
Satu- satunya harapan Jingga adalah Adip. Tapi sayang liat waktu saja sangat mepet. Adip malah salah paham.
Mereka memang berjanji untuk memasrahkan urusan Nila pada Tuhan dan orang yang bersangkutan. Adip meminta Jingga fokus ke kehidupan dan masa depan kita. Benar memang Adip pikir.
Tapi, hanya Jingga yang tahu kenyataanya. Sebagai Kakak mana mungkin Jingga diam saja. Meski kata Adip, Alloh Maha membolak balikan hati manusia, Nila anak yang kuat, jodoh itu di tangan Tuhan dan tidak ada yang bisa menebak masa depan. Tetap saja Jingga tidak bisa membiarkan Nila disakiti.
Bagi Jingga, Nila terlalu baik dan manis untuk di sakiti. Nila sangat penurut, Nila sangat lembut, Nila polos, Nila berhak bahagia dan dimuliakan. Nila harus berjodoh dengan orang yang cinta Nila, bukan cadangan atau pelampiasan.
"Haaah... bagaimana ini? Kenapa Bang Adip malah salah paham sih?" batin Jingga menggigit bibir bawahnya.
Adip tampak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Jingga gugup dan bleng tidak bisa berfikir bagaimana cara menyelamatkan Nila.
Saking bingungnya Jingga hanya bisa menangis.
"Kalau aku hanya bercerita, Bang Adip hanya akan terus berprasangka. Aku harus punya bukti, Pak Rendi itu gila, ambisi, jahat dan psikopat. Dia tak sealim dan sebaik yang Baba kira. Tapi bagaimana caranya?" gumam Jingga berfikir.
Setelah lama berfikir. Jingga menemukan cara, ya memancing Rendi mengeluarkan sifat aslinya. Entah lewat video atau live biar orang liat dan tahu.
Karena Adip sedang di kamar mandi, Jingga pun segera turun. Jingga tersenyum lebar, dari atas terlihat Rendi sendiria, Baba siap- siap pergi Nila juga pergi.
"Aku akan memancingmu dan akan aku rekam," batin Jingga mengeluarkan ponselnya dan bersiap menemui Rendi.
****
Rendi di ruang tamu.
Rendi duduk dengan wajah dinginya. Wajah dengan mata tajam yang menyimpan sejuta tanya. Tak ada yang bisa menebak bagaimana Rendi sebenarnya.
Rendi terkadang terlihat galak disiplin. Seringkali arogant dan otoriter. Tapi jika ada yang lebih berkuasa darinya, Rendi akan menjadi pribadi yang sopan dan hangat.
Tatapan Rendi kemudian lurus ke dinding depanya. Foto yang baru 1 hari lalu terpajang di rumah Baba. Foto pernikahan Jingga dan Adip lalu beserta keluarga besarnya.
"Jadi kamu mempermainkanku karena Adip, Jingga? Dan kalian memperlakukan aku seperti robot dengan kesepakatan pernikahan tanpa punya hati?"
"Malang sekali adik kecilmu Jingga. Mungkin Nila tidak tahu apa- apa. Tapi aku akan membuatmu khawatir sepanjang hidupmu, Jingga. Aku ingin kamu terus mengkhawatirkan Nila sampai kamu lupa kebahagiaanmu!" batin Rendi lagi tersenyum simpul tanpa ada yang melihat.
Di saat Rendi melamun Jingga datang.
"Ehm....," Jingga berdehem sudah berdiri di dekat Rendi.
Tepat sekali saat Rendi membatinya Jingga datang. Rendi menoleh lalu menatap perempuan yang 10 tahun lebih muda darinya.
"Hai...," sapa Rendi tersenyum lembut.
Jingga mengeratkan rahangnya, kesal. Bisa- bisanya Rendi sok manis dan sopan.
"Untuk apa Bapak ke sini dan sok- sokan mau antar suami saya? Apa rencana Bapak dan maksud Bapak sebenarnya?" tanya Jingga memancing agar Rendi mengeluarkan sifat aslinya.
"Apa maksudnya, Jingga," tanya Rendi lembut lagi. Mata Rendi tidak ke Jingga tapi ke sekeliling.
"Gleg!" Jingga menelan ludahnya mengernyit. Kenapa Rendi jadi sok lembut dan sopan.
"Apa rencana Bapak sebenarnya? Kenapa Bapak sok baik ke suami saya. Bukanya Bapak tadi bilang ingin saya ceraikan suami saya?" tanya Jingga lagi.
Rendi tampak tersenyum, memijat pangkal alisnya, lalu menegakan kepalanya tenang.
