Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
156. Si Hijau


__ADS_3

Dalam lagu anak- anak pun disebutkan, sayang yang pertama sayang Ibu. Di dalam agama yang Buna anut juga rosul mereka sampai menyebutkan, kedudukan Ibu 3 kali lebih utama barulah ayah. Ya memang  peran ibu sebegitu pentingnya dalam sebuah rumah tangga. 


Meski di usia yang memasuki masa tua, pelumas otot- otot di tubuhnya mulai surut. Setalah 4 kali hamil dan 4 kali berjuang nyawa melahirkan 6 orang anak yang semuanya normal.


Sekarang ditambah masih di amanahi bayi kecil di kandunganya, dan juga punya balita dua. Buna masih harus dituntut kuat oleh keadaan menjadi penengah anak dan suaminya yang sama- sama keras. 


Orang di luar sana hanya tahu, Buna Alya bernasib mujur seperti dipinang surga. Sebab Buna anak yatim yang miskin, cantiknya tidak berlebihan tapi manis, mendadak menjadi nyonya kaya raya dan dicintai suaminya dengan sepenuh hati. 


Tidak ada yang tahu, bahwa untuk menjadi Buna Alya harus mempunyai sabar tiada batas seluas samudera di setiap harinya.


Buna harus mengencerkan otak meski suhu sangat dingin, dan mempertahankan kepalanya agar tidak menguap apapun cuaca matahari di luar sana. 


“Jingga, Anak Buna, Sayang. Sadar Nak! Bangun Naak!” tutur Buna lembut membelai rambut Jingga yang masih tertidur.


Begitu mendengar kabar dari Ikun, meski Buna baru sehat dari ngidamnya, Buna langsung cepat berlari ke kamar Jingga. 


Untung di rumah Baba alat kesehatan komplit ada, ada oksigen, selang plus tabungnya, ada juga obat- obatan dasar dan alat kesehatan dasar. Walau tidak bekerja, Buna kan dokter. 


Buna langsung menangani Jinggax memeriksanya dengan tanganya sendiri, memakaikan selang oksigen ke hidung lalu memasang infus ke tubuh Jingga. 


“Kakak kenapa Buna?” celetuk Biru bertanya. 


“Kakak  sakit, Sayang! Jangan ganggu Kakak ya!” jawab Buna lembut menoleh ke Biru, tapi tanganya masih menggenggam tangan Jingga.


"Ya Buna!" jawab Biru beepegangan tangan pada Ikun melihat kakak perempuanya sakit.  


Sementara Baba berdiri seperti patung tapi bernyawa, lebih tepatnya seperti terdakwa. Wajah Baba pucat melihat Jingga terbaring. Baba tidak berani mengangkat wajahnya menatap Buna.


“Buna... di cini ada makanan banyaaak syekalii! Tapi Bauuk!” celetuk Iya berjalan- jalan di sisi kasur Jingga yang tak terjamah Buna dan Baba. 


Semua kemudian menoleh ke Iya dan memeriksa. 


“Hoooh, astaghfirulloh, Jingga!” ucap Buna hanya bisa beristighfar kemudian mengusap wajahnya kasar lalu melirik ke suaminya. 


Buna sudah menebak dari nadi Jingga yang sangat lemah dan tekanan darahnya yang turun drastis, bahkan suhunya juga meninggi.


Jingga ternyata selama dua hari jalan tiga hari ini mengurung diri di kamar tidak mau makan dan tidak mau minum. 


Setiap ART mengantar makanannya, hanya Jingga buang di dekat toilet. Jingga benar- benar keras dan nekat seperti Babanya. 


Jelek memang sifat seperti itu, Buna pun tahu. Tapi mau bagaimana lagi, Buna sudah berusaha merubahnya, tapi Babanya mencontohkan hal yang sama. Setiap manusia kan mempunyai sisi baik dan sisi jelek, tinggal bagaimana kita menggunakan akal pikiran yang Alloh beri untuk membawanya ke hal baik.


