
Kata orang kasih sayang ibu sedalam lautan, tidak bisa diukur. Sepanjang jalan, bukan Jingga yang panik tapi malah Buna. Mata Buna juga berkelana dan menjelajah mencari apotek.
Entah karena mata Buna tersamarkan atau memang tidak ada di jalur kampung Emak Adip. Buna tak menemukan apotik.
Buna sangat gelisah. Kalau melihat kacamata Baba. Laki- laki mana mau keluar di luar. Apalagi Adip anak muda. Yang harus KB, Jingga.
"Bagaimana kalau Jingga hamil? Kuliahnya gimana? Jingga kan kekanakan? Apa tidak heboh dan ribet terlebih Adip mau lanjutin kontrak? Pasti Buna yang direpotkan" Buna stress duluan.
Padahal di kursi paling belakang, Jingga terlihat sangat tenang dan nyaman. Bersandar pada bahu Adip memejamkan mata selama perjalanan.
"Haduh...," gumam Buna ternyata mereka sudah jauh masuk ke desa.Buna terpaksa pasrah.
"Masih jauh nggak Dip?" tanya Baba.
"500 meter lagi, Ba. Rumah di ujung jalan dekat sawah!" jawab Adip.
Benar saja, 5 menit karena jalan mobilnya pelan mereka sampai. Terlihat rumah kecil berdinding anyaman bambu tapi tampak sangat asri.
Hanya saja ada hal yang menarik pandangan semua isi mobil.
"Ada acara apa di rumah Dip?" tanya Baba.
Adip mengintip dari jendela.
Terlihat emak- emak kampung berkerumun. Emak Adip tampak sumringah seperti pendongeng dan memegang beberapa barang. Adip kenal barang apa itu.
Kehebohan bertambah saat mobil mewah Baba mendekat.
"Aiih Emak?" gumam Adip menepuk jidatnya malu.
Ternyata Emak Adip sedang menunjukan ke teman- teman buruh taninya. Anak kebangganya sekarang kaya raya. Bak putra raja.
Emak bahkan memamerkan beberapa sovenir nikahan yang masih terbungkus rapih tidak boleh disentuh dan diotak atik. Emak juga menunjukan foto- foto nikahan Adip.
Tentu saja itu jadi hiburan menarik untuk para ibu- ibu yang setiap hari waktunya dihabiskan bekerja di ladang saudagar kaya memanen teh di kampung itu.
Emak Adip memang tak punya lahan. Emak Adip hanya buruh di ladang orang kaya di daerah situ.
"Waah umur panjang. Eta si Kasep pulang, Sih...," celetuk salah satu tetangga. Semua menoleh ke.mobil Baba.
"Aduh iya benar. Si Kasep Adip jadi orang kaya. Meni sukses pisan. Mobilnya bagus banget. Kincloong!" sambung yang lain.
"Kita lihat istrinya yuk. Kita kenalan yuk!" ajak yang lain.
Emak Asih (Emak Adip) langsung melotot dan meletakan barang- barangnya. Emak kaget melihat mobil Baba yang panjang besar dan mengkilap.
Lebih paniknya lagi, saking bahagianya. Emak belum masak, hanya rebus ubi. Bagaimana ini?"
"Heeehh..!" tegur Emak ke teman- temanya segera.
"Kalian jangan buat menantuku tidak betah di sini! Jangan berkerumun!" Emak langsung mengeluarkan powernya melindungi Jingga.
"Emang kenapa?"
"Bubar- bubar. Boleh liat mantuku dari jauh aja . Nanti kenalanya kalau udah betah di sini!"tutur Emak lagi. Emak seakan mau jaga mantunya seistimewa mungkin.
Padahal emak sendiri yang takut dan gemetaran mau kenal sama mantunya sendiri.
"Peliiit iih!" cibir tetangga emak.
"Huusshh huussh. Bubar dulu. Besok aku ajak dia ke arisan!" bisik Emak Adip cerdik mengusir tetangganya.
Tetangga Emak Bubar pelan, ternyata masih menunggu pengendara mobil keluar. Tetangga Emak tidak benar- benar pergi hanya menjauh dari rumah Emak dan berpindah ke tetangga sebelah.
