Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
130. Aku mencintaimu, apa adanya.


__ADS_3

“Masya Alloh... tabarakallah....” gumam Adip melihat apa yang tersembunyi di balik pohon- pohon dan bebatuan sedikit lebih jauh dari tempat pohon pinang saat dirinya dihukum.


Ternyata di salah satu sisi bukit ada lembah kecil dan ada mata airnya. Jika selekas hujan, mata air itu tergenangi penuh dan airnya mengalir ke bawah membentuk air terjun mengarah ke muara laut.


Beberapa warga menganggap tempat itu sakral, entah apa mitosnya yang pasti ada sesaji di tempat itu.


Adip tak menghiraukanya. Adip justru tersenyum senang, artinya dia bisa mandi, masak dan bersuci dari air yang ada di situ. 


Adip kemudian berjalan kembali ke gubuk berniat memberitahu kabar bahagia ini ke Jingga.


Saat sudah hampir sampai, Adip menghentikam langkah kakinya. Adipbmelihat Jingga berdiri menghadap ke laut dengan sedikit rambutnya beterbangan terkena angin. 


Jika dilihat dari samping, hidup Jingga yang mancung dan tubuhnya yang ideal sungguh membuat Adip terpukau, bahkan membuat dada Adip bergetar sesaat. 


“Aku berharap ini bukan mimpi? Ya. Dia sudah halal untukku? Tuhan, jika memang dia takdirku, ijinkan aku memintanya dengan cara yang baik dari yang memilikinya, biarkan dia bahagia bersamaku. Jika bukan beri aku hati sekuat baja, agar ikhlas melepasnya!” batin Adip mengedipkan matanya. 


“Huuuft!” Adip menghela nafasnya menetralkan perasaanya. 


“Aku harus bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Aku sudah berjanji akan menjaganya, meski dia halal untukku, dia seorang putri dari seorang ayah! Pernikahan kami, masih karena sebuah kesalahpahaman!” batin Adip lagi meneguhkan hatinya. 


Adip kemudian melanjutkan langkahnya ke Jingga. 


“Ehm....!” Adip berdehem menyapa. 


Jingga yang sudah menyiapkan pertanyaan jadi tersentak dan salah tingkah mengetahui Adip sudah ada di dekatnya.


“Di sini ternyata ada mata air dan air terjun, kau harus melihatnya, indah banget! Ikut aku!” tutur Adip mengajak Jingga pergi.


“Ehm... aku... aku...!” ucap Jingga terbata sedikit keringetan. Jingga ingin tahu kebenaranya dan mendengar penuturan Adip. Satu- satunya orang yang ada di lokasi selain Tama.


Melihat Jingga tadi marah- marah, sekarang terbata, membuat Adip terdiam. Adip pun menunggu Jingga melanjutkan katanya dengan menatapnya dewasa.


Jingga jadi canggung lagi, setiap ditatap Adip membuat Jingga kehilangan akalnya dan langsung gemetaran salah tingkah.


"Katakan kau mau apa?" tutur Adip akhirnya.


“Kita sekarang suami istri kan?” tanya Jingga nyeletuk salah ucap lagi. 


“Emem... tadi pagi kau sudah tanya itu kan?” jawab Adip mengangguk. 


“Maksudku... maksudku...!” tanya Jingga malah jadi plintat plintut malah bikin Adip salah paham. 


“Kamu keberatan?” 


“Bukan!” jawab Jingga cepat. 


“Ehm...!” Adip sedikit lega mendengarnya. Adip kemudian duduk. “Kamu kenapa sih? Dari tadi kuperhatikan marah- marah... sekarang menanyakan hal yang sama! Harus berapa kali kamu tanya? Saat ini kita menjadi sepasang suami istri yang sedang dihukum. Ada apa?” tanya Adip lagi.


Jingga diam mengatur nafasnya, dan menyiapkan kata- kata. 


“Katakan! Apa kau tidak nyaman bersamaku?” tanya Adip lagi tidak sabar melihat Jingga diam dengan ekspresi gugup.


“Bukan, bukan itu!” jawab Jingga lagi. 


“Lalu?” tanya Adip lagi. 


Jingga kemudian menunduk mengusap tengkuknya yang berkeringat dan memilin jari- jarinya sendiri. Jingga malu sekali mau tanya benarkah Adip sudah melihat semua punya Jingga. 


“Apa?” tanya Adip lagi. 


“Kamu... Emm, Tolong, kamu tolong ceritakan, apa yang terjadi di gubuk itu sebelum warga datang!” tanya Jingga akhirnya berhasil menyusun kata tanyanya.


“Ehm...!” Adip mendadak dheg- dhegan malu dan salah tingkah juga. Pertanyaan Jingga mendatangkan kembali bayangan tubuh Jingga yang menggodanya.


Mereka berdua kemudian terdiam sama- sama menunduk. 


“Mmmmm!” Jingga salah tingkah sendiri melihat ke arah laut menaham malu, lalu Adip memberanikan diri mengangkat wajahnya menoleh ke Jingga. 

__ADS_1


“Maaf...!” tutur Adip singkat. Mendengar kata maaf Jingga langsung menoleh ke Adip.


“Kenapa minta maaf?” tanya Jingga.


"Kenapa kau bertanya padaku. Bukankah Amer sudah memberitahu?"


"Aku ingin dengar dari kamu. Kamu yang ada di sana. Bukan Amer!" jawab Jingga.


"Ehm!" Adip berdehem lagi tidak nyaman.


"Tolong ceritakan!"


“Apa perlu aku ceritakan ini padamu?” tanya Adip bijak. 


“Perlu... sangat perlu!” jawab Jingga lagi penuh harap. 


Adip diam kemudian menoleh ke Jingga lagi. 


“Tidak usah diingat- ingat, semua akan baik- baik saja! Oke. Ayo kita pergi ke air terjun!” jawab 


“Aku perlu tahu! Aku berhak tahu kan apa yang terjadi denganku!” ucap Jingga meminta, mengabaikan ajakan Jingga.


“Hhhhh!” Adip pun menghela nafasnya, lalu menatap Jingga dalam.


Jingga membalas tatapan itu dengan penuh harap. Sikap Adip pun semakin membuat otak Jingga kacau. Pertanyaan dan terkaanya semakin kuat berputar- putar.


"Ceritakan semuanya. Aku mohon. Aku ingin tahu, aku sungguh tidak sadar dan tidak tahu!" tutur Jingga begitu ingin tahu.


Mau tidak mau, Adip pun menceritakan kejadianya ke Jingga. 


Adip cerita ke Jingga dari awal dia ditelpon Amer saat di balai veteriner. Adip juga tahu kedatangan Amer untuk menjemput Jingga karena disuruh Babanya, Adip juga cerita mereka mengelabuhi pengawal Amer.


"Jadi kapal yang berpapasan di dermaga dekat puskesmas itu memang kalian?" tanya Jingga menyela.


"Kau melihatku?"


"Huum" jawab Adip mengangguk, Adip melanjutkan ceritanya. Sesampainya di desa T mereka langsung ke rumah dinas.


Adip diberitahu Jingga merujuk Nyonya Maysa dan Adip menunggunya, sampai Adip diberitahu kalau Jingga turun di desa S. 


“Maaf!" ucap Jingga menyela. "Aku ceroboh, aku bodoh, dalam ingatanku, dermaga desa ini dan desa tempat Tari sama! Aku berniat lari dari Tama yang mengikutiku!” jawab Jingga lirih, Jingga menunduk merasa bodoh dan menyesal.


Adip yang melihatnya, tanganya gatal ingin mengusap kepala Jingga lagi, tapi dia tahan dan dia melanjutkan ceritanya.  


“Saat itu juga, aku dan Amer ke desa ini, kami berjalan tergesa, karena sudah malam dan gelap, Amer jatuh. Yah jadi begitu kakinya!” tutur Adip lagi dengan nada penyesalanya. 


“Maaf!” ucap Jingga lagi semakin merasa bersalah.


“Teman Pak Anton memberitahu kami, kamu memang datang bersama Tama mencari Tari, teman Pak Anton mengarahkanku pergi ke Bidan Risa. Aku pun segera kesana. Bidan Risa bilang kamu pergi bersama Tama!” lanjut Adip lagi, 


Mendengar cerita Adip sampai pertengahan hati Jingga bergetar dan terharu dengan kebaikan Adip yang mencarinya dan mengkhawatirkanya.


Jingga diam menjadi pendengar yang baik menunggu cerita selanjutnya yang cukup mendebarkanya.


“Aku pikir, jika mengurutkan waktunya, kalian sudah tidak mendapatkan jatah perahu. Aku memutuskan pergi ke dermaga. Benar saja. Aku melihat barangmu tercecer, aku mengikuti barang- barangmu. Dan..." cerita Adip terjeda.Adip mengambil nafas sebelum melanjtkanya.


"Dan apa?" tanya Jingga mulai parau.


"Aku melihat sepatumu ada di depan gubuk itu!” tutur Adip sambil menelan ludahnya tidak tega. 


Benar perkiraan Adip, belum sampai Adip melanjutkan ceritanya, Jingga menunduk meneteskan air matanya. 


"Aku mendobrak pintu itu!"


“Kamu di gubuk itu bersama dia, dan kamu!” ucap Adip tehenti. 


“Hiiikks... hikkks!” Jingga menangis lebih keras dari sebelumnya, pikiranya sudah jauh ke kemana- mana.

__ADS_1


Melihat Jingga menangis, Adip tidak tahan melihatnya.


Melawan semua tekadnya untuk tidak menyentuh Jingga. Adip menarik Jingga ke dalam pelukanya dan membiarkan Jingga menangis di dadanya. 


“Hiiiks!” Jingga melampiaskan tangisannya di bahu Adip. 


“Maaf!” ucap Adip memeluk Jingga dan membelai rambut Jingga lembut. 


“Maaf aku terlambat datang... aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dan apa yang dia lakukan padamu!” ucap Adip lagi mengeratkan pelukanya.


