
“Pak bisa antar kami ke desa S?” tanya Adip ke tukang perahu dengan segera.
“Waduh... saya sudah waktunya istirahat, Kakak! Tidak bisa!” jawab tukang perahu menolak.
“Saya mohon, Pak! Ini penting!” ucap Adip memohon.
“Saya akan bayar berapapun yang anda minta!” jawab Amer ikut nimbrung.
Tukang perahu itu diam mentap Amer dan Adip bergantian.
“Saya mohon, Pak! Ini penting!” ucap Adip lagi ngotot, Adip merasa sangat khawatir.
Adip tahu Jingga tidak pernah keluar dari desa dan tidak tahu apapun tempat di daerah situ. Pikiran Adip jadi bercabang kemana- mana.
“Begini saja, silahkan pakai perahu saya. Tapi biar yang temani kalian, teman saya. Sungguh saya sudah sangat lelah dan harus istirahat!” ucap si tukang perahu itu.
Amer dan Adip saling pandang. Tidak ada pilihan lain.
“Dimana saya bisa temui teman Bapak?” tanya Adip kemudian.
“Rumahnya ada di dekat sungai, di balik bukit ini, dekat dengan tempat warga membuat tepung sagu! Namanya Anton!” ucap bapak itu memberitahu.
“Baiklah!” jawb Adip mantap dan nekad.
“Katakan aku yang meminta!” ucap Tukang perahu yang sudah akrab dengan Adip itu.
"Baik, Pak! Terima kasih!" jawab Adip.
Amer yang tidak tahu apapun hanya ikut Adip saja. Adip yang sempat berkeliling desa segera berangkat dan tahu tempat itu.
“Jauh nggak Bang?” tanya Amer.
“Jangan banyak tanya cepat jalanya!" jawab Adip dingin.
"Ya!" jawab Amer lirih.
"Sebentar lagi malam, firasatku tidak enak, kakakmu sangat polos dan tidak tahu daerah sini? Apa kau tidak cemas? Siapa laki- laki yang membawanya? Kita harus temukan Kakakmu segera!” omel Adip sambil terus berjalan setengah membentak Amer.
Amer terdiam, Amer kan adik Jingga, kenapa Amer dan Adip terlihat Adip jauh lebih mengkhawatirkan Jingga. Amer yang tidak bodoh jadi berfikir.
“Apa ada sesuatu yang spesial di antara Bang Adip dan Kak Jingga?” batin Amer sekilas, tapi Amer segera menepis semua itu.
Amer terus mengikuti jalanya Adip, padahal Amer merasa sangat lelah, bahkan kakinya terasa pegal, kenapa Adip tampak berjalan cepat. Rumah pak Anton juga ternyata jauh sekali melebihi rumah Jingga.
Amer menelan ludahnya tidak berani mengeluh dan bertanya. Adip terlihat sangat serius. Amer melihat ke atas langit, cahaya matahari mulai menghilang, dan hari mulai gelap.
“Di sini nggak ada listrik ya Bang?” tanya Amer melihat sekeliling pohon- pohon tanpa penerangan.
“Seperti yang kamu lihat!” jawab Adip dingin.
“Terus gimana Bang? Ini mulai gelap?” tanya Amer jadi takut dan gugup. Adip terlihay sangat serius, Amer juga gemetatan karena suasana benar'- benar mau gelap.
“Kenapa harus tanya sih?” jawab Adip sedikit emosi. Amer terdiam.
“Apa yang kamu bawa!” tanya Adip dengan nada tinggi.
“Saya bawa senter Bang!” jwab Amer gugup.
“Ya uda pakai!" perintah Adip.
Amer menurut. Adip kemudian menatap Amer tajam.
"Apa kakakmu tahu kedatanganmu kesini?” tanya Adip kemudian, dengan tatapan serius.
Selama berjalan Adip terus berfikir, dengan siapa Jingga pergi? Untuk apa Jingga berhenti di desa S. Pertanyaan apa motivasi gadis manja seperti Jingga ikut acara ini saja belum terjawab, Jingga sudah membuat masalah lagi.
Adip jadi berfikir kalau Jingga ingin kabur dari desa T?
“Apa maksud Bang Adip, mana mungkin dia tau?” jawab Amer.
“Apa kamu tahu apa motivasi dia ikut ke acara ini? Apa kamu tahu dengan siapa saja kakakmu berpacaran?” tanya Adip lagi sangat serius.
__ADS_1
Amer jadi gelagapan, dalam hal ini tatapan Adip seperti tatapan Babanya yang sangat perhatian dan khawatir ke Jingga malah lebih dari itu.
“Setahu kami, Kak Jingga tidak pernah punya pacar. Baba kami akan marah pada Kak Jingga dan melarang keras Kak Jingga pacaran, hanya saja, kata Bunga, Kak Jingga dekat dengan kakak tingkatnya, entah berpacaran atau tidak nggak jelas!” jawab Amer kemudian.
