Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Pelatihan.


__ADS_3

Jingga berfikir dirinya terkena gangguan jiwa karena tertekan sebegitu hebat. Lalu merasa melihat Adip ada di kamar. Ya Jingga pernah belajar ilmu jiwa meski tak lama. 


“Opaa... Opa Nando... aku harus periksa ini, kok aku jadi begini?” ucap Jingga bicara sendiri sambil terisak. 


Bahkan Jingga jadi merinding sendiri di kamar penuh kenangan cintanya itu.


Saat Jingga masuk, Adip tampak berbaring tidur di atas kasur. Saat tahu Jingga datang Adip tampak membuka mata, membalikan badan, Adip hendak bangun.


Karena Jingga menangis dan meracau tidak jelas Adip jadi menjeda bicara dan memilih diam mencerna apa yan terjadi pada Jingga. 


Adip malah ingin ketawa mendengar semua celotehan Jingga. Bahkan Jingga tampak keluar kamar lagi. 


“Ya Tuhan, istriku Sayangku, maafkan aku! Kamu jadi sampai begini?” batin Adip membiarkan Jingga keluar.


Adip memperhatikan Jingga, ternyata ambil minum. Adip pun menunggu Jingga balik lagi. 


Benar saja, Jingga balik lagi. 


Kali ini Jingga tidak menangis tapi mengucek- ucek matanya. 


“Astaghfirulloh... astaghfirulloh, ya ampun, aku benar- benar kena gangguan jiwa ini? Aku harus bagaimana? Aku mau sehat!” ucap Jingga lagi. 


Jingga nekad maju, Adip pun bertahan tak bersuara dan menunggu apa yang akan Jingga lakukan. 


Jingga kemudian duduk, lalu tampak searching tentang ilmu halusinasi, tanpa melihat whastap.


Jingga kemudian duduk menghadap ke Adip, mempraktekan ilmu yang ada di dia baca.  


Jingga duduk bersila di atas kasur menghadap ke Adip dan memejamkan matanya. 


“Sadar Jingga, ini memang pahit, ikhlaskan semua teman- teman yag mengatai suamimu. Ikhlas! Mereka tak tahu apapun. Suamiku terbaik. Aku sangat mencintainya. Pahala difitnah besar. Doa orang sabar dan dianiaya itu terkabul. Sabar, Bang Adip maasih di pukau Panorama, satu tahun itu tidak lama, aku sabar. Bang Adip pasti sehat, Bang Adip pasti setia, nggak ada yang berani sentuh- sentuh Bang Adipku!” ucap Jingga panjang dan bersuara seperti membaca mantra. 


Adip mendengarnya tersenyum bangga.


Jingga membuka matanya, Adip masih ada. Jingga tampak mengernyit takut.


Jingga merem lagi dan Jingga berdoa membaca ayat kursi dan doa- doa lain. Jingga buka mata lagi, masih tetap ada. 


“Kenapa masih ada terus? Hah, sepertinya aku memang butuh dokter Jiwa dan obat deh! Aku harus telepon Opa! Atau jangan- jangan? Apa ini hantu Bang ADIP?” gumam Jingga lagi, malah takut sendiri. Jingga menciut lagi. 


Jingga pun buru- buru, berusaha bangun mau pergi.


Akan tetapi saat Jingga turun, Adip yang sudah puas mengerjai istrinya langsung tarik tangan Jingga. 


“Mau kemana?” tanya Adip. 


“Hah!” pekik Jingga semakin takut. “Bersuara juga?” ucap Jingga bulu kuduknya merinding, semakin gelagapan takut.


“Kamu ini!” tutur Adi lembut dan menyentil kening Jingga. 


“Ya Tuhan, beneran kerasa sakit? Bagaimana ini? Apa aku perlu dirawat juga?” gumam Jingga lagi.


Adip semakin gemas dengan Jingga dan langsung memeluk Jingga erat dari belakang.


"Ini Bang Adip, Sayang. Bang Adip pulang! Kamu sehat kamu nggak salah inu Abang!" tutur Adip sambil memeluk


Tapi Jingga malah gemetaran dan keringat dingin. Jingga tidak menjawan dan komatkamit baca doa

__ADS_1


Karena gemas, Adip tangannya langsung menangkup buah ranum yang menggantung di dada Jingga. 


“Ini Bang Adip sayang, Suami kamu pulang!” bisik Adip ke Jingga kok kamu malah takut sih.


Jika sebelumnya diperlakukan seperti itu, Jingga pasrahh, menikmati dan mendeeesah, sekarang Jingga langsung respon menolak. 


“Haaah," jerit Jingga. Memegang tangan Adip. "Astaghfirulloh! Pergi kamu setan!” ucap Jingga, berusaja melepaskan Adip.


Merasa istrinya aneh Adip semakin memeluk erat.


"Kamu kenapa sih? Ini suamimu!"


Jingga menangis dan berdoa lagi. 


“Kenapa doanya nggak mempan? Tolong aku, Jangan sentuh- sentuh aku! Kamu pasti genderuwo yang menjelma jadi suamiku seperti yang ada di ftv- ftv itu kan? Kamu penunggu rumah ini ya? Baba... Bang Adip... aku nggak mau di sini di sini ada hantunya,” racau Jingga tidak jelas saking takutnya malah menangis gemetaran.


“Haishhh...,” desis Adip kesal akhirnya melpaskan Jingga. 


Jingga pun langsung lari keluar. 


Adip geleng- geleng kepala. “HP!” Otak Adip bekerja.


Adip langsung menekan panggilan ke Jingga, Jingga yang sedang tergesa membuka pintu keluar jadi liat hp. 


