
Sepanjang perjalanan pulang, dari rumah Adip ke rumah Baba, Baba, Oma dan Buna tak hentinya memuji kebaikan Adip. Menantu yang pikiranya tidak bisa ditebak dan berbeda dari kebanyakan manusia seusianya.
Menantu yang penuh kejutan dan membuat Baba dan Buna seperti sedang berpetualang. Jadi kaya main tebak- tebakan.
“Tapi kok Adip nggak bahas masalah balik ke Pulau Panorama ya Ba?” celetuk Buna.
“Ya besok, kita tanya. Masih 3 hari lagi kan?” jawab Baba.
“3 hari kok kan sih Ba? 3 hari itu cepet lho Ba!” jawab Buna.
“Ya setidaknya masih ada waktu untuk berunding dan bersiap- siap. Wong kita lagi di sini, ya sudah dinikmati saja hari di sini! PR juga masih banyak,” jawab Baba Ardi.
“Kalau kata Oma, sudahlah, kamu kasih modal saja Adip untuk kembangkan usahanya, Jingga dan Adip biar tinggal di sana. Oma senang, jadi tidak jauh kalau mau jenguk, buyut!” sahut Oma menimpali.
“Iya Mas! Biar kita nggak kepikiran juga kan?” imbuh Buna mendukung.
“Tidak! Baba tidak setuju!” jawab Baba tegas dan enteng.
Buna dan Oma pun mengernyit.
“Mas... kamu itu gimana sih? Saran Mamah bener lho!” sahut Buna mulai ngomel.
“Ya bener menurut Buna dan Mamah, menurut Baba salah dan Baba nggak setju!” jawab Baba tegas.
“Apa alasanya Ba?” tanya Buna.
“Adip bersama teman- temanya bisa berkembang sendiri. Kalau Baba ikut campur, Adip akan kehilangan jati dirinya sebagai laki- laki dan sebagai pemimpin. Kita hanya perlu memantau dari jauh, kalau Adip ada masalah barulah kita bantu! Toh kita ada Sera kan?” jawab Baba mulai berfikir tidak posesif.
Setelah kenal Adip, Baba percaya Adip. Meski begitu, mereka masih sewa Sera sebagai bodyguard Jingga persiapan kalau Adip pergi.
“Oh gitu? Kalaua untuk pergi ke Pulau Panorama, Ba! Baba jangan ijinin ya!” sahut Buna lagi.
“Dulu Buna kok yang ijinin Jingga pergi kesana, kenapa sekarang suruh Baba melarang?” jawab Baba mengembalikan kesalahan masalalu.
“Ihh Baba kan masalahnya sekarang beda!” jawab Buna.
“Tidak! Baba tidak akan mengitervensi Adip, biar saja mereke memiliih jalanya sendiri!” jawab Baba lagi tegas.
“Baaa.... Baba tega anak kita dan suaminya LDR?” tegur Buna merajuk.
“Buna sih, Nggak setuju!”
“Oma juga tidak!” imbuh Oma.
Baba yang dikeroyok istri dan ibunya hanya diam. Baba malah memejamkan matanya dan bersandar di jok mobil. Lama- lama Baba menyusul Iya dan Iyu, jadi bayi ketiganya Buna yang tidur di mobil.
Sementara Nila si pendiam tetap diam sepanjang jalan. Nila tenggelam dalam lamunan dan pikiranya sendiri, tidak ada yang bisa mengerti kemana dia berfikir dan berkelana.
Nila hampir seperti Ikun, diam, tidak mudah mengekspresikan pikiranya pada orang lain. Nila hanya akan bicara saat di tanya. Sekitar jam 11 malam mereka sampai ke mansion mereka.
Baba dan Buna langsung masuk ke kamar pribadi mereka. Iya dan Iyu langung disambut Idan dan Susi. Nila mengantar Oma ke kamarnya.
“Nilaa...,” panggil Oma.
“Iya, Oma!” jawab Nila.
“Oma perhatikan dari tadi kamu diam dan gelisah, ada apa?” tanya Oma pelan.
“Tidak ada apa- apa Oma,” jawab Nila.
“Apa kamu sedih, kakak sekarang sudah tidak tinggal di rumah ini lagi?” tanya Oma menebak.
