Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
129. Aku Istrinya kan?


__ADS_3

“Hati- hati” 


Amer dan Jingga berpelukan sebagai tanda saling melepas, untuk berpisah sementara. 


“Jangan, bikin repot Bang Adip, Kak!” bisik Amer ke Jingga, di sini Amer merasa Adip lebih dekat denganya sebagai teman dan tidak tahu ada hubungan hati di antara keduanya. 


“Ya, kamu juga jangan susahkan Bidan Risa!” jawab Jingga mengangguk lirih. Lalu memakaikan tongkat kruk yang dia pinjam dari tempat praktek Bidan Rissa. 


Amer yang sudah berpamitan dengan Adip lebih dulu pun berangkat ke kota dengan Bidan Risa. 


“Kalian cepatlah ke atas, jangan sampai warga salah paham!” tutur Bidan Risa ke Adip dan Jingga. 


“Baik, terima kasih!” jawab Adip mengangguk sopan, kemudian menatap ke Jingga yang sudah mandi keramas dan berganti pakaian menggunakan baju Bidan Risa. 


Jingga memilih kaos panjang dan celana jeans, pakaian simple dan sopan, mengingat mereka berada di tempat yang butuh gerakan gesit. 


Setelah Amer dan bidan Risa pergi, Adip mengedipkan mata sebagai kode ajakan ke Jingga untuk segera kembali ke bukit, pumpung masih pagi dan belum banyak warga. 


Jingga menelan ludahnya, mendadak wajahnya memerah dan terus menundukan kepala. Adip yang melihatnya jadi keki sendiri. "Jingga kenapa?"


“Kau... jalanlah di depan. Jangan lelet! Sudah makan kan?” ucap Adip seperti biasa berbicara ceplas ceplos ingin mencairkan suasana hati Jingga.


“Ya!” jawab Jingga , sayangnya justru semakin menunduk. Kali ini giliran Jingga yang tidak mau menatap Adip. 


Jingga berjalan cepat membawa tas kecil berisi pakaian yang dipinjami Bidan Risa untuk mereka berdua. 


Adip berjalan di belakang untuk memastikan Jingga aman, tidak jatuh ataupun tertinggal. Mereka sudah hafal jalan menuju ke bukit sehingga berjalan dengan fokus.


Seperti yang dikatakan Bidan Risa, benar saja warga primitif terlihat di ujung jalan menuju bukit. 


"Itu sepertinya warga adat!" tutur Adip memberitahu Jingga. Jingga hanya diam.


“Jalan lebih cepat lagi! Jangan sampai dikira kita mau kabur!” ucap Adip memberitahu lagi.


“Aku udah cepat kok jalanya!” jawab Jingga akhirnya merasa sudah berjalan maksimal mengeluarkan seluruh tenaganya. 


“Haish, jangan bantah! Percepat jalanmu!” jawab Adip lagi tidak peduli. 


“Iiih!” keluh Jingga jengkel berhenti, menghentakan kaki dan meletakan tas pakaianya dengan mode ngambek. 


“Kok malah berhenti?” tanya Adip heran tidak tahu kalau Jingga lagi mode ngambek dan kesal.


Wajah Jingga pun sudah sangat muram, dengan kening berkerut dan mulut tertutup rapat, matanya menatap tajam ke Adip, tapi seperti berkaca- kaca hampir mau menangis. 


“Ayo jalan!” ucap Adip jadi takut melihat Jingga begitu. Adip melemahkan suaranya. 


“Aku capek! Apa kau tidak lihat? Aku sudah berusaha jalan cepat, kakiku kan juga masih perih! Ya sudahlah, biar saja kita bertemu mereka memang kenapa kalau mereka bertemu dengan kita? Nyatanya kita nggak kabur kan? Kenapa harus takut sih? Aneh banget! Hadapi aja kenapa??” jawab Jingga kemudian mengeluarkan emosinya dengan berkata banyak sekali. 


Gleg 

__ADS_1


Adip terdiam tidak menjawab, baru tahu Jingga secerewet itu.


Jingga sendiri tidak menunggu jawaban Adip, langsung kembali berjalan ke depan sambil menghentakan kakinya kesal. 


“Hoh... ternyata dia cerewet sekali, kukira sejak keluar dari rumah Bidan Risa dia murung sedih atau terjadi sesuatu. Rupanya..” batin Adip mengelus dada. Baru tau mode galak Jingga.


Adip pun sekarang tidak protes dan hanya bisa memperhatikan langkah Jingga saja.


Sementara Jingga masih dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak isinya, dengan segenap rasa kesal dan entah bercampur apa? Jingga berjalan benar- benar cepat sehingga begitu sampai di gubuk langsung duduk dan menghela nafasnya kasar. 


“Tuh mereka datang!” bisik Adip mendengar suara orang bercakap- cakap berjalan ke arah mereka. 


Jingga masih tidak menjawab dan terus membuang muka, tidak peduli. 


Diacuhkan dan didiamkan Jingga, Adip jadi tidak nyaman.


Padahal selama ini Adip yang mengacuhkan Jingga, baru tahu Adip rasanya diacuhkan begitu mengobrak- abrik hatinya. 


Warga primitif naik sebentar melihat  Jingga dan Adip duduk di gubuk lalu berjalan ke suatu tempat membawa sesaji. Kemudian pergi lagi. 


“Mereka ngapain ya? Kita lihat yuk!” ajak Adip ke Jingga berusaha mengajak akur.


“Aku di sini saja! Aku mau istirahat!” jawab Jingga masih tetap tidak mau menatap Adip.


“Oke... gue kesana ya!” pamit Adip ke Jingga. Sayangnya sekali lagi Jingga hanya diam semakin membuat Adip merasakan sakit yang tidak bisa diatikan. 


Adip pun tidak berkata banyak lagi. Mungkin Jingga sedang lelah sakit hati atau entah. Adip memilih mengahus rasa penasaranya, kemudian berjalan mengikuti arah warga tadi. 


“Hoooh!” Jingga menghela nafasnya kasar menghilangkan emosinya.  


“Bagaimana ini? Apa ini artinya aku hanya akan berdua denganya? Kita sudah suami istri kan?” gumam Jingga kemudian mengibaskan tangan membuang paniknya. 


Ternyata sedari tadi, di otak Jingga berputar- putar dengan banyak dugaan dan bayangan banyak hal yang tidak jelas, bahkan di otak Jingga selalu muncul pertanyaan yang sama berulang- ulang.


Jingga tidak puas dengan cerita Amer yang singkat dan hanya menekankan kalau Adip menolongnya. Jingga juga tidak sabar munggu cerita dari Adip yang mengulur waktu. 


Saat berdua dengan Bidan Risa, Jingga menanyakan dimana pakaian Jingga sebelumnya, Jingga juga menanyakan apa yang terjadi. 


Bidan Risa menceritakan, kalau warga memergoki Adip dan dirinya di rumah tepi ladang itu. Saat Bidan Risa membersihkan tubuh Jingga, Jingga tak memakai pakaian dalam, dan hanya mengenakan pakaian Adip. 


“Itu berarti Adip melihat semua tubuhku? Memakaikan pakaian padaku? Termasuk juga menyentuhku dong! Ahh tidak bagaimana ini? Kenapa dia bersikap biasa saja?” batin Jingga kesal bercampur malu yang teramat sangat. 


Jingga baru sadar saat dia ke kamar mandi dan buang air kecil, semua pakaian yang menempel punya Bidan Risa. 


Bidan Risa juga menceritakan detail, tentang penjelasan kenapa di video Amer, Jingga dan Adip diikat di pohon pinang.


Adiplah yang tertuduh melakukan perbuatan itu dengan Jingga.


Meski Bidan Risa dan Amer meyakinkan Jingga, kalau Adip tidak melakukan perbuatan itu. Yapi ada bisikan- bisikan nakal yang terus menggoyahkan pikiran Jingga.

__ADS_1


Entah itu bisikan jahat atau sebenarnya harapan nakalnya Jingga sendiri. Jingga malah berharap Adip saja yang melakukan sesuatu, karena jika Tama, Jingga rasa sangat jijik dan kesal. 


Entah apa yang terjadi sebenarnya. Jingga jadi berfikir, Tama atau Adip? Keduanya sudah menemui Jingga tak sadarkan diri dan dalam keadaan tak sepantasnya. Ya memang itu kenyataanya.


Sejak dirinya sadar, Jingga memang mengingat perkataan Tama dan mengira dirinya sudah kotor.


Tapi, Jingga mencocokan ilmu yang dia ketahui dan dia pastikan dengan bertanya pada Bidan Risa tadi. Jika korban perkosaan pasti ada trauma benda tumpul di kemaluanya. 


