
Si Model yang bernama Mita langsung tercekat tatkala Pak Rendi datang dan dengan lantang menyebut nama Jingga.
Mahasiswa yang menonton juga ikut kaget, langsung mendelik dan menelisik ke peremuan berjilbab dan bermasker itu.
“Ngapain sih orang ini ikut- ikutan?” gerutu Jingga kesal, kenapa selalu ditemukan dengan adik ipar bangkotan ini.
Jingga kemudian membuka maskernya dan helmnya.
Mita dan pacarnya langsung syok. Mereka adik tingkat dan sebenarnya dulu selalu ngefans dengan semua style Jingga.
Apalagi di fakulatas Jingga semua tahu, Jingga mahasiswa yang setiap hari diantar dengan mobil gonta ganti dan antik semua, melebihi mobil rektornya.
Ya Baba kan manasin mesin koleksi mobilnya dengan acar dipakai bergantian jemput anak- anaknya.
“Parkirkan motor kalian dengan benar ikut, Bapak ke kantor, yang lain Bubar!” titah Rendi dengan karisma dosen muda dan muka galaknya.
Reputasi Rendi sebagai dosen muda, tampan daan jomblo sudah tersebar ke semua mahasiswanya.
Rendi juga cukup ditakuti karena disiplin dan pelit nilai. Mereka takut kallau melawan, kecuali Jingga.
“Untuk apa saya ke kantor Bapak?” jawab Jingga ngeyel.
Jingga kan kakak ipar, jadi bolehlah lawan adik ipar.
“Kalian tidak lihat ini dimana? Kalian sudah dewasa tapi seperti anak kecil. Liat teman- temanmu antri mau lewat. Parkirkan motornya, selesaikan perkelahian kalian di kantor, saya tunggu di ruangan saya!” ucap Rendi lagi memperlakukan Jingga seperti mahasiswa lain.
Jika di depan mahasiswa, Rendi memang sangat berwibawa dan pandai menyembunyikan semuanya.
Bahkan hanya Jingga yang tahu kalau sekarang status Rendi suami Nila. Jingga menyimpulkan Rendi memang pandai, “Jangan- jangan Rendi juga punya istri- istri rahasia selain Nila?” otak Jingga pun jadi berseliweran.
“Ya Tuhan, please jaga hati adekku, jangan sampai disakiti,” batin Jingga sambil memarkirkan motornya.
“Kak... Jingga maafkan kami!” tutur Mita dan pacarnya mendekat.
Setelah tahu perempuan bermasker itu Jingga mereka langsung melempem kaya kerupuk disiram air.
“Aku maafkan, nanti aku tanggung jawab kok.” jawab Jingga baik tapi mukanya jutek.
“Nggak usah, Kak! Nggak apa- apa!” jawab Mita lagi ketakutan.
“Nggak apa- apa, aku punya krim yang bagus buat nutup lukanya. Nanti kutelponin dokterku!” jawab Jingga lagi masih tetap baik.
Mita dan pacarnya berubah jadi anak baik yang menunduk pada Jingga.
“Terima kasih Kak!” tutur Mita sangat suka mau dikasih cream bagus yang bisa nutup belang luka.
“Kita harus ke ruangan Pak Rendi. Bilang aja kita udah akur! Jangan tinggalin aku sebelum aku keluar!” ucap Jingga ajak mereka sekongkol.
Mita dan pacarnya mengangguk.
Mereka bertiga menuju ke ruang Pak Rendi.
Rupanya berantemnya Jingga dan Mita sama pacar Mita tadi dibuat siaran langsung intagram.
Pacar Mita memang selebgram alay. Meski sudah langsung dimatikan, tapi tentang Jingga naik motor sudah terliat oleh banyak orang.
Beberapa anak menggunjing Mita, tapi tidak sedikit pula yang menggunjing Jingga. Selama mereka bertiga jalan, teman yang kenal mereka berkasak kusuk.
“Masuk!” ucap Pak Rendi mempersilahkan masuk.
Meski bukan dosen khusus yang menangangi perkelahian mahasiswa, tapi Pak Rendi cukup disegani. Jadi sah- sah saja, panggil mereka. Padahal menurut Jingga kurang kerjaan.
Jingga dan kedua adik kelasnya masuk. Seperti sebelumnya, tatapan Rendi langsung ke Jingga. Jingga pun jadi kesal dan tidak nyaman, ingin ingatkan kalau punya mata dijaga, saya istri orang, tapi Jingga malu ada Mita dan pacarnya.
