Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
221. Mengerjai Jingga


__ADS_3

Angin pegunungan bertiup lembut  melewati celah- celah dedauan, masuk menyelinap, menambah suasana tenang di teras rumah Emak itu.


Suasana itu menghanyutkan rasa di percakapan panjang 8 pasang telinga yang duduk berhadapan. Percakapan panjang dengan diwarnai derai air mata, diselimuti rasa sayang dan kehangatan cinta diakhiri dengan sesuatu yang penuh tanda tanya.


Jingga mendadak salah tingkah dan melirik Emak, Buna dan keempat orang di hadapanya. Apa orang lain mendengar perkataan Adip? Sebab tatapan Baba mendadak beda?


Bangku di teras Emak ada dua bangku panjang berhadapan. Emak di ujung, lalu Adip, Jingga dan Buna. Berselang meja di depan mereka Pak Arman, Baba, Om Dika dan Dokter Dinda. 


Gawat kalau sampai dengar.


“Ehm... ehm..,” mendadak Om Dika berdehem, Jingga langsung pucat semakin mengira ada orang lain yang dengar. Tapi melirik Adip, Adip tanpa ekspresi sampai Jingga kesel


“Meski dia mati. Keluarganya tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatan ibunya, tidak mungkin mereka tidak tahu!” lanjut Baba Ardi bersikap biasa juga. 


Jingga menelan ludahnya “Aman,” sepertinya tak ada yang mendengar. 


Ya. Meski semuanya melihat Adip berbisik, tapi ternyata Baba dan yang lain tak mendengar. Dan meski kurang sopan mereka memahami Adip dan Jingga kan penganten baru. Mereka malah kasian. Harusnya kan Jingga dan Adip liburan bukan nangis- nangis.


“Aku setuju dengan Mas Ardi. Dip. Libur bulekmu ini, tidak banyak. Maafkan Om ya, sakit atau tidak sakit, Om tetap harus temui perempuan itu dan keluarganya!” ucap Om Dika mengimbuhi menyanggah pendapat Adip. 


Adip terdiam.


“Ehm...,” Buna berdehem hendak menjawab.


Buna kan tadi pagi ducurhati Jingga. Barusan, orang yang dengar bisikan Adip adalah Buna. Hehe.


Buna dan Jingga jadi satu- satu. Jingga pergoki Buna di hotel, Buna jadi tahu betapa messumnya anak dan menantunya.


Buna jadi heran, gemas sekaligus kasian dengan Adip. Heran kenapa Adip terkesan tak punya dendam apapun. Harusnya kan Adip paling bersemangat menghukum Odah. Padahal Buna, Jingga dan semuanya saja rasanya sangat geram.


Buna juga gemas ke Adip, malah menyuruh menunda dan sempat- sempatnya menggoda Jingga putrinya, segitu menuntutkah si pembawa calon cucu Buna?


Buna jadi ingat cerita Jingga. Mereka belum gol gawang, padahal libur Adip Cuma sebentar. Buna pun berubah jadi kasian. Dibanding Baba suaminya, Adip adalah pria yang sangat sabar.


“Adip kan dari kemarin bolak balik, baru pulang. Sekarang masalah ini, Buna bisa ngerti. Adip pasti capek, pusing juga kan. Sudah kamu tenangin dulu diri di sini. Sekarang ini semua, bukan lagi urusan Adip saja. Tapi ini tanggung jawab kami sebagai orang tuamu,"


"Kamu nggak apa- apa nggak usah ikut. Buna juga setuju pendapatmu. Jingga perempuan itu banyak doa di rumah, bertindaklah sesuai porsimu! Titip ya Nak. Dia sekarang jadi istrimu didik dia ya!” tutur Buna menengahi dengan bijak.


Adip menyunggingkan senyum tipis sangat pro sekali dengan Buna. Adip benar- benar merasa dibela, pokoknya mertuanya is the best batin Adip. 


"Iya Buna!" jawab Adip.


“Iya... saya juga setuju kata Bu Alya!” celetuk Emak. 


Jingga pun hanya manyun diam wajahnya sudah memerah sepeerti kepiting rebus. 


“Ya sudah, gitu ya Dip?” tanya Baba menatap Adip meminta persetujuan.


“Ya Ba. Maafkan Adip, Ba.. Om... Adip pasti akan menemui mereka. Tapi memang butuh waktu untuk bertemu mereka jika kenyataanya seperti ini,” jawab Adip menunduk.


Sebenarnya bukan Adip hanya memikirkan kesenangan dirinya, atau tidak ada dendam atau ingin membalas semua pedih Ibu, Bapak dan Adiknya.


Justru Adip merasa kasian terhadap arwah keluarga Adip. Ajaran Abah Adip, membahagiakan orang tuanya bukan balas dendam buat kluarga Odah menderita. Tapi membuat mereka sadar dan beramal jariah untuk orang tuanya.


Adip tidak ingin salah langkah dan justru menjadi dosa dan penggugur pahala kebaikan emaknya. Adip kalau melihat Odah dan keluarganya sekarang takut emosi. Emosi Adip kan butuh dinetralkan dulu. Jangan dipacu terus.


Toh Adip sekarang sudah mandiri. Jingga seperti menjadi penawar semua sedih Adip.


Bahkan kesedihan Adip tentang orang tuanya seperti susunan rasa yang sudah kadaluarsa. 


Adip yang cerdas dan peka memang setiap malam selalu bertanya, benarkah mereka uwaknya?


Tapi Adip yang dididik santun, tau diri dan diajarkan Abah untuk punya sifat qonaah, mengingat cerita Emak dulu Uwak yang memberi tempat bernaung keluarganya, Adip menahan diri, membiasakan diri membuang semua pertanyaan hatinya.


Adip pun bersahabat dengan rasa sakit itu. Tapi hari ini semua sakit itu seperti dibuka lagi. Jadi jaga emosi jaga pikiran lebih utama buat Adip.


Selain itu, mengingat dulu Uwak terlilit renterir, melihat kelakuan anak- anak Uwak yang nakal, pemalas, gaya hidup mereka hedon dan keadaan Uwak odah yang tiap bulan ada jatah ke rumah sakit karena penyakitnya. Adip yakin uang Bapaknya habis dan tidak bisa diambil. 


Bahkan sependengaran Adip dari kawan- kawan yang bekerja, kemarin Uwak Adip pernah ditipu orang atas nama investasi bodong dan mobil teriosnya udah jadi jaminan hutang. 

__ADS_1


Adip menyaksikan sendiri rumah tangga Odah tidak berjalan baik, bahkan suami Wak Odah punya simpanan.


Rumah besar itu sering diwarnai pertengkaran. Belum lagi anak- anaknya yang semua tidak benar, benalu. Menurut Adip itu semua sudah hukum nyata dari Tuhan atas semua perbuatan Uwak, tanpa Adip melakukan apapun. 


“Om bisa mengerti, Dip. Kamu pasti kaget ketemu Om dan tahu semua ini. Om, Eyang uti. Tante, sungguh mohon maaf ya.! Maaf juga di hari pernikahan kalian, malah jadi begini,” jawab Om Dika lembut


“Ya Om! Adip bersyukur dengan ini semua kok. Adip malah merasa ini hadiah terindah untuk pernikahan Adip,” jawab Adip tenang.


Buna dan Baba pun tersenyum bangga pada menantunya bisa setenang itu.


“Sebelum ke rumah sakit kita ke makam, Kak Rani dulu ya...! Tante kangen sama Kak Rani. Kamu juga sempatkan tengokin Bapakmu dan Yang Ti, ya besok” lanjut Dokter Dinda. 


“Pasti! Insya Alloh Adip akan kesana.” jawab Adip. 


“Iyah... nanti ke rumah Oma Mirna juga kan Tante!” jawab Jingga berbunga mendengar mereka akan ke makam Bapak Adip di kota yang jauh di sana.


“Di sana tempatnya indah,” bisik Jingga ke Adip. Adip tidak menanggapi Jingga, Adip juga tahu kali, batin Adip. Adip kan anak mapala. Bahkan Adip sudah beberapa kali menjelajah beberapa tempat tersembunyi di kotanya Om Dika, kampung Bapak kandungnya. 


“Ya..., Jingga, pokoknya Tante tunggu!” jawab Dokter Dinda. 


“Ya sudah... berarti ini sudah cukup ya! Itu Map apa Dip?” tanya Baba kemudian.


Adip pun menyerahkan berkas- berkas rumah sakit. Berkas- berkas itu bisa menjadi bukti berapa uang yang dihabiskan Ibu Adip berobat. Baba menerimanya.


“Terima kasih Mak, atas semua informasinya," tutut Baba ke Emak.


"Adip, kamu tidak usah khawatir dan bersedih lagi ya. Selamat sekali lagi kalian sudah memasuki dunia baru. Bangun keluarga baru. Pokoknya kalian harus bahagia. Om dan Baba yang urus semuanya. Maaf kami tidak bisa menginap Mak. Kami pamit Mak,” tutur Om Dika pamit. 


"Ya Om!Terima kasih," jawab Adip dan Jingga.


“Sebentar Tuan,!” tutur Emak gusar. Emak ingat di belakang baru panen pete dan manggis.


“Ada apa Mak?” tanya Om Baba dan Buna. 


“Sebentar!” jawab Emak gugup.


Emak kemudian ke belakang mengangkat manggis se keranjang dan petai satu ikat besar. 


“Maaf, saya tidak bisa kasih suguhan apa- apa. Saya sih berharapnya bisa lebih lama di sini. Tunggu suami saya, menginap barang sehari. Semoga ini bisa jadi tali kasih  dari emaknya Adip, ya!” tutur Emak tulus. 


Buna yang sensitif pun terenyuh dan terharu. 


"Banyak banget Mak," pekik dokter dinda.


"Ah nggak kan biar bisa dibagi," jawab Emak.


“Iya Mak, makasih banget, kebetulan saya lagi pengen pete,” jawab Buna menyenangkan Emak. Padahal kalau di rumah anak- anaknya semua protes. 


“Hohh!” pekik Jingga menyeringai, tapi ditahan Jingga kan yang oertama akan protes kalau di rumah Baba. 


Baba dan romongan pun pamit setelah minta denah ke rumah sakit dan makam.


Adip menelpon Bapak agar menjemput mereka dan mengantar ke makan Bu Rani. Kebetulan makam Bu Rani dekat dengan tempat Bapak berada.


****


Kini di rumah tinggal Jingga, Adip dan Emak. Mereka bertiga erdiri di teras asri rumah emak di lereng pegunungan itu.


“Kita nggak ikut ke makam Ibu mertua Bang?” tanya Jingga ke Adip. Jingga kan ingin melakukan baktinya sebagai menantu.


“Besok pagi yah! Abang rasanya gak jelas, Yang” jawab Adip lesu. Kali ini Adip ingin jujur tentang hatinya berharap Jingga menyenangkan hatinya.


Adip memang sangat terforsir tenaganya, sejak pulang dari pulau panorama ke rumah Baba lalu jemput orang tuanya, ke rumah Abah, siapin sasrahan, lanjut resepsi dan sekarang nemuin masalah. Oh ya, semalam nggak bisa tidur, malah di phpin dan dibuat pusing.


Ya respon alamiah Adip, emosi Adip memang butuh diistirahatkan. Badan dan otaknya seperti hajar nggak jelas.


“Oke...Jingga ngerti," jawab Jingga mengangguk, mengelus lengan Adip.


Jika melihat sekeliling sejenak, sepi, asri semilir, sebenarnya rasanya pas seperti sedang berlibur di villa pulau destinasi wisata.

__ADS_1


Emak pun tersenyum senang, anak menantunya tinggal. Ya dia nyata, punya mantu cantik dan akan menginap. Kangen Emak akan terobati.


“Ya sudah ayo masuk! Yuk!” tutur Emak.


"Ya, Mak!" jawab Jingga langsung menunjukan sikap welcome akrab ke Emaknya yang jauh berbeda kasta dengan dirinya. Meski bukan kandung Jingga si Anak Buna tetap ingin baik dan hormat ke orang yang disayangi suaminya.


Jingga pun mengandeng tangan Adip masuk. 


“Emak tahu kalian pasti capek, kasurnya udah emak jemur kok, istirahatlah. Tentang semuanya, Emak mohon maaf ya, Dip!” ucap Emak menatap sayu anak laki- lakinya, menepuk lengan kanan Adip dan kemudian menatap ke Jingga, yang berdiri menggandeng tangan kiri Adip dengan manis.


Emak tahu, meski Adip tak banyak omong tapi Adip pasti sangat terluka. 


“Iya... Mak, udah Adip nggak pengen denger itu dulu. Adip boleh minta tolong nggak Mak,” ucap Adip kemudian. 


“Apa, katakan, apa yang kamu ingin?”  


“Ajari Jingga masak makanan kesukaanku!” tutur Adip di luar dugaan Jingga.


“Hoh,” pekik Jingga lagi dan menoel ke Adip. Masa hari pertama udah langsung disuruh belajar masak. Jingga kira, akan diajak istirahat juga. Adip ternyata tega, Jingga jadi seperti mendapat serangan tugas berat. 


“Aisshh, kamu. Kasian istrimu barangkali mau istirahat juga. Masalh itu, gampang, besok Mak ajari, sudah kalian istirahat sana!” jawab Emak membela Jingga. 


Jingga langsung berbinar matanya.


"Ya Mak!" jawab Jingga cepat.


"Ishh...dasar bilang aja malas," desis Adip.


"Janji besok belajar!" jawab Jingga nyengir.


"Sudah- sudah. Sana istirahat!" tutur Emak.


Jingga bahagia sekali. Ekpektasi mertua seram dan cerewet sepertinya tak berlaku untuk Jingga. Mertua Jingga ini sangat perhatian.


Ya kelebihan mempunyai mertua kalangan sederhana memang lebih menghargai kita. Tidak ada tuntutan dan aturan kaku.


Emak memang canggung melihat tangan Jingga yang begitu lentik, warnanya putih bersih, emak tidak tega harus kotor-kotor sepertinya. Padahal di pulau Panorama, Adip malah sengaja menghajar dan mendidik Jingga agar bersahabat dengan itu semua.


Adip kemudian mengajak Jingga ke kamar, kamar yang sudah mereka masuki tadi. Tapi sekarang rasanya beda. Jika tadi penuh emosi, sekarang lebih kondusif. 


Meski kamarnya sempit, berdinding anyaman bambu, tapi rasanya begitu lega, dingin dan menenangkan, bahkan Jingga sedikir merinding.


Ah entah merinding atau apa. Mungkin karena atasnya tak ada ternitnya, mungkin karena di gunung, atau mungkin hatinya yang lega. Atau mungkin karena berduaan.


Mereka berdua kemudian duduk berhadapan.


"Mulai sekarang kalau mudik ini kamar kita!" tutur Adip tenang, dengan tatapan dalam seorang suami yang penuh sayang dan cinta pada istrinya. Begitu nyaman didengar telinga Jingga.


"Iyah!" jawab Jingga langsung luluh. Meski jauh berbeda dengan kamar di rumah Baba, Jingga langsung nyaman dengan kamar suaminya.


“Kamar Abang nyaman kan? Kamu suka kan?”


"Asal sama Abang Jingga suka semuanya," jawab Jingga.


"Makasih, cup!" jawab Adip tersenyum kemudian memberikan kecupan basah di kening Jingga. Jingga semakin meleleh dibuatnya.


Lalu Adip, berdiri membuka kaosnya, lalu celananya. 


“Abang mau apa?” pekik Jingga pikiran kotornya datang. 


“Mau apa gimana?” tanya Adip merasa tidak bersalah.


“Ehm... ini masih siang Bang! Katanya capek! Nanti emak denger malu!” tutur Jingga dengan polosnya dan wajah gelagapan.


Adip diam dan kemudian tersenyum simpul lalu menatap Jingga dengan tatapan laki- laki.


Adip yang tadinya hanya ingin mengganti baju karena ingin tidur sungguhan jadi ingin beneran ngerjain Jingga. 


 

__ADS_1


__ADS_2