Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
116. Didobrak.


__ADS_3

“Ini desanya?” tanya Adip mengarahkan senter yang dia pinjam dari Amer. 


“Ya Kakak Ganteng!” jawab tukang perahu menepikan perahu.


 


Tidak peduli malam gelap, dan terdengar lolongan anjing hutan ataupun bintang malam yang bersembuyi di balik semak- semak sepanjang sungai, di temani lentera dengan sinar temaram mereka melakukan perjalanan ke desa A.


Adip tak kenal takut, di otaknya hanya terfikir tersesat dimana Jingga? Siapa yang membawanya? Untuk apa datang ke desa S? Apa dia baik- baik saja? Adip sangat tahu, Jingga begitu polos dan cengeng. Bahkan sangat bodoh buat Adip.


Amer yang baru pertama kali dihadapkan dengan situasi semacam itu hanya diam dan pasrah mengikuti setiap langkah kemana Adip bergerak.


Dada Amer ikut bergemuruh, meski tak tahu apa- apa dengan semua yang terjadi, Jingga adalah kakak rasa adik yang sangat dia sayangi.


Di pundak Amer juga terpikul beban berat yang Baba titipkan untuk membawa kakaknya pulang. Apapun yang terjadi Amer harus bawa temukan Jingga.


Ada rasa sesal menyusup ke relung jiwanya, kenapa tidak lebih cepat Amer datang ketempat itu? Kenapa juga tak terus terang membawa pengawal.


Ah tapi ya sudahlah, semua berlalu, detik waktu terus bergerak maju. Apapun rencana Tuhan di depan, Amer hanya ingin segera melaluinya dengan baik dan tanpa kesalahan. 


“Mer!” panggil Adip ke Amer tak ada canggung- canggungnya sama sekali apalagi hormat, tak peduli siapa Amer dan Jingga, siapa juga dirinya. Sekarang di antara mereka hanya sama- sama sesosok manusia yang hidup dalam kendali Tuhan. 


“Ya, Bang!” jawab Amer juga sudah akrab dengan Adip.


"Pegang senternya!" ucap Adip memberikan senter.


Adip turun dari perahu lebih dulu, dan Amer menyinari jalan dengan senter. Setelah itu gantian. 


Pak Anton di belakangnya membawa lentera alami dadi bambu dan sabut kelapa, turun paling akhir.


“Kita cari Kak dimana Pak?” tanya Amer cerewet, sementara Adip diam tak peduli pertanyaan Amer. Adip mengarahkan senternya ke arah depan, mencoba melihat situasi.


Desa S ternyata lebih luas dari desa T karena sejauh mata memandang Adip hanya gelap, ada bayang padang semak- semak terkena sinar rembulan.


Jika di Desa T begitu turun dari perahu, di tepi- tepi sungai langsung menemukan rumah, di desa S kilau sinar lentera pemukiman masih agak jauh. 


“Kita ke rumah warga dulu, siapa tahu Jingga dan temannya memang ada perlu ke desa ini. Siapa tahu mereka memang sengaja berkunjung ke sini karena sebuah kepentingan!” usul Adip memberi saran, mencoba berbaik sangka. Adip selalu berusaha harapan dan pikiran baik juga akan berbuah baik.


“Ya benar!” sahut Amer setuju.


“Ayo saya antat, Saya juga punya kenalan penarik perahu di desa ini!” jawab Pak Anton. 


"Terima kasih Pak!" jawab Adip


Mereka pun berjalan beriringan menuju ke perkampungan.

__ADS_1


Jalan di desa  S ternyata lebih berliku dan terjal, banyak bebatuan berundak juga. Akan tetapi Adip dan Amer tetap semangat berjalan.


Saat di rumah Adip, Amer melepas sepatunya dan ikut hanya memakai sendal seperti Adip. 


Saat di tengah perjalanan, Amer menginjak batu dan terpeleset hingga jatuh ke semak dan kakinya juga membentur batu dan berdarah. 


“Auh...!” keluh Amer. 


“Hati- hati!” omel Adip. Sebenarnya kasian tapi juga setengah memarahi layaknya kakak ke adik di saat seperti ini kenapa ceroboh?


Pak Anton dan Adip kemudian membantu Amer berjalan dengan memapah.


Ternyata meski Amer laki- laki, dia tetap merasakan sakit, kakinya juga berdarah. Adip dan Pak Anton pun segera mencari pertolongan. Mereka membawa Amer beristirahat kerumah warga terdekat. 


Warga terdekat langsung membantu dan menyambutnya ramah. Tidak diduga, benturan batu yang runcing cukup membuat luka yang lumayan dalam. Amer juga kehilangan banyak darah. 


“Sepertinya, kakak tampan ini harus istirahat!” ucap warga setelah mengobati Amer dengan balutan kain bersih sederhana.


“Tapi.. kami!” ucap Amer, tapi terpotong Adip. 


“Ya, Pak, terima kasih atas bantuanya, saya titip adik saya di sini!” jawab Adip menyerobot setuju. Adip merasa Amer memang harus istirahat. Ikut ternyata hanya merepotkan.


“Bang!” pekik Amer ingin ikut, Jingga kan kakaknya.


“Sayaa cari kakak saya!” jawab Amer. 


“Kakak?” tanya warga.


