
Jingga berdiri terpaku melihat kenyataan di depanya. Tidak bisa berkomentar. Genggaman Adip dengan tanganya terlepas karena Adip kini dipeluk Om Dika.
Jingga pun bertanya. "Kenapa suami Jingga dipeluk- peluk? Terus Om Dika nangis? Suami miskinya kenapa? Siapa mereka? Ada hubungan apa?"
Otak Jingga malah travelling tidak rela kalau suaminya diambil atau dipeluk begitu. Bukan cemburu sama Om Dika. Tapi untuk apa?
Jingga pun menyeringai kesal.
Mendengar pertanyaan Adip, Om Dika mengurai pelukanya sambil mengelap air matanya. Adip masih bingung tetap berdiri bingung.
Di saat yang bersamaan, Buna dan Baba datang.
"Ada apa ini? Kamu kenapa Dik? Ada apa dengan menantuku?" tanya Baba cepat dengan ekspresi panik.
Bukanya menjawab, Dokter Dinda malah memeluk Buna. Buna jadi kaget dan Jingga lebih bingung lagi.
"Aku benar- benar nggak nyangka Al, Alloh beri kita takdir seindah ini?" ucap Dokter Dinda memeluk Buna hangat.
"Takdir apa Din? Jelaskan dulu ada apa ini?" tanya Buna.
"Adip, katakan pada mertuamu dan kita semua, siapa nama Ayahmu?" tanya Dokter Dinda.
"Bapak saya? Bapak.." tanya Adip pelan.
"Ayah kandung kamu, bukan bapak kamu yang kemarin?" tanya Om Dika menegaskan.
"Ini. Gue baru kabarin kalian nih. Besanku namanya ini," serobot Baba tidak tahu akar permasalahanya dan malah nunjukin whastap dari Pak Dino.
Tapi Om Dika dan dokter Dinda tidak menggubris Baba melainkan ingin dengar dari Adip.
"Jawab saja. Katakan Wira! Siapa nama ayahmu!" ucap Om Dika.
Semua kaget, Wira? Siapa Wira. Adip yang dimaksud sebagai Wira juga hanya diam melirik istrinya yang wajahnya sangat lucu karena cemberut dengan rasa campur aduk.
"Haish! Nama ayah Adip Indra Hardiatna Wirajaya," tutur Baba tidak sabaran dan mengeja nama di whastap Pak Dino.
"Alhamdulillah, kan benar!" ucap Om Dika dan Dokter Dinda berbarengan, bahkan Om Dika kembali merangkul Adip untuk mendekat merapat, ke Om Dika dan membuat Jingga seperti diacuhkan.
__ADS_1
"Ishh... itu kan Adipku, kenapa dipegang- pegang terus?" begitu kira- kira batin Jingga ingin dekat- dekat Adip tapi Adip nya malah ditarik- tarik dan dipeluk Om nya, yang Jingga tahu anak- anaknya juga cewek.
"Ini ada apa sih?" tanya Buna menegaskan.
"Mas Indra itu sepupuku. Adip keponakan laki- lakiku yang selama ini kita cari. Ibu Adip hilang jejak sejak kepergian ayah Adip," tutur Om Dika dengan terbata mulutnya meleyat meleyot menahan haru saking senangnya.
Om Dika saking senangnya dipertemukan keponakanya di hari bahagia dan ternyata mereka jadi besan sahabat karibnya sendiri.
"Hooooh," Jingga dan Buna langsung syook dan terbengong. "Keponakan?" pekik Buna dan Jingga.
"Gleg," Adip dan Baba menelan ludahnya tercekat tak mampu berkata apapun.
"Kamu nggak lagi ngarang cerita kan Dik?" tanya Buna lagi masih stabil emosinya.
"Duduk, sini duduk!" ucap Baba kemudian menengahi.
Saking dramanya mereka berdiri. Padahal sofa empuk lebar luas di ruangan dengan dinding kaca dan hiasan banyak tumbuhan indah menanti mereka. Semua pun ikut duduk sesuai mau Baba.
"Mbaak!" panggi Baba ke waitress.
Waitress segera datang.
"Baik Tuan!"
Jingga tidak mau pisah lagi dengan Adip. Jingga langsung ambil tempat duduk mepet dan menggandeng Adip.
Mereka berenam kemudian duduk di meja bulat dan sofa membentuk setengah lingkaran. Mereka berpasangan. Om Dika dan Dokter Dinda di tengah. Baba dan Buna di sisi kanan Dokter Dinda. Adip dan Jingga di sisi kiri Om Dika.
"Maaf Om, Adip masih tidak mengerti?" tutur Adip sopan.
"Ya, Dik. Jelaskan detailnya!" sambung Buna antusias.
Jelas saja Buna antusias, Adipkan orang yang akan atau mungkin sudah menabur benih di perut Jingga. Buna tentu ingin telur anaknya mendapatkan pejantan yang berkualitas.
"Ehm!" Om Dika mengatur nafasnya dan mengelap ingusnya karena menangis. Om Dika bersiap cerita
"Mbak Alya. Adip ini anak kakak saya, Indra Hardiatna Wirajaya itu Kaka saya. Anak tunggal dari Pak Dheku, Pak Dhe Adhinata Wirajaya, kakak kandung Bapak Saya. Kakek saya dulu Abdi keraton, ya bisa dibilang masih kerabat dan ada saudara gitu, tapi Bapak saya memilih nyantri jadi petani. Sementara Pakdhe Nata memilih karir jadi prajurit. Mas Indra ikut jejak ayahnya, dan... Mas Indra!" tutur Om Dika lancar kemudian berhenti bercerita. Om Dika tampak menunduk dan ingin menangis lagi.
__ADS_1
Dokter Dinda kemudian mengelus bahu suaminya.
"Lanjutkan mas. Kita sekarang sudah menggenapi amanah Yang Ti!"
Adip mulai bisa menangkap cerita Omnya itu. Mata Adip ikut berkaca-kaca tapi belum tumpah.
Jingga yang pikiranya campur aduk juga mulai paham, tapi masih syok. Melihat ekspresi Adip Jingga langsung menggenggam tangan suaminya.
"Lanjutkan Om. Pak Indra kenapa?" tanya Jingga.
"Besanmu itu, prajurit yang mempunyai kredibilitas dan berdedikasi tinggi,"
"Hari itu pertemuan terakhir saya dengan Mas Indra, Kak Maharani yang sedang hamil dan Adip yang masih balita, mungkin kamu masih sekitar 3 tahun Dip," tutur Om Dika mengingat masalalu dengan ekspresi haru.
Semua tertegun hening menyimak cerita Om Dika.
"Mas Indra pamit ke kami, di kampung. Bahkan sebagi syukuranya. Mas Indra borong kambing saya. Kami berlibur, kamping bersama. Masih ada foto kamu Dip," tutur Om Dika lagi.
Adip nafasnya mulai kembang kempis tidak bisa menjawab dan matanya merah. Tangan Adip dan Tangan Jingga berpegangan erat saling menggenggam.
"Mas Indra pamit ke kami. Saat istrinya hamil anak kedua, setelah dia lulus perwira dan naik pangkat, menjadi Jendral kebanggan kami. Di saat teman- temanya, berdoa agar tidak diberi tugas ke perbatasan yang sedang rusuh. Mas Indra justru dengan gagah bersedia memimpin tugas itu, bahkan pindah tugas di sana. Daan... dan... " tutur Om Dika lagi dengan nafas tersendat berhenti.
"Hughs...hugs..., Huughss... " tangis Adip pecah mendengar kelanjutan ceritanya Omnya. Mulut Adip bergetar menahan suara tangisnya. Adip menunduk tidak kuasa meluapkan emosinya.
"Sabar Sayang," bisik Jingga merapat menggandengan tangan Adip erat.
"Dan Mas Indra gugur di sana! Mas Indra saat mengemban tugas di sana. Yang aku dengar, Mbak Maharani ikut, karena Mbak Maharani seorang perawat. Yang kudengar juga Dia sudah melahirkan disana," lanjut Om Dika.
"Hooooh," Baba menghela nafas menahan sesak. Ternyata Baba juga ikutan syok dan matanya berkaca-kaca.
"Kenapa? Kalian sampai kehilangan jejak Adip dan ibunya? Bukankah abdi negara mendapatkan perlakuan yang baik seharusnya? Kalian punya kuasa kan?" tanya Buna. "Kenapa Adip sampai terlantar dan tidak tahu asal usulny?" tanya Buna cerdas.
Di antara mereka berenam. Buna sendiri yang tidak menangis dan menyimak cerita dengan seksama.
****
Selamat hari Raya Idul Adha Kakak semua.
__ADS_1
Mohon maaf lahir dan batin....
Luuupe dari Jingga dan Adip.