
Buna berdiri berkacak pinggang dan di tanganya terselip kertas, yang di dalamnya terdapat coretan Jingga mengeluarkan isi hatinya.
Nila terperanjak kaget seperti orang linglung melihat Bunanya berwajah murung, padahal sehari- harinya sangat lembut seperti candu untuk Nila berpulang.
Sementara Baba langsung bangun dengan wajah menyebalkan seperti maling ketahuan.
Amer dan Ikun keduanya menunduk, siap memasang dada membela Buna, jika Babanya emosi.
“Kertas apa sih Bun?” tanya Baba enteng.
Buna menyembunyikan tanganya di belakang tubuhnya, agar Baba tak merebutnya.
“Jawab dulu pertanyaan Buna!” ucap Buna.
“Buna duduk sini, jangan marah- marah, Buna lagi hamil, nggak baik marah- marah!” tutur Baba sok perhatian dan melembutkan suaranya. Baba, tau istrinya meradang dan tanduknya mulai keluar. Heranya suka sekali Baba memancing itu. Padahal tadi pagi mereka baru selesai mengurai ketegangan menemukan Jingga pingsan.
“Jawab pertanyaan Buna dulu! Nggak usah ditanya seisi rumah, anak- anak tahu Buna hamil. Dan ini anakmu Baba!” ucap Buna kali ini sangat geram ke suaminya, saking geramnya mata Buna sampai memerah.
Gleg
Baba mendadak pucat pasi.
“Pertanyaan yang mana, dosa Bun ngomong galak, pelankan suaranya ngomong sama Baba jangan gitu!” jawab Baba berkilah, memakai senjata kalau dirinya adalah seorang suami yang harus dihormati.
“Hooooh!” Buna menghela nafasnya kasar.
Masih sempat Baba ngomongin dosa dan suruh Buna pelan- pelan. Padahal Buna sudah sekuat tenaga menahan sabar karena ada anak-anak dan menyadari sudah tua.
Buna sangat paham laki- laki yang menemaninya 20 tahun ini adalah suaminya, suami yang dia cinta dan memberinya 6 orang anak, 7 on proses.
Laki- laki yang harus dia patuhi dan dia sayangi sepenuh hati. Tapi laki- laki ini juga yang suka membuat hatinya serasa naik roller coaster, ditarik ulur kesabaranya.
“Yuk! Duduk yuk! Sini...” rayu Baba lagi tanganya meraih bahu Buna mengajaknya duduk.
“Plak!”
Buna mengibaskan tangan suaminya enggan di sentuh.
Baba tersentak dengan sikap kasar Buna.
“Bun! Anak- anak ada di depan kita!" bisik Baba.
“Biar! Biar semua tahu. Baba itu ayah yang ginana? Apa yang Baba katakan pada Rendi dan orang tuanya? Hah?” tanya Buna akhirnya pertahana emosinya jebol.
Gleg.
Baba mendadak keringetan, lalu Baba menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
“Baba bilang apa sama mereka, Ba?” tanya Buna menatap suaminya dengan matanya yang mulai berkaca- kaca.
Baba tidak menjawab dan merebut kertas di tangan istrinya. "Coba lihat!" lalu membacannya.
“Hhhh...” Baba hanya membelit lidahnya, lalu menoleh ke Amer.
“Amer!” panggil Baba.
Amer menunduk.
“Pasti kamu kan yang cerita ke Jingga? Tanggung jawab!” ucap Baba enteng.
__ADS_1
“What?” pekik Amer Ikun dan Buna sambil mengernyit tidak menyangka dengan sikap Baba, semua menoleh ke Baba, kenapa Baba melimpahkan salah ke Amer.
“Telpon pihak bandara. Blokir penerbangan hari ini. Susul kakakmu sekarang! Dia pasti belum jauh!” tutur Baba seenaknya memerintah Amer, mentang- mentang Amer anaknya.
Amer memang selama ini segan dan patuh pada orang tuanya, tapi dalam hal kebenaran.
Buna pun mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tanganya kesal. Kalau saja tidak ada hukum durhaka pada suami itu dosa, mungkin Buna sudah maju dan mencabikk- cabikk wajah suaminya itu.