Nila pun mengangguk, meski gerakan mata dan wajahnya seperti tak seirama.
“Dengarkan Nenek. Kamu juga sebentar lagi daftar di SMA pondoknya Pak Rendi kan?” tanya Nenek.
“Iya Oma,”
“Setiap anak perempuan ketika sudah besar dan dipinang laki- laki, kan memang yang utama ikut suami. Sama seperti Buna yang meninggalkan Oma Mirna dan tinggal di sini bersama Baba dan Oma Rita. Kakakmu juga begitu, nanti kamu juga begitu. Tapi meski begitu, Oma Mirna tetap sering berkunjung, Buna juga sering mengunjungi Oma Mirna, jadi jangan sedih ya. Nanti kamu juga bisa saling kunjung dan lepas rindu sama Kak Jingga!” tutur Oma Rita lembut.
Nila pun mengangguk.
“Ya sduah ini sudah sangat malam, mau tidur temani Oma?” tawar Oma.
“Tidak Oma, Nila tidur sendiri saja!” jawab Nila.
__ADS_1
“Oke... goog nigth yaa.. have a sweet dream,”
“Iya Oma.. Oma juga, cup,” tutur Nila mengecup kening Omanya.
Dibanding Jingga, Nila jauh lebih telaten merawat orang tua. Nila selalu rutin dan telaten menyiapkan makana Oma, menjelang tidur bantu Oma cuci kaki, sikat gigi, bantu Oma berjalan dan menyelimutinya, sebelum pergi Nila memberi kecupan hangat untuk Omanya. Bahkan dengan suster lebih cekatan Nila
Tapi entah kenapa, meski begitu, di pikiran Oma, yang menjadi prioritas untuk dipikirkan dan dikhawatirkan selalu Jingga si manja. Padahal Jingga kalau ke nenek, suka bawel dan ngrepotin aja, Jingga nggak bisa kalau suruh rawat seperti Nila.
Apalagi melayani selayaknya istri yang baik. Di rumah Emak aja, semuanya Emak yang siapkan. Jingga masih on proses menuju bisa jadi perempuan yang cekatan.
Setelah mematikan lampu kamar Oma Rita, Nila menuju kemarnya. Di lepasnya pakaian panjangnya satu persatu.
Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang menebak. Nila bukan sedih karena Jingga keluar rumah atau Nila akan berangkat ke pondok. Di otak Nila malah selalu melekat bayangan kakaknya dan kakak iparna.
Iya... benar. Otak dan hati Nila tercemar dan ternodai terhadap sesuatu yang tidak semestinya. Padahal Nila baru akan masuk SMA.
“Jadi ini yang diperdebatkan Baba dan Umminya Pak rendi, kenapa selaama 3 tahun ke depan, aku harus tinggal di rumah Ummi?” gumam Nila menatap cermin.
Pelan- pelan Nila membuka satu persatu kancing tuniknya. Nila tanpa sengaja melihat tubuh polos kakaknya yang memang jauh tinggi dan berisi dibanding dirinya. Nila hampir seperti Buna, tinggi rata- rata seperti orang di negaranya 150an cm.
Tadi Nila melihat kakak iparnya begitu rakus dan tertarik terhadap kedua aset kakaknya. Tanpa ada yang tahu, Nila sekarang sedang manatap cermin dan membandingkan kepunyaanya dengan punya kakaknya.
“Apa benar aku masih kecil, aku juga punya ini? Aku juga cantik, kenapa semua orang hanya suka kakak? Aku mau menikah, dan aku juga suka pak Rendi?” batin Nila di depan cermin.
Seketika tubuh Nila memanas memikirkan itu.
Tapi kemudian Nila tersadar. Kata orang, semua yang diperhitungkan orang tua itu adalah kebaikan. Nila pun mencoba mengerti itu.
“Iya aku memang masih kecil, tapi aku mau kok menikah dnegan Pak Rendi,” gumam Nila bertekad.
Nila memang tak sejalan dengan Jingga. Buat Nila, pak Rendi adalah cinta pertamanya. Cinta pertama pada pandangan pertama.
