
Jingga tiba langsung berlindung pada Amer. Amer biasa saja tidak peduli pada Jingga yang tiba- tiba masuk langsung duduk diam.
Entah rasanya benar- benar sesak buat Jingga mendengar Adip bilang Siska cantik dan baik.
Jingga ingin satu- satunya yang cantik di mata Adip adalah Jingga. Jingga ingin protes melampiaskan semua kesal yang menumpuk.
"Ehm...," dehem Adip saat berhasil menyusul Jingga masuk ke dapur tapi ada Amer.
Di kamar Adip, Baba sedang berbaring tidur, sementara di ruang tengah banyak pengawal Baba. Amer dan Jingga di dapur. Amer sedang asik menyeruput kopi khas desa di pulau itu.
Rumah sementara Adip di desa Teras kan kecil sangat, kalau penuh orang begitu mana bisa merayu Jingga. Tidak ada ruang privasi sama sekali untuk mereka.
"Hai Bang...," sapa Amer biasa saja tidak tahu kalau Jingga dan Adip sedang marahan.
"Hai... perahu besar itu sewaan Baba ya?" tanya Adip bosa basi.
"Iyah," Baba kan memang menyewa perahu besar dan canggih saat tiba, Baba ingin pakai agar tak terhambat perjalanan meski malam.
"Aku kira, jemputan untuk anak- anak," ucap Adip menebak.
Mendengar kata anak- anak Jingga tambah salah paham lagi dikira Adip memikirkan Siska dan yang lain.
"Baba yang sewa Bang, buat perjalanan malam,"
"Oh. Apa itu berarti malam ini kita tidak menginap?"
"Nggak Bang. Baba ingin cepat pulang!"
"Oh gitu? Baguslah!"
"Iya.. Buna dan yang lain pasti sudah tunggu kabar kita!"
"Yap! Bismillah semoga lancar ya!" jawab Adip, lalu melirik ke Jingga yang diam menunduk di samping Amer.
"Ya, Bang Aamiin. Amer juga bentar lagi berangkat kuliah lagi, ke luar Bang!"
"Oh gitu. Cepet banget yak waktu, tau- tau udah berakhir aja liburan!"
"Iya. Tapi nanti aku akan sering main ke sini, selama Bang Adip di sini. Aku ajak temen-temenku Bang!"
"Siiiip!" jawab Adip menepuk bahu Amer.
"Mer!" panggil Adip.
"Yah!"
"Boleh minta tolong nggak?"
"Apa?"
"Ambilin korek, di luar jatuh keknya tadi," tutur Adip beralasan ingin berdua dengan Jingga.
"Korek?"
"Iya... buat nyalain tungku. Rebus air bawa bekal di kapal!"
__ADS_1
"Oke Bang!" jawab Amer mengangguk.
"Cari sampai ketemu, ya. Di sekitar pohon!"
"Ya, Bang!" jawab Amer bangun dan keluar.
Kini di dapur sempit dan sederhana itu tinggal Jingga dan Adi yang duduk di dipan bambu.
"Ehm...," dehem Adip membawa dirinya duduk lebih dekat dengan Jingga.
"Maaf kalau aku salah, jangan ngambek dong!" tutur Adip pelan dan terasa kaku.
Jika sebelum menikah, Adip biasa aja dijutekin Jingga. Malah seringnya Adip yang misterius dan diam mengerjai Jingga.
Hanya saja sekarang, ada Baba Jingga. Nggak seru kan kalau di depan mertua marahan dan dikira Adip nggak bisa jaga Jingga.
Jingga masih diam.
"Kamu cemburu, Abang foto- foto sama mereka? Maaf. Jangan kaya anak kecil gini sih!" tutur Adip berniat memberi tahu tapi justru tambah buat Jingga marah dianggap kaya anak kecil.
"Kan mereka temen kamu? Temen Abang juga, temen kita. Wajar kan kita ambil kenang- kenangan. Setelah ini kita jarang ketemu lho! Sama mereka. Nggak tahu juga bisa ketemu lagi kapan?" lanjut Adip lagi berusaha ajarin Jingga berfikir normal.
"Kata siapa?" celetuk Jingga jutek buka suara saking kesalnya.
Meski jutek Adip lega, setidaknya Jingga mau buka suara. Jutek lebih baik dari diam.
"Lah kan kamu di Ibukota, mereka kan dari kampus di daerah dan tempat lain,"
"Tetep aja!"
"Plaak!"
Mendengar ucapan Adip, Jingga tambah kesal dan memukul paha Adip dengan wajah bermuram durjanya. Heran banget, kenapa nggak rayu lebih manis malah jelek- jelekin Jingga.
"Aduuuh, sakit Sayang," tutur Adip mulai mengeluarkan jurusnya menatap Jingga lebih dekat dan intens.
"Iya.. ya. Yang baik dan cantik itu Siska. Aku kayak anak kecil. Bete! Yang jadi masalah itu bukan fotonya. Nggak usah senyum- senyum ke orang. Kecentilan! Dasar! Sok ganteng!" omel Jingga lagi kesal dan keceplosan mengungkan betapa cemburunya dengan Siska.
