
Ditemani ombak kecil yang gemericik menabrak bebatuan karang yang berserak, dan angin yang berhembus sepoy- sepoy. Jingga duduk di atas batu pantai dengan nyamanya, mengunyah bebuahan kecil yang langsung dipetik dari pohonya.
Sesuai keinginan Jingga dengan tenaga berlimpah yang Adip miliki. Adip membuka sabut kelapa pada ujungnya dan memberinya lubang kecil sebagai jalan untuk meminumnya. Tidak butuh waktu lama dan dengan mudahnya Adip melakukan itu.
“Huft....” sesekali Adip menyeka keringatnya lalu menatap Jingga tersenyum kecil. Saat duduk tenang memandangi lautan yang indah itu, dengan sedikit helaian rambut yang keluar dari ikatanya, melambai mengikuti arah angin, Jingga tampak sangat anggun cantik sempurna.
Adip pun sengaja berhenti sejenak dari tempatnya membuka sabut kelapa itu. Dia lebih suka menatap Jingga dari kejauhan tanpa Jingga tahu. Menikmati mahakarya Tuhan yang nyaris sempurna buatnya.
Heheh visual tempat duduk Jingga Kakak. Kehaluan Author maaf kalau menemukan tempat yang sama..
“Beruntungnya orang kelak memiliki kamu?” batin Adip menyadarkan dirinya. Dirinya hanya pria miskin yang lebih suka menyatu dengan alam. Adip tak punya banyak harta dan kedudukan yang bisa dia tawarkan untuk menghadap pada Tuan Ardi Gunawijaya yang konon kataya punya segalanya dan sangat menyayangi Jingga.
Adip kemudian bangun dan memberikan kelapa itu ke Jingga.
“Nih!” ucap Adip memberikan kelapa itu ke Jingga.
Jingga ternyata membuktikanya dia tak selemah sebelumnya. Seminggu lebih Jingga di desa itu, dia tidak lagi peduli pada jeerawat yang bermunculan di wajahnya karena tak memakai skincare seharusnya. Jingga pun tak peduli dengan sabut kelapa yang menempel di pipinya. Jingga dengan leluasa meneguk kelapa itu.
“Pipimu kotor!” ucap Adip memberitahu. Adip tidak berani menyentuh Jingga apalagi berusaha membersihkanya. Adip hanya berani menegurnya.
“Hoh? Iya kah?” jawab Jingga polos lalu menyentuh pipinya berusaha membuang kotora yang menempel
“Bukan, bukan di situ! Di dekan hidung!” jawab Adip menunjukan karena Jingga malah menggeser kotoran itu.
“Ini? Udah? Udah bersih?” jawab Jingga berusaha mecari kotoranya dan menghadapkan wajahnya ke Adip meminta diperiksa mana yang masih kotor.
Ternyata Jingga masih belum berhasil membersihkanya. Terpaksa Adip reflek menyentuh pipi Jingga dan membuang kotoran itu lembut. Mereka kemudian saling tatap, dari tatapan mereka seperti hadir aliran listrik yang membawa aliran panas membangunkan adrenalin mereka.
Adip pun dengan cepat menarik tanganya kemudian menatap lautan lepas menyembunyikan gugupnya.
“Makasih ya!” ucap Jingga lembut.
“Sama- sama!” jawab Adip sopan, tapi saat Adip berdekatan dengan Jingga begitu Adip tidak berani menatap Jingga, Adip lebih suka menghadapkan wajahnya pada jernihnya air dengan warna biru pada ujungnya.
“Aku minta maaf!” ucap Jingga kemudian.
“Hum?” jawab Adip menoleh ke Jingga kenapa tiba- tiba Jingga minta maaf.
__ADS_1
“Iya, aku minta maaf!” ucap Jingga lagi.
“Kenapa kamu harus minta maaf?” tanya Adip kemudian.
Jingga yang merasa selama ini dimarahi Adip dan merasa Adip membencinya jadi salah tingkah.
“Kamu selama ini membenciku kan?” tanya Jingga lirih.
“Oh.. tidak, aku tidak pernah membenci orang!” jawab Adip membuang mukanya lagi.
“Lantas kenapa, kau suka marah- marah padaku?” tanya Jingga polos dengan jujurnya menanyakan apa yang dia rasa.
“Iya kah? Apa aku suka marah padamu?” jawab Adip malah balik bertanya, sebenarnya Adip bukan marah, tapi Adip melawan kesalnya sendiri menahan rasa yang menurutnya tak seharusnya berkembang.
“Kamu selama ini kasar kepadaku!” jawab Jingga lagi.
