Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
149. Cari Tama.


__ADS_3

Perlahan, Jingga maju duduk di sebelah kaki Buna yang berbaring. Jingga pun membuka ponsel Buna. Mata Jingga terbelalak, membulat sempurna diiringi air mata yang tak ada habisnya. 


Penyesalan dan kebencian telah mengenal Tama semakin bercokol dan berkembang. Penyesalan seharusnya tidak mengingkari perintah Buna dan mengikuti hasutan Amora juga datang. 


“Hugh..hughs...” perih di hati Jingga pun bertambah tatkala membaca timelinya. Jingga tidak sanggup meneruskan dan meletakan ponsel Bunanya. 


“Ini fitnah... ini fitnah Bunaa... ini fitnah, hughs...maafkan Jingga!” tutur Jingga terbata, masih dengan menunduk menyesal. 


Jingga benar- benar tidak berani menatap mata Babanya memerah dan wajah Buna yang menanggung kepedihan. Jingga sadar akibat kesalahan dirinya yang berfikir cepat mengudang masalah untuk keluarganya. 


Buna berusaha bangun duduk di samping Jingga, Buna ada untuk Jingga.  Buna kemudian mengelus rambut Jingga pelan dan lembut agar Jingga tenang. Padahal Buna sendiri juga masih bingung. 


Sementara Baba duduk kaku tak bisa berbuat apa- apa. Baba hanya bisa mengeratkan rahangnya menahan diri untuk menghancurkan semua barang yang ada di dekatnya, tapi tidak mau membuat istrinya sakit lagi. 


“Katakan Sayang..., apa yang terjadi? Siapa laki- laki di foto ini? Siapa yang memfitnahmu?” tanya Buna lembut. 


Jingga menuntaskan tubuhnya mengeluarkan emosi. Sementara Amer tidak sabar untuk menjelaskan tidak tega melihat Jingga. 


“Laki- laki di foto itu, Bang Adip, Buna. Dia teman Amer, dia sahabat Amer yang tolong Kak Jingga dan ikut menjadi korban Tama, dan dia sek..!” ceplos Amer terhenti ditahan tangan Baba yang memberi kode untuk diam. 


“Baba mau dengar dari Jingga, bukan kamu!” sela Baba dingin. 


Amer langsung tutup mulut dan diam. 


“Ceritakan, Nak! Angkat wajahmu, lihat Buna. Baba dan Buna ingin dengar dari kamu, katakan pada kami apa yang menimpa kamu di sana? Buna nggak akan marah, Buna ada buat kamu! Huh?” tutur Buna lembut ke Jingga. 


Jingga mengambil nafasnya dan mengangkat wajahnya. Sentuhan Buna memberi kekuatan Jingga berkali- kali lipat. 


“Maafkan Jingga, Bunaa.. Baba...!” tutur Jingga pertama kali yang membuat Buna dan Baba terenyuh. 


Buna mengangguk tersenyum, sementara Baba masih diam kaku dan dingin. 


“Laki- laki di foto ini, suami Jingga!” tutur Jingga pelan tapi pasti, mengenalkan Adip sebagai suaminya.


“Hoh...!” 


Ikun, Buna dan Baba langsung terlonjak kaget mendengar perkataan Jingga. Emosi Baba kembali tersulut. 


“Jingga!” pekik Baba keras. 


“Ba..., sabar!” sahut Buna kembali menenangkan Baba, tangan Buna berusaha meraih tangan Baba dan menggenggamnya. Buna duduk di antara Jingga dan Baba. 


“Bun... Baba ayah Jingga! Bagaimana bisa Jingga menikah tanpa Baba!” protes Baba tidak terima. 


Jingga dan Amer menelan ludahnya diam. Sementara Ikun menjadi pendengar yang menantikan kelanjutan ceritanya. 


“Maafkan kami Ba...!” ceplos Amer menyela lagi. 

__ADS_1


Buna kemudian melirik ke Amer. 


“Kamu terlibat?” tanya Buna. Amer mengangguk. 


“Maafkan Amer Ba..., Amer yang nikahin Bang Adip dan Kak Jingga. Bang Adip datang ke desa itu bareng Amer Ba,,, Bun. Bang Adip yang ajak Amer mencari Kak Jingga. Bang Adip yang selamatin Kak Jingga!” tutur Amer lagi berusaha terus membela Jingga dan Adip. 


“Selamatin?” pekik Baba, Buna dan Ikun bersamaan. 


Amer mengangguk pasti, kemudian menatap Jingga. 


“Iyah, Bang Adip yang selamatin Kak Jingga dari bajingan brengseek itu, Bang Adip juga yang selametin Kak Jingga dari hukuman kaum adat di desa itu!” lanjut Amer lagi. 


Ikun menegakan duduknya sangat antusias mendengar kelanjutan ceritanya. Sementara Buna dan Baba kompak menatap Jingga. 


“Siapa Adip ini?” tanya Baba kemudian, penasaran dengan sosok yang katanya sudah jadi menantunya. 


“Dia seorang veteriner, yang urus kucing- kucing Amer, Ba. Baba bisa tanya sama Pak Dhe Gery. Dia sekarang bekerja kontrak di Pulau Panorama, satu kecamatan dengan Kak Jingg!” lanjut Amer bercerita. 


Buna mengangguk bernafas sedikit lega. Oma Nurma pernah bercerita tentang pemuda itu. Buna juga tidak asing dan sangat familiar dengan wajah itu. 