Pintu mobil Baba memang Buka otomatis. Yang pertama kali keluar adalah Baba yang mengenakan kemeja mahal, sepatu mahal dan berkacamata.
"Waah ganteng pisan eta Bapak bapak. Mirip orang Amrik!" celetuk tetangga Emak.
Baba bukan Amrik sih tapi emang Baba blesteran dari Opa Aryo. Kulit Baba putih, tapi sudah kecampur jawa wajahnya.
Lalu Buna juga keluar.
__ADS_1
"Ooh Islaam! Bukan Amrik Eta. Indonesia!" celetuk yang lain lagi. Buat orang kampung seringnya kan kalau orang kaya orang nonis.
Lalu diiringi Om Dika dan Dokter Dinda.
"Kok orang itu mirip Adip yah?" salah satu warga ada yang ngeh memperhatikan Om Dika.
Yang terakhir Adip dan Jingga. Jingga tampak muka bantal tapi tetap cantik.
"Wuaah. Eta istrinya Adip. Eta artis yak? Kaya di tipi? Iya bukan sih?" celetuk tetangga Adip lagi.
"Iyaa. Aduh si kasep. Istrinya menii geuliss... kaya artis Inggris!" celetuk tetangga Adip lagi.
Samar- samar Buna dan yang lain dengar. Buna masih sempat menoleh dan menganggukan senyum, membuat tetangga Emak girang.
Akan tetapi Baba dan yang lain tampak berjalan tegap maju.
Sementara Jingga melirik risih.
"Mereka siapa sih Bang?" bisik Jingga.
"Mereka calon teman- teman karibmu!" jawab Adip meledek.
"Hooh?" pekik Jingga. "Temanku?"
"Iyaa... kamu harus belajar ke mereka. Mereka semua perempuan strong! Yuk kenalan!" jawab Adip berbisik.
Adip mempersilahkan Baba duluan masuk dan malah menyapa sejenak dengan ramah tetangganya.
Jingga ikut tapi dengan ekspresi manyun dan angkuh. Tetangga Adip bahagia sekali Adip benar- benar tidak berubah.
"Sehat Waak, Apa kabar? Kenalin ini istri Adip namanya Jingga," sapa Adip ajarin Jingga salaman dan beramah tamah dengan orang di kampung.
Jingga belum peka hanya diam berdiri. Adip menyenggolnya dan Jingha mau salaman. Tentu saja semua girang. Jingga wangi sekali, membekas.
"Iiiih kamu meni pinterr pilih istrinaa!" ujar emak-emak.
Adip hanya mengangguk dan pamit masuk ke rumah.
Emak gemeteran di datangi besan dan mantunya, sampai bingung berkata-kata. Padahal kalau di kebun Emak paling seterong dan suaranya paling lantang.
"Buna seneng kok. Nyaman banget!" jawab Buna.
Buna dan Om Dika kan juga orang kampung jadi biasa aja. Dokter Dinda juga sudah terbiasa,hanya Baba dan Jingga yanh masih berdiri dan matanya jelalatan memeriksa semuanya.
"Mangga... masuk.. mangga. Maaf kalau tempatnta begini!" ucap Emak gugup.
Buna tersenyum dan menyambut ramah besanya sehingga berdiri merangkul sok akrab.
"Iya Mak. Aku suka sekali dengan tempat ini. Boleh numpang ke kamar mandi?" tanya Buna. Ibu hamil kan suka ingin kencing.
Emak mengangguk. Lalu mengajak Buna dan Dokter Dinda masuk.
Adip yang menata dan mengatur Baba dan Om Dika. Rupanya para suka bersantai di teras. Jingga yang masih berdiri tidak peka. Mau ikut masuk atau duduk bersama Baba.
"Masuk...bantu Emak buat minum. Kamu bisa kan?" bisik Adip ke Jingga.
"Hooh?" pekik Jingga kaget.
"Udah sana masuk! Katanya mau jadi menantu idaman!" bisik Adip lagi.
Mau tidak mau Jingga masuk. Jingga menelan ludahnya keringetan. Kalau lihat tetangga- tetanggaEmak. Jingga menebak ibu- ibu di situ kaya di film- film. Cerewet dan tega nyuruh- nyuruh. Jingga kan belum bisa apa- apa?Bagaimana ini?
