
"Apa itu orangnya Tuan Muda?" tanya Pengawal Amer membungkuk dan mendekat ke Amer yang tampak duduk mengangkat kakinya memandang kota Y dari rooftop hotel itu.
Amer kemudian segera menurunkan kakinya dan menoleh ke Adip yang berdiri dan terlihat ragu. Amer langsung menyunggingkan senyum dan bangkit dari duduknya
"Bang Adip ya?" tanya Amer ramah sambil berjalan menyambut Adip.
"Ya!" jawab Adip mengangguk.
Adip yang tadinya sedikit gugup kini membalas senyum Amer dan berusaha santai.
"Akhirnya aku bisa ketemu Bang Adip! Kenalkan namaku Amer si Merah Putra Gunawijaya!" ucap Amer mendekat ke Adip dan mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.
"Dia sangat berbeda dengan kakaknya," batin Adip dalam hati langsung menyimpulkan. Bayangan Jingga kembali datang ke pandangan fatamorgananya.
Adip pun menyambutnya dengan baik dan menerima jabatan tangan dari Amer sebagai tanda persahabatan.
"Kita masih berpijak di bumi yang sama kan? Tentu saja kita bisa bertemu! Adipati!" jawab Adip ramah memperkenalkan diri.
"Ayo Bang duduk!" sambut Amer lagi mempersilahkan Adip duduk di bangku santai dekat kolam rooftoop itu.
Para pengawal Amer pun membungkukkan kepala dan mempersilahkan Adip dan Amer duduk.
Adip menyunggingkan senyum kecilnya, rasanya menggelikan sekali saat dia berjalan jalanya diapit pengawal bak Pangeran begitu, "Risih dan lebay," batin Adip.
"Duduklah!" ucap Amer lagi sambil memberikan bangku sangat menghormati Adip. Pengawal yang melihatnya hampir marah menganggap Adip tidak sopan pada Tuanya.
Sayangnya saat pengawal hendak mendekat Amer menggerakan tanganya memberi kode mereka agar menyingkir. Adip yang tidak buta, tuli dan bodoh pun melihat semua itu.
"Ehmm ehmm…" Adip duduk sambil berdehem tidak nyaman.
Hanya begitu saja Pengawal Amer sensi. Bagaimana kalau para pengawal Gunawijaya tau dirinya setiap hari membentak Jingga, memarahinya mengajaknya berkotor- kotoran. Apa yang akan terjadi pada Adip ya? Adip menelan ludahnya mendadak sedikit keringetan.
"Bang Adip tinggal dimana?" tanya Amer memecahkan lamunan dan kecanggungan.
"Ha?" Adip sampai tergagap mendengar pertanyaan Amer saking terlalu banyak terkaanya tentang keluarga Gunawijaya. Perasaan aura di rumah Pak Menteri tak seseram yang dia hadapi sekarang. Seperti apa pula Tuan Ardi itu.
Amer kemudian tersenyum tau Adip melamun. Adip jadi malu ke gep anak kecil begitu.
"Biasa aja Bang, nggak usah tegang gitu. Makasih Bang Adip udah mau nyamperin Amer ke sini!" ucap Amer lagi dengan ramah.
"Hehehe iya. Maaf. Kalau boleh tau? Siapa mereka, kenapa ada di sini?" tanya Adip berbisik akhirnya mengungkapkan ketidaknyamananya ngobrol diawasi pengawal.
"Mereka orangnya Babaku, mereka pengawal yang temani aku. Apa Bang Adip tidak nyaman?"
"Iya!" jawab Adip.
Amer kemudian menoleh ke para pengawalnya.
"Sahabatku tidak nyaman ada kalian, istirahatlah!" ucap Amer.
"Maaf Tuan Muda, tugas kami di sini memastikan dan menjaga Tuan Muda dalam keadaan baik!" jawab Pengawal
__ADS_1
"Haisssh, di sini tidak ada Baba. Kalau kalian melawanku, kuadukan kalian tidak bisa bekerja dengan baik. Sana istirahatlah!" tutur Amer lagi dengan cerdik mengancam para pengawal.
"Baik Tuan muda, kalau Tuan Muda butuh sesuatu, panggil kami!"
"Yaya, sana - sana!" jawab Amer mengusir.
Adip yang dari tadi melihat Amer semakin didatangi banyak bisikan, "Fiks jauhi Jingga, pendam semua rasamu Adip!"
"Pantas Jingga sangat lelet dan pendiam. Pantas Jingga sangat cengeng dan manja, pantas Jingga suka semaunya sendiri. Perlakuan ke Amer saja begini?" batin Adip lagi.
Semua pengawal Amer pergi, Amer tersenyum lagi ke Adip.
"Maaf ya Bang!"
"Nggak apa- apa. Aku yang minta maaf, aku belum kenal dengan siapa aku berteman! Apa aku terlalu tidak sopan dan gegabah?" jawab Adip merendah.
"Ah Bang Adip bisa aja. Aku juga orang biasa kok. Babaku saja yang suka berlebihan! Santai aja, di sini aku yang lebih muda dan seharusnya hormati Bang Adip," jawab Amer ramah.
"Babamu tidak berlebihan, dia hanya melakukan yang terbaik untuk kalian, maksudku untukmu. Kalau dia mampu membayar pengawal dan merasa perlu kenapa tidak? Berlebihan kan kalau tidak mampu! Pengawalmu jadi punya pekerjaan dan jalan rejeki kan?" jawab Adip berfikir positif.