“Jangan ada yang melangkah pergi atau menghubungi siapapun!” celetuk Buna kemudian dengan keras.
“Buuun!” tutur Baba lagi merayu istrinya agar tidak marah. Amer dan Ikun jadi bingung.
“Nggak usah panggil- panggil Buna!” bentak Buna lagi.
Baba hanya menelan ludahnya, lalu melirik ke Amer.
“Amer cepat! Telpon Om Dino, kejar kak Jingga!” tutur Baba lagi melirik ke Amer.
Amer ingin bela Buna, tapi Amer juga khawatir sama Jingga sebentar lagi kan sore terus malam, Amer khawatirkan Jingga. Amer memang harus kejar Jingga. Amer pun mengangguk, hendak melangkah.
“Amer!” bentak Buna.
Amer berhenti bingung.
“Jangan ada yang menyentuh telepon atau hape untuk menghubungi orang kantor apalagi kejar Kak Jingga! Ngerti!” bentak Buna marah.
Semua diam menunduk.
“Bunaaa...!” lirih Baba lagi merasa bisa menenangkan Buna dan akan bawa Jingga kembali.
"Apa, jangan panggil Buna! Hhh!" omel Buna lagi.
“Ini kan yang Baba mau? Baba kan yang pengen Jingga keluar dari rumah ini? Baba kan yang ingin Jingga keluar, nggak usah dicari- cari! Biarin Jingga pergi!"
"Kalau Baba mau Jingga ada di antara kita sekarang, Baba dengarkan kata Jingga, Baba lakukan apa yang sebaiknya orang tua lakukan. Dah biarin Jingga pergi!” tutur Buna sangat kesal.
“Buuun! Jangan gitu lah!” panggil Baba masih merasa tidak bersalah, malah merayu Buna.
"Apa susahnya sih Ba. Sampaikan pada keluarga Rendi. Membangun persaudaraan tidak harus berbesanan. Jingga juga punya hati dan berhak bahagia Ba!"
"Apa segitu berharganya Rendi? Hah! Buna sakit hati Ba. Jingga anak Buna. Jingga keluar dari rahim Buna. Baba lebih mementingkan perasaan orang lain dibanding anak Buna. Segitu inginya Baba punya anak laki- laki seperti Rendi?" Omel Buna sangat lancar tidak mau berhenti dan tidak ada yang bisa menghentikan termasuk Baba.
"Kita punya anak laki- laki 4 Ba. Empat!" tutur Buna geram.
"Apa masih kurang tampan dan hebat anak- anak kita, sampai Baba mengorbankan perasaan Jingga karena keinginan Baba? Buna sakit hati sama Baba! Baba menyakiti Buna!" ucap Buna mengakhiri perkataanya dengan air mata yang menetes.
Baba tercekat tidak bisa menjawab. Baba menunduk dan berusaha meraih tangan Buna mau minta maaf.
"Bukan itu maksud Baba,"
“Plak!” Buna menghempaskan tangan Baba lagi dengan kasar dan sekuat tenaga.
Kalau lagi marah, meski kecil dan lagi hamil, Buna mempunyai tenaga yang kuat.
“Nggak usah sentuh- sentuh Buna!” tutur Buna jutek, lalu Buna berjalan masuk menuju ke arah kamar Iya Iyu.
“Ikun!” panggil Buna.
“Ya Buna?”
__ADS_1
“Dimana Iya dan Iyu?” tanya Buna sambil berjalan.
“Di kamar!” jawab Ikun.
“Buuun!” panggil Baba mengejar Buna dan menghentikan langkah istrinya.
Nila si pendiam hanya jadi penonton dengan tatapan sedihnya, baru pertama kalinya Nila liat Baba Bunanya bertengkar. Nila kan lebih banyak di pesantren, sewaktu kecil Buna dan Babanya selalu memperlihatkan kemesraan.
Amer dan Ikun yang sudah dewasa hanya menghela nafasnya bete dan berfikir sambil cari ide sendiri. Mereka tahu, bakal panjