Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Tamat


__ADS_3

“Hijau... Biru... Kakak mau ke rumah Emak dan bapaknya Bang Adip, lho!” tegur Buna karena Iya  dan Iyu asal masuk dan naik saja. 


“Iya sama Iyu mau ikut kakak!”jawab mereka kompak.


“Nggak apa- apa Bun!” jawab Adip tiba-tiba bilang nggak apa- apa dengan senyum ramahnya.


Jingga menyenggol Adip tapi Adip tak beregeming dan malah tersenyum ke Buna. 


“Minta pakaian Iya sama Iyu aja Bun,” tutur Adip. 


“Ini benar, Hijau sama Biru mau diajak ke rumah Emak? Mereka rewel lho!” jawab Buna meyakinkan.


“Nggak apa- apa, emak pasti senang!” jawab Adip ramah.


Ya sebagai menantu Adip tidak mau egois. Adip kan kakak tertua jadi harus mengayomi adik- adiknya. Adip juga ingin dekat dan merasakan punya banyak saudara.


“Oh ya... tunggu sebentar, Buna siapkan ya!” tutur Buna masuk. 


Begitu Buna masuk Jingga langsung mengernyit. 


“Bang Adip beneran mau ajak mereka? Mereka itu biang kerok lho!” ucap Jingga. 


“Nggak apa- apa. Simulasi anak banyak!” jawab Adip enteng malah bercanda.


Jingga pun hanya terbengong ditinggal Adip.


Adip malah mendekati Iya dan Iyu yang sudah menempatkan diri kruntelan di mobil rasa kasur sekaligus menyalakan televisi. 


“Hai jagoan!” sapa Adip.


“Aku sekarang mau jadi adiknya Bang Adip, tapi kita ikut ya!” jawab Iyu meminta. 


Ya mereka kan dulu yang menentang Adip dan lebih suka Rendi. Sekarang mereka jadi suka Adip.


“Oke... kita nanti naik ke gunung ya..., kalian sika?” ucap Adip lagi.


"Kita berwisata?"


"Yas!"


"Horeee!"


Iya dan Iyu pun berjingkat dan tos. 


“Nggak berisik dan nakal, awas aja kalau kalian rese!” celetuk Jingga menimpali menyusul melongok ke adek- adekny. 


“Huh!” Iya dan Iyu malah melengos. Mereka kan versus dengan Jingga. 


"Kalau nakal nanti Kaka turunin di tengah hutan biar dimakan harimau!" ledek Jingga lagi.


"Kakak nakal!" seru Iya dan Iyu.


"Makanya kalian patuh sama Kaka!"


"Kita mau sama Bang Adip kok!" jawab mereka lagi.


Adip pun tertawa, ternyata seru sekali bersama dua anak kembar ini.


Buna kemudian datang membawa tas perlengkapan Iya dan Iyu, termasuk susu, pamperrs dan juga guling kesayangan mereka. 


‘’Hijau Biru , kalau ikut kakak jangan nakal ya. Harus sopan nanti sama Emak dan Bapak!” tutur Buna menasehati. 


“Iya Buna... Iya dan Iyu mau jalan- jalan ke gunung Bun!” jawab Iya dan Iyu serempak. 


Buna mengangguk.



Setelah banyak memberikan pesan dan emnata tempat, Adip dan Jingga pamit ke Baba dan Buna. Sore itu mereka menuju ke rumah Emak. 


"Hati- hati yaaa!" seru Baba dan Buna melambaikan tangan.

__ADS_1


Jingga dan Adip di depan dan Iya Iyu asik nonton di belakang. Iya dan Iyu sangat happy bersama kakak tertuanya itu.


Akan tetapi, pepanjang jalan Jingga menggerutu dan ngomel karena rencanaya nginep dan datang ke wisata gunung yang kata Adip dekat dengan rumah Emak dan bagus Jingga kira batal. 


“Jadi Sayang!” 


“Iya sama Iyu gimana?” jawab Jingga


“Ikut!” 


“Kok gitu? Mereka ikut kamping? Bahaya, repot. Kita nggak bisa itu dong?” tanya Jingga mengkode ingin digempur lagi sama Adip. 


Adip jadi tertawa lepas. 


