
"Alyaa.. kenapa susah dibilangin sih. Mana bisa anak muda diinterpretasi begitu?" gumam Baba menggelengkan kepalanya melihat Buna berjalan cepat dan panik. Sayagnya Buna sudah sampai di kamar Jingga.
Dengan nafas masih belum teratur karena alamnya baru saja berada di dunia indah yang membuat darahnya menghangat, Jingga berjalan cepat menemu Bunanya sambil membetulkan tali Brra dan menutup resletingnya.
Sementara Adip berbaring kecewa. Harusnya satu jam cukup menuntaskan semburan lava hebatnya yang tersendat di tengah jalan.
Adip memang sengaja tak melakukan penuntasan dengan tangan seperti orang pada umumnya. Buat Adip, ada istri kenapa menempuh jalan yang tidak baik.
"Buna... Ada apa Bun?" tanya Jingga membuka pintu.
Buna melirik ke dalam melihat rambut Jingga sedikit berantakan.
"Sudah selesai siap- siapnya?" tanya Buna.
"Udah dari tadi,"jawab Jingga.
"Adip mana? Lagi apa?" tanya Buna.
"Bang!" panggil Jingga mengira Buna mau bertemu Adip.
"Sssstt... nggak usah panggil dia!" cegah Buna. Jingga jadi bingung tapi Adip malah udah mendekat.
"Buna? Gimana Bun, ada apa ya?" tanya Adip.
"Buna pinjam Jingga bentar ya!" ucap Buna sekalian ijin.
"Silahkan Bun!" jawab Adip terpaksa merelakan istri yang sedang asik dia cumbbu dibawa Ibunya.
"Pakai jilbabmu! Ikut Buna!" ajak Buna.
Jingga segera meraih jilbabnua dan ikut Buna. Sambil memakai hijab Adip malah mendekat ke Jingga berbisik. "Tanya ke Buna biar nggak sakit," tutur Adip seakan punya insting
"Ya...," jawab Jingga jadi ingat. Jingga kan juga mau curhat.
Buna dan Jingga ke coffee corner di lantai tempat Jingga menginap. Karena Jingga ingin bertanya sejak pagi, Jingga lebih menggebu.
"Buna mau ngomong pentibg sama kamu!"
"Ya. Tadi Pagi Jingga juga telepon Buna. Buna nggak jawab! Jingga juga ke kamar Buna!" celetuk Jingga.
"Hoh kapan?" Tanya Buna panik dan malu. Jingga yang tahu pun tutup mulut.
"Buna mau ngomong apa? Jingga juga mau tanya!" tutur Jingga.
"Ya sudah, anak Buna dulu yang ngomong. Kan daripagi katanyaa!" jawab Buna mengalah.
Jingga tersenyum lebar.
"Jingga masih suci.. Bun. Jingga selamat dari Tama!" ucap Jingga berbinar.
"Gleg!" Buna bukan bahagia malah mendadak lemas, Buna tahu arah pembicaraan Jingga berarti Jingga udah jebol pikir Buna.
__ADS_1
"Kata Buna, kalau keluar darah, sakit, panas dan perih berarti Jingga masih pertama kan Bun? Jingga rasa itu semua!" lanjut Jingga berapi- api berharap Bunanya juga berekspresi bahagia. Tapi Buna malah menghela nafasnya..
"Buna nggak seneng?" tanya Jingga.
"Kamu mensnya kapan?" tanya Buna malah memikirkan mens Jingga.
Jingga diam mengingat. "Pas masih di Pulau Panorama Bun. Sekitar dua minggu yang lalu apa ya? Jingga lupa-lupa ingat! Kenapa Bun?" tanya Jingga
Buna semakin lemas.
"Haduh...," jawab Buna lagi.
"Kenapa memangnya?"
"Adip pakai pengaman nggak? Dikeluarin di dalam apa di luar? Kamu udah KB apa belum?" tanya Buna menyerbu.
Jingga memanyunkan bibirnya menatap Buna.
"Maksud Buna, Bang Adip pakai kondomm?"
"Ya!"
"Enggak!"
"Haissh, terus dikeluarin dimana?"
"Dikeluarin apanya?" tanya Jingga tanpa rasa bersalah.
"Plak!" Buna memukul lengan Jingga. "Iih anak Buna lolaknyaa!" keluh Buna.
"What?" pekik Buna kaget.
"He....," Jingga nyengir. "Ini yang mau Jingga tanya," tutur Jingga pelan dan menyeringai malu.