"Jingga...kamu tahu kan? Bahkan daun yang jatuh tak membenci angin, dan semua urutan itu sudah ada ketentuanya. Kita tidak harus saling benci. Lupakan semuanya. Kita sekarang jadi calon keluarga. Aku menghormatimu dan Adip sebagai saudaraku meski kamu mahasiswiku. Mari kita berdamai," tutur Pak Rendi sangat sopan lagi.
__ADS_1
"Hoooh...," Jingga hanya menghela nafasnya kesal. Kenapa Rendi yang tadi dan sekarang seperti orang berbeda.
Apa Rendi tahu di dalam saku Jingga ponsel dengan mode rekam menyala. Kenapa Rendi jadi baik dan sok bijak.
"Halo... Jingga kenapa bengong?" sapa Rendi lagi.
"Kamu memang pandai bersandiwara ya Pak?" ucap Jingga dengan tatapan benci.
Rendi tersenyum dan melirik ke arah tangga, lalu menatap Jingga.
"Jingga... Adip sekarang suamimu. Hargai perasaanya. Aku sudah lupakan semua yang sudah lalu kok. Mari kita berdamai, kamu akan LDR, hal terbaik yang harus kamu lakukan adalah menjaga kepercayaan suamimu! Aku menghormati kalian sebagai calon kakakku," tutur Pak Rendi lagi semakin ngelantur dan bersuara lebih keras lagi.
"Whoaaah...," pekik Jingga kesal, kenapa Rendi ngomong bawa- bawa Adip LDR segala.
Rendi hanya tersenyum. Dan tiba-tiba di belakang kursi berdiri Adip dengan wajah merah menahan marah.
"Sayang, kamu lagi apa? Aku mencarimu, ternyata kamu di sini?" tanya Adip tanya senyum sama sekali.
"Bang Adip?" pekik Jingga kaget. Jingga memejamkan matanya sejenak, pantas Rendi ngelantur. "Kacau, Rendi memang licik," batin Jingga.
Adip menganggukan kepala hormat ke Rendi lalu menatap Jingga kecewa.
"Bantu Bang Adip berkemas, ikut Abang!" ucap Adip lirih dengan nada dingin meminta Jingga ikut Adip. Adip tidak suka lihat Jingga bersama Rendi apalagi dengar kata- kata Rendi.
Jingga mengangguk bangun mengikuti Adip berjalan meinggalkan Rendi.
Adip tidak ke kamar tapi ke dapur. Wajah Adip sudah sangat murung.
"Kok ke dapur? Oh ya? Bukanya barang- barang, udah dikemas sejak tadi Bang?" tanya Jingga dengan polosnya.
Barang- barang Adip memang sudah di kemas.
Mendengar dan melihat Adip marah Jingga langsung kaget, gemetaran dan takut, bahkan saat itu juga matanya berkaca- kaca.
"Ab.. abaang..," lirih Jingga takut.
Adip mengusap wajahnya kasar lalu beristighfar dan menoleh ke Jingga tajam.
"Astaghfirullohal'adziim," ucap Adip berusaha meredam amarah di dadanya yang bergemuruh agar tak kelepasan menyakiti Jingga.
Adip menghela nafasnya lagi. Adip terlihat sangat kacau.
"Bang Adip marah ke Jingga? Ma maaf?" tanya Jingga terbata kini Jingga menangis.
Walau bawel dan bandel, tetap saja, Adip lima tahun lebih tua dari Jingga dan Jingga takut jika orang yang biasa memanjakanya jadi galak.
"Apa ini caramu mencegah Bang Adip pergi? Kenapa kamu kecewain Bang Adip begini Jingga? Apa kamu sengaja ingin buat Bang Adip sakit?" tanya Adip pelan.
"Gleg," Jingga terdiam, pertanyaan Adip tidak bisa Jingga mengerti.
"Abang salah memang. Kita menikah di waktu yang tidak tepat. Perkenalan kita begitu singkat. Tapi ini takdir kita Jingga. Ini kesepakan kita. Kamu yang pilih Bang Adip? Kita sudah sepakat menikah dengan komitmen kita? Kenapa kamu begini? Kenapa kamu sakitin Bang Adip begini?" tanya Adip dengan wajah kecewa.
"Maksud Bang Adip apa?" tanya Jingga kaget tidak menyangka Adip sejauh itu berfikirnya.
"Apa kamu sengaja mendekati Pak Rendi dan membuat Bang Adip cemburu? Atau kamu belum ikhlas dengan Bang Adip. Kamu masih ada rasa sama Pak Rendi? Kenapa kamu terus ingin membahasnya. Dan..."