“Kok ketawa?” 


“Bisa.... kita malah bisa lebih seru!” jawab Adip lagi.


“Kok gitu? Seru gimana? sempit,” 


“Di atas kan Abang bawa tenda dan peralatan kemah lengkap. Iya dan Iyu biar tidur di mobil!” jawab Adip memberi kode.


Jingga pun teresenyum senang. 


"Oke siap!"


Adip langsung mengacak- acak rambut Jingga tidak sabar sampai di tempat camping.


Mereka tidak berani bermesraan ada Iya dan Iyu. 


Karena berangkat sore, mereka memang sampai di kabupaten Emak malam. Mereka pun mampir makan di pedangan kaki lima. 


Adip jadi akrab dengan Iya dan Iyu. Jingga pun mengeluarkan sisi keibuanya bereperan sebagai ibu. 


Setelah kenyang makan mereka melanjutkan perjalanya.


Adip tidak langsung ke rumah Uwak dimana Emak dan teman- temanya tinggal. Melainkan ke tempat wisata yang terkenal di situ sering dijadikan tempat berkemah anak- anak sekolah. 


Akan tetapi bagian atas di sediakan bukit bagi mereka yang ingin membuat tenda. Jadi meski di puncak masih berbau alam tapi kebersihan dan keamananya terjaga dan diolah.


Bukit itu juga berundak dan terbagi menjadi beberapa sisi.


Kebetulan di bukit paling atas sedang ada kelompok mahasiswa yang menginap meski beda tempat jadi Adip dan Jingga tidak kesepian tidak juga horor tapi tetap syahdu.


Adip memilih bukit yang rendah akan tetapi masih bisa menikmati indahnya sunset.


Adip memilih tempat rendah karena meninggalkan Iya dan Iyu di mobil. Jadi mereka ambil yang dekat dengan mobil dan area parkir. 


Malam itu Jingga dan Adip kesampaian, tidur di tenda. Karena Adip memilih tempat yang rendah mereka masih mendapatkan sinar lampu dari bangunan sekitar.


saat mereka tidur mereka memadamkan lampunya. Sehingga bisa melakuakn penyatuan cintanya tanpa membuat gaduh orang lain. Penyatuan cinta yang menyatu dengan alam disaksikan angin yang dingin dan kerlipan bintang yang indah bertaburan.



Hingga fajar tiba, Adip dan Jingga membangunkan Iya dan Iyu.


Meski masih berhadas besar, mereka bersama kedua adiknya membuat api unggun dan masak bersama. Masak dari hasil makanan yang di jual dan diseediakan pihak tempat wisata sambil menikmati matahari terbit. 


Iya dan iyu sangat suka dan tidak menyangka kakaknya sekeren itu. Adip dan Jingga juga jadi hangat menjadikan celotehan Iya dan Iyu jadi hiburan.


Adip menularkan Iya dan Iyu cinta alam dan cinta lingkungan.


Setelah pagi tiba mereka pun ke rumah Emak. 


Emak sudah sehat meski masih memakai salep dan berobat jalan.


Sekarang berbalik, anak- anak Uwak yang masih single jadi kuli Emak. Sementara Uwwak dipenjara. 


Iya dan Iyu juga suka bertemu Emak dan yang lain. 


Adip dan Jingga tidak lama di situ. Setelah agak siang, mereka kemudian kembali ke Ibukota. 

__ADS_1


Di Ibukta Om Dika sudah sampai, Om Dika pun membawa mobil yang tak kalah mewah dari mobil Baba. 


Pagi itu Jingga pun diantar Bang Adip dengan mobil mewahnya. 


Dan sebenarnya, pelatihan Adip hanya 3 hari, sisa hari yang lain adalah, Adip jadi tamu undangan sebagai pemateri seminar yang bertemakan tentang lingkungan dan pelestarian satwa yang diadakan bem kampus Jingga. 


Ya Adip pernah mendapat penghargaan sebagai volunteer, founder sebuah organinsasi anak muda penggerak cinta lingkungan dan perlindungan terhadap satwa. Bahkan Adip pernah ikut pertukaran pelajar ke luar negeri. 


Bahkan siang itu, baleho seminar di auditorium kampus Jingga terpampang wajah Adip.


