
“Ini memalukan, kasian sekali, Neng Jingga,” gumam Emak berjalan cepat keluar rumah.
Emak seperti dukun, meski tak mendapat jawaban Adip dan melihat ke dalam, Emak tahu apa yang terjadi dan bertindak cepat.
Walau bukan Emak yang melahirkan Adip, tapi bertahun- tahun Emak yang merawat Adip. Mulai dari hal kecil, menceboki, memandikan, kasih makan bahkan saat Adip sunat juga Emak yang rawat. Sebab Bu Maharani meninggal kala Adip masih balita.
Emak tahu luar dalam anaknya itu.
Jadi kasih sayang Emak sudah tidak ada beda, ibu kandung atau bukan, yang pasti selain kasih sayang, Emak juga menghargai Adip dan berterima kasih kepada Tuhan. Sejak kecil Adip manis dan pintar.
Meski sesekali waktu nakalnya Adip suka menguras emosi Emak. Contohnya Adip membagikan rambutan hasil panen Emak pada teman- temanya. Adip dan temanya berpesta, padahal itu sudah dibayar oleh anak buah Uwak untuk disetor ke pasar buah.
Ada lagi, telur- telur ayam Emak, Adip ambil untuk mainan bersama teman- temanya, padahal harusnya dierami dan dijual. Ah banyak sekali memory masa kecil Adip di otak Emak.
Yang jelas, di mata Emak, Adip hadir sebagai pelipur laranya. Meski berasal dari orang tua kaya, mendadak miskin, Adip tetap tumbuh sehat. Makanan apa saja yang dibuatkan Emak, Adip selalu makan lahap, menyenangkan hati Emak, tidak rewel.
Sejak memutuskan keluar dari rumah Uwak, Bapak dan Emak tak punya apa- apa hanya jadi buruh Tani yang upahnya sedikit. Meski begitu Adip selalu happy, malah seringnya ikut Emak ke kebun.
Saat Emak bekerja, Adip disuruh duduk di pinggiran, Adip jadi hiburan untuk ibu- ibu tanpa merepotkan.
Yah, Adip anak Emak yang lucu, nakal dan pengertian sekarang sudah dewasa dan membanggakan.
Adip jadi suami, tentu saja Emak sangat bangga dan berusaha memberikan yang terbaik.
Apalagi istrinya sangat cantik. Emak mencoba semaksimal mungkin, membuat istri Adip betah di rumahnya, lalu akan membalas membahagiakan Adip juga.
Tindakan mengintervensi Jingga, apalagi menjulidi Jingga, sama sekali tak ada di fikiran Emak. Emak bukan tipe mertua yang jahat ke menantunya.
Emak malah takut menantunya tak menyukainya dan bikin sedih Adip. Emak sangat bangga dan bahagia, Jingga bersedia jadi istri Adip dan menginap di rumahnya setelah tahu siapa Jingga.
Tanpa menunggu Bapak, Emak pergi ke rumah tetangga, lumayan jauh turuh ke perkampungan yang lebih rendah dari tempat Emak. Emak ke tukang kayu.
Perempuan di desa kususnya gunung memang cenderung setrong, tidak terlalu mengandalkan suami. Emak tidak menunggu bapak pulang, minta tukang kayu menyediakan kayu terbaik untuk mengganti penyangga dipan Adip.
“Ukuranya berapa Bu Asih?” tanya tetangga Emak.
“Ukuran kasur, yang dulu buatnya di sini juga,” jawab Emak.
“Oh yaya... rusak apa gimana?”
“Nggak tahu, sering kosong jadi kayunya dimakan bubuk,” jawab Emak menutupi apa yang terjadi.
Lalu tukang kayu memilah- milah kayu yang sudah dipotong dan dihaluskan.
“Berapa potong?”
“Dua aja,”
Tukang kayu pun memberikan dua potongan kayu itu. Emak membawa sendiri meski perempuan.
****
Di kamar.
Setelah mendengar langkah Emak menjauh pergi, Adip dan Jingga buru- buru bangun. Mereka masih sama- sama tanpa sehelai benang.
“Ihhh... kesseell,” gerutu Jinggi wajahnya langsung manyun memegangi pinggang belakangnya yang sakit. Malunya Jingga sudah pergi entah kemana.
“Maaf,” jawab Adip terkekeh.