Sebab saat Pak Rendi pulang dari Pulau S, pak Rendi berkunjung ke rumah untuk lapor masalah Jingga bertemu dan interaksi dengan Nila. Pak Rendi pedekate ke Buna, Iya dan Iyu juga Nila bertemu. Jadi Nila mengagumi Adip secara diam- diam. Dari tampangnya, santunya dan sikapnya.
Meski bagi Jingga menyebalkan, bagi Nila keren dan mengesankan.
Nila pun melepaskan sekalian pakaiannya beragnti pakaian tidur. Meski tak menginginkanya dans egera menepisnya, Nila malah terbayang dirinya dengn Pak Rendi yang ada di posisi Jingga.
“Astaghfirulloh... apa ini, ya Alloh ampuni aku,sadar Nila ini dosa!” batin nila menenangkan diri.
Setelah berwudzu, Nila pun mengusir gelisahnya dengan membaca doa- doa. Nilapun mampu menguasai hawa naaafsunya. Nila tidur.
****
Di rumah Adip dan Jingga.
Karena sudah malam mereka mengunci rumah kecilnya. Jingga dan adip sudah selesai sholat dan sudah berganti dnegan pakaian tidur.
Rupanya karena terjeda percakapan panjang dengan Baba, otak messum Adip tertindiih tertumpuk di bagian paling bawah. Adip dan Jingga kini sibuk membuka kado dari teman- temanya.
Tadi sebelum pulang Jigga menanyakan ke Baba. Baba pun langsung menelpon pihak hotel untuk mengantar ke rumah Adip. Kadonya sampai dua mobil bak.
“Ya ampun, Bang... capek banget!” keluh Jingga sekarang ruang tengah rumah Adip penuh kado. Padahal tadi pas ada Nila sudah dibantu Nila dan Buna.
“Ya besok an kita mau ke Emak sayang,” jawab Adip.
“Lain hari kan bisa bukanya Bang! Emang Bang Adip nggak ngantuk, daaan nggak pengen lanjut itu?” tanya Jingga centil dan memancing Adip.
Sayangnya Adip benar- benar lupa. Entah lupa atau menahan dan memilah mana yang prioritas dan tidak. adip tak menanggapi Jingga. Padahal kan tadi bilangnya pulang ke rmah biar bebas. Eh malah sibuk.
“Abang Cuma ingin lihat isinya, Sayang. Barang kali ada benda yang bisa Bang Adip bawa untuk Emak sama Bapak. mereka kan habis kebakaran, semua perabot Emak kebakar!” jawab Adip.
Pantas Adip mengabaikan ajakan Jingga, ternyata Adip memikirkan Emak dan Bapak.
“Katanya kalau bukti- bukti dari polisi udah ada, rumah itu balik ke Abang, kan biar Bapak dan Emak yang nemaptin bareng anak- anak,” ucap Jingga.
“Sementara sampai rumah jadi meman Iya. Tapi Bang Adip jamin 100 persen Emak nggak mau tinggal di sana!” jawab Adip.
“Laah sih, terus? Rumah buat siapa?”
“Ya buat kita,” jawab Adip.
“Kebanyakan rumah Bang!” jawab Jingga.
“Baba ayang punya hotel, bangun dan bisnis apartemen, punya restoran dan yayasan juga biasa aja,” jawab Adip enteng.
__ADS_1
“Kan Baba anaknya Banyak!” jawab Jingga.
“Bang Adip juga pengen punya anak banyak!” jawab Adip enteng.
“Hoh!” pekik Jingga.
“Kenapa?” tanya Adip tersenyum tanganya masih sibuk menyobek kertas kado.
“Anak banyak itu ribet Bang. Jingga aja rasanya pengen kabur dari rumah dulu itu!” jawab Jingga.
“Apalagi sendirian tunggal kaya Abang, sangat tidak enak.!” Jawab Adip lagi.
“Kreeeet...,” sambil mengkeeletek lakban kadonya mantap sekali.
“Hemmmm,...,” Jingga hanya manyun.
Seperti biasa kalau Jingga sudah capek dn malas, bekerja semaunya. JiNGGA mandorin Adip. Adip yang bekerja, sangat tidak sopan dan durhaka, tapi Adip tetap cinta.
