Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
194. Mobil Sasrahan


__ADS_3

"Kamu bisa setir mobil?" tanya Baba saat Adip berpamitan.


"Bisa Ba... dia sopir handal!" jawab Jingga menyerobot.


Adip malah diam.


Buna dan Baba menoleh ke Jingga. Jingga berdiri percaya diri.


"Ehm..," Adip melirik istrinya kesal "Jangan sampai Jingga cerita, Adip itu dulu sopir angkut barang, mobil.keramat itu kan juga bukan mobil Adip, mobil bosnua yang sudah diabaikan tapi dirawat Adip!"


"Kok kamu tahu? Kalian kenal di pulau Panorama kan? Emang ada mobil di sana?" tanya Buna.


"Nggak siapa bilang? Jingga udah ketemu Bang Adip di sini. Buna ingat waktu Baba hukum Jingga karena Jingga telat pulanh dan nggak bisa dihubungi pas Buna sakit?" ucap Jingga bercerita.


"Hemm...," Adip menelan ludahnya menoleh ke bawah bersiap menahan malu.


"Iya!" jawab Buna mengangguk.


"Itu Jingga pergi bareng Bang Adip, Buna. Kita ke desa, makanua Baba nggak bisa lacak, Jingga. Hee!" ucap Jingga percaya diri menggandeng tangan Adip.


"Wuaah!" pekik Buna dan Baba lalu melotot ke Adip.


"Ehm...," Adip pun berdehem dan menyeringai bingung.


"Kok baru cerita?" pekik Baba dan Buna.


"Kalian berarti udah pacaran? Katamu pacarmu dulu itu si Tama?" tanya Buna ingat.


"Nggak, kita Nggak pacaran!" jawab Jingga langsung menolak pernyataan.


"Terus?"


"Kita parnetr. Tau nggak Bun. Bang Adip. Mobil rongsok aja bisa dia bawa , udah hampir ambruk, udah bunyi klotak klotak. Pokoknya Bang Adip ini...aaakh" ucap Jingga mau bercerita tapi terpotong dicubit Adip.


"Hisssh!" desis Jingga menoleh ke Adip dan mengusap bekas cubitanya.


"He... dulu Jingga ikut bantu saya jualan, Ba... Bun... Jingga baik sekali. Makanya saya mengenalnya dan jatuh cinta pada Jingga!" cegah Adip Jingga bocor sampai mengarang cerita


"Hoh!" pekik Jingga yang tadi mengaduh dan sekarang mulutnya maju. Ternyata Adip pandai berbohong.


"Oh... begitu? Kamu ngajakin Jingga jualan? Kok baru cerita? Jualan apa?" tanya Buna antusias.dan bahagia.


"Kita jual- jualin hasil tani dari kampung saudara mamak dan bapak saya. Kebetulan teman Jingga kan punya rumah makan..Begitu kan? Sayang?" tanya Adip dengan senyum dan tatapan penuh artinya.


"Haa... iya Buna!" jawab Jingga mengangguk ikut bohong.


"Ehm...," Adip berdehem lagi, ya kali Jingga mau jujur Adip malakin Jingga naik angkot seratus ribu diajakin muter- muter.


"Ya sudah. Bawa mobil Baba. Pilih yang kamu suka! Biar besok bisa untuk ajak Mamak Bapakmu!" tutur Baba ke Adip.


Baba kan orangnya sekali sayang akan sangat royal.

__ADS_1


Adip menelan ludahnya. Bisa heboh Mamak Bapak angkatnya kalau liat Adip bawa mobil.


"Ayo!" ajak Baba ke Adip menuju gudang garasi mobilnya.


Jingga menarik tangan suaminya agar ikut. Buna mengangguk tersenyum mempersilahkan Adip ikut.


"Thit!" Baba memencet remot pintu otomatis garasi besar Baba.


Pintu gerbang garasi terbuka.


"Gleg!" Adip menelan ludahnya tatkala masuk dan melihat yang ada di dalam.


Sorum mobil dengan garasi Baba lebih kerenan Garasi Baba. Lantainya mengkilap bersih. Berjejer Mobil Baba banyak dan bermacam-macam. Adip kemudian menoleh ke Jingga.


"Jangan nolak dan nggak usah jual mahal. Sayang mobil Baba nggak ada yang make!" ucap Jingga tahu kalau suaminya suka jaga gengsi dan msu nolak.


"Pilihlah mana yang kamu suka yang sekiranya muat untuk bawa sasrahan Jingga dan keluargamu!" ucap Baba menyuruh.


Adip masih tertegun bingung mau milih mobil apa? Semua bagus dan mahal. Adip merasa kurang pantas.


"Jangan GR dan berburuk sangka. Aku tidak mau putriku malu kalau besanya datang dengan mobil biasa dan tamuku menoleh dari jendela mengintip. Jadi pakailah mobil Baba. Pilih saja!" ucap Baba mengeluarkan sindiran sombongnya berniat memaksa Adip.


"Baba!" pekik Buna pelan mencubit suaminya, "Dijaga kalau ngomong,"


"Hemmm," jawab Baba merangkul Buna. Baba tak malu mencontohkan kemesraan di depan menantunya. Baba malah ingin saingan mesra ma menantu dan Anaknya yang masih amatiur.


Buna kan sekarang sudah lengket lagi sama Baba.


"Yang Alphard putih aja. Itu mobil kesayanganku!" bisik Jingga memilihkan dan menunjuk mobilnya


Mobil Alphard yang di dalamnya sudah dimodif Baba agar bisa untuk tidur dengan nyaman.


