Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
77. Mulai Merasakan keindahan


__ADS_3

Dua manusia dua hati dan dua pemikiran. Jika maksud hati Aji memberitahudan mengingatkan Nita agar berubah dan berfikir kalau dirinya memberi kesempatan ke Nita untuk menerima cinta Nita asalNita berubah, berbeda penangkapan dengan Nita. 


Bukanya minta maaf ke Jingga. Nita justru merasa gara- gara Jingga, Nita semakin susah mengambil hati Aji. Nita pun semakin ingin memusuhi Jingga. 


Adit sebagai orang tertua yang mempunyai tujuan yang sama dengan mereka berpamitan padaketua suku, kepala puskesmas dan smeua yang ada di situ. Setelah berbosa basi, saling mengucapkan salam dan terima kasih mereka pun berangkat. 


Semua anak- anak kemudian berjalan kaki menuju ke sungai tempat dermaga kapal kecil mereka. Di daerah situ masih tidak ada kedaraa bermmotor karena medan yang belum memenuhi. Ada motor, motor gunung hanya kepunyaan Kepala suku atau di pusat kabupaten. 


Mereka terpaksa berjalan melewati jalan setapak yang terjal dan banyak rerumputan. Sekeliling mereka akan mereka temui pepohonan besar dan terhampar luas bukit- bukit yang menjulang tinggi. Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada di dalam hutan itu. 


Aji dan dua anak laki- laki lain berjalan di depan, disusul Tari dan Lili, lalu Jingga dan Yuri di belakangnya Nita, Siska dan Prilly, sementara Adip di belakang sendiri bersama orang asli kecamatan M itu. 


Meski berbisik- bisik dan tidak jelas, Adip mendengarkan percakapan Siska dan Nita yang membicarakan tentang Jingga. Adip yang tadi mendengar percakapan Tari dan Aji jadi tau permasalahanya. 


Adip kemudian memperhatikan Jingga lagi yang berjalan dari kejauhan. Jingga tidak mengeluh dengan kata- kata, tapi wajah Jingga terlihat sekali sangat kelelahan. Wajah Jingga yang putih karena perawatan wajahnya ketinggalan sekarang terlihat memerah. 


“Apa aku salah membuat dia ketrima di sini?” batin Adip terus mencuri- curi pandang ke arah Jingga.


Mereka pun sampai ke dermaga. Perahu pengangkut mereka sudah menunggu. 


Jingga berhenti mendadak dan terbengong melihat perahu yang ada di depanya. Padahal kelompok lain Aji, Tari dan yang lain langsung naik. Nita dan Siska juga naik. 


“Ayo! Kak!” ajak Yuri. 


“Gue takut! Ini beneran naik perahu begini?” tanya Jingga ragu. Jingga melihat ke depan sungainya lebar tanpa jembatan dan bebatuan, arusnya juga deras sampai terdengar gemuruh bunyinya. 


Sisi- sisi sungai juga tidak ada tanggulnya melainkan langsung pepohonan besar. Tak terlihat bebatuan seperti sungai- sungai di tempat wisata atau pegunungan indah yang airnya berbusa putih dan cantik. Sungainya ini seperti aliran yang tidak bisa ditebak apa yang ada di dalamnya. 


“Ehm... mau balik?” tanya Adip tiba- tiba sudah di samping Jingga. 


Jingga dan Yuri langsung menolehke Adip. 

__ADS_1


“Barang- barang kalian udah sampai ke lokasi, ikhlasin buat warga sekitar ya! Hati- hati kalau mau balik!” jawab Adip menyindir. “Tau cara pesan tiket pesawat perintisnya nggak?” tanya Adip lagi. 


“Aku mau ikut Kak!” jawab Yuri. 


“Ayok aku bantu!” jawab Adip ke Yuri ramah dan melirik ke Jingga yang gemetaran. 


Kelompok Tari yang sudag genap masuk ke kapal pun bersiap berangkat. 


“Jingga kok lo berdiri di situ? Ayo naik!” teriak Tari. 


Jingga berdiri gemetaran. 


“Kita berangkat duluan ya.... see you minggu depan!” pamit Tari berangkat lebih dulu. 


Jingga pun  melambaikan tangan ke Tari dengan wajah masamnya. Nita dan yang lain pun memasang wajah kesalnya ke Jingga karena Jingga tak kunjung naik, Jingga benar- benar seperti siput yang menjengkelkan. 