Sayangnya Jingga dan Baba sedang sama- sama salah. 


“Kenapa Buna?” tanya Amer dan Ikun. 


“Kakak kalian dehidrasi, tuh liat, dia nggak mau makan, nggak mau minum dan mengurung diri di kamar, gula darahnya saja cuma 30 mg/Dl, dia syok hypovolemik!" tutur Buna menjelaskan.

__ADS_1


"Semoga kakak kalian tertolong, biar cairan infusnya naik masuk dulu, kita tunggu kakakmu membaik, jika tidak....”  tutur Buna melanjutkan tapi sekarang nadanya rendah dan lemah.


“Jika tidak gimana Bun?” tanya Baba panik. 


Meski keras hati, tetap saja kalau Jingga kenapa- kenapa Baba orang pertama yang kebakaran jenggot. Baba tidak akan mengampuni dirinya sendiri kalau Jingga kenapa- kenapa.


Buna kemudian diam dan melirik kesal ke Baba. 


“Buna bukan Tuhan Ba, Buna tidak tahu, semoga saja anak kita tertolong!” ucap Buna dengan sedikit emosi, ingin buat Baba merasa bersalah. 


“Buna jangan gitu dong! Kak Jingga baik- baik aja kaan?” tanya Ikun menimpali, meski pendiam, Ikun sangat sayang pada Jingga. 


“Kita berdoa makanya! Kita bawa ke rumah sakit kalau plabot kedua glukosa ini kakak kalian tidak membaik! Beri tahu Mba Ida suruh buatkan madu hangat!” ucap Buna memberitahu dan menyuruh Amer. 


Anak- anak Buna pun patuh.


Padahal Buna baru dapat kabar dari Nila, hari ini Oma mau pulang, yang di rumah malah ikutan drop. Alamat, Buna juga harus lebih seterong jangan sampai Buna ikutan oleng.


Itulah sebabnya, buna memilih menolong Jingga sendiri di rumah agar tidak bolak balik ke rumah sakit. 


“Buna mau ngomong sama Baba!” ucap Buna ke anak- anak.


Ikun pun tanggap mengajak adik- adiknya pergi dan membiarkan ayah ibu mereka bicara. Hijau yang sedang asik senrdiri patujh terpaksa ikut Biru dan Ikun keluar.


“Maafin, Baba!” ucap Baba kemudian.


Belum Buna bicara apapun, Baba sudah luluh dan meneteskan air mata. 


Baba tidak menjawab, hanya menunduk menyeka air matanya. Hanya Buna yang boleh melihat Baba mengeluarkan air mata.


Tidak ada yang tahu kalau Baba juga bisa menangis, bahkan sekarang seperti anak kecil yang sedang dimarahi. 


“Tapi, Ba..., seperti apapun keinginan kita, usaha kita, di atas kita masih ada Tuhan, Alloh. Apa yang kita pikir baik, itu belum tentu baik, sebaliknya apa yang kita pikir jelek, belum tentu jelek. Jingga memang anak kita, tapi dia bukan bonek, dia punya dunianya sendiri Ba... Tuhan juga punya jalan sendiri untuk Jingga!” lanjut Buna masih berusaha tenang berbicara dengan suaminya.


Baba masih tidak menjawab. Buna pun diam dan menatap suaminya tajam, memberikan waktu Baba berfikir. 


“Baba nggak mau kehilangan anak kita kan Ba?” tanya Buna lirih, sampai meneteskan air mata. 


“Buna ngomong apa sih?” jawab Baba. 


“Ya udah Ba... turunkan egomu Ba..., dengarkan apa yang Jingga ingin!” lanjut Buna lagi, 


“Kalau keinginan Jingga salah, keinginan Jingga melenceng dari norma dan agama kita, wajarlah Baba marah. Kita masih bersyukur lho Ba, keinginan Jingga mulia dan baik, Jingga cuna ingin menikah dengan pria yang dia cintai! Itu permintaan wajar. Baba kan juga maunya begitu? Baba pilih Buna dengan kehendak Baba sendiri!” lanjut Buna lagi. 


