
Tama seperti dirasuki setan, dirinya dikuasai emosi yang tersulut bara api cemburu.
Bagi sebagian orang kata pacar menjadi kata milik meski sebenarnya bukan. Apalagi keluarga Tama yang sebagian besar berbisnis di dan belajar di luar negeri, mereka banyak menganut paham ke barat- baratan.
Wajah Tama memerah, Tama maju mendekati Jingga. Jingga pun gelagapan memundurkan langkahnya. Sayangnya belakang Jingga mentok tembok.
Jingga pun akhirnya kepentok tembok. Tama berhasil mengunci Jingga bersandar di tembok itu dengan tubuh dan tanganya.
“Kak Tama, Kak Tama Jingga bisa jelasin, Jingga takut, kalau Kak Tama begini!” ucap Jingga terbata mencoba meredamkan amarah Tama.
Tama tidak menjawab, Tama malah menggerakan tanganya mendarat ke pipi Jingga yang bersih. Tama membelai pipi Jingga dari atas ke bawah dengan tatapan seram dan membuat Jingga ketakutan. Jingga menepis tangan Tama reflek.
"Kenapa kamu menepisnya?" tanya Tama.
"Kak Tama jangan begini, Jingga takut!"
“Kamu takut heh? Kenapa? Kamu harus tau! Kamu milikku, kamu harus nurut sama aku!” ucap Tama lagi tidak terima tangnya ditepis.
Tama kembali menggerakan tanganya menyentuh dagu Jingga. Tama memajukan wajahnya hendak mencium Jingga.
Jingga menelan ludahnya, dengan detakan jantung yang begitu hebat. Jingga pun berusaha memberontak tapi tangan Tama begitu kencang mencengkeram rahang Jingga sampai Jingga kesakitan.
“Kak Tama jangan, sakit!” lirih Jingga memberontak berusaha memalingkan wajahnya.
Saat Tama hampir mendaratkan bibirnya, tiba- tiba terdengar pintu terbuka.
“Prak!”
Tama menoleh ke sumber suara dan melonggarkan cengkeramanya, Jingga tak menyiakan kesempatan menepis tangan Tama. Jingga dan Tama pun menjadi tontonan, untung mereka tidak saling kenal. Meski ada dua orang yang mereka kenal.
“Waah, sory ganggu, kalau mau pacaran jangan di sini. Bro!” celetuk salah satu anak.
Jingga pun menunduk malu. Tama juga terdiam.
“Shiitt!” umpat Tama yang masih terdengar Jingga.
Tama pun ikut malu karena aksinya menjadi tontonan. Mereka mematung seperti maling yang kepergok.
“Jingga!” pekik salah satu dari orang itu. Jingga menoleh ke sumber suara yang menyebut namanya.
Ternyata dia adalah Tari. Tari dan Uti dan beberapa anak Mapala yang lain datang ke situ, berkisar 10 anak. Mereka ke ruang itu hendak menonton siaran langsung pertandingan sepak bola negara mereka bersama. Saat bertanya pada pengurus asrama di ruang itu ada lcd nya.
“Kak, Jingga mau kita putus!” lirih Jingga ke Tama di saat Tama menunduk malu.
“Apa!” pekik Tama melotot.
Karena sudah banyak orang yang datang, dan menyadari ada yang Jingga kenal, Jingga langsung pergi dari Tama tidak mau mengulangi pernyataanya.
Jingga memilih membaur ke Tari dan teman- temanya, meski Jingga sangat malu. Tama tidak bisa berbuat lebih dan memilih pergi, karena mereka juga bukan komunitas yang Tama kenal.
Jingga merasa sangat bersyukur masih bisa menjaga dan mempertahankan dirinya. Tama tidak berhasil mencium paksa dirinya. Fiks setelah ini, Jingga tidak mau dekat- dekat dengan Tama lagi.
“Kamu pacaran sama Kak Tama?” bisik Tari bertanya.
“Aku baru putusin dia!” jawab Jingga lirih.
__ADS_1
“Hah? Itu tadi kamu mutusin dia?” tanya Tari agak heran.
“Kuceritain di kamar ya!” jawab Jingga lagi masih dengan suara sangat pelan.
“Hemmm!” jawab Tari
“Kalian pada mau ngapain sih?” bisik Jingga ke Tari.
“Mau nonton bareng sepak bola timnas!” jawab Uti.
“Kamu suka bola?” tanya Jingga tidak menyangka.
“Nggak, sih. Uti yang suka! Tapi ada cowok yang gue taksir!” bisik Tari.
“Siapa? Mana?” tanya Jingga.
“Nanti deh kuberitahu!” jawab Tari.
Jingga kemudian berkenalan dengan teman- teman mapala yang lain. Mereka juga menyambut hangat ke Jingga. Karena Jingga memakai baju Tari, Jingga jadi terlihat tidak begitu mencolok kalau dirinya anak orang kaya, meskipun kecantikan Jingga tetap mendominasi.
“Kok pacarnya pergi Mba, nggak diajakin ikut nonton juga?” tanya Ibra.