“Ah, kamu saja mungkin yang baperan, gaya bicaraku memang begini!” jawab Adip berkilah.
“Begitukah?”
“Ya!!” jawab Adip mengangguk bersemangat menyembunyikan rasanya.
Padahal di saat itupula wajah Adip memerah menahan gerah dan panas. Haruskah Adip bilang betapa dia selalu ingin ada di dekat Jingga dan menatapnya, tapi Adip tahu rasanya tak akan pernah terbalas, jadi Adip memendamnya.
“Kamu saja mungkin yang selalu diperlalukan baik, jadi kaget menemui orang sepertiku, oh ya ngomong- ngomong. Selamat ya, hari ini kamu berhasil menyelamatkan dua nyawa!” tutur Adip berusaha mengalihkan pembicaraan. Adip sangat tidak nyaman jika Jingga mendesak dan memojokan Adip begitu.
“Ini semua berkat kamu!” ucap Jingga lagi, Jingga kini menatap Adip tersenyum dengan sangat manis dan percaya diri. Jingga tidak tahu kalau lawan bicaranya sedang menahan bara api yang menyala agar cepat redam akibat senyumanya itu.
“Tidak ada hubunganya denganku, ini semua kerja kerasmu!” jawab Adip lagi.
Jingga kemudian diam, Jingga tetap ingin bilang kalau ini berkat Adip. Sayangnya Adip kembali lagi mengacuhkan Jingga dan malah membelakanginya.
“Maaf ya!” tutur Jingga kemudian membuka percakapan lagi.
“Maaf kenapa lagi?” jawab Adip.
“Udah ngatain kamu mall praktik!”
“Kita memang mall praktek kok! Kamu tidak salah!” jawab Adip lagi.
__ADS_1
“Tapi aku juga tetap melakukanya!”
“Jika di sini ada dokter dan tenaga kesehatan lain, kita salah. Kita tidak ada pilihan lain! Ada 3 jalan yang akan kita hadapi, jika kita menolonganya, saat mereka selamat, mereka akan bersyukur, mereka juga tetap bermanfaat bagi banyak orang, jika tidak selamat kita akan menjadi mall praktek,tapi lebih dari itu jika kita membiarkanya tanpa melakukan apapun, kita juga akan melihat mereka meninggal perlahan. Jadi kau hanya tinggal memilih menjadi pembunuh versi mana?” jawab Adip panjang menasehati Jingga.
“Aku ingin menjadi penyelamat!” jawab Jingga tersenyum lagi dan berusaha membuat Adip menatapnya.
“Kalau kau memang ingin menjadi penyelamat, lakukan sebagaimana seharusnya kamu bisa berbuat banyak hal untuk mereka!” jawab Adip.
“Maksudnya?"
"Maksimalkan pengalamanmu di sini, nikmati dan cari apa yang kamu cari. Seharusnya keluarga orang terpandang sepertimu bisa membuat perubahan di sini!" ucap Adip kemudian.
"Apa maksudmu Om Gery?"tanya Jingga.
"Ya. Setidaknya Om mu bisa memikirkan kebijakan apa yang tepat. Mungkin memberikan insetif lebih bagi mereka yang mau mengabdi di sini. Atau menyekolahkan anak- anak pribumi!" jawab Adip mengeluarkan unek- uneknya.
"Maksudmu bayaran untukmu dinaikan begitu?" tanya Jingga mengajak bercanda.
"Bisa jadi! Hehe!" jawab Adip sambil tertawa.
"Aku pasti akan cerita pada Baba , Om dan Opaku. Baba juga pasti tertarik untuk membuka wisata dan memberdayakan daerah sini. Babaku kan pengusaha!" jawab Jingga sedikit meninggi.
Ini View kalau dari atas bukit. (nggak nyambung sih sebenarnya. Sambungin sendiri aja lah ya)
Adip pun mengangguk.
"Ya sudah. Ayo pulang! Mulai besok kembalilah ke sekolah jangan terus menguntitku!" ucap Adip dingin sambil berdiri.
"Huh? Aku menguntitmu?" jawab Jingga tersipu malu dan menelan ludahnya. Ternyata Adip melihatnya, wah malunya Jingga. Wajah Jingga pun merah padam dibuatnya.
Adip kemudian berjalan sambil tersenyum. Jingga pun ikut berediri dan menyusul Adip pulang.
"Besok aku ke kota. Aku akan mendapatkan signal telepon, ada pesan yang ingin kau sampaikan pada keluargamu nggak?" ucap Adip sambil berjalan.
"Hmm. Apa ya? Banyak sekali. Biar nanti kupikirkan!" jawab Jingga.
__ADS_1