"Katamu.. kamu udan pecah itu?" tanya Buna menggerakan tanganya memberi kode.
"Sakit banget Buna.Jingga nggak tahan. Jingga dorong aja Bang Adip buat cabut cepat!" jawab Jingga jujur.
"Astaghfirulloh, Jinggaaaa!" pekik Buna gemas tapi sedikit lega.
"Maaf!" jawab Jingga menunduk.
"Untung Adip tak seperti Babamu! Kasian sekali suamimu! Tidak boleh begitu!" ucap Buna menasehati anaknya.
"He... kasih tahu Buna biar nggak sakit gimana?" tanya Jingga.
"Ya pasti sakit. Itu kodrat perempuan. Sakit di masa itu belum seberapa. Belum nanti kamu hamil, melahirkan,nifas menyusui...itu baru tahap awal Jingga. Malam pertama, nggak ada apa-apanya sakitnya! Melahirkan akan berlipat- lipat lagi," tegur Buna merasa anaknya parah.
"Hoh... begitukah Bun?" tanya Jingga menelan ludahnya.
"Ya Fitrah perempuan kalau menikah begitu. Makanya kamu harus hormat sama Buna. Dipikirnya menikah itu enak terus,"
__ADS_1
"Ya Bun! Terus gimana Bun? Jingga kasih tahu biar nggak sakit. Jingga juga pengen senengin Bang Adip!"
"Tahan sakit itu, itu cuma sebentar, jangan buru- buru pelan- pelan dinikmati dulu, masa nggak ngerti sih? Internet banyak, ini kan insting. Kamu udah gede kok. Ck gimana sih? Kasian Adip. Dia berhak lho! Dan kamu jadi istri wajib memnuhi hak suamimu. Jangan sampai Adip memilih jalan lain!" tutur Buna ngomel ke Jingga sampai mengancam.
"Ya jangan Bun!"
"Ya makanya, jangan manja. Sakit gitu aja! Tunaikan kewajibanmu, senangkan hati suamimu!"
"Ya Bun!"
"Tapi Buna ada pesan!"
"Apa Bun?"
"Buna nggak mau anak Buna kamu hamil di saat kuliah, apalagi kalian LDR. KB dulu ya!" tutur Buna menasehati.
"Ya... kb apa?"
"Astaghfirulloh! Plak!" Buna pukul Jingga lagi. "Kamu kuliah tidur apa bolos sih?" tanya Buna gemas.
"Iya.. ya. Jingga tahu. Nanti Jingga beli pil atau bilang ke Bang Adip!" jawab Jingga manyun.
"Ya sudah. Buna mau ke Baba lagi" tutur Buna bangun.
"Nah. Kok udahan? Katanya Buna mau ngomong?" tanya Jingga heran.
"Ya udah Buna cuma mau ngomong ini"
"Nyuruh Jingga KB?" tanya Jingga.
"Ya!" jawab Buna mengangguk.
"Ish...," Jingga pun mendesis. Lagi tanggung pas enak- enaknya ganggu, ternyata cuma mau pesen itu.
Buna kembali ke Baba dan Jingga ke Adip. Karena kesal Jingga tidak langsung bahas ke Adip apalagi ternyata Jingga lumayan makan waktu, dan sekarang waktunya berangjat.
"Nggak enak kalau Om Dika dan Baba menunggu. Yuk buruan yuk!" ajak Adip berangkat.
Ternyata benar meski diberi waktu satu jam, Om Dika dan Dokter Dinda selesai lebih cepat. Mereka sudan menunggu.
Disupiri Pak Arman, Adip dan Jingga satu mobil dengan Baba sekaligus dengan Om Dika. Adip dan Jingga tak ada kesempatan ngobrol. Jingga juga malu mau minta berhenti ke apotik.
"Ke rumah sakit dulu atau ke rumah dulu?" tanya Baba.
"Ke rumah dulu aja kali ya? Sepertinya kita perlu ngobrol dengan emak Bapaknya Adip sebelum bertemu Odah!" jawab Om Dika berfikir.
Om Dika mau mengusut tuntas tentang kenapa Adip sampai dirawat Bapak dan emak. Kemana Ibu Maharani selama ini. Siapa odah sebenarnya.
Rasanta tidak baik mereka langsung menghakimi orang yang sedang sakit. Om Dika juga butuh bukti-bukti.
"Ya. Saya setuju Om!" jawab Adip.
__ADS_1
"Oke!" jawab Baba juga setuju.
Pak Arman kemudian melajukan mobilnya ke desa tempat masa kecil Adip tinggal.