Benar saja, sesampainya di dapur emak sedang menyalakan tungku kayu merebus air. Sementara Buna dan Dokte Dinda berada di sumur yang letaknya terpisah dari rumah. Seperti di pulau Panorama.
"Emaaak," sapa Jingga memberanikan diri meski gugup.
Jingga sudah bulat mau buat Adip bangga dan cinta Jingga seorang. Jingga tahu itu emak suaminya dan Jingga kan janji mau jadi menantu yang baik.
"Atulah...si eneng... Duduk.. duduk sini. Jangan ke sini. Kotor Neng!" jawab Emak heboh di luar dugaan Jingga, Emak Adip ternyata sangat baik.
"He... nggak apa- apa Mak. Jingga... Jingga mau ikut Emak." jawab Jingga menampakan muka ramahnya. Pokoknya Jingga harus dapat nilai seratus dari suaminya.
__ADS_1
"Hah? Ikut Emak? Ikut gimana?" tanya Emak.
"Jingga mau bantu Emak. Emak mau buat minum kan?"tanya Jingga.
"Hooh," Emak langsunh teerbengong. Tadinya Emaki kira menantunya sombong, tidak mau ke dapur. Emak pun syoj bahagia denhan niat Jingfa.
"Beneran?" tanya Emak.
"Iyah!" jawab Jingga.
Emak menelan ludahnya."Tapi dapurnya sempit dan kotor,"
"Nggak apa-apa Mak.Di Pulau Panorama lebih sempit. Dapur di sini bagus dan asri,Jingga suka!" jawab Jingga
"Hooh. Ya. Syukurlah!" jawab Emak semakin bahagia dan spechless. "Ya sudah sini...bantu Emak!" jawab Emak.
Jingg pun ikutin Emak.
"Itu gelas- gelasnya di situ. Gula sama sendoknya di situ!" tutur Emak menunjukan tempat- tempat simpan bumbu dapurnya.
"Ya Mak!"
"Mak rebus airnya dulu. Nanti kamu yang buat!" tutur Emak.Jingga mengangguk.
Buna dan Dokter Dinda selesai dan masuk. Melihat Jingga bantu Emak, Buna dan Tante Dina bangga.
"Siiip, bagus Nak. Itu baru anak Buna!" tutur Buna bangga dan memberi acungan jempol
Jingga tersenyum bangga. Buna dan Tante Dinda gabung Baba. Tidak lama air mendidih. Emak pasrahin ke Jingga untuk buat minum.
Sementara Emak bikin camilan cepat, menata buah- buahan. Dan juga ubi rebus.
Jingga selesai dan menyajikan minumanya. Dengan penuh Bangga dan percaya diri Jingga membawa minuman tehnya keluar.
Jingga mengerlingkan matanya ke Adip, seakan mau bilang. Aku bisa kan?" Adip membalasnya, "Sip!"
Jingga menyajikan tehnya ke Ayah, Om, Ibu, Tante dan sopirnya. Lalu mempersilahkan minum.
Setelah menunggu beberapa saat. Semua kompak mengambil minum, kecuali Adip, Jingga dan Dokter Dinda.
Jingga menunggu dengan wajah ceria.
"Emmmptr prrut! Woek!"
Sayangnya tiba- tiba Baba memuntahkan tehnya.
"Anakmu Bun!" gumam Baba.
Buna juga langsung menatap marah ke Jingga.
"Jinggaaa..," geram Buna malu.
"Ehm... ehm...," Om Dika dan Pak Arlan tidak komentar hanya.
"Hooh!" Jingga dan Adip hanya saling pandang bingung.
"Untung bukan sajiin untuk orang lain! Kamu bisa nggak sih bedain bumbu?" pekik Buna berbisik melirik janhan sampai mertua Jingga dengar.
"Emang kenapa Bun?" tanya Jingga.
"Sook dicicipi!"
Adip dan Jingga meraih minumnya dan langsung memuntahkan.
"Kok gurih banget? Pahit lagi?" gumam Jingga menyeringai.
"Ini micin Sayang!" gumam Adip.
"Buang- buang!" bisik Buna tidak mau anaknya dimalu- maluin besanya.
Om Dika dan Tante Dina hanya bisa menepuk Jidat.
__ADS_1
****
Maaf kalau garing... Hehehe.