“Katanya aman?” keluh Jingga lagi ingin menyalahkan. Jingga berusaha memunguti pakaianya.
“Ya... maaf, nanti Bang Adip betulkan,” jawab Adip lagi, bukanya ganti malah duduk merebahkan diri di sisi kasur yang masih kuat dan masih memandangi Jingga bak bayi baru lahir itu.
“Sakit tahu!” keluh Jingga.
“Yaya... mana yang sakit, sini Abang pijitin!” jawab Adip lagi masih tetap selow dan tidak ada sedih- sedihnya sama sekali. Iyalah Adip happy, hajatnya sudah terpenuhi.
Adip kemudian bangun mendekat ke Jingga berniat menghibur dan mengurangi sakit istrinya dengan memeluk dari belakang.
“Jangan peluk- peluk, ih!” pekik Jingga menangkis tangan Adip. Orang mau mengenakan pakaian, malah dipeluk- peluk.
“Isshh...galak banget sama suami!” keluh Adip.
“Pakai bajunya lagi Bang. Nggak malu apa.. dingin juga!” cibir Jingga melihat si dia berubah jadi imut.
Adip benar- benar nakal dan tidak tahu malu kalau sama Jingga.
“Yaya.. ya kali Istri Abang mau menghangatkan lagi,” goda Adip.
“Hangat! Hangat! Nih pakai bajunya, dibenerin tuh!” ucap Jingga manyun- manyun dan menyerahkan pakaian Adip.
Adip menerimanya dan segera mengenakanya. Jingga juga.
Jingga memulai dari kain segitiganya. Sebelum memakainya,Jingga tiba- tiba merasa sesuatu, saat dia berdiri seperti ada santan kental yang keluar.
__ADS_1
Jingga mendadak dheg- dhegan, tanganya pun terulur menyentuh, dengan ujung jarinya diambil dan Jingga memeriksanya.
“Gleg,” Jingga terhenti menelan ludahnya memandanngi ujung jarinya, lalu ujung jari telunjuk dan ibu jarinya digerakan untuk memeriksa bahkan diciumnya. “Woek...,” Jingga menjauhkan jemarinya, baunya aneh.
Ingatan Jingga terfokus pada pelajar biologinya. “Astaghfirulloh, apa ini ini speermatozoaanya Bang Adip?” pekik Jingga lalu menyeringai menatap Adip.
“Kenapa?” pekik Adip tersinggung.
Adip sudah selesai mengenakan busana lagi, Jingga yang menyuruh malah masih tooples, dengan dua bulatan di dadanya juga masih menantang.
“Abaang...gimana ini?” keluh Jingga malah langsung panik setelah menyadari semuanya.
“Gimana apanya?” tanya Adip.
“Aaah tidaak!” Jingga malah menutup mukanya dan meringkuk serta menghentakan kakinya.
Adip semakin heran.
“Kenapas sih? Kamu nyesel begituan sama suami sendiri? Gimana apa? Tadi keeenakan juga!” tanya Adip tersinggung.
“Bukan itu!” jawab Jingga kesal.
“Apa?” tanya Adip.
“Abaang, kenapa dikeluarin di dalam? Kalau hamil gimana? Buna.. Oma.. maafin Jingga?” rengek Jingga heboh sendiri.
Adip sekarang paham, Adip pun jadi diam merasa tertuduh.
Iya juga, Jingga kan masih kuliah, Adip juga masih punya tanggung jawab, kenapa tidak kepikiran.
Jika Jingga sebagai perempuan langsung overthingking dan keluar sifat manjanya merengek. Adip tenang berfikir dan tetap stay positif thingking.
”Ya udah sih, kalau kamu hamil ya udah hamil aja, punya suami ini,” ucap Adip menenangkan Jingga.
“Enak banget bilang ya udah hamil aja. Jingga masih kuliah Bang. Jingga nggak mau hamil barengan sama Buna terus ditinggal Abang!” rengek Jingga lagi berfikirnya sudah jauh sekali, ya perempuan kan memang suka overthingking, nggak semua sih beberapa saja.
“Ya terus gimana? Udah terlanjur masuk juga. Kan nggak tahu di dalam itu gimana? Abang nggak bisa narik lagi. Mau? Disedot lagi!” jawab Adip malah meledek Jingga.
“Enak aja!” jawab Jingga manyun, emang apaan?