“Kenapa bikin kegaduhan di kampus?” tanya Pak Rendi dingin.
“Kita nggak bikin kegaduhan kok Pak!” jawab Jingga.
“Iyah Pak!” imbuh Mita.
__ADS_1
“Nggak usah alasan. Saya sudah perhatikan semuanya. Mita minta maaf ke Jingga!” ucap Rendi tiba- tiba dan langsung menghakimi.
Isyana sedikit syok, apa maksudnya, Rendi mau nunjukin sok jadi pahlawan.
“Nggak usah Mit. Kita udah maafan kok Pak!” jawab Jingga cepat.
“Iya Pak! Kita udah maafan Pak!” imbuh Mita.
“Mita! Minta maaf sekarang!” ucap Rendi tidak peduli, lagi sok berkuasa.
Jingga pun semaki kesal merasa apa yang dia lakukan sekarang sia- sia dan buang waktu.
“Kita udah baikan kok, Pak. Nggak harus kan minta maaf berulang- ulang!” sahut Jingga lagi.
“Minta maaf di depan saya!” ucap Rendi lagi.
Mita yang tidak tahu apa- apa tentang Rendi dan Jingga pun patuh. Mita dan pacarnya berfikir mungkin Pak Rendi sedang mengajarkan ajaran yang baik.
“Kak Jingga. Saya Mita minta maaf atas hinaan dan tuduhan mita tadi sehingga buat kegaduhan!” tutur Mita di depan Pak Rendi.
“Saya maafkan, saya juga minta maaf karena nggak hati- hati naik motornya!” jawab Jingga.
“Bagus! Kalau dari tadi kalian begini kan tidak menjadi tontonan dan memalukan! Apa kalian bangga dengan saling memamerkan kekayaan? Itu tindakan murahan. Kalian itu sama- sama mahasiswa, pelajar, tunjukan perkataan dan sifat intelek kalian. Malu- maluin berrtengkar di jalan! ” omel Pak Rendi sok bijak, bukan sok bijak tapi memang bijak.
“Ya Pak, maafkan kami!” tutur Mita.
Mita yang mendengarnya berfikir Rendi dosen baik.
Sementara Jingga syok, ya menyuruh orang, bertindak intelek dan tidak murahan, lalu yang Rendi lakukan padanya apa? Seperti laki- laki dungu ilmu, sudah tahu istri orang digodain.
Tapi Jingga hanya membatin ingin muntah rasanya.
“Ya sudah sana kembali ke kelas!” ucap Rendi lagi.
Jingga dan kedua adik kelasnya keluar.
"Hanya kirain mau diapain? Haahh dheg- dhegan aku" gumam Mita berjalan keluar.
“Apa dia bipolar atau gimana sih? Kok pagi ini dia terlihat normal dan mengesankan? Apa itu sebabnya Nila jatuh cinta? Semoga dia waras beneran? Sekarang dan seterusnya..” batin Jingga lega. Setidaknya pertemuan dengan Rendi aman.
Akan tetapi, rupanya masalah Jingga bukan di situ. Sesampainya di depan kelas, Jingga dengar teman- temanya ternyata sedang bergosip.
Mereka bukan kelompok Joana atauun Faya. Mereka teman- teman yang tadinya netral dan tidak tahu apa- apa.
“Kasian banget ya Jingga, setelah nikah langsung jadi gembel gitu?”
“Iyah. Mau – maunya ya, nikah sama veteriner miskin gitu, dari anak sultan naik mobil jadi naik motor! Cari sesama anak pengusaha kek atau artis atau anak pejabat yak?"’
“Denger- denger sih Jingga juga udah nggak tinggal di rumah bokapnya!”
“What? Pantes nggak pernah diantar lagi!”
“Udah disetop kali kemewahan dari Bokapnya. Pasti malulah putri yang dibanggakan itu nge-e sembarangan sama pria miskin begitu!”
“Makanya lo... jangan cuma mikirin e-sek e-sek mulu, pikirin tuh! Sembarang lagi, jadi nikah muda kan?”
“Ya lagian Jingganya bodoh, ngapain juga milihnya di desa kolot, di hotel dong!”
“Hahaha,”
Jingga berhenti sejenak dibalik pintu sambil mengepalkan tanganya. Rasanya Jingga mau nangis berteriak dan merobek mulut teman- temanya satu satu.
Mereka nggak tahu apapun tapi sok tahu, fitnah lagi.