Baba mengangguk. 


“Maafin Baba Bun. Baba hanya khawatir. Baba tidak kenal siapa laki- laki bernama Adip itu, Baba tidak bisa melepas anak Baba dengan pria sembarangan yang tidak Baba kenal! Baba khawatirkan hidup Jingga Bun! Bagaimana hiduo Jingga bersama pria miskin. Baba tidak tahan membayangkan anak kita kesusahan!” jawab Baba mengungkapkan perasaanya.

__ADS_1


“Buna tahu Ba... tapi kekhawatiran Baba terlalu jauh, yang jatuhnya malah nyakitin Jingga. Baba percaya kan sama Alloh, Baba sholatkan? Baba beriman kan?” tanya Buna, merasa pikiran Baba tidak mencerminkan orang beriman, dipenuhi angan- angan buruk.


“Ya berimanlah, Buna gimana sih?” 


“Ya udah positif thingking Ba, kalau Baba mau kenal Adip, kenalanlah. Baba aja bisa tangkap penjahat dan semua musuh- musuh Baba. Baba pasti bisa dong cari tahu tentang Adip! Kenalan baik- baik!” tutur Buna memberitahu. 


“Ya!” jawab Baba lirih. Baba bariu sadar Baba salah. Baba hanya menuruti ego yang ingin berbesan dengan Farid.


“Sebelum Jingga sadar, dan agar Jingga tidak marah pada Baba, temui keluarga Rendi, Ba... selesaikan masalahnya!” 


“Ya!” jawab Baba patuh tak berkutik.


“Kalau Baba malu, ajak Amer, biarkan Amer yang ceritakan. Keluarga Rendi percaya atau tidak? memusuhi kita atau tidak, sudah biarkan terserah mereka. Kebahagiaan Jingga lebih penting Ba!” 


“Iya Bun!” 


**** 


Di luar kamar, Amer membawa secangkir madu hangat, menunggu Baba dan Buna mengijinkan masuk. Buna dan Baba mengijinkan masuk dan justru menyuruh Amer bersiap iku Baba. 


Sementara di ruang bermain, Ikun mengasuh dua adik kembarnya. 


Karena Iya dan Iyu sudah besar mereka bermain sendiri. Ikun yang ahli IT vberselancar mencari tahu seperti apa yang dikerjakan anak buah Baba, tapi belum berhasi karena katanya dari pihak Tama juga memmpunyai pertahanan penjagaan privasi handal. 


Ikun mencari akun pertama yang mengunggah foto Jingga sekaligus mencari tahu asal usul Tama. Karena di kampus atau di riwayat keluarga Tama tak ada yang menyebutkan Tama ada hubungan kekeluargaan dengan keluarga Tito ataupun Lila. 


Identitas Tama adalah, anak seorang pengusaha restoran di luar daerah. Ibunya seorang pengusaha yang tidak diketahui apa usahanya. Hanya saja Tama selalu tampil glaomour di kampus. 


Di saat Ikun sibuk dengan komputer, adik- adiknya ribut berebut kertas. 


“Iiiih Kak Jingga kaya Baby!” teriak Biru


“Sini!” 


“Aku mau lihat!” teriak Iya 


“Aku dulu!” 


“Kan aku yang nemuin!” 


“Iya aku dulu! 


“Aku” 


Mereka berdua bertengkar tari- tarikan selembar kertas. 


Ikun langsung terhenyak dan mendekat, ternyata dari kamar Jingga, Iya menemukan amplop yang berisi surat dan foto Jingga. 

__ADS_1


Biru dan Hijau kan belum panda membaca, kertsnya hanya dibuang dan foto Jingga justru untuk rebutan.  


"Hijau! Biru! Apa itu? Berikan ke Kakak!"


__ADS_2