Teman- teman Jingga pun tertampar, saat Jingga dan Adip datang memakai mobil mewah bahkan Adip sebagai tamu pemateri dan berbicara di atas sana.


Di dalam curiculum vitaenya, Adip pun mempresentasikan dirinya sebagai suami seorang Jingga.


Anak- anak Bem universitas yang tadinya tidak kenal Jingga, bahkan beda fakultas sekarang jadi kenal Jingga sebagai istri Adip. 


Jingga pun semakin bangga dan menangis haru.


Sungguh Jingga baru tahu, kalau Adip sering menjadi narasumber di berbagai acara jika ada hari- hari tertentu. 


“Jingga bangga banget sama Abang, Jingga ngerasa beruntung banget punya Abang!” ucap Jingga meneteskan air mata saat sesi makan, setelah selesai acara.


“Iiish kenapa nangis sih?” 


“Jingga nggak punya prestasi apa- apa Bang? Jingga nggak pernah ngelakuin apa- apa, Jingga nggak punya bakat apapun. Apa pantas Jingga jadi istri Bang Adip?” isak Jingga lagi menunduk takut ada yang melihat.


“Kamu bidadari terindah yang pernah Bang Adip temui, Sayang. Kata siapa kamu tidak punya prestasi? Kamu punya banyak prestasi hebat kok, termasuk rebut hati Bang Adip!” jawab Adip malah ngegombal.


“Abang...,” pekik Jingga. 


“Setiap orang punya passion masing- masing Sayang. Kalau Abang aktif, kamu juga aktif, siapa yang akan rawat anak- anak kita nanti dan siapkan sarapan buat Bang Adip. Yang ada kita sama- sama berlomba sibuk. Jadilah isri Abang, ikut Abang keliling negeri dan menebar kebaikan, kamu mau kan?” 


“Mau” jawab Jingga. 


Adip pun mengacak- acak rambut Jingga yang tertutup hijan.  


Setelah pelatihan dan agenda di Ibukota selesai, Adip pamit ke Jingga, tentunya setelah banyak diberi wejangan. 


Adip kembali pergi ke Pulau Panorama melanjutakn pengabdian dan jadi kaki tangan Baba dalam setiap rapat proyek Baba.


Baba membeli beberapa alat transportasi juga untuk di Pulau P. Meski LDR mereka jadi tidak susah berkomunkasi.


Jingga pun semakin hari semakin kuat. Figur Adip membuat Jingga juga ikut terjun ke organisasi suaminya meski Jingga tak menjabat dan hanya jadi anggota.


Akan tetapi Jingga banyak ikut menyumbang di berbagai kegiatan. 


Di Pulau Panorama Baba dan Adip beserta warga sekitar, pemerintah setempat pun membangun pulau Panorama. Membangun sekolah, rumah sakit, tempat ibadah dan juga pariwisata. 


Kabupaten M yang tadinya tertinggal berubah menjadi tanah surga yang penuh pesona.


Mengandalkan Baba dan timnya. Babapun promosi ke seluruh negeri dan mancanegara. Kapupaten M menjadi tempat pariwistaa favorit untuk para pemburu mahakarya Tuhan.


Nama Adip pun dikenal masyarakat luas, Adip jadi besar. Tempat wisata dan bebrapa yayasan pun atas nama Adip dan Jingga.


Bahkan teman Baba yang sebagai ketua partai besar di negaranya suatu hari meminta Adip menjadi kader pemimpin daerah di pulau Panorama. 


Akan tetapi Adip memilih menjadi warga nomaden dan tetap sebagai penggiat pecinta lingkungan dan bebas travelling kemana- mana.


***** 


Maaf nanti kuedit lagi. 


Sudah 8 bulan novel Jingga membersamai kita.


Kisah ini kita cukupkan Ya Kaaak. Terima kasih banyak  atas banyak cinta untuk mereka. 


Mohon maaf banyak kesalahan. 


Doakan levelnya naik besok pagi ya... kalau level naik lebih dari sama dengan 7 ada give away, tapi kalau tidak... kasih cinta aja ya hehe.. 


See youuuu.... 

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘😍😍😍😍


__ADS_2