Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
136. Kakaaak.


__ADS_3

Malam itu, Adip lolos dari ancaman jerat setan yang berwujud manusia cantik dan menggemaskan itu. Mereka berdua sama- sama tidur tanpa melakukan apapun.


Adip lega berhasil memberi pengertian ke Jingga sehingga mereka tidur berjauhan. Menahan semua hasrat dan iming- iming setan. Seharusnya kan kalau mau, mereka bisa berpelukan hangat dan semua warga desa menganggap mereka sudah menikah. 


Meski begitu, hati Adip tidak merasa mantap menaburkan benihnya yang mahal dan suci jika belum menikah dengan cara terhormat dan pasti. Adip ingin pernikahanya benar- benar sempurna, tidak ada keraguan dan keterpaksaan apalagi kesedihan.


Adip bangun lebih dulu, sebelum Jingga bangun. Begitu bangun Adip langsung keluar, menunaikan ibadah sendiri. Kemudian mencari bahan memasak dan menyiapkan sarapan. 


Ditemani dengan lentera yang ada, Adip menuruni lembah. Meski belum pagi betul, tapi langit yang hitam mulai pudar berganti teran.


Jingga bangun setelah agak siang dan membau asap, hasil Adip memasak. 


“Baunya enak sekali!” ucap Jingga keluar sambil meregangkan tanganya. 


“Kau sudah bangun rupanya, cepat sholat! Sebentar lagi matahari terbit!” jawab Adip memutar- mutar ikan hasil tangkapanya. 


“Kenapa kamu tidak membangunkanku? Aku jadi telat kan subuhnya!” tanya Jingga cemberut dan menggerutu.


“Nggak usah banyak tanya dan mengulur waktu! Cepat sholat keburu abis waktu subuhnya!” jawab Adip galak. 


Menghadapi sifat Jingga yang bawel, meski terkadang lembut, sedikit galak juga perlu. Jingga pun menurut. 


“Antar!” pinta Jingga manja, tidak berani ke lembah yang ada sesajinya. 


“Ayam- ayam sudah berkokok, hantunya takut, lagi pula mereka tidak tahan dengan bau perempuan yang tidak mandi sepertimu!” jawab Adip dengan nada datar.


“Ish,..!” desis Jingga manyun dikatai perempuan bau badan. 


Padahal selama di kampus, Jingga terkenal gadis paling wangi yang koleksi parfumnya sangat banyak, mahal- mahal pulak. 


Jingga pun mencium ke pangkal lengan kanan kirinya, ternyata memang bau.  Adip yang melihatnya tersenyum senang berhasil mengerjai Jingga. 


“Makanya mandi. Sana mandi!” ejek Adip lagi.


Karena malu, dan tersinggung rasa takut Jingga hilang.


Jingga ke mata air di lembah bukit sendiri, membawa pakaian ganti dan mandi di sana. Mata air itu dikelilingi semak, privasinya memang terjaga. 


Setelah berganti pakaian dan menunaikan ibadah Jingga kemudian menyusul ke Adip. 


“Keliatanya enak nih.Kamu dapat ikan darimana?” tanya Jingga melihat Adip sedang membakar Ikan. 


“Kemarin aku menemukan jalan untuk turun ke sungai. Bagus banget lho. Ternyata mata air yang di lembah situ dari bawah terlihat seperti air terjun!” jawab Adip bercerita dengan riang.


“Tapi kan aliranya kecil! Terus masih petang. Nggak takut?” jawab Jingga. 


“Di bawah besar kan ketemu aliran air dari lembah yang lain! Kita kan ditenggian dan lereng tebing jadi nggak begitu gelap, aku bawa obor!” jawab Adip. 


“Ohhh bagaimana kamu turun? Tangkap ikanya gimana caranya?” tanya Jingga. 


“Tangkap ikanya pakai cinta” jawab Adip asal.  


“Ish!” desis Jingga manyun dan memukul Adip dengan ranting di depanya.


“Ya enggaklah Jingga •ayang!" jawab Adip mulai punya panggilan mesra.


"Aku tangkap pakai tombak kayu itu, karena masih petang ikan mudah ditangkap! Aku turun, ya buat jalan lah, kamu mau ikut? Airnya jernih lho, sungainya juga tidak begitu besar, tapi ikanya besar- besar!” jawab Adip lagi memberitahu.


Entahlah Adip menemukan aliran sungai kecil di lembah di atas pantai yang mengalir dari arah air terjun tempatnya bersih - bersih.