"Bang? Astagah!" pekik Jingga semakin bingung menjelaskanya dan tidak menyangka Adip secemburu itu.
"Bang Adip, selalu berusaha positif thinging dan percaya kamu Jingga. Abang yakinin diri Abang, Jingga hanya cinta Bang Adip, tidak ada orang lain di hati Jingga. Tapi kenapa kamu begini?" tutur Adip lagi sangat cemburu melihat Jingga dan Rendi berduaan.
__ADS_1
"Baang... Bang Adip salah paham! Kan Jingga berkali- kali bilang. Jingga nggak ada rasa sama Pak Rendi. Jingga emang cuma cinta sama Bang Adip," ucap Jingga sangat bingung.
"Ya udah kalau gitu, buktikan!" ucap Adip sedikit gemas.
Jingga terdiam menelan ludahnya. Jingga benar- benar tidak mengerti, cemburunya laki- laki lebih susah dipahami untuk Jingga.
"Jingga harus buktikan apalagi Bang? Bukankah semuanya udah Jingga buktiin ke Bang Adip? Jingga istri Bang Adip,"
"Lali apa tadi? Abang malu Sayang, sampai Pak Rendi bilang begitu. Kamu cinta kan sama Bang Adip? Tolong jangan buat Bang Adip risau dan khawatir dengan kelakuanmu. Kamu setia kan sama Bang Adip?" tanya Adip matanya mulau memerah.
"Astagah Abang?" pekik Jingga sangat sakit, bisa- bisanya sampai Adip meragukan kesetiaan Jingga. Rendi kurang ajar berhasil memanipulasi keadaan.
"Jawab pertanyaan Bang Adip? Kenapa sampai Pak Rendi bicara seperti itu?" tanya Adip lagi.
Orang saat cemburu memang dibuat mengesampingkan akal.
Jingga mengambil nafasnya mengambil jeda berfikir, ini ternyata yang diingankan Rendi. Jingga yang tahu keadaanya pun berusaha mengontrol keadaan.
Kesalahpahaman Adip lebih utama diselesaikan. Jingga segera meraih tangan Adip.
"Demi Tuhan, demi apapun Bang. Jingga cinta bang Adip dan Jingga akan jaga. Kalau Bang Adip ragu? Jingga mau tinggalin keluarga Jingga dan kuliah Jingga. Bang Adip tahu itu kan?" ucap Jingga serius.
"Ya.Bukan itu jawaban yang Bang Adip inhin tahu. Kenapa Pak Rendi tadi bicara begitu dan kenapa kalian ada di sana berdua?" tanya Adip lagi.
"Jingga juga nggak tahu Bang, Pak Rendi sengaja begitu, dia ingin kita bertengkar?" ucap Jingga menjelaskan.
"Sengaja gimana? Kamu sengaja mendekatinya?" tanya Adip lagi.
Jingga menelan ludahnya bingung dari mana ceritanya.
"Abang... astaghfirulloh!"
"Abang mau berangkat, seharusnya kamu temani Bang Adip. Bantu Bang Adip, bukanya malah...," tutur Adip mengutarakan kecewanya.
Jingga putus asa sudah kalau begini. Ya Jingga memang salah perhitungan. Rendi lebih licik.
"Baang...bukan begitu, Jingga hanya ingin selamatkan Nila," ucap Jingga lirih.
"Stop bahas Nila. Sebenarnya kamu selamatkan Nila atau kamu yang nggak ikhlas dan masih ada rasa sih?" tuduh Adip lagi.
"Bang... Jingga nggak ada rasa sama sekali. Tadi di kampus Pak Rendi itu ancam Jingga dan berkata tidak baik ke Jingga," ucap Jingga menggebu ingin jujur.
"Ancam gimana?" tanya Adip.
Belum Jingga jawab, Buna dan Baba datang.
"Sudah siap Dip?" tanya Baba.
Jingga dan Adip pun menetralkan suasana lalu menyapa Baba dan Buna.
"Sudah Ba" jawab Adip.
"Ayo makan dulu. Ajak Rendi juga, dia jadi antar kan?" tanya Baba.
Adip mengangguk bangun dan ajak Rendi makan.
Jingga menunduk.
"Bagaimana caranya ini? Bang Adip sebentar lagi pergi? Apa aku sampaikan ke Baba dan Buna sekalian? Tapi bagaimana kalau mereka malah salahin aku?" batin Jingga menunduk ingin menangis.
__ADS_1