“Kamu kalau ngantuk sana tidur dulluan. Siapin tenaga buat Bang Adip1” tegur Adip mulai, rupanya Adip tidak lupa, tapi memilah mana yang prioritas dilakukan.
“Issh, nggak enak tidru sendiri!” jwab Jingga.
“Hallah. Alasan,” jawab Adip.
“Kan sekarang ada suami,” jawab Jingga.
“Ya udah kalau gitu bantuin!”
“Capek,”
“Ya udah ditatain!” jawab Adip lagi.
Akhirnya Jingga kejatah menyusun kadonya. Ternyata kebanyakan dari teMAN Adip.
Semuanya gokil- gokil. Ada yang kado, alat kemping seperti tenda, alat masak yang instan alas tidur dan lain- lain. Mereka ketahuan temaan mapala Adip. Ada yang kado hair dryer, padahal Jingga kaya mana butuh itu. Ada banyak juga lingerii, ada juga yang kasih catatan tulisan daftar nama anak- anak yang berasal dari Adip Jingga. Perabotan rumah juga banyak. Tas pakaian sepatu dan perhiasan juga ada. Kebanyakan pakaian couple untuk Jingga dan Adip.
“Perabotan buat Emak sama Bapak, sisanya buat isi rumah ini ya!” ucap Adip.
“Ya...,oke! Udah selesai kan?” tanya Jingga.
“Ada satu lagi,” ucap Adip.
“Apa Bang udah malam, ayo tidur!” rengek Jingga menggandeng tangan suaminya.
“Ya udah yuk!” ajak Adip ke kamar mereka yang sederhana.
Sebenarnya dibanding kamar di rumah Emak tidak sederhana, kamar 3x4 dengan dipan dan springbed standar harga 5 jutaan, baru lagi. akan tetapi kalau dibanding di kamar Jingga jauh sih.
Jingga langsung naik ke kasur suaminya yang baru, tapi Adip malah berjalan ke lemari dan megambil sesuatu. Jingga pun manyun, kenapa Adip nggak tidur- tidur.
“Apalagi Bang?” tanya Jingga.
“Kamu bisa kan, Bang Adip percaya kelola uang ini?” tanya Adip membuka brankasnya.
“Abang apaan sih?” gerutu Jingga kesal.
“Kok apaan? Kamu istri, Bang Adip kan? Mulai sekarang kunci brangkas ini, Bang Adip serahkan ke kamu. Ini tabungan bang Adip.” Ucap Adip menunjukan isinya.
Ada 2 buku tabungan lengkap dengan atmnya, satu buku tabungan deposit Adip sejumlah 50 juta untuk cadangan Adip lanjut S2, ITU UANG YANG Adip kumpulkan selama 5 tahun dari ngojek, bisnis jual beli hewan peliharaan bersama teman- temanya. 1 buku tabungan lagi, rekening tempat anak buah Adip setor keuntungan pabrik, baru sekitar 10 juta karena sebelumnya sudah Adip kuras untuk membangun rumah kecil.
Lalu ada beberapa emans batangan, tidak banyak sekitar 20 gram doang. Lalu uang tunai sekitar 25 juta
Jingga tertegun. Itu jumlah sedikir untuk Jingga, meski untuk orang awam banyak dan butuh jungkir balik mengumpulkanya.
“Ini kan punya Bang Adip, kita hidup bareng, ya udah sih, BangAdip yang pegang. Jingga patuh dan ikut Abang mau belanja apa aja? Gimana?” jawab Jingga.
“Kamu sekarang jadi istri, mulai sekarang kamu harus latihan dan bertanggung jawab, harus punya perencanaan juga. Nasib rumah tangga kita sekarang ada di kamu! Uang ini kamu bebas ambil dan pergunakan. Tapi pastikan uang ini cukup sampai kamu lulus Sarjana kedokteran, cukup untuk kamu makan, tanpa minta sama Baba!” ucap Adip tegas.
“Kalau kurang nggak boleh minta Baba?” tanya Jingga menawar
Adip menggelengkan kepala.
“Tidak. harus pakai uang ini, kalau bisa sisa, sampai Bang Adip balik,”
“Balik Bang?” pekik Jingga kaget. “Balik darimana?”
__ADS_1