“Seorang gadis muda Pak, kulitnya putih bersih, tingginya setelinga saya, rambutnya panjang hitam suka diikat ke atas, alisnya tebal, hidungnya mancung, di bawah dagu sebelah kanan ada tahi lalat kecil, jika tersenyum dia mempunyai lesung pipit di sebelah kanan. Apa bapak melihatnya?” tanya Adip begitu jelas dan detail menjelaskan ciri- ciri Jingga, sampai Amer melongo.


Amer sendiri tak mengingat jelas ciri- ciri fisik kakaknya itu. Tidak ngeh juga ada tahi lalat kecil di bawah dagu. Amer jadi penasaran kalau ketemu mau melihatnya.


“Oh iya ada. Dia tadi ke sini, nanyain pemuda yang namanya Tari dan Lili. Tapi di sini tidak ada nama itu, kataya mereka dokter dari kota, saya persilahkan mereka ke rumah Bu Bidan Risa,” jawab Warga memberitahu. 


“Dimana rumah Bu Bidan Risa?” tanya Adip cepat. 


Warga pun memberitahu. Setelah diberitahu, dengan cepat tanpa minum atau istirahat, Adip langsung bangun dan bergegas.


“Kamu istirahatlah di sini! Doakan kakakmu baik- baik saja!” ucap Adip menepuk bahu Amer berpamitan.


“Saya gimana Kakak? Temani Kakak tampan atau Kakak ganteng?” tanya Pak Anton asal menamai orang. Amer tampan, Adip ganteng, sama saja sebenarnya.


“Rumah Bu Bidan dekat kok, Saya sendiri saja!” ucap Adip percaya diri.


Adip meminta Pak Anton dan Amer menunggu. 

__ADS_1


Adip berjalan sangat semangat berharap Jingga di rumah bu bidan desa dalam keadaan selamat. Jingga pasti bahagia melihat Amer ada di sini.


Tidak lama Adip sampai, alangkah terkejutnya Adip saat di rumah bidan desa itu kosong, dan mengatakan Jingga balik lagi ke arah dermaga sore tadi. Padahal kan, perahu terakhir sudah tiba tak ada Jingga. Kemana Jingga?


Tidak peduli apa yang Adip dapatkan dari perjuanganya, dan kenapa dia melakukan itu. Tidak peduli status mereka dan apa yang akan terjadi nanti.


Naluri Adip berkata cepat berlari dan segera temukan Jingga. Adip berjalan cepat tanpa menghampiri Pak Anton atau Amer ke dermaga lagi. 


Sesampaianya di dermaga dengan nafas yang memburu, disertai peluh keringat yang membanjiri keningnya Adip menyinari area di sekitar dermaga asal. 


“Gadis bodoh? Bisa- bisanya kamu mencari Tari ke sini? Kenapa kamu sangat pembangkang? Sudah kukatakan waktu kalian satu bulan, berdiam dirilah di desa dengan baik? Untuk apa dia mencari Tari?” guman Adip merasa jengkel sendiri. 


Adip berusaha mengatur nafasnya dan tanpa sengaja arah mata dan senternya jatuh pada satu kresek berisi alat tulis.


Adip mengambil itu, satu pak pensil, lalu Adip mengarahkan senter ke depanya lagi, terlihat sebungkus penghapus.


Mendadak jantung Adip memompa lebih cepat menghadirkan banyak terka. Ini seperti barang belanjaan yang tercecer. Jangan- jangan ini punya Jingga yang terserak. 


Adip pun terus mengikuti arah benda- benda yang terjatuh itu, benar saja, bahkan ada sikat gigi dan sabun yang terjatuh. Adip bernafas semakin cepat dan semakin memburu. 


“Jingga seperti diculik atau dibawa paksa oleh seseorang dan barang belanjaanya jatuh bertebaran, tidak mungkin, dia akan baik- baik saja!”  gumam Adip terus mengarahkan senter berjalan berlawan arah dengan jalan yang tadi dia lalui bersama Pak Anton.


Adip terus mengikuti arah barang belanjaan itu, hingga Adip sampai di sebuah gubug kosong. Di dalamnya pun ada sinar lampu dari senter elektronik. 


Adip yakin itu Jingga, nyala lentera warga sekitar berwarna merah kekuningan, nyala sinar di gubug kayu itu putih kebiruan.


“Hoh... hoh....!” Jantung Adip memacu sangat cepat dan sangat yakin tebakanya benar, hal itu semakin kuat saat Adip melihat satu sisi flat shoes terjatuh di depan pintu. 


Adip langsung naik dan memanggil Jingga. 


“Jingga....” panggil Adip tapi tak ada sahutan. 


Adip terus mengetuk pintu terus memanggil Jingga, sayangnya tak kunjung ada jawaban. 


“Jinggaaa!” teriak Adip lagi. 


Meski sepi dan lampu tiba- tiba padam, Adip yakin Jingga ada di dalam.


Karena tak kunjung ada jawaban, meski ragu dengan sekuat tenaga, Adip membuka paksa pintu gubuk itu, sayangnya dikunci. 


“Jingga ini aku! Buka pintunya!” teriak Adip. 


"Sialll" gumam seseorang di dalam.


Karena tidak sabar, Adip pun nekad mendobrak pintu itu.

__ADS_1


__ADS_2