Ternyata di bagian bawah ada bagian banyak ikanya.


Jadi di lereng bawah tebing membentuk terasiring, dan setiap undakan tanah pangkalnya ada aliran airnya yang mengalir ke satu arah, berpusat pada satu titik dan membentuk air terjun kecil. (Bayangin aja sendiri ya Kak. Yang suka ke hutan pasti kebayang)

__ADS_1


“Benarkah?” tanya Jingga.


“Huum! Kalau kamu mau ayo aku kita turun setelah matahari naik!” ajak Adip ke Jingga berpetualang. 


“Oke!” jawab Jingga mengangguk. 


Ikan hasil tangkapan Adip pun matang, mereka berdua kemudian sarapan ikan Bakar dan umbi bakar lagi. Jingga benar- benar bahagia menikmati hukumanya di desa itu.


Jingga lupa dengan tugasnya di desa T. Jingga juga lupa dengan teman- temanya di sana.


Yang ada di hati Jingga, Jingga hanya ingin segera kembali ke rumah, bercerita ke Bunanya, Jingga cinta mati dengan pria yang bernama Adipati Wirajaya yang ada di depanya ini. 


Mereka sengaja di atas bukit untuk menunggu dan melihat matahari terbit. Mereka duduk bersisihan saling pandang dan tersenyum satu sama lain menghirup udara pagi yang segar dan indah. 


“Pumpung ponselku belum mati, foto yuk!” ajak Adip foto berdua. 


Mereka kemudian foto berdua dengan panorama yang indah dengan berbagai gaya. 


Setelah itu mereka pun iseng berpetualang berjalan tanpa arah. Jingga sangat menikmati itu. Meski beberapa kali menemui ular, tapi Adi berhasil melewatinya. Awalnya tentu saja Jingga ketakutan dan hampir menjerit. 


Tapi Adip yang mempelajari banyak tentang reptil dan justru ingin mempelajari lebi jauh. Adip terlihat tenang dan santai. Adip bahkan berusaha ingin mengenali karakteristik hewan- hewan itu. Adip malah memfotonya.


“Itu berbahaya, diamlah!” ucap Adip memberitahu saat ada ular yang Adip tahu bisanya berbahaya dan Adip tahu bagimana membuat ular itu pergi. 


Saat menemui ular yang lain, Adip juga tahu mana ular yang tidak berbahaya, bahkan Adip memperlakukanya dengan baik. 


“Kamu berani banget sih?” tanya Jingga. 


“Aku malah ingin melakukan penelitian tentang Reptil lho!” jawab Adip lagi.


“Jangan!” jawab Jingga langsung. 


“Kenapa?” 


Adip hanya tersenyum mendengar penuturan Jingga. Lalu menyentil mengusap rambutnya. 


“Hewan Jinak nggak ada tantanganya, nggak asik, asiknya jinakin kamu aja!” goda Adip lagi. 


“Ishh...!” Jingga pun mati kutu dan tersipu saat gantian Adip yang berani. 


"Beneran, buatku yang lucu kamu doang!"jawab Adip lagi.


"Iih plak!" Jingga pun keki sendiri digodain Adip. Sementara Adip hanya senyum- senyum kecil sangat puas melihat Jingga manyun.


"Nggak usah aneh- aneh. Aku nggak mau jadi janda. Aku mau kita punya anak banyak kaya Baba dan Buna!" jawab Jingga kemudian


"Iya ya!" jawab Adip lalu mereka kembali berjalan setelah ularnya pergi.


Mereka kemudian terhenti di gua kecil yang Adip temukan kemarin, mereka bersantai di situ sambil menikmati buah- buahan liar yang mereka temukan. 


Setelah merasa terik, dengan membawa pisang, jambu, muelbery hutan dan air. Mereka kembali ke gubuk. 


Sesampainya di gubuk mereka bersantai dan memakan makanan itu.


"Kamu kan lebih tua dariku. Kamu juga suamiku. Aku pantasnya panggil kamu apa?" tanya Jingga tiba- tiba.


"Terserah, apapun panggilanmu ke aku. Aku suka kok!" jawab Adip.


"Kamu punyaku. Aku mau semua orang tahu kamu suamiku. Aku panggil suami aja yaa! Atau bahasa Omaku Bojo, Aku panggil Jojo mau nggak?" tanya Jingga ngeledek.


"Jelek amat?" jawab Adip.