Meski Baba sudah klarifikasi bahwa Adip dan Jingga tidak terjadi apapun. Akan tetapi Jingga yang kemudian menikah beneran membuat orang yang sirik dengan Jingga tetap percaya gosip Tama.
Walau Tama sekarang sudah berhasil dipenjara tetap saja, rupanya keberhasilan Tama masih berbuntut.
“Ehm...,” dehem Jingga akhirnya masuk.
__ADS_1
Semua langsung diam seperti jangkrik yang keinjak, tadinya berisik langsung sepi.
“Kayaknya asik banget ngobrolnya? Ngobrol apaan? Ikut dong!” ucap Jingga berani.
Meski batinya menangis, tapi Jingga sekarang mentalnya sudah diterpa di pulau P, pernah di bully teman- temanya, tahan banting.
Teman- teman Jingga langsung salah tingkah. Jingga langsung peka dan angkat bicara.
“Gue ingetin yah! Kalau nggak tahu apapun nggak usah ngebaacot. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan! Ngerti! Dan kalian tahu, asal bicara, fitnah itu ada pasalnya!” ucap Jingga berani lalu berjalan menuju kursinya.
Teman- teman Jijgga langsung diam semua.
Tari dan Uti belum datang. Jingga pun duduk sendirian menahan kesal.
Jingga baru tahu- tahu teman- temanya ternyata begitu keji membicarakanya di belakang.
“Bang... Adip, aku kangen. Kenapa seberat ini yang harus aku hadapi. Ayo katakan pada mereka, kamu tak seperti yang mereka katakan?” batin Jingga menahan air matanya agar tidak jatuh.
Tidak lama Uti dan Tari datang disusul, dosen. Jingga pun mengikuti kuliah dengan benar. Setelah kuliah selesai, dengan membawa pr tugas yang banyak, Jingga, Uti dan Tari pun pulang.
“Lo udah bisa naik motor, Ngga?” tanya Tari.
“Udah. Waktu itu, Bang Adip ajarin. Kemarin aku nyoba sama mbak Vera sekarang aku nyoba sendiri!” jawab Jingga bangga.
“Waah keren kamu!” ucap Utie.
“Kalian parkir dimana?”
“Di sana!”
“Yah kita berjauhan, ya udah duluan ya!”
“Ya... ati- ati, Ngga’” tutur Uti dan Tari.
Jingga mengangguk tersenyum
Jika Uti Tari mendukung dan apresiasi Jingga yang mandiri. Akan tetapi teman- teman yang lain, yang dengan mata kepala sendiri melihat Jingga yang tadinya selalu diantar sopir dengan mobil mewah sekarang naik motor, masih terus mencibir, padahal beda orang.
“Itu sih Jingga mendadak miskin ya?”
“Kan suaminya miskin.”
“Diusir kali sama orang tuanya?”
“Ya malulah punya anak berziina sampai di arak dan diadili gitu, meskipun di media ngebela tetep aja kan?”
Di parkiran motor pun Jingga masih digunjing.
Kali ini Jingga tidak melawan. Jingga memilih menghindar.
Mental Jingga tumbang, Jingga menutup kepalanya dengan helm, begitu kacanya ditutup air mata Jingga jatuh.
“Bang Adiip, aku kangeen... aku butuh kamu, apa aku harus balik ke rumah Baba biar mereka bungkam?” batin Jingga sepanjang jalan menangis sendirian.
Jingga tidak ingat, dia baru belajar motor. Jika tadi pagi berangkat snagat hati- hati, kali ini Jingga negbut. Karena kalut semua takutnya hilang.
Sampai rumah juga, Jingga tak menyapa karyawan Adip dan langsung saja masuk ke rumah.
Jingga kan menangis jadi tak peduli apapun ingin sampai kamar. Bahkan masih pakai helm.
“Gleg!” sesampainya di kamar Jingga mematung di depan pintu untuk beberapa saat.
Jingga kembali meneteskan air matanya.
“Ya Tuhan... apa ini yang dinamakan penyakit halusinasi? Tidak aku masih waras? Kenapa aku jadi sakit jiwa begini?” rengek Jingga berbicara sendiri di kamarnya.
“Aku memang kangen Bang Adip ya Tuhan, tapi aku nggak mau sakit jiwa,” isak Jingga lagi.
Jingga memejamkan matanya, kemudian membuka matanya dan melotot lagi.
__ADS_1
“Aduh... apa aku beneran kena penyakit halusinasi? Bagaimana ini?” gumam Jingga lagi malah ketakutan.