Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
163. Kamu bukan orang lain.


__ADS_3

Diam seorang ibu tak benar- benar diam. Mulut Buna di depan Baba memang bilang biarin. Akan tetapi di dalam hatinya berkecamuk, khawatir lebih dari apapun, bahkan mengesampingkan dirinya sendiri yang tengah berbadan dua, seharusnya istirahat menjaga pikiranya. 


Buna ke kamar untuk mengambil ruang bebas dari Baba yang sekarang sedang mengaduk- aduk emosi Buna. Mau marah tapi takut dosa, mau tidak marah tidak bisa.


Buna memilih di kamar, melihat dua buah hati yang celotehanya seringkali mengobati lelah. Meski Iya dan Iyu tidur, tetap saja mampu menenangkan Buna. 


“Jika kalian besar nanti, jangan seperti Baba ya Nak! Cukup kak Jingga saja yang kerasnya nurunin Baba! Buna pusing kalau begini terus,” batin Buna meneteskan air mata membelai lembut kepala Iya dan Iyu. 


Mengendalikan Iya dan Iyu lebih mudah ketimbang memberitahu Baba.


Baba dan Jingga sebenarnya 11 12, sama- sama susah dinasehati, jika sudah berkemauan.


Jika dilihat dari kedudukannya, suami dan anak, seharusnya Buna memilih suami. Akan tetapi jika melihat persoalanya, Buna memilih membela Jingga. 


Jingga menikah dengan Adip karena takdir, jodoh yang Jingga pilih juga tidak salah. Apalagi dengar cerita Jingga tentang Adip yang menerima Jingga apa adanya dan tidak mau menyentuh Jingga sebelum bertemu Baba. Buna semakin yakin Adip adalah pria yang tepat.


Apalagi persoalan ini tentang hidup Jingga, hak Jingga, Jingga yang akan menanggungnya, menjalaninya di masa depan dan seumur hidup, bukan hidup Baba.


Menurut Buna, Baba salah karena memaksakan kehendak, mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan Buna dulu sebagai ibu Jingga dan istrinya tapi malah memutuskan sendiri dengan orang lain. 


“Mer... ini Buna!” 


Tidak peduli Baba yang berteriak dan menggedor pintu di luar kamar, Buna di dalam justru menelpon Ikun dan Amer. 


Mereka bahkan terhubungkan panggilan video, Amer dan Ikun di kamar masing- masing juga.


“Ya Bun....!” 


“Amer! Cari Kak Jingga, tapi jangan keluar rumah, hubungi Pak Dhe Gerry dan Oma Mirna. Temukan Kak Jingga sebelum anak buah Pak Dino! Ya!” 


“Ya Bun!” 


“Ikun, bantu Buna lacak nomer Kak Jingga, Buna telpon dan wa nggak terkirim terus!” ucap Buna ke Ikun, Buna tahu kelebihan masing- masing anaknya. 


Ikun yang pendiam dan susah bicara tapi jari dan otaknya bekerja. Amer yang pandai berkomunikasi dan bercakap. Nila yang penurut, lembut dan pendiam. Jingga yang manja, keras dan penyayang. 


Anak- anak Buna pun bekerja sesuai intruksinya. 


**** 


Di Rumah Opa Nando


“Jingga kabur? Beneran?” tanya Mira di meja makan. 


Keluarga Pak Dhe Gery sedang berkumpul, Bunga yang sedang patah hati pun langsung terlonjak kaget mendengar sepupunya kabur.


“Ini pasti ada sesuatu! Ardi sudah selesaikan semuanya dengan membatalkan Rendi kan? Apa ada masalah lain?” celetuk Oma Mirna berfikir merasa ada yang aneh.


Masa Jingga berubah seratus delapan puluh derajat dalam satu hari. 


Bunga yang tadi memarahi Jingga dengan emosi sesaat dan mengata- ngatai Jingga. Jingga jadi baper dan over thingking merasa bersalah. 


Bunga terjebak dalam pemikiranya sendiri dan ketakutan akan kesalahan ucapanya.


“Hiiiks.... hiiiks!” tangis Bunga pecah.dan mengagetkan semuanya.


Mira, Geri dan kakek neneknya jadi bingung, kenapa Bunga menangis. 


“Kamu kenapa Sayang?” tanya Dokter Mira ke Bunga. 


“Maafin Bunga, Mommy Daddy, Oppa Oma. Ini pasti karena Bunga!” ucap Bunga lagi.

__ADS_1


“Karena kamu?” tanya dokter Gery dan Dokter Mira kaget. 


"Hikss... hikksss!" Bunga terisak dan menyeka air matanya.


Semua terfokus pada Bunga.


"Apa hubunganya Kak Jingga pergi dengan kamu?" tanya Oma.


“Gara- gara Bunga, pasti Kak Jingga sakit, terus tadi Om Ardi juga belain Bunga. Om Ardi bilang ke Bunga. Om Ardi akan bantu Bunga, buat batalin pernikahan terpaksanya Bang Adip ma Kak Jingga,"


"Whoah? Belain apa? Ada apa ini?" tanya Dokter Mira.


"Bunga kesal sama Kak Jingga, Bunga kecewa sama Kak Jingga. Bunga marahin Kak Jingga karena Kak Jingga rebut Bang Adip dari Bunga.. Bunga suka Bang Adip Mommy. Om Ardi tahu. Om Ardi mau nikahin Kak Jingga ma Kak Rendi aja!” ucap Bunga akhirnya cerita semuanya. 


“Hoooh!” semua menghela nafasnya menatap Bunga dengan mengusap kepalanya masing-masing tidak bisa berkomentar banyak.


Bunga terus menunduk merasa salah.


Di keluarga Gunawijaya, orang yang paling mengenal Adip kan Dokter Gery. Gery bisa paham kenapa putri dan keponakanya menyukai Adip. 


“Sayang kamu itu baru Lulus SMA!” pekik dokter Mira


Dokter Mira merasa permasalahan Bunga dan Jingga itu masalah remaja, harusnya Baba Ardi tak melibatkan Bunga. Dokter Mira saja menikah di usia yang sangat matang setelah merampungkan gelar spesialisnya. 


“Maafin Bunga, Mommy. Awalya Bunga senang Om Ardi belain Bunga, tapi Bunga mikir lagi, Kak Jingga pasti sakit sekali Bunga katakan Kak Jingga play girl dan murahan!” celetuk Bunga lagi. 


“What?” pekik semua orang lagi, tak menyangka Bunga yang manis dan selalu kompak dengan sepupunya bisa begitu kasar.


“Kamu katakan itu pada Jingga?” tanya Dokter Gery gemas sendiri pada putrinya. 


Bunga mengangguk dengan tatapan polosnya.


Dokter Mira seketika menelan ludahnya, bayangan masalalu datang, tentang apa yang sudah dia lakukan pada Buna dulu. Cemburu buta dan berniat menyakiti Buna.


“Huuuft!” Dokter Gery pun menghela nafasnya dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. 


“Dengarkan Mommy, Sayang. Bunga masih SMA baru mau kuliha. Hidup itu panjang dan indah Nak. Bunga anak Mommy satu- satunya. Kamu boleh suka sama siapapun, tapi ingat sayang, belum waktunya kamu berfikir menikah dan memikirkan urusan cinta mengerti? Kamu masih ingin kuliah dan gapai cita- citamu kan?” tutur Mira. 


“Kak Jingga juga masih kuliah!” jawab Bunga membantah karena otaknya berjalan, memang begitu adanya. Jingga masih kuliah tapi Om Ardi sudah merencanakan pernikahan.


Kenapa Mommy dan Daddynya berbeda.


“Kamu ingin kaya Buna Alya di rumah sama urus anak? Atau mau kejar cita- cita kamu?” celetuk Oma Mirna menengahi. 


Oma menyadari, cita- cita Buna karam. Karena anaknya itu tidak tuntas menyelesaikan cita- citanya, memilih patuh pada suami, berbeda dengan Mira yang tetap berkarir. Meski semua adalah pilihan dan jalan yang di Atas.


“Seperti Mommy!” jawab Bunga kemudian.


Buat Bunga ngeri juga bayangin Buna tiap hari ngurus anak yang banyak, meski bagi Buna menyenangkan tapi kan kalau Bunga dan Mommynya tidak seperti Buna, mereka masih menyukai dunia luar. 


“Kalau begitu, ikhlaskan Bang Adip untuk Kak Jingga, cintamu itu cinta monyet, kelak kamu akan bertemu dengan banyak laki- laki yang lebih baik. Jangan musuhi Kak Jingga lagi, mengerti? Fokus sama kuliahmu, belajar yang benar! Oke” 


“Iya Mommy! Maafkan Bunga!” 