Jingga pun menelan ludahnya bingung mau naik atau tidak. Jingga melihat sekeliling di belakangnya tak ada orang, dia juga baru sadar semua menunggunya termasuk Adip. Jingga pun semakin dheg-dhegan baru ngeh ternyata Adip akan pergi satu perahu denganya. 


Jingga menelan ludahnya apa itu artinya Adip akan satu desa denganya. 


“Ada pelampungnya nggak?” tanya Jingga polos dengan wajah pucat dan keringetan. 


“Pelampung?” tanya orang asli kecamatan situ malah heran. 


“Iyah? Ada pelampungnya nggak? Yang bantu kita biar nggak tenggelam?” tanya Jingga. 


“Nona bisa berenang?” jawab orang itu balas bertanya


“Bisa!” jawab Jingga. 


“Tak usah takut Nona, tak akan tenggelam!” jawab orang itu tau ketakutan Jingga. 

__ADS_1


Sebenarnya semua yang lolos ke ruang inspirasi itu juga sudah diseleksi dengan syarat harus bisa renang. Bagi Jingga kan beda, kolam renang di rumahnya kan airnya jernih bersih dan tenang tak seperti di depanya. Jingga pun semakin ketakutan dan menunduk ingin menangis, mau balik tapi bingung sama siapa? Mau naik sekarang Tari sudah tak terlihat, berdiri terus teman- temanya sudah sangat marah, termasuk Adip. 


“Cepatlah!” 


Tiba- tiba tangan Jingga diraih dan digenggam Adip tanpa persetujuan dan ijin dari Jingga. Adip menggenggam tangan Jingga tanpa ekspresi. 


Jingga hanya bisa menelan ludahnya sangat gugup, tangan Adip terasa sangat panas seperti membawa aliran listrik yang berdaya tinggi. Jingga pun tersihir ikut melangkah. 


“Hati- hati!” ucap Adip dingin saat membantu Jingga melangkahkan kaki dari atas kayu dermaga ke perahu kayu yang sedikit bergoyang. 


Jingga kemudian melepaskan tanganya dan hendak berterimakasih, tapi belum Jingga menjawab malah Adip duluan yang berbisik. 


“Apa kau sepandai ini mencari perhatian semua orang?” bisik Adip ke Jingga lirih tapi sangat menyakitkan Jingga. 


“Hoh?” pekik Jingga merasa sangat terhina. Jingga mau menjawab tapi menoleh ke samping kanan kiri dan depan semuanya menatap sinis ke Jingga. 


Jingga jadi tertuduh dan tidak bisa berkata apapun. Jingga memilih menundukan wajahnya. Tidak bisa ditahan dan dibendung lagi, saat perahu berangkat Jingga meneteskan air matanya. 


“Baba... Buna.. maafkan Jingga, Jingga takut, Jingga nyesel ikut bagaimana ini?” batin Jingga jantungnya berdegub sangat keras, Jingga juga tak berani menoleh ke air dan memilih duduk di ujung perahu. 


Nita dan Siska pun menatap Jingga dengan sangat kesal tapi tidak beranni mengumpat karena merasa canggung Adip berhadapan dengan mereka. Yuri yang baik hati kemudian memberikan sapu tangan ke Jingga. 


“Berdoa Kak, kita nikmati perjlanan ini!” bisik Yuri. 


“Haissh!” desis Adip merasa bersalah karena membuat Jingga menangis, Adip jadi bingung dengan perasaanya sendiri. 


Di perahu itu pun suasananya jadi hening tak ada percakapan tak seperti perahu Tari yang tertawa dan mengobrol. Jingga benar- benar baru kerasa kalau sekarang seperti berada di dunia lain, sendirian, tak ada siapa- siapa dan tak tahu harus bagaimana. 


Lama kelamaan perahu itu mengikuti arus jauh. Irama jantung Jingga berangsur normal kembali, perahu itu juga bergerak stabil. 


Angin sungai dan dari hutan kemudian bertiup lirih menyapa Jingga dan kawan- kawanya, sehingga helaian rambut Jingga yang lolos dari ikatanya tampak melambai. Jingga mulai menyambut sapaan itu dan mengangkat wajahnya. 

__ADS_1


Ternyata menyenangkan, Jingga pun mulai merasakan keindahan itu, ketakutanya pun pergi. Jingga menghirup angin semilir itu.


Adip pun tersenyum kecil mendapati wajah Jingga yang mulai memancarkan cerahnya. Jingga yang tadi menunduk kini mulai mengedarkan pandanganya lagi dan tanpa sengaja mereka beradu pandang saling menatap. 


__ADS_2