Adip merasa sangat menyesal lebih dari Amer dan Jingga. Adip juga bukan perempuan dan masih perjaka, jadi Adip tidak tahu apapun perbedaan Jingga sudah ternoda atau masih terjaga. Adip sama- sama hanya bisa menerka.


“Hugs.... hugss.....!” Jingga semakin tersedu- sedu. Jingga merasakan sakit dengan semua yang menimpanya, lebih dari itu dia juga terharu dengan pengorbanan Adip.


Jingga merasa bodoh, ceroboh menghancurkan dirinya senriri. Jingga juga merepotkan banyak orang.


Jingga merasa sangat hancur dan mencurahkan segala sedihnya di dada Adip itu. 


Mereka berpelukan lama, tanpa sekat tanpa malu. Adip melawan semua ragunya membiarkan Jingga memeluknya, menyediakan tempat Jingga bersandar.


Jingga yang memang butuh itu menyambutnya. Jingga merasakan kehangatan, kenyamanan dan penerimaan tempat berpulang. Pelukan yang sebelumnya tidak pernah dia dapatkan dari siapapun.


Pelukan yang memberinya kekuatan di saat dia rapuh. Bahkan rasanya ingin terus ada di pelukan itu, tidak ingin melepasnya, sangat nyaman.


“Maaf!”ucap Jingga terbata setelah merasa cukup. Jingga menjauhkan tubuhnya, lalu menatap Adip dengan mata sembabnya. 


Melihat Jingga yang menangis dan kacau, Adip ikut merasakanya. Adip pun  tidak mampu menanggung perih itu. Adip ingin segera menghapus luka itu. Adio kemudian menyeka air mata Jingga dengan tanganya.


“Dimana pakaianku? Apa kau melihat ada bercak darah di situ? Apa dia melakukanya?” tanya Jingga memberanikan diri memastikan, siap menerima kenyataan. 


Adip terdiam. Adip tidak sempat memperhatikan sedetail itu, apalagi malam.


“Aku tidak tahu, di situ tidak ada apa- apa selain kamu dan dia. Tama yang tahu semuanya. Aku hanya fokus segera menutup tubuhmu! Pakaianmu juga tidak ada di situ! Aku tidak tahu.” jawab Adip berbicara apa adanya. 


Sayangnya jawaban Adip diartikan Jingga sebagai kumpulan realita tentang perkiraan buruknya. Jingga mengambil kesimpulan Tama berhasil melakukan kejahatanya, merampas sesuatu yang berharga dari Jingga.


"Jam berapa kamu kesana?"


"Sekitar jam 7 malam!" jawab Adip.


“Hiks..." Jingga kembali meneteskan air matanya. Jika diingat Jingga terakhir sadar masih belum petang. Itu berarti dia bersama Tama cukup lama, meski tidak sakit, kecil kemungkinan Tama tak melakukan apapun.


"Berarti benar...aku sudah kotor?” lirih Jingga kacau, pikiranya kembali tersesaat pada terkaan tak berarah.


“Baba pasti marah, bukan hanya keluarga Rendi yang akan menghinaku, tidak ada yang mau denganku lagi? Baba pasti kecewa. Buna pasti sedih. Aku kecewain Buna dan Baba” lirih Jingga lagi air matanya lebih deras.


Mendegar perkataan Jingga, hati Adip terasa sangat ngilu dan teriris perih. 


“Kenapa kamu bilang begitu? Kamu tidak salah!"


“Aku kotor!" tutur Jingga lagi.


"Sssst" ucap Adip tidak tahan.


"Kamu menikahiku hanya karena ingin menolongku dan terhindar dari hukuman, setelah ini kamu akan menceraikan aku kan? Kamu juga pasti jijik melihatku kan?” tanya Jingga lagi dengan deraian air matanya. 


Mendengar pertanyaan Jingga yang menyayat hati, Adip tidak menjawabnya. 


Adip menangkup kedua pipi Jingga dengan tanganya, tanpa ragu lagi, dengan cepat, Adip menautkan bibirnya ke bibir Jingga.


Seketika itu tangis Jingga dan racauanya, berhenti. Kesedihan Jingga melebur dan meleleh bersama gelora rasa panas dan mendebarkan yang Adip salurkan melalui nafasnya. 


Memang tidak lama berciuman, karena Adip juga baru melakukanya. Di umurnya ke 25 tahun ini baru kali kedua melakukanya, pada orang yang sama, Jingga.


Pertama saat Jingga hampir meregang nyawa, dan sekarang saat Jingga terluka karena terkaanya sendiri. 


Meski sebentar dan tanpa teknik yang benar, karena keduanya masih sama- sama amatiran. Hanya sekedar mengungkap rasa yang selama ini terpendam, semua itu cukup mengobati luka Jingga. 

__ADS_1


“I love you... aku mencintaimu, aku terima kamu apa adanya!” ucap Adip melepaskan bibirnya, masih dengan tangan menangkup pipi Jingga. 


__ADS_2