"Tempat Mamak Bapak Abang sempit, Sayang. Banyak gang dan jalan bebatuan. Ada jalan yang pinggirnya tebing sungai dan sempit. Sayang mobilmu kalau rusak dan kegores!" jawab Adip garuk- garuk kepala.


Orang tua angkat Adip kan tinggal di daerah dan desa. Susahlah bawa mobil Baba yang besar dan kiclong. Bisa pusing Adip kalau suruh benerin.


"Haduh... terus memang mobil yang biasa kamu bawa apa?" tanya Baba.


"Mobil tahun lama Ba!" jawab Adip mengingat mobil merahnya.


"Dibilang mobil rongsok Ba... kalau jalan semuanya bunyi! Kaya pada mau jatuh satu- satu, ngeri!" celetuk Jingga lagi tanpa rasa bersalah menghina suaminya.


"Haishhh!" desis Adip hanya bisa melirik Jingga kesal.


"Wwllek,"Jingga malah mengeluarkan lidahnya mengejek.


Jingga dendam banget kalau ingat Adip sampai sekarang belum bayar 100ribunya.


Udah gitu Adip sok- sokan mau biayai hidup Jingga. Entahlah Jingga sampai sekarang belum ketemu jawabanya kemana uang 100 ribu yang dulu.


"Apa kampung sekali rumah Bapakmu? Kata Dino tak terlalu kampung?" tutur Baba keceplosan, ternyata Baba juga sudah suruh orang meneliti latar belakang Adip.

__ADS_1


"Heh...Baba tau rumah Bapak Mamaknya Bang Adip?" tanya Buna dan Jingga. Adip ikut menoleh.


"Gleg!" Baba terdiam tersudut jadi ketahuan kalau Baba selama ini ternyata sudah selidiki Adip.


"Baba hanya berusaha memastikan, keputusan Baba tidak salah. Baba belum tahu. Anak buah Dino yang tahu!" jawab Baba.


Saat sampai di kota waktu masih di Pulau Panorama sebelum mereka tiba di ibukota. Anak buah Pak Dino langsung bekerja.


"Ehm... ehm..," Adip pun berdehem tersinggung. "Kalau gitu, Baba pilihkan saja. Mana mobil yang pantas saya bawa!" jawab Adip.


"Ya sudah bawa si hijauku! Atau itu yang pajero? Apa Fortunernya boleh. Terserah kamulah!" jawab Baba menunjuk mobil koleksi kesayanganya. Mobil jeep offroad besar dan gagah yang suka Baba pakai jika berkumpul dengan teman- teman bisnisnya.


Adip menelan ludahnya. Rasanya sangat tidak cocok, mamak Bapaknya naik mobil sebesar itu.


"Maaf,Ba. Itu masih terlalu besar! Bahaya kalau pas lewat tepi sungai. Malah bisa tercebur!" jawab Adip sopan.


"Haduuuh Diip Dip.Pusing Baba jadinya. Ya sudahlah terserah kamu mau bawa yang mana? Atau mau diantar sopir saja. Besok datang ke hotel bawa mobilmu yang Jingga maksud itu aja ya!" ucap Baba akhirnya nyerah.


"Baba....!No!" pekik Jingga kesal.


"Beneran boleh Ba?" jawab Adip malah senang dan meledek Jingga.


"Nggak! Aku nggak mau! Itu mobil rongsok! Dibolangin ih!" jawab Jingga menyerobot dan sangat sentimen.


"Emang kaya apa sih mobilnya?" tanya Buna jadi penasaran..


"Nah kan Buna penasaran. Mobilnya antik Bun. Itu mobil bersejarah. Besok Adip bawa mobil itu aja. Sekarang Adip naik taksi aja Ba!" ucap Adip lagi bahagia, ini baru Adip banget.


"Nggak!" cegah Jingga langsung manyun dan menggoyanhkan tangan Adip.


"Kenapa itu kan mobil sejarah untuk kita!" jawab Adip lagi.


"Nggak! Pokoknya bawa Alphardku atau bawa lambonya Baba. Atau itu BMW nya Baba. Atau bawa punya Oppa dan Amer.Apa punya Ikun!" ucap Jingga lagi mukanya murung.


"Bener aku bawa mobil kamu? Tapi kalau balik warnanya beda dan berubah ada lukisanya jangan marah ya! Kalau nanti jalanya nggak muat trus masul ke sungai, terus kita nggak jadi nikah. Jangan salahin Abang ya!" ledek Adip.


"Iiih jangan ngomong gitu!" keluh Jingga.


"Udah bawa.. bawa...!" ucap Baba menengahi dan ledek Jingga juga.


"Tapi Buna penasaran sama mobil Adip, Ba! Ngeri juga kalau maksain. Jadi calon penganten itu banyak godaanya!" ucap Buna malah jadi penasaran


"Nah kan? Adip setuju bawa mobil sewa Adip yang merah aja!" sahutAdip lagi.


"Bunaa! Nggak!" rengek Jingga lagi.


"Ck... kamu kan sukanya menghina. Wong masih bisa dipakai ya berarti masih layak. Nggak apa- apa kan tamunya di gedung. Nanti rombongan Adip langsung masuk parkir!" jawab Buna lagi.


Pikiran Buna, selera Jingga kan tinggi, rongsok versi Jingga mungkin masih bagus. Buna tidak tahu, rongsoknya benar- benar rongsok.


"Siap, Buna!" jawab Adip senang.

__ADS_1


"Bunaa. Bang ini serius? Nggak jangan!" rengek Jingga.


__ADS_2