Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
109. Minder


__ADS_3

Adip selama di kota. Sebagai salah satu pegawai kontrak yang bekerja di bawah kementerian direktorat jenderal peternakan dan kesehatan hewan dia langsung menuju ke balai veteriner tanpa menunda.


Adip meski tidak terlihat aktivitasnya saat berada di desa T, dia pergi sudah membawa laporan penelitian dan pengamatan selama bekerja di desa. 


Di sana Adip bertemu dengan para seniornya. Melaporkan pekerjaanya kemudian bersama- sama dengan veteriner lain, melakukan penyusunan Program, rencana kerja dan anggaran, pelaksanaan kerjasama serta penyiapan  evaluasi, pelaporan dan masih banyak lagi. 


Ternyata banyak pihak yang bekerja sama dengan Adip untuk bisa melakukan program pemerintah di desa T, sehingga Adip memerlukan waktu yang lebih lama dari perkiraanya.


Bahkan jam 2 siang, Adip baru selesai meeting bersama dengan kawan dari dinas peternakan dan dinas pertanian ataupun yang bertanggung jawab di ketahanan pangan. 


“Huuuft!” Adip menghela nafas merebahkan badan di atas kasur sebuah rumah dinas di dekat kantor veteriner itu. 


Sebenarnya, tugas Adip yang lebih tepat adalah di balai itu meneliti di laborat. Untuk terjun ke masyarakat dan di desa, sekedar berkeliling memeriksa dan memberikan edukasi seperlunya. Tapi entah kenapa, Adip lebih suka dan lebih ingin bermukim di desa. 


“Sedang apa dia?” gumam Adip memejamkan matanya tiba- tiba ingat desa T. 


Adip kemudian bangun membasuh wajahnya berwudzu berniat menghapus semua hal yang memberatkan hatinya. 


Adip sangat sadar diri, dalam hidup cobaan dunia yang bisa menjerumuskannya dalam kehinaan atau kehancuran jika tak bisa mengendalikan ada tiga, harta, tahta dan wanita.


Adip ingin hidupnya selamat, di dunia dan akhirat. 


Itu sebabnya Adip lebih suka pekerjaan yang bermanfaat bagi orang banyak, dengan alam dan juga menjauhi hal- hal yang akan membuatnya banyak bersinggungan dengan hal yang tidak baik. Adip sadar betul, harta dan kedudukan itu bisa memperbudak dirinya jika Adip tak pandai menjaga. 


Adip memilih hidup sederhana dan menikmati indahnya dunia sesuai dengan versinya. 


Mengenai wanita, bukan Adip kelaianan, Adip juga sudah ingin menikah.


Adip juga bertemu dengan banyak perempuan, ada beberapa yang sempat dekat dengan Adip, hanya saja hanya sebatas itu.


Adip menyadari membangun hubungan dengan perempuan tanpa kesiapan dan jika tidak disegerakan akan melemahkan iman dan membawanya ke maksiat, itulah sebabya Adip tak pernah membuka hatinya untuk benar- benar ditempati perempuan, semua sebagai kawan dan sahabat. 


Di sisi lain, Adip yang sudah tidak mempunyai orang tua dan masa depan yang jelas, Adip merasa minder jika ingin meminang perempuan.


Adip juga ragu perempuan seperti apa yang sungguh dia ingini. Intinya Tuhan belum menggerakan hatinya untuk ngebet meminang perempuan. Apalagi Adip baru menyelesaikan kuliahnya. 


Sekarang lah, untuk pertama kalinya, hati Adip dibuat risau oleh seorang perempuan yang awalnya menurutnya lucu, bodoh, lama- lama menjengkelkan dan makin kesini justru menggemaskan dan terus mengusik pikiranya. Dia adalah Jingga. 


Sayang sekali, Adip sadar betul, perempuan itu tidak mungkin dia gapai baik dari sisi dan segimanapun.


Adip tahu, hidupnya ke depan akan penuh perjuangan, keprihatinan dan kerja keras. Sementara Jingga, sepenilaian Adip, Jingga bukanlah anak yang dididik untuk berjuang, karena dia seorang putri. 

__ADS_1


Di sisi lain, Jingga juga sudah mempunyai calon. Adip juga tidak percaya diri jika nanti disuruh berhadapan dengan orang tua Jingga yang katanya sangat kaya.


“Astaghfirullohal’adziim!” gumam Adip menelan ludah, menahan sakit harus memangkas dan mengusir rasa yang menurutnya sangat menyebalkan itu. 


“Ini adalah hawa nafsu, bukan cinta!” batin Adip lagi.


Kemudian Adip membuka mushaf kecil di tasnya, sebuah benda yang dia percaya sebagai media dia bisa membaca pesan kasih Sang Penciptanya. Adip yakin, tidak ada cinta yang lebih indah dari cinta Sang Penciptanya itu. 


Adip ingin cinta yang dia dapat cinta yang indah dari Tuhanya. Bukan cinta yang menyesatkan dan menyakitkan.


Di saat kesakitan hatinya itu, Adip pun ingin mengadu, meminta dibebaskan dari rasa yang menurutnya tak seharusnya ada. Adip berharap agar diganti dengan ketenangan hati, biar Adip mendapatkan cinta yang seharusnya dia rasakan. 


Adip ingin memenuhi hatinya dengan cinta pada Sang Pencipta, penuh syukur dan penghambaan,  bukan rasa yang begitu merisaukanya seperti sekarang. Adip memilih untuk menghempaskan semua rasa yang datang itu. 


Sekitar 2 jam sampai suara Adip sedikit serak dan alarm sholat Ashar berbunyi. Adip menyelesaikan tadarusnya.


Adip kemudian bangun menunaikan kewajibanya itu, setelah itu dia barulah ingat sudah beberapa waktu tak melihat ponselnya. 


“Amer?” gumam Adip tiba- tiba jantungnya berdebar keras.


Baru saja Adip merasakan ketenangan dan berhasil mengusir bayangan Jingga. Kenapa sesuatu yang berhubungan dengan Jingga datang lagi. 


Adip sebagai laki- laki baik dan ramah langsung membalas pesan Amer dan menghubunginya. Padahal itu pesan sudah dua hari lalu. Saat telepon terhubung, Amer juga langsung mengangkatnya sigap dan girang. 


“Hallo, Assalamu’alaikum!” sapa Adip. 


“Waalaikumsalam, Bang Adipati? Wah akhirnya... dibalas juga!” jawab Amer. 


“Katanya di kota Y? Dimana?” 


“Saya di hotel Intan Jaya, Bang, ketemuan yuk!” jawab Amer. 


“Hotel Intan yang dekat dengan Markas besar ***** bukan?” tanya Adip menanyakan letak hotel Amer yang dekat sengan sebuah kantor besar di pulau itu. 


“Sebentar Bang, aku belum hafal!” jawab Amer minggir ke dekat jendela kamar dan melihat luar, ternyata benar, dekat dengan hotel itu sebuah komplek bangunan milik Negara. 


“Iya, Bang, benar, saya di sini!” jawab Amer lagi bahagia ke teman onlinenya itu. 


“Aku di asrama dinas peternakan, 30 menit ke situ!” 


“Deket berarti, ayo ketemuan Bang!” ajak Amer. 

__ADS_1


“Boleh- boleh!” jawab Adip. 


“Ketemuan dimana? Saya belum hafal tempat ini?” jawab Amer, Amer kan masih jauh lebih muda dari Adip. 


“Beritahu nomor kamarmu! Aku kesitu!” jawab Adip. 


“Siap, Bang! Saya wa kan ya!” jawab Amer. 


"Ya!"


Mereka kemudian menutup sambungan teleponya dan memilih berhubungan lewat pesan.


Entah kenapa, meski tak pernah bertemu dan kenal. Amer merasa suka dan akrab dengan Adip.


Adip yang memang bergaul dengan banyak orang pun menyambutnya dengan baik.


Apalagi setelah tau dia adalah adik dari Jingga, entah kenapa ada rasa hangat yang berbeda. 


Adip kemudian bersiap- siap lalu ke kamar seniornya di samping. 


“Bang pinjam motor boleh?” tanya Adip ke seorang pegawai dinas itu yang sudah lama bermukim. 


“Mau kemana?” 


“Ke hotel Intan!” 


“Ya... jangan lewat jam 8 ya, mau buat jemput istriku!” jawab senior Adip itu yang istrinya seorang perawat di salah satu rumah sakit pusat kota di pulau P. 


“Siap, Bang!” jawab Adip. 


Adip pun meminjam motor bebek milik seniornya itu menemui Amer. Tidak lama Adip sampai di hotel tempat Amer menginap.


Adip langsung tanya ke resepsionist dimana letak kamar Admer. Resepsionits yang sudah diberitahu Amer mengarahkan Adip ke rooptoop hotel. 


Dheg 


Adip menghentikan langkahnya sesampainya di taman rooftoop hotel itu. Terlihat seorang pemuda dengan penampilan kaos casual dan terlihat sangat elegan. Badanya tinggi sehat, kulitnya bersih, meski wajahnya berbeda dengan Jingga, tapi mata dan senyumnya mirip.


Dia tampak duduk di bangku dekat dengan kolam rooftoop. Pemuda itu dikawal oleh beberapa pria berpenampilan rapi bak Pangeran atau orang penting. 


“Sekaya itukah keluarga Jingga?” batin Adip menelan ludahnya langsung minder. 

__ADS_1


__ADS_2