Adip tersenyum lagi.
"Siska emang baik. Istri Abang emang kaya anak kecil, tapi yang nyangkut di hati Abang itu kamu!"
"Ihhh... kan masih ngatain aku kaya anak kecil!"
"Lah abis gimana? Ya udah tunjukin dong kalau istri Abang, dewasa. Oooh ya yang tadi masalah foto. Oke. Berarti kalau aku difoto lagi nanti cemberut aja gitu ya? Okelah. Nggak apa- apa ya. Kalau nanti ada yang bilang ke kamu. Suami kamu kok galak bener sih Ngga? Jelek gitu? Nggak apa-apa ya?" goda Adip lagi ke Jingga.
"Iiiih bukan gitu!" ucap Jingga lagi tambah manyun dan memukul bahu Adip gemas- gemas manja.
Tidak membuat Adip sakit tapi malah senang.
"Lah terus gimana?" tanya Adip lagi.
"Ada aku aja, kamu gitu? Dekat- dekat cewek- cewek. Pasti pas nggak ada aku centil centil! Aku, tuh sebenernya dianggap nggak sih? Bisa nggak sih jaga perasaan aku. Dari dulu gitu, selalu aku dicuekin!" tutur Jingga merajuk sangat imut bagi Adip.
Adip kemudian tersenyum lagi, pokoknya kalau Jingga marah itu menggemaskan. Adip kemudian membelai kepala Jingga yang sekarang dibalut hijab.
__ADS_1
"Jingga istriku, Sayang. Nggak ada yang cuekin kamu. Kita biasa aja kok. Dari dulu aku perlakukan kamu berbeda. Ya karena kamu itu memang istimewa buat aku. Kamu nggak pernah tau kan kalau di dekatmu, jantung aku geter kenceng banget!!" tutur Adip mulai menggoda lagi. Tapi memang benar sih.
"Bohong!" ucap Jingga ketus tapi wajahnya merona dan tersipu. Jingga mulai luntur marahnya.
"Haishh," desis Adip. Lalu merapat ke Jingga dan mengambil tanganya. Saat mereka sedang pegangan tangan dan saling tatap, marahnya Jingga hampir sembuh, Baba datang sambil mengucek matanya.
"Ehm....,"
Adip pun segera melepas tangan Jingga dan mejauhkan diri dari Jingga. Meski mereka sudah menikah, tetap saja rasanya malu ketahuan Baba, bermesraan.
"Baba..., sore Ba!" sapa Adip ke Baba.
"Berangkat jam berapa kita?" tanya Baba dingin.
"Kita sholat ashar dulu. Ba!"
"Oke. Ya sudah siap- siap!" jawab Baba lalu melirik anaknya yang menunduk.
"Kalian lagi apa di sini? Awas ya! Ingat janjimu!" tutur Baba mengancam Adip yang enggak ngerti maksudnya apa.
"Uya Ba!" jawab Adip iya aja.
Jingga pun mengernyit.
"Emang janji apa sama Baba?" tanya Jingga berbisik.
Padahal Adip sendiri juga lupa dan nggak mudeng maksud Baba apa.
Adip mengusap tengkuknya bingung.
"Janji apa ya? Abang juga bingung!"
"Tuh kan! Aku nggak dikasih tau! Ihhh!" ucap Jingga sambil menghentakan kaki marah lagi. Jingga bangun sambil bawa emosi.
"Haishh! Jingga dengerin aku dulu!" panggil Adip mau merayu lagi, tapi Amer datang lagi.
"Nggak ketemu koreknya, Bang. Udah kucari kemana- mana!" ucap Amer sambil mengelap keringatnya.
Adip kemudian merogoh sakunya.
"He... maaf. Ada di sini ternyata!" jawab Adip menunjukan koreknya.
"Heleh....,"cibir Amer
Adip kan memang hanya ingin usir Amer. Mengesampingkan Jingga yang marah,Adip memilih menyiapkan perjalanan mereka.
Merebus air untuk ditaruh di termos. Lalu mempacking barang- barangnya..
Pokoknya selama tidak tinggal berdua tidak ada celah untuk mereka bermesraan.
"Huuuuft. Bismillah. Aku lakukan ini semua demi kamu, Sayang. Masa kamu nggak ngerti juga sih? Semoga dapet ijin" gumam Adip menepuk kedua tanganya selesai berbenah.
Adip mau cuti demi menikah resmi di Ibukota. Adip juga akan mengunjungi kedua orang tua asuhnya. Agar pernikahan mereka berjalan sebagaimana mestinya.
Sambil berkemas, Adip mengambil isi kotak yang selalu dia bawa.
__ADS_1
"Aku harap ini akan menjadi mas kawin berharga untukmu! Maaf aku belum bisa belikan berlian mahal," gumam Adip lagi memegang benda keramat peninggalan almarhumah ibu kandungnya.