“Hehe, biarin. Oh ya. Kamu belum cerita masalalumu, ceritain dong!” ucap Jingga tiba- tiba. 

__ADS_1


“Kamu ingin tahu yang bagian mana?” tanya Adip. 


“Aku mau tahu tentang mertuaku!” jawab Jingga manja dan menoleh ke Adip. 


Adip tersenyum kemudian menyuapi Jingga pisang, sebelum menjawab. 


“Sayangnya kamu tidak akan bertemu mereka lagi!” jawab Adip kemudian. 


“Maksudmu, bapak ibumu sudah meninggal?” tanya Jingga. 


“Maaf ya!” jawab Adip. 


“Nggak apa- apa, orang tuaku masih lengkap. Kamu nggak usah sedih, aku akan menyayangimu lebiih dari siapapun! Aku punya banyak cinta buat kamu Jo..” jawab Jingga tersenyum cent dan merentangkan tanganya tanda cinta. Adip kemudian mengusap kepalanya gemas. 


"Jangan panggil itulah jelek!" jawab Adip cemberut.


Tanpa mereka tahu, ternyata di belakang mereka daritadi berdiri seseorang yang menelan ludahnya melihat mereka bermesraan. 


“Kakak!” pekik Amer terbengong. 


Mereka kemudian menoleh ke Amer tersenyum. 


Sayangnya Amer menelan ludahnya pucat. Amer tidak mengira, kalau ternyata Adip dan Jingga sungguhan menjalin kasih.


Padahal komunikasi terakhir di grup keluarga sebelum Amer pulang babanya sudah menanyakan kabar Jingga terus. Baba Ardi sudah menyiapkan pernikahan Jingga dengan matang.


“Hai Mer!” jawab Jingga dan Adip.


Sesaat Adip dan Jingga sama- sama terdiam, Amer tidak sendirian. Di belakang Amer menyusul pengawal Amer. 


****


Kaak ijin numpang promo karya temen yaa.


Dari Kak SkySal.



Judul : Makmum Pilihan Michael Emerson


Penulis : SkySal


Cuplikan...


"Begini saja..." seru Zenwa yang mencoba tegar "Bagaiamana kalau kita jalani saja pernikahan ini selama beberapa bulan, lalu setelah itu, kita bercerai." sarannya yang tentu saja membuat Micheal melongo, tak percaya dengan saran Zenwa yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Zenwa, apa kamu melawak di saat seperti ini?" tanya Micheal dan kini Zenwa lah yang melongo.


"Apa kamu menuduhku melawak di saat seperti ini?" Zenwa balik bertanya dengan tatapan tak percaya.


"Lalu saran gila apa tadi itu?" tanya Micheal dengan suara lantang.


"Aku rasa itu saran yang baik, kamu hanya menjadikanku pelampiasan dan aku juga tidak mencintaimu, jadi sebelum kita melangkah terlalu jauh, sebaiknya kita berhenti secepatnya, itu akan lebih baik!" jawab Zenwa juga dengan lantang.


"Kamu fikir ini kisah di novel-novel? Di sinetron? Pernikahan kontrak? Atau apa?" tanya Micheal geram yang membuat Zenwa terkesiap. "Ini kisah nyata, Zenwa. Seseorang tidak bisa menikah untuk bercerai, aku berjanji atas nama Allah, di saksikan Dia, Malaikat, dan keluarga kita, lalu bagaimana bisa aku mengingkari janjiku dengan sengaja?" Zenwa tertegun mendengar apa yang di ucapkan Micheal, matanya pun bahkan seolah mengatakan hal yang sama, Zenwa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan ia pun menunduk dalam.


"Aku tahu aku salah..." lirih Micheal kemudian "Dan kamu benar, aku hanya menjadikanmu pelampiasan, keputusan ku hanya karena emosi sesaat. Tapi saat aku mengucapkan akad, saat itu aku pun menguatkan tekad, kamu akan menjadi wanita pertama dan terkahir dalam hidupku, aku berjanji akan menjadi suami yang layak untukmu, dan akan memperlakukanmu sebagai istri sebaik mungkin." Micheal kembali berlutut di depan sang istri.


"Tapi rasanya benar-benar sakit," ucap Zenwa dengan suara tercekat "Perih sekali disini..." Zenwa memegang dadanya yang selama ini terasa begitu sesak.


"Aku tahu, izinkan aku mengobati rasa sakitmu, Zenwa!" bujuk Micheal.


Penasaran kisah selengkapnya?

__ADS_1


__ADS_2