Adip diam lagi.
“Kenapa Bang?” tanya Amer semakin curiga, apa Adip saking baiknya jadi orang atau ada sesuatu di antara Adip dan kakaknya, Adip benar- benar terlihat sangat peduli Jingga.
“Jingga di sini tidak punya teman, bahkan dia sangat bingung. Teman- teman Jingga ada di desa P bukan desa S. Tidakkah kau takut dan khawatir dengan siapa Jingga datang ke desa S? Untuk apa dia kesana? Tugasmu ke sini menjemputnya pulang dengan selamat kan?” tanya Adip.
“Iya!”
“Sebenarnya aku juga ingin tahu apa motivasi dia ikut acara ini sih?” tanya Adip lagi.
“Amer juga nggak tahu Bang, Amer aja kaget!” jawab Amer.
“Ya sudah cepat jalanya!” ucap Adip lagi.
“Tau begini aku bawa pengawal ya Bang!” gumam Amer lagi.
“Hemmmm!” Adip hanya berdehem.
Hari mulai petang Adip dan Amer menyalakan lampu senter, setelah beberapa saat mereka sampai di rumah Pak Anton.
Untunglah Pak Anton muslim, jadi Pak Anton mempersilahkan Adip sholat terlebih dahulu dan bersedia mengantar Adip dan Amer.
****
“Hiks.... hiks....!” di pojok ruangan sebuah gubuk kecil desa S, Jingga menangis sesenggukan meringkuk.
“Hei... Sayangku, kemon Baby, kenapa kamu menangis? Aku di sini bersamamu!” ucap Tama mendekat.
“Apa mau kamu sebenarnya Kak?” tanya Jingga menyeka air matanya.
“Aku ingin kamu menjadi milikku, kenapa harus mencintai orang lain. Sekali kamu jadi pacarku selamanya kamu tetap menjadi punyaku, mengerti?” ucap Tama mendekat ke Jingga dengan tatapan sagat mengerikan.
“Aku tidak mau, aku milik Baba dan Buna! Selamanya begitu! Bukan kamu!” jawab Jingga masih menangis.
Flaschback sebelumnya.
Saat mewawancarai suami Bu Maysa, Tama sempat mengorek tentang siapa laki- laki yang ada di desa T.
Suami Bu Maysa bercerita, kalau mereka beberapa kali melihat Jingga berduaan dengan Adip. Dari cerita suami Bu Maysa, Tama langsung menebak, karena Adip juga pria yang membuat rencananya gagal saat di asrama.
Saat di perahu, Tama pun mengintimidasi Jingga. Bahkan Tama juga membawa- bawa tentang Jingga yang mallpraktek. Tama juga mengancam akan membunuh Adip jika Jingga tak ikut dengan Tama.
Saat di perahu, Jingga ingin berteriak dan mengadu dengan penumpang lain. Sayangnya Tama sudah berhasil membanung komunikasi dengan ramah dan baik dengan penumpang perahu.
Sementara Tama mengintimidasi dengan lirih dan menggunakan ketikan kalimat yang Tama tunjukan lewat halaman ponselnya.
“Kau tahu dimana Adipmu sekarang?” bisik Tama licik menakut- nakuti Jingga.
Padahal Tama juga tidak tahu apa- apa, hanya menggunakan nama itu sebagai titik kelemahan Jingga. Kalau benar Jingga mecintai pria itu pasti Jingga nurut, dan saat Tama menyebut nama Adip, ekspresi Jingga langsung berubah.
Tama langsung yakin tebakanya benar, Tama juga sangat cemburu saat dengan nyata di depannya Jingga beneran suka Adip terlihat mengakui cinta Adip.
“Darimana kamu tahu tentang Adip?” tanya Jingga kaget.
“Apapun bisa kuketahui, termasuk praktek ilegal antara kamu dan dia, kau tahu apa yang terjadi pada Bu Maysa?” bisik Tama lagi tambah menakuti
“Tidak!”
“Sore ini dia akan dibawa ke rumah sakit kota, dia seperti keracunan obat!” bisik Tama lagi berbohong.
“Tidak mungkin, tidak ada tanda- tanga dia alergi obat, dia apendix. Aku tidak salah!” jawab Jingga saat di perahu dengan lirih tapi penuh penekanan merasa dirinya benar.
“Liat saja nanti? kalau diagnosamu salah, dan terjadi sesuatu dengan Nyonya Maysa, apa yang akan terjadi denganmu ya? Seorang putri Gunawijaya, mencelakai seseorang? Ilegal?” bisik Tama lagi menakuti Jingga.
“Tidak, aku punya mandat dan wewenang untuk deteksi dini, aku benar!”
“Mana suratmu? Mana kewenanganmu? Bahkan kau memberinya obat, itu bukan wewenangmu! Saat aku bersama Reza tadi dia mengalami penurunan kesadaran lho!” jawab Tama lagi terus menakuti Jinga.