Sementara Baba masih tidak terima dan menelan ludahnya gusar. 


“Kenapa kalian bisa menikah? Apa ini? siapa Tama?” tanya Baba lagi. 


Amer kemudian melirik tajam ke Jingga kini giliran Jingga bercerita. 


“Tama.., Tama...,” ucap Jingga ragu menatap semuanya. Buna menganggukan kepala meyakinkan Jingga.


“Ceritakan semuaya, tidak akan ada yang marah Sayang!” tutur Jingga. 


“Tama senior Jingga di kampus, Buna! Dia laki- laki yang pernah Jingga ceritakan. Awalnya Jingga kira dia laki- laki yang baik, tapi ternyata tidak. Pak Rendi tahu siapa Tama....” Jingga kemudian menceritakan kelakuan Tama pada Baba dan Bunanya selama berpacaran dengan Jingga termasuk saat Jingga memutuskan Tama sepihak. 


Tama juga sempat hampir melecehkan Jingga di asrama dan dilerai Adip. Setiap mendengar cerita Jingga, tangan Baba pun mengepal keras. 


Sampai Jingga bercerita di kejadian dia merujuk Nyonya Maysa. 


“Anak Buna megang pasien?” pekik Buna heran dan kaget. 


Di bagian ini Jingga bercerita menggebu- gebu, menceritakaan keadaan memprihatinkan di desa tertinggal yang rasanya seperti dunia lain dari tempatnya tinggal. 


“Iya Bunaa. Desa itu berada di tengah pulau, kalau kemana- mana hanya dengan perahu kecil jauh, tapi tidak ada tenaga kesehatan samasekali, seharusnya ada bidan tapi sedang cuti lahiran. Jingga dibantu Bang Adip dan warga di sana untuk bantu warga. Jingga ngobati pasiena Buna! Jingga senang sekali bisa melakukan itu!” tutur Jingga dengan wajah dan mata berbinar. 


Buna pun tersenyum senang dan bangga mengelus rambut putrinya. Buna tahu bagaimana luar biasa rasa bangganya saat dengan tangan kita, kita bisa bermanfaat untuk orang lain. 


“Buna bangga Nak sama kamu!” tutur Buna. 


“Hari itu..hari itu...!” tutur Jingga terdiam, di bagian ini, Jingga mulai berat bercerita. 

__ADS_1


Buna masih mengangguk ingin dengar. 


“Jingga ke kota untuk merujuk pasien, Jingga beri diagnosa kolic abdomen curiga apendixcitis kronik, Bun! Dan Jingga bertemu Tama lagi, Jingga berusaha menghindar dan cepat pulang ke desa. Ternyata Tama berhasil ikutin Jingga. Tama juga mengancam Jingga Buna..!” 


“Hhhhh...” semua yang mendengar mulai mengambil nafas tegang. 


“Bang Adip sudah seminggu ke balai veteriner, di desa Jingga tidak ada tempat berlindung yang kenal siapa Tama. Tama sangat pandai bersilat lidah, Jingga takut Bunaa!” 


“Jingga awalnya mau mengunjungi tempat praktek teman Jingga di desa  seberang. Di situ Jingga berharap ada yang batu Jingga lwan Tama. Tapi.. tapi Jingga salah turun, semua dermaga desa hampir sama! Dan di desa itu Jingga tersesat!” tutur Jingga merasa sangat menyesal dan merasa bodoh. 


“Dan..!” ucap Jingga terpotong matanya mulai berkaca- kaca. 


“Tama jahatin Jingga lagi Buna, Tama bawa Jingga ke gubug di tengah hutan. Jingga minta tolong tapi tidak ada yang dengar. Jingga tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah Tama memasukan paksa obat itu ke Jingga! Jingga tidak tahu Bunaa!” lanjut Jingga bercerita dan air matanya menetes lagi, menunduk menangisi nasibnya.


“Brakkk!” 


Baba mengagetkan semuanya lagi. Dada Baba terasa sangat sakit seperti tercabik- cabik mendengar cerita putri kesayanganya. 


Mengungkapkan kesalnya, pertahanan Baba jebol. Baba menggebrak meja kaca di depanya, untung tidak pecah, hanya saja gelas bunga di tengah meja terjatuh dan semua kaget memegang dadanya. 


“Baba...!” tegur Buna lagi. 


“Stop! Baba tidak sanggup dengar lagi, cari bajingan bernama Tama itu!” ucap Baba kali ini matanya bukan hanya merah, tapi sudah mengeluarkan air mata. 


“Belum selesai Ba!” sahut Amer bagian ini bagian Amer yang bercerita. Bagian Adip, hukuman kaum adat dan pernikahan Jingga kan belum.  


Sayangnya Baba sudah terlanjur sakit duluan. Buna pun ikut merasakan sakit menebak apa yang terjadi Buna kemudian memeluk Jingga erat. 


****


😭😭😭😭😭


Maafkan kelebay_an Author.


Sungguh di lima bab terakhir ini, aku ngetiknya sesenggukan dan bercucuran air mata.


Nggak tau peyampaian katanya sampai nggak? Gimana rasa yang sampai ke kakak2 pembaca.


Yang pasti makasih banget untuk cinta ke mereka. Makasih udah baca.


Meski aku author recehan dan remahan, nggak pernah dilirik platform juga.


Gak tau kenapa nulis cerita ini aku tetep seneng kok meski sempat mau kutamatin cepet.


Maafkan yaak kalau alurnya lambat.


 

__ADS_1


__ADS_2