“Bang Adip?” pekik Jingga menatap ponsel suaminya menelpon. Hantu kan nggak mungkin pegang hp Adip uang ada di Pulau P. Jingga langsung angkat. 


“Bang... Bang Adip... Bang Adip ke kota?" tanya Jingga gugup


"Bang maafin Jingga, Jingga mau pulang ke rumah Baba! Jingga harus pergi sekarang! Rumah Abang ada hantunya. Jingga mau dipeerkoosa!” jawab Jingga langsung to the point padahal selama 3 minggu tidak bertemu harusnya salam- salaman sayang. 


“Lihat ke belakang!” jawab Adip sudah membuntuti Jingga.


Jingga pun menurunkan ponselnya, malah bengong dan tertegun. 


“Ini, Abang, Sayang... Bang Adip pulang! Bukan hantu!” tutur Adip lagi merentangkan tangan menyediakan dada bidangnya untuk dipeluk. 


Jingga masih tidak respon berdiri mematung malah meneteskan air matanya lagi.  


Adip pun maju dan memeluk Jingga duluan.


“Kenapa menangis, sih? Ini suami kamu, Abang di sini?” tutur Adip lalu membelai rambut Jingga. 


‘”Jadi Jingga tidak halusinasi? Jadi ini bukan mimpi?” 


“Bukan! Makanya Abang reemas punyamu, biar kamu sadar,kerasa kan? samakan rasanya?" jawab Adip.


“Isssh Abang! Harusnya kasih kabar dulu!” 


“Hehehe... kamu lucu banget sih?”


Jingga langsung balik memeluk Adip lagi dengan erat dan menangis kencang di dada Adip. 


Adip pun hanya menghela nafasnya, ya Jingga memang adanya begini, cengeng sejak awal. Adip harus sabar.


Adip pun membelai kepala Jingga. 


“Maafin Bang Adip buat kamu begini, tadi Bang Adip udah wa lho pas di jalan, kamu nggak baca sih,” ucap Adip lagi. 

__ADS_1


Jingga berhenti menangis dan mengurai pelukanya. 


“Bang Adip balas wa Jingga?” 


“Iyah, kamu lagi kuliah mungkin! Sok lihat!” 


Jingga pun segera melihat ponselnya, ya Adip wa, tali wa Adip tenggelam karena banyaknya chattingan grup.


“Abaaang,” lirih Jingga manyun dan manja. 


“Percaya?” tanya Adip menatap wajah cantik istrinya yang matanya basah dan merah.


"Cup!" Adip pun mengecup kening Jingga. "Senyum dong!"


“Jingga kangen Bang!” 


“Abang juga, sangat!” jawab Adip langsung mengedipkan mata. 


Tanpa bertanya banyak, kapan pulangnya, tiba jam berapa, pulang kenapa, Jingga malah langsung berjinjit dan lmenciuum bibir Adip agresif.


Adip yang memang rindu diserang istrinya langsung membalas kasar.


Adip baalas menggigit bibir Jingga, menautkan lidahnya dan saling mengulum, bahkan mereka berciuman sambil berjalan menuju kamar tanpa melepaskan. 


Yang ada tangan Adip gerayangan ke bawah, memijat dan menangkup apa yang bisa dia tangkup, sambil melepas satu percatu kancing tunik Jingga. 


“Hah... hah...,” setelah nafasnya terasa habis mereka mereka terhenti melepaskan di depan pintu kamar, tapi masih saling merapat, dan tubuh atas Jingga terbuka, karena semua kancingnya sudah lepas. Buah ranum yang menyembul jelas nampak di mata Adip. Adip sangat rindu melahapnya.


“Buka yah!” bisik Adip. 


Jingga bergerak cepat menanggalkan semuanya dan membiarakn terserak di lantai.


Mata Adip berbinar penuh gaairah membata. Adip langsung merenggangkan kedua paha Jingga dan diangat dalam gendonganya. Adip langsung membawa Jingga ke kamar dan menggarapnya dengan semangat berapi- api.  


Ya tanpa mengobrol dulu mereka langsung melakukan ritual penyatuan cinta sebagai bentuk luapan rindu mereka. 


Karena lama tak bersua, sekitar 10 menit mereka berdua sama- sama sampai di puncak pelepasnya. 


Adip pun langsung menggulingkan badanya setelah memuntahkan cairan pusakanya ke liiang Jingga. Mereka kemudian saling tatap dan tersenyum. Adip kembali mendekap dan memeluk istrinya.


"I love you!" ucap Adip mengecup puncak kepala Jingga. Mereka masih sama-sama polos.


“Abang kenapa pulang?” ucap Jingga baru bertanya sambil menyentuh dada bidang suaminya yang tambah hitam.


“Abang ada pelatihan, senior Bang Adip istrinya mau lahiran, yang lain masih di desa jadi nggak ada yang bisa datang! Mereka tahu, istri Abang di kota. Jadi Abang suruh gantiin!” 


“Oooh, Jingga seneng banget!” ucap Jingga.


“Abang juga, makanya Bang Adip langsung mau!Meski modal dulu!” 


“Berapa hari?” tanya Jingga langsung.


“Pelatihanya sih 3 hari, tapi libur Abang seminggu!” 


“Oh... seering- sering ada pelatihan aja sih, Bang!” jawab Jingga lagi. 


“Santai aja... kalau kandang udah jadi, program udah jalan. Bang Adip akan banyak kerja di kota kok!” jawab Adip lagi. 

__ADS_1


“Iyah... aku nggak kuat kalau terus- terusan nggak ada signal!” ucap Jingga lagi. 


“Oh ya... kamu tadi meracau menangis kenapa? Temen- temen ada yang sakitin kamu?” 


__ADS_2