“He... urusan kita udah selesai kok!” jawab Jingga malu- malu.
“Kalian sekampus sama Uti?” tanyanya lagi.
“Sekelas malah!” jawab Uti.
“Oh, Bu Dokter nih!” jawab anak itu.
“Hehe!” jawab Jingga.
Mereka pun membersihkan ruangan, menyapu dan menggelar karpet dan bersiap menyalakan lcd. Jingga, Tari dan Uti memilih duduk di belakang, karena mereka perempuan.
Semakin malam mahasiswa yang datang pun semakin banyak. Ternyata sejak sore di grup sudah ramai anak- anak janjian nonton di ruang itu.
Sayangnya Jingga dari tadi belum buka ponsel, saat Tama mengajak ke ruang itu ikut saja.
Meski Jingga tak suka bola dan tidak kenal dengan banyak anak, Jingga ikut saja duduk dan membaur.
Jingga kemudian merogoh sakunya. Ponselnya berdering dan bergetar terus. Ternyata Tama terus menelponya dan menyuruh Jingga keluar.
“Siapa sih Ngga?” tanya Tari.
“Kak Tama!” bisik Jingga.
“Ya udah angkat geh!” bisik Tari lagi.
“Gue takut!” jawab Jingga.
“Kok takut sih? Sama pacar kok takut. Dia ganteng sih. Tapi gantengan gebetanku!” tanya Tari lagi.
“Ish. Ceritanya panjang. Tapi please jangan tinggalin gue sendirian gue takut!” jawab Jingga lagi.
“Hemmm, oke!”
“Kak Tama tuh ikut panitia ini atau gimana sih? Kok dia ada di sini?” tanya Jingga lagi.
“Lhoh kan kamu yang pacarnya gimana sih? Aku malah nggak tahu lho! Denger-denger sih, karena pesawatnya longgar ada mahasiswa praktek yang ditaruh di tujuan yang sama ikut peswata kita!” jawab Tari.
__ADS_1
Jingga kemudian terdiam. Iya ya. Kemarin kan Tama bilang lagi nunggu jadwal koasnya. Jangan bilang Tama mau praktek di pulau P juga.
“Aiih!” keluh Jingga.
Ponsel Jingga kembali menyala, Tama tidak lagi menelpon tapi mengirim banyak pesan.
“Apa maksud kamu, putus , Sayang! Aku cinta kamu, aku sayang kamu, kakak nggak mau kita putus!”
Maafin kakak sudah buat kamu takut, tadi. Please jangan putus.
Kakak minta maaf kalau kakak kasar, semua itu karena Kakak terlalu sayang dan cinta sama kamu. Kakak khawatir ke kamu. Kakak nggak rela kamu bersama orang lain. Tolong maafkan kakak.
Kakak janji nggak akan kasar lagi.
Kaka tunggu di depan kamarmu, kaka tunggu.
Jingga menutup ponselnya dheg- dhegan. Anak- anak mulai rame dan tegang karena acara bola dimulai. Sementara Jingga yang duduk di belakang terus menunduk fokus dengan ponselnya.
Buna Jingga juga menelpon dan menanyai kabarnya. Pak Rendi juga menanyakan ulang apa keputusan Jingga. Pak Rendi terus mengancam, Jingga harus putusin Tama malam ini juga.
“Sibuk amat, wanan sama siapa sih?” tanya Tari lagi.
“Kak Tama nungguin gue di depan kamar!” bisik Jingga.
“Ya udah, sok temuin!”
“Temenin yuk! Gue pengen selesein urusan gue dengan baik.” Jingga berfikir harus putusin Tama segera.
“Kok temuin, lo aja sana!”
“Please! Gue takut kalau sendirian, Kak Tama kasar!”
“Ogah, gue nungguin idola gue!”
“Ih... mana juga nggak dateng- dateng, bentar aja!”
“Nggak mau!” jawab Tari membetulkan tubuhnya menghadap ke depan dan bersikap cuekin Jingga.
“Hmmm!” Jingga berdehem.
Jingga tidak berani bertemu Tama sendirian lagi. Di sisi lain, Jingga harus penuhi ancaman Pak Rendi. Penerbangan ke pulau P kan masih lusa, bahaya kalau ancaman Pak Rendi beneran dilakukan, baba Ardi bisa beneran jemput Jingga.
Jingga kemudian memilih memutuskan lewat pesan elektronik.
“Maaf Kak. Jingga nggak bisa terusin hubungan kita, makasih Kak, udah sayang sama Jingga. Tapi Jingga udah dijodohin sama Pak Rendi!” ketik Jingga ke Tama.
Di saat yang bersamaan, salah satu mahhasiswa di samping Tari berbicara.
“Kak Adip katanya udah sini duluan, kok nggak ada?!” seru salah satu anak.
Mendengar nama Adip. Jingga langsung menoleh.
“Adip? Jangan- jangan benar yang aku lihat tadi, si tukang ojek itu di sini?”
__ADS_1