Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
147. Kemarahan Baba.


__ADS_3

"Ada apa?” tanya Jingga lirih. 


Kenapa Oma belum sadar tapi malah Amer dan Babanya menyuruh pulang.


“Pulang dulu! Penting!” jawab Amer tidak mau bercerita. 


Jingga tidak berani melawan karena ada Baba dan Buna. Jingga pun ikut saja.


Mereka kemudian pulang ke rumah. Selama di jalan suasana tegang, dan diam.


Baba dan Buna tidak sabar ingin tahu ada apa? Amer dan Ikun geram ingin segera menemui Tama dan memberikan pelajaran ke Tama. Sementara Jingga ketakutan akan disidang. Iya dan Iyu yang sudah lelah juga tenang.


Tidak lama mereka sampai di rumah, semua bergegas turun dan segera masuk. Belum Baba duduk, ponselnya berdering keras. 


Baba pun memeriksa ponselnya dan menjawab panggilan.


Di saat yang bersamaan ponsel Buna juga berbunyi.


Sahabat Baba, Pak Dhe Farid yang merupakan saudara Rendi menelpon. Dokter Gery dan Pak Dino sekertaris Baba ternyata dari tadi juga mengirim pesan menanyakan keberadaan Baba, mereka m ingin bertemu Baba.


Sahabat Buna, orang- orang panti dan teman dokter Buna juga semua menanyakan kabar Jingga serta mengirim screenshootan foto Jingga.


Jingga yang belum tahu apa-apa hanya melongo mendengar Babanya menerima telepon. Amer dan Ikun tegang mereka bisa menebak sambil menguping Babanya di telepon menyebut nama Jingga dan ekspresi wajahnya berubah.


“Astaghfirulloh! Apa ini Nak?” tanya Buna gugup dengan suara parau dan bergetar menatap Jingga. 


“Aa- aa apa? Apanya Bun?” jawab Jingga balik bertanya dan gugup tidak mengerti.


Mata Buna berkaca- kaca tidak berkata- kata lagi hanya menunjukan ponsel.Bahkan tanganya gemetar menatap Jingga, tentu saja Jingga yang sedari tadi dheg- dhegan ditambah dheg- dhegan. Ada apa?


Jingga berusaha mengambil ponsel Buna. Belum Jingga menerima ponsel Buna, mereka terhenti.


“Brang!” di belakang Buna, Baba lebih parah.


Setelah menutup panggilan Dokter Gery dan membaca pesan Pak Dhe Farid, Baba langsung melempar ponsel mahalnya tanpa ampun sampai pecah.


Semua dibuat kaget dan terperanjak. Buna juga menjatuhkan ponselnya. Buna tampak limbung satu tanganya meraih kursi berpegangan dan satunya memegangi pelipisnya. Buna tidak memperdulikan suaminya yang mulai mengamuk.


“Buna... Baba...!” panggil Jingga lirih dan terbata, Jingga tidak mengerti kenapa Baba dan Bunanya marah. Buna juga terlihat menangis, Jingga pun ikut meneteskan air matanya ketakutan. 

__ADS_1


“Ba... !” pekik Amer dan Ikun mendengar suara pecahan hape.


Mereka tahu Babanya sepertinya sudah lihat foto Jingga lebih dulu sebelum mereka cerita.


Baba sangat marah. 


Baba tidak mendengar Amer dan Ikun, Baba maju mendekat ke Jingga dan meraih kedua bahu Jingga mencengkeram sangat erat dengan matanya yang merah. 


“Hiks... hiks...!” belum diapa- apakan Jingga sudah menangis deras. Jingga ketakutan Babanya teihat sangat seram. 


“Katakan apa salah Baba dan Buna Jingga? Kenapa kamu melakukan ini? Siapa laki- laki yang menidurimu!” tanya Baba keras.


Baba merasa sangatt kacau sebagai orang tua, hal yang selalu menghantuinya dan membuatnya ketakutan terjadi. Baba percaya pada foto itu. Mata Baba bahkan memerah air matanya mau tumpah.


“Baa...! Jangan begini Ba!” lerai Amer dan Ikun menurunkan tangan Babanya, selayaknya pelindung Jingga. Mereka berusaha menjauhkan Babanya pada Jingga. 


Mereka takut Baba akan kasar pada Jingga. Apalagi Jingga sudah menangis ketakutan. Dicengkeram baba sangat erat cukup membuatnya sakit. Mereka juga tidak pernah melihat Babanya semarah itu. 


Hari itu, pertama kalinya di keluarga itu terjadi kekacauan dan ketegangan besar.


