama di jalan, saling melambaikan tangan, berteriak tanpa tahu malu. Sayangnya perahu Jingga tak berhenti.


“Ke Kota!” jawab Jingga masih teriak. 


“Hp, kenapa nomermu nggak aktif?” teriak Tari dari kejauhan karena perahu Jingga terus melaju jauh. Tari bertanya sambil menunjukan hpnya dan menunjuk- nunjuk hp itu. 


Karena sudah jauh Jingga tidak bisa menjawab lagi, Jingga hanya memberi tanda silang dan telinga, yang artinya tidak jelas.


Meski hanya berpapasan Jingga sangat bahagia. Tari terlihat gemukan dan juga cantik.


Jingga kemudian menunduk dan merenung bersedih, setelah jauh meninggalkan desa P dan masuk ke area semak belukar lagi.


“Iya, yah. Hp ku kan hilang, laptoku, kameraku?” batin Jingga memikirkan barang- barangnya. Tapi kemudian Jingga tersenyum, hari itu gara- gara itu, Adip memperhatikanya, meski marah- marah, Adip menyelamatkan Jingga.


Selama dua minggu ini, Jingga benar- benar hidup tanpa semua barang elektronik itu. Bahkan uang pun tak punya, Jingga makan berdasar pemberian teman- tema dan pasien, Jingga tak pernah berbelanja juga. 


Anehnya Jingga justru merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Banyak hal juga yang Jingga lakukan, bahkan Jingga tidak sadar kalau dia sudah dua minggu di pulau P.


“Ada wartel nggak ya?” batin Jingga berharap, “Aku ingin telepon Buna dan beeri kabar, aku di sini bahagia!” batin Jinga tersenyum. 


Jingga kembali mengangkat wajahnya menikmati angin semilir dan sejuknya udara pegunungan yang kaya oksigen dari pepohonan.


Setelah beberapa puluh menit, sayup- sayup, tower listrik mulai terlihat. Bangunan permanen dan bukan kayu juga terlihat.


Jingga mulai memasuki area kota, tapi bukan pusat kota seperti yang di datangi Adip dan Amer, melainkan kota kecamatan. Meski begit, dermaga yang kini Jingga berada, adalah dermaga yang ramai dan menjadi persimpangan perahu dari kota dan desa. 


Karena sudah berlalu agak lama, obat antinyeri Bu Maysa mulai hilang. Bu Maysa pun mulai nyeri lagi sehingga Jingga fokus membantu Bu Maysa tanpa melihat sekeliling.


Padahal di dermaga itu banyak perahu yang datang dan pergi, bahkan ada beberapa perahu besar dan lebih canggih. Sayang Jingga tak bisa memniarkan matanya berkelana, fokus ke Bu Maysa.


“Minum obat ini dulu Bu... biar sedikit mengurangi nyeri ibu!” ucap Jingga memberikan obat minum ke Bu Maysa. 

__ADS_1


“Terima kasih, Nona, saya butuh minum!” ucap Bu Maysa. 


Jingga pun menunduk mencari botol minuman di tas yang dia letakkan di bawah.


Saat Jingga mengambil minum, di belakang perahu Jingga lewatlah perahu yang lebih besar dari arah kota. 


“Ini dermaga apa Bang, namanya?” terdengar seorang pemuda bertanya pada kawanya.


“Ini dermaga saberit, ini masuk kecamatan DT, tempatku bekerja”  jawab kawan dari pemuda itu. 


Dheg 


Jingga yang memegang botol minuman sangat kenal dengan suara itu. 


“Amer?” batin Jingga langsung menoleh ke sumber suara


“Amer?” gumam Jingga lagi mengucek matanya. 


Terlihat perahu lain menjauhi perahunya, di atas perahu itu terlihat seorang pemuda mengarahkan kamera memotret pemandangan dan di sampingnya terlihat punggung seorang pemuda bertopi. Sayangnya keduanya tak menampakan wajah karena mereka berlawanan arah. 


"Itu seperti Amer dan Bang Adip? Aku ngimpi nggak sih?" gumam Jingg.


“Tidak aku pasti berhalusinasi, mana mungkin Amer di sini? Amer kan di luar negeri!” batin Jingga mengumpulkan kesadaran. 


“Nona!” panggil Bu Maysa menyadarkan Jingga. 


Jingga pun menoleh, tersenyum mengangguk dan membantu Bu Maysa meminum obat. 


Tidak lama perahu berhenti, mereka pun turun. Seperti sebelumnya, Bu Maysa digendong suaminya dan Jingga berjalan di belakangnya. Jingga menuju ke puskesmas yang dulu memasrahi Jingga untuk menjadi pengganti Bidan Desa. 


Jingga pun disambut dan diapresiasi baik, oleh dokter Markus, Pak Martin dan dokter Reza. 


“Ibu... bapak... Saya antar bapak sampai sini, ya! Di sini biar Bu Maysa dirawat oleh dokter dan perawat yang lebih baik!” tutur Jingga berpamitan setelah sampai ke ugd puskesmas. 


“Terima kasih, Nona dokter!” jawab Bu Maysa dan suaminya. 


“Ibu dan bapak nggak boleh takut, harus semangat, pasti sembuh, ya!” ucap Jingga lagi sambil menepuk bahu Bu Maysa penuh perhatian dan tanggung jawab.


“Ya Nona!” jawab Bu Maysa tersenyum.


Setelah berpamitan, Jingga ingin menemui dokter Reza. 


“Dokter Reza tadi ke warung mau makan siang katanya Dok!” jawab salah seorang perawat menujukan warung di depan puskesmas, terlihat dari penampilanya perawat itu juga pendatang. 


“Oh oke, terima kasih!” jawab Jingga. 


Jingga kemudian menuju ke warung makan itu, Jingga tersenyum senang saat melihat punggung Dokter Reza duduk bersebelahan dengan seseorang.


Jingga bahagia di kecamatan banyak bertemu orang- orang yang juga perantauan dan sebagai pekerja pemerintah. Pasti akan nyambung jika ditanya, lelaki yang bersebelahan dengan dokter Reza kalau dari punggungnya juga terlihat rapih bersih dan sehat. 


Jingga berniat akan bertanya- tanya tentang toko yang menjual keperluan yang Nita nitip beli. Jingga juga ingin menanyai kasus dan penanganan pasien yang ditemui. Yang paling penting info tentang Adip.


“Selamat siang, dokter Reza!” sapa Jingga sesampainya di warung makan. 


Meski Jingga hanya menyapa dokter Reza, tapi yang menoleh semua yang ada di situ, termasuk teman yang di samping dokter Reza. 


“Dheg!”


Jingga langsung memundurkan langkahnya melihat wajah orang yang di samping dokter Reza. Orang itu tersenyum senang melihat Jingga. Berbeda dengan Jingga yang langsung pucat. 


“Jingga!” panggil orang itu. 

__ADS_1


__ADS_2