Hati kecil Jingga mengatakan, Jingga baik- baik saja. Bagian tubuh Jingga yang sakit justru punggung dan perut, bagian itu tidak sakit samasekali, satu sisi Jingga yakin akan hal itu.


Di sisi lain, bisikan nakal dan mesum datang lagi, apa iya, Adip dan Tama sebagai laki- laki tidak timbul hasrat apapun? Jingga kan cantik, badanya juga bagus?. 


“Aaaah bodoh... bodooh! Kenapa aku tidak sadar sih? Dan merasakan apapun?” gumam Jingga merutuki dirinya sendiri. 


Di saat itu, di otak Jingga malah terus berdatangan bayangan Adip yang menatapnya dengan mata laki- laki. 


“Haisssh, apa itu alasanya dia mau menikahiku dengan cepat! Nggak... nggak..., tapi dibanding Tama mending dia dong!?” batin Jingga lagi pikiran mesumnya datang.


Jingga malah jadi merinding sendiri dan membayangkan hal yang lebih jauh.


“Aaah ini semua gara- gara Tama brengsek itu... liat saja akan kuhancurkan reputasimu di kampus! Rasanya tersiksa sekali aku tidak tahu apapun!” batin Jingga geram mengusir pikiran- pikiran setanya. 


Di otak Jingga terus didatangi pikiran- pikiran kotor yang membingungkan dan menyebalkan. 


Jingga juga ingat terus semua jawaban Bidan Risa atas pertanyaanya. Meski Jingga sudah pernah dengar dan tahu, tapi Jingga tetap bertanya pada Bidan Risa, untuk menambah keyakinan dan perkiraanya.


Bidan Risa kan seorang senior yang sudah tua dan berpengalaman merawat perempuan di segala siklus kehidupan.


Jingga bertanya, bagaimana ciri- ciri orang yang masih utuh dan yang sudah direnggut paksa. Bidan Risa pun menjawabnya dengan detail. 


“Kenapa pasangan sebelum menikah itu di imunisasi **, itu adalah program upaya pemerintah melindungi kaum perempuan agar terhindar dari tetanus toxoid, karena setelah menikah, perempuan akan banyak mengalami perlukaan. Pertama luka benda tumpul dari suami yang merobek hymen perempuan! Belum nanti hamil dan melahirkan” 


“Apa itu sakit?” tanya Jingga tadi memastikan, padahal Jingga sudah tahu jawabanya.


“Tentu saja sakit, namanya jaringan dirobek pasti sakit, hanya saja, ambang sakit seseorang berbeda- beda. Luka itu jika tidak diimbangi dengan perawatan kebersihan secara tepat dan perlakuan yang baik bisa timbul infeksi. Biasanya pasangan muda atau korban pemerkosaan akan mengalami isk! Karena kan kalau pemerkosaan secara paksa jadi persiapan dari si perempuan tidak ada!” lanjut Bidan Risa memberitahu.


Bidan Risa juga memberi Jingga pil kontrasepsi darurat jika Jingga benar merasa ada yang beda darinya.


Jingga jadi bingung mau minum obat itu atau tidak.


Jingga terus mengingat penjelasan Bidan Risa dengan baik dan menyamakan dengan dirinya. 


“Hoh... Fiks... aku tidak merasakan sakit apapun? Aku masih perawan kan? Tapi bagaiamana kalau tidak? Benarkah Si Tama menyebalkan itu, kenapa tidak Adip saja? Aih kenapa aku berfikir begini? Tidak... tidaak. Tidak keduanyaa.. ahh menyebalkan!!” batin Jingga kesal memukul- mukul kepalanya sendiri.


Lalu Jingga berusaha menekan miliknya, untuk memastikan, rasanya benar- benar tidak ada perubahan. 


“Kenapa rasanya semenyebalkan ini? Kenapa aku tidak tahu apapun yang terjadi denganku?” batin Jingga kesal


“Aku minum nggak ya? Aku harus tanyakan pada dia? Tapi bagaimana aku bertanya? Apa dia menemukan bercak darah di gubuk itu? Ah bukan bukan? Bagaimana dia menemukanku? Aaah malunya?" batin Jingga lagi terus berperang dengan pikiranya.

__ADS_1


"Malam ini, jika Amer tidak pulang? Berarti aku berdua dengannya dong? Ah bagaimana ini? Kita suami istri kan? Ya aku istrinya. Aku harus tanya!” batin Jingga bertekad. 


__ADS_2