“Hiiiks!” Jingga tidak bisa menjawab, Jingga hanya menangis tidak mengerti.


“Ba.. Kak Jingga tidak seperti yang Baba pikir! Timelinya tidak menjelaskan hal yang terjadi sebenarnya,” celetuk Amer tidak tega ke Jingga. 


Prang.... 


Mendengar perkataan Amer, Baba malah menendang vas bunga di sampingnya. Bana sangat emosi dan gemash.


Hal itu membuat suasananya semakin tegang. Semua terdiam. Untung Iya dan Iyu selama di mobil tidur dan sudah dibawa masuk para maid. 


"Buna...!" pekik Amer karena ternyata Buna terhuyung duluan.


****


Hehehe.


Sambil nunggu Up lagi,


Aku bawa nupel temenku nih.

__ADS_1


Ini spillnya ya.



Cuplikan di Bab: SEBUAH KEAJAIBAN.


Sesuai kesepakatan keesokan harinya, Dhanu dan Salwa pun menikah walaupun pada awalnya sangat sulit mengajarkan Dhanu untuk berijab qobul, dan selalu salah karena keterbatasannya. Namun kyai Zainal dengan sabarnya tetap membimbing Dhanu hingga pada akhirnya mereka di nyatakan sah!, oleh para saksi.


"Sekarang Wawa udah jadi istri Adan yaa.?" tanya Dhanu saat Salwa membawa Dhanu ke kamarnya, setelah tadi mereka menyaksikan kepergian Dharma yang tadi sempat menitipkan Dhanu pada Salwa dan Kyai Zainal.


"Iya mas Ardhan, sekarang Wawa, udah jadi istrinya Mas Ardhan." jawab Salwa lembut.


"Horree..horree..Adan sekarang punya istri.." sorak Dhanu sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan, bak anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.


Salwa tersenyum lucu melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak itu. " jangan loncat-loncat Mas nanti kamu jatuh." ujar Salwa dengan lembut.


"Iya Wawa, Adan nggak loncat lagi kok, tapi nanti kita main mobil-mobilan ya?" balas Dhanu dengan wajah polosnya.


"Iya Mas, nanti kita main mobil-mobilan ya." balas Salwa dengan senyum manisnya. " Tapi sekarang mas Ardhan bobo dulu ya," lanjutnya dengan nada lembutnya.


"Baiklah Wawa, Adan sekarang mau bobo, tapi Wawa jangan pergi ya?"


"Iya Mas, Wawa nggak kemana-mana kok."


"Asyiiik, ya udah deh Adan sekarang bobo, ya Wawa." kata Dhanu yang kemudian ia pun mulai memejamkan matanya


"Iya Mas, " balas Salwa masih lembut, namun baru saja Dhanu memejamkan matanya, ia sudah kembali membuka matanya lagi


"Wawa, Adan nggak bisa bobo, kalau nggak di giniin kepalanya Adan, kalau di rumah Bi Ijah giniin kepala Adan Wawa," kata Dhanu dengan wajah polosnya, sambil ia mengusap rambutnya sendiri dari kata giniin.


"Oh baiklah, sekarang Wawa usap-usap kepala Mas Adhan ya."


"Hu'um" balas Dhanu, yang kemudian ia kembali memejamkan matanya setelah Salwa membelai-belai lembut rambut Dhanu, sambil dia bersholawat, membuat Dhanu senang mendengarnya.


Begitulah keseharian mereka setiap harinya, walaupun Dhanu tahu kalau Salwa adalah istrinya. Namun ia memperlakukan Salwa hanya seperti teman bermain baginya, begitu juga dengan Salwa, yang dengan sabarnya ia mengurus dan menemani Dhanu bak seorang ibu yang mendidik anaknya. Hingga pernikahan mereka berusia dua minggu, sebuah keajaiban pun datang pada Dhanu.


Di dalam tidurnya Dhanu ia bermimpi bertemu seorang kakek-kakek, berjubah putih, serta memakai sorban putih, lalu sang kakek meletakkan tangannya di dahi Dhanu yang terlihat bingung melihat sang kakek, namun itu hanya sesaat karena tiba-tiba Dhanu melihat masa lalunya, dan ia juga melihat kejahatan sang tante yang menyebabkan kematian orang tuanya serta saudaranya, membuat hatinya menjadi sedih, bercampur dengan kemarahan.


"Sekarang kamu sudah sembuh nak, lakukanlah yang terbaik, untuk keluarga mu, juga selamatkanlah harta kamu, dan bawalah kejalan kebaikan."

__ADS_1


__ADS_2