“Minta maaf pada Kak Jingga!” 


“Ya Udah sekarang cari Jingga sebelum terlambat!” ucap Opa Nando segera bangun. 


Kini tim Baba Ardi dan Tim Opa Nando sama- sama mencari Jingga dan berlomba menemukan lebih dulu. 


Sayangnya mereka berfokus pada mencekal Bandara dan mencari ke teman- teman Jingga. 

__ADS_1


Sampai malam berlalu dan menjelang pagi, baik tim Bab Ardi dan Opa Nando tak ada yang mendapatkan kabar.


Padahal anak buah Baba Ardi yang Baba Ardi kerahkan, tidak hanya di bandara ibukota melainkan di bandara persinggahan di pulau S, dan Bandara tempat tujuan di pulau P. Tapi sama- saja tak kunjung ada kabar. 


Baba Ardi yang tadinya percaya diri, akan dengan mudah menemukan Jingga mulai panik dan kalang kabut.


Apalagi Buna masih terus mengurung diri di kamar dan tak mau bicara pada Baba Ardi.  


***** 


Di Kamar 


“Ikun gimana hasil pelacakanmu?” tanya Buna khawatir. 


Sekarang sudah hampir berganti hari, tapi Jingga tak kunjung ditemukan. 


“Ikun terakhir bisa lacak, Kak Jingga mengunjungi sebuah atm Bun. Kak Jingga ambil uang 50 juta. Terakhir juga Kak Jingga mengirim pesan pada Kak Adip, Kak Jingga memang bertujuan ke pulau P! Tapi Bang Adip tidak menjawab, sepertinya Bang Adip tidak ada signal!” jawab Ikun pada Bunanya di telepon. 


"Ya Alloh Tuhanku, Jingga!" gumam Buna khawatir.


Jika sebelumnya buna tenang Jingga pergi rombongan dan ada penanggung jawabnya. Buna ngeri sendiri Jingga pergi seorang diri ke pulau yang jauh.


Meski satu rumah karena sedang memberi pelajaran ke Baba agar  jera dan menyadari kesalahanya. Buna Amer Ikun tak ada yang boleh bicara pada Baba.


Pihak yang terlupkan adalah Nila. Nila tak diajak diskusi, karena tugas Nila merawat Oma Rita. 


Dan karena tak diajak diskusi Nila justru mempuanyai pemikirian sendiri yang tidak Buna dan Baba pikirkan. 


***** 


Di atas laut. 


Seorang perempuan cantik, dengan tinggi bak model, berdiri di sisi kapal menikmati rembulan cantik dengan pantulan sinar teduh. 


Semilir angin di atas air yang begitu tenang menenggelamkan jiwanya pada penantian dalam.


Balutan gaun panjang dan hijab yang dia ambil dari jemuran ibunya melambai indah menambah kesan anggun dirinya. 


“Aku tahu suamiku, kamu pasti sedang menatap bulan yang sama denganku kan? Dewi rembulan juga pasti tersenyum, kita sebentar lagi akan bertemu!” 


“Tuhan pasti dengar doa kita kan? Aku hanya ingin menua bersamamu, kamu bukan orang lain!” batin Jingga lagi. 


Karena sudah terlalu lama di luar menikmati langit yang begitu perkasa dengan keindahan bintang yang bertaburan, bahkan kini bulan mulai menghilang, dan warnanya mulai memudar, Jingga masuk ke tempat istirahatnya lagi.


*****


Maaf baru Up setelah dua hari bolong.


Terima kasih yang masih menunggu.


Semoga pembaca bisa menikmati perjalanan Jingga dengan cinta seperti author menulisnya dengan hati.


Tapi maaf,


Author satu ini emang nggak sehebat dan serajin author lain. Bukan nggak serius nulis, tapi


Di dunia nyata Author juga punya pekerjaan dan kewajiban yang lebih harus diutamakan, cukup menyita tenaga dan waktu juga.


Apalagi akhir2 ini lebih padat dari dulu2, pasien lagi full, pulangnya jg sering molor, di rumah masih ada kerjaan rumah.


Jadi nulis di saat waktu senggang ya. Buat refresh hati....

__ADS_1


Maaff.... Makasih...


Selamat hari Pancasila..


__ADS_2