“Ya udah! Udah latian percaya aja sama Alloh, udah, takdir dari Alloh yang terbaik!” ucap Adip santai.
“Pokoknya kalau aku hamil, Jingga nggak mau LDR! Titik!”
“Yayaya... baru juga nikah sehari, jalani aja!” jawab Adip lagi dengan entengnya.
Saat belum kenal saja bagi Adip menyenangkan apalagi sekarang. Tanpa pakaian lagi. Adip gatal ingin menggoda Jingga. Tanganya pun terulur menooel ujung bulatan di dada Jingga.
“Plak! Ihh apaan sih!” jawab Jingga memukul tangan Adip.
Adip malah ketawa.
Jingga manyun dan memicingkan matanya kesal.
“Ketawa lagi, udah dibilangin gelii!” bentak Jingga
“Enggak tadi nggak gitu,” gurau Adip nakal.
“Kan tadi, sekarang nggak! Kessel!” ambek Jingga lagi.
“Ya abis.. nggak ditutup, kek sengaja mancing Abang... mau lagi?”
“Nggak!” jawab Jingga tegas.
Tiba- tiba dari arah halaman dari dalam rumah terdengar suara emak berjalan menyeret kayu.
“Sssstt... Emak!” bisik Jingga langsung terdiam.
“Ya udah cepet pakai!” jawab Adip.
Jingga segera memakai pakaianya dan membetulkan rambutnya. Adip bangun hendak keluar, ingin segera membetulkan dipannya.
“Mau kemana?” tanya Jingga menarik tangan Adip.
“Ya keluar, kita betulkan kasurnya sebelum malam. Kamu mau nanti malam tidur di lantai?” jawab Adip balik bertanya. Jingga terdiam mengangguk.
“Ayo cepat keluar. Bantu Mak masak!”
“Kita nggak jadi tidur?” tanya Jingga lirih dengan ekspresi malasnya dan menyesal nggak jadi tidur atau rebahan malah olahraga.
“Tidur? Tidur? Bentar lagi ashar!” ucap Adip tegas.
Pokoknya, tidak ada celah untuk malas jadi istri Adip kecuali malasnya bersamaan dengan dirinya.
Ya sejak awal, kan Adip senang sekali mengerjai Jingga. Tapi itu juga awal mula titik perubahan hidup Jingga.
__ADS_1
Adip keluar kamar diikuti Jingga yang malu- malu.
“Emak...,” pekik Adip dan Jingga kaget.
“Ehm...,” Jingga berdehem dan mukanya mendadak memerah seperti kepiting rebus.
Betapa tidak? Emak udah bawa kayu seukuran kerangka penyangga kasur. Itu berarti emak tahu kasur Adip patah, berarti emak tahu penyebabnya. “Aiih..,” keluh Jingga jadi tidak berani menatap Emak.
“Eh... kalian sudah bangun tidurnya?” tanya Emak ramah dan pura- pura, terkesan menyembuyikan apa yang dia tahu.
Emak sangat tahu perasaan Jingga jadi sebagai orang tua harus buat nyaman perasaan Jingga untuk pura- pura tidak tahu.
Jingga pun berani mengangkat wajahnya.
“Iya Mak!” jawab Jingga.
“Kayu darimana Mak?” tanya Adip to the point.
“Maaf, Emal lupa kasih tahu, itu kayakna,kemaarin pas Emak nyapu, emak nemuin buliran bubuk kayu, kayaknya udah mulai keropos. Kalian baik- baik aja kan? Tidurnya nyaman?” tanya Emak lagi pura- pura.
“Ehm...,” Adip berdehem.
“Hee..,” Jingga nyengir, “Baik Mak, nyaman!” jawab Jingga.
“Oh syukurlah, soalnya tadi kaya ada suara ambruk,” jawab Emak lagi mulai memancing.
Adip tahu Jingga sudah kelu sangat menahan malu. Adip pun ambil sikap.
“Palu sama pakunya dimana Mak? Sini Adip betulin,” ucap Adip mengalihkan perhatian.
Emak pun menyerahkan kayunya ke Adip kemudian mengambilkan paku dan kayu. Hari itu Adip menjadi pak Tukang profesional.
“Nggak usah liatin gitu. Sana bantu Emak!” ucap Adip mengusir Jingga yang menguntiit Adip duduk manis jadi bos liatin Adip memaku kayu.
“Kata Emak, Jingga suruh istirahat aja!” jawab Jingga membela diri.
Emak kan memang sangat baik, Emak lihat tangan Jingga yang mulus tidak tega nyuruh Jingga mengupas bawang merah.
“Haissh...,” desis Adip menatap Jingga kesal.
“Terus Emak bilang gitu, kamu nurutin beneran? Katanya mau jadi menantu baik. Ya kamu inisiatif tanya, butuh bantuan apa?” ucap Adip mengajari Jingga.
“Ya!” jawab Jingga patuh balik ke dapur.
Sampai dapur emak kembali sungkan ke Jingga. Adip yang pintunya dibuka dengar.
“Maak... jangan gitu, seneng nanti Jingga keenakan di sini jadi ratu!” jawab Adip tidak terima sekali Jingga bersantai.
Emak jadi semakin tidak nyaman ke Jingga dan menoel Adip sambil berbisik. “Ih kamu nggak kasian sama istrimu? Neng Jingga kan nggak bisa masak, di rumah pasti banyak yang bantu,” jawab Emak.
“Mak... di sini ya di sini. Di sana ya di sana. Terserah di Ibukota mau gimana, di sini Jingga istri Adip, mantunya emak, ajarin dia masak rica Mak!” jawab Adip sengaja banget mau kasih pelajaran ke Jingga.
Jingga tidak bisa berkutik, entah pelet apa yang dikasih Adip.
Sore itu, Emak pun dengan telaten mengajari Jingga, meski Jingga hanya sekedar duduk, dan beroh oh ria, hanya mengambilkan apa yang Emak minta dan hampir semua yang melakukan Emak. Jingga menemani Emak masak rica- rica entok.
Adip pun hanya tersenyum simpul melihat dari kejauhan. Adip bahagia Jingga akrab dengan Emak. Sebenarnya Adip juga tahu kalau Jingga pasti tidak bisa ngapa- ngapain. Tapi kan maunya biar akrab. Ya Adip tidak mau membiasakan Jingga jadi orang sombong meski kaya dan mengenal Emak dengan baik agar Emak juga bahagia dan merasa dihargai.
Adip tidak ingin menjadi anak dan menantu yang memperlakukan orang tuaya seperti pembantu. Adip sendiri mengambil sapu, menyapu halaman dari dedaunan kering yang jatuh di sore itu.
Adzan terdengar. Adip dan Jingga bergantian masuk ke sumur yang ada di bilik belakang rumah. Tak ada acara mandi bersama seperti layaknya pengantin baru yang honeymoont di hotel. Mereka mandi selayaknya orang desa.
Selesai mandi aroma paduan rempah tercium di indera mereka dan membuat perut mereka keroncongan. Bersamaan dengan itu suara motor tua bapak terdengar.
“Assalamu’alaikum,” sapa Bapak dengan suara letihnya.
“Waalaikum salam,” jawab semuanya.
Bapak masuk, begitu melihat Adip bapak langsung berjalan cepat dan memeluk Adip erat, bahkan Bahkan bapak menangis.
Ya. Adip tahu, pasti baak seperti Emak, kaget dan syok setelah mendengar penuturan Om Dika dan Baba. Adip pun membalas mengusap bahu Bapak.
“Maafkan Bapak sama Emak, Nak!” lirih Bapak merasa bersalah. Bapak melepas pelukan dan meraih kedua tangan anaknya.
“Maaf untuk apa Pak? Semua baik- baik saja,” jawab Bapak.
“Apa kamu masih mau anggap Bapak, bapakmu?” tanya Bapak.
“Lah.. yaiya Pak, emang Bapak Adip siapa lagi kalau bukan Bapak?” jawab Adip.
Jingga dan Emak hanya diam memperhatikan. Bapak memeluk Adi lagi berterima kasih.
“Udah... udaah. Abis dari makam kan? Bapak mandi sana sholat, setelah itu makan!” tutur Emak.
Bapak pun mandi, Adip dan Jingga lalu sholat. Jika di rumah Emak memang tidak bisa untuk jamaah karena sempit, kalau mau jamaah harus turun tidak jauh sih tapi waktunya udah lewat.
__ADS_1
Sore itu mereka makan bersama, setelah makan mereka pun bercengkerama. Bapak menuturkan, Uwak Odah stroke.