"Sudahlah, nggak usah bahas babaku. Bang Adip tinggal dimana?"
"Aku masih nomaden. Selama setahun aku akan berkeliling di salah satu kecamatan tempatku bertugas! Tapi sesekali, aku ngantor di balai veteriner dekat sini!" jawab Adip lagi.
"Apa di sini urusin hewan- hewan seperti kucing juga?" ucap Amer lagi ingin tahu.
"Di sini aku tidak mengurusi jewan peliharaan melainkan hewan pangan dan peternakan. Tapi selain itu aku ingin kenal dengan hewan liar juga!" jawab Adip lagi.
"Main?"
"Iya, aku bosan di hotel terus Bang. Ajak aku main ya! Aku seneng banget nemuin teman di sini!" ucap Amer lagi.
"Main kemana ya? Aku juga nggak begitu paham!" jawab Adip sambil berfikir.
"Kata Bunga, sini kampung halaman Bang Adip?"
"Iya, kampung ayahku di pulau ini, tapi bukan di sini, ayahku juga tak hidup di sini lagi! Merantau dari kecil!" jawab Adip.
"Oh gitu? Emang kecamatan tempat tugas Bang Adip dimana?"
"Jauh! Nanti kutanya temanku ada tempat main apa di sekitar sini?" ucap Adip lagi mengambil ponselnya mencoba mengerti mau Amer dan mencarikan tempat wisata.
"Nggak harus ke tempat wisata, ngopi aja. Yang penting jalan keluar aja yuk!" ajak Amer ngotot mengerlingkan matanya.
Adip kemudian paham dan mengerti.
"Oke!" jawab Adip.
Tanpa berpamitan dengan pengawal, Amer ikut Adip.
"Naik motor ya!" ucap Adip.
"Nggak masalah Bang. Amer juga udah lama nggak naik motor!" jawab Amer.
__ADS_1
"Oke!" jawab Adip.
Sore itu kedua laki- laki itu naik motor berdua. Amer pun sangat menikmati suasana itu. Menghiruo udara bebas, mersakan kesejukan di bawah langit luas sambil berkendara. Sapuan angin pun begitu terasa, tak seperti saat memakai mobil.
Entah kenapa dua laki- laki yang umurnya beda 5 tahunan itu tampak akrab meski baru bertemu. Adip juga memperlakukan Amer seperti bermain dengan adiknya.
Adip kemudian mengajak Amer ngopi di dekat pegunungan yang menghadap ke tebing yang indah, luas dan dingin.
"Ngomong- ngomong, kenapa bisa sampai sini?" tanya Adip di sela- sela obrolan mereka.
Amer masih menikmati kopi hangatnya di tepi pegunungan itu sambil melihat langit senja yang kelabu karena baru turun hujan
Sambil menunggu Amer menjawab, Adip ikut meneguk ramuan hasil alam itu.
"Amer disuruh jemput Kakak Amer, Bang!" jawab Amer kemudian, dan jawaban Amer membuat Adip langsung tersedak.
"Uhuk!" Adip batuk menormalkan nafasnya agar tidak sesak.
Amer pun menoleh merasa tidak nyaman.
"Maaf, Bang!" ucap Amer.
Adip mendadak merasa sesak dan galau. Adip tahu betul, Jingga baru mulai adaptasi. Adip juga baru mulai merasa senang dengan sikap Jingga. Dijemput? Apa itu artinya Adip benar- benar tidak akan melihat Jingga lagi.
Adip sudah berusaha ikhlas, sholat dan meminta kelapangan hati menerima takdirnya. Entah kenapa mendengar Jingga akan dijemput tetap membuatnya sangat sakit.
"Kakakmu?" tanya Adip pura- pura tidak tahu dulu, ingin Amer bercerita.
"Iya, kakakku namanya Jingga. Dia ada di desa ini?" ucap Amer memberikan catatan alamat Jingga.
Adip menerima tanpa membacanya, tanpa melihat Adip kan sudah tahu. Sungguh tanga Adip bergetar dan dada Adip bergemuruh menahan sesak.
"Apa Bang Adip tahu dimana tempat ini? Bisa antar Amer?" tanya Amer lagi.
"Kenapa kakakmu harus dijemput?" jawab Adip malah balik bertanya.
"Babaku sangat mengkhawatirkan Kakakku, dia putri kesayangan Baba. Baba juga ingin segera menikahkan kakaku!" ucap Amer jujur
Dheg
Adip menelan ludahnya terdiam dan membangun pertahan diri agar tidak oleng di depan Amer itu, tapi sungguh, meski Adip sudah menerka semua itu.
Saat mendengar langsung dari orang terdekat Jingga, Adip tidak bisa menguasai hatinya yang menjerit dan ingin meminta agar mempunyai kesempatan dan banyak waktu bersama Jingga.
Adip membuang mukanya dari Amer menyembunyikan wajahnya yang merah padam menahan sakit yang tak terkira karena takdir yang tak bisa dia ubah. Adip berusaha membuang nafasnya, mempertahankan diri agar tetap terlihat tenang.
Ada bisikan nakal di hati Adip.
"Jangan beritahu, jauhkan saja Amer dari Jingga, biar Adip bisa lebih lama bersama Jingga!"
Tapi di sisi lain, Adip yang beragama masih berfikir.
"Dia keluarganya, mereka lebih berhak membawa Jingga. Tempat Jingga memang bukan di desa T. Kamu harus sadar diri Adip. Siapa kamu? Siapa Jingga? Biarkan Jingga pulang bersama keluarganya?"
__ADS_1