__ADS_1
Mendengar kata mengalami penurunan kesadararan, Jingga termakan omongan Tama. Jingga yang baru saja percaya diri dianggap sebagai penyelamat setelah sebelumnya dikatai nenek sihir. Kini down lagi.
Hal yang paling Jingga takutkan adalah jika Jingga jatuh ke mallpraktik, dirinya memang sudah salah.
“Aku hanya melakukan apa yangseharusnya aku lakukan!” jawab Jingga lagi mulai terbata, Jingga menoleh ke sekeliling takut penumpang perahu mendengar. Tapi Jingga tetap merasa benar.
“Semua akan aman dan aku akan melindungimu, asal kamu mengikutiku!” bisik Tama licik.
“Aku tidak mau, aku tidak salah!” jawab Jingga menolak.
“Oke, nggak masalah, aku akan tetap ikut kamu ke desa T, akan kukatakan pada warga tentang keadaan Bu Maysa. Jangan salahkan aku juga jika Adipmu tak kembali ke desa T, dan kamu tidak bisa bertemu denganya lagi. Lalu apa kabar Babamu ya?” ucap Tama terus berbohong menakuti Jingga.
“Apa, maumu?” tanya Jingga langsung menyerobot tidak tahan dan emosi.
“Pulanglah dan ikut denganku!” ucap Tama berbisik.
Jingga diam.
Jingga ingat tadi pagi, melewati dermaga Tari. Setiap dermaga desa itu tempatnya memang mirip. Jingga berfikir, Jingga ingin berhenti di desa tempat Tari tinggal saja, agar Tama tak tahu letak Jingga sebenarnya tinggal, dan Tama tidak bicara macam- macam ke warga. Jingga ingin mencari pertolongan ke Tari.
Saat melewati dermaga desa S yang Jingga kira desa P, Jingga buru- buru meminta nahkoda berhenti. Tama pun tak tinggal diam. Mengira sudah sampai, Tama ikut Jingga turun.
Saat Jingga percaya diri menanyakan tempat Tari tinggal, warga desa memberitahu, desa P masih di dermaga depan.
Jingga pun syok dan kaget, saat Jingga kembali ke dermaga hendak ikut perahu lagi, sudah tidak ada perahu. Bukanya berhasil lari, dan menemukan Tari, Jingga malah jadi terkunci di desa S bersama Tama.
*****
“Minumlah...!” ucap Tama memberikan minuman.
“Tidak mau!” jawab Jingga menumpahkan minuman itu.
“Ck!” Tama berdecak kesal karena Jingga kasar. “Kau masih berani padaku?” tanya Tama tajam.
“Kenapa tidak? Aku tidak melakukan kesalahan apapun!” jawab Jingga bangun dan ingin pergi mencri pertolongan.
Saat Jingga bangun, Tama kembali menarik Jingga.
Karena saat di dermaga sore tadi, Tama pun menyeret Jingga dan menggendong paksa. Jingga teriak tapi karena sudah sore dan rumah warga jauh, tak ada yang mendengar Jingga.
“Mau kemana kamu?” tanya Tama mencengkeram tangan Jingga.
“Lepas!” ucap Jingga melawan.
“Aku tidak akan menyakitimu jika kamu menurut padaku!”
“Aku tidak akan patuh terhadap pria sepertimu!” ucap Jingga dengan nada benci.
“Memang aku pria seperti apa? Aku kurang apa sehingga kamu lebih memilih Adip dari pada aku hah? Dia pria miskin!” tanya Tama emosi.
“Kamu kurang segalanya, kamu busuk, kamu hanya berlindung dibalik topeng pendidikan dan keluargamu!” jawab Jingga berani dan menyulut emosi Tama.
“Plak!” Tama pun menampar Jingga.
“Jangan salahkan aku, karena aku harus melakukan ini!” ucap Tama menyeringai.
Tama kemudian mengambil obat dari sakunya dan Jingga tahu itu.
“Wuah, kau gila? Kamu yang merupakan mall praktik yang sebenarnya? Apa yanga akan kamu lakukan padaku?” teriak Jingga bisa mengira apa yanga akan Tama lakukan.
“Hah hahaha! Di sini hanya ada aku dan kamu! Jangan gugup, bersenang- senanglah!” jawab Tama tertawa.
“Aku bersumpah, kamu tidak akan di wisuda sebagai dokter Tama. Kamu bejat!” jawab Jingga masih berani.
Tama pun mencoba mengambil obat itu dan hendak memberikan ke Jingga. Jingga mencoba melawan dan mencegahnya.
“Tolongg....!” teriak Jingga berharap ada yang menolongnya.
“Hahaha! Kamu jadi milikku Jingga!” ucap Tama mendekat ke Jingga.
Mereka terlibat perkelahian. Jingga yang seorang perempuan kalah tenaga. Tama pun berhasil memberikan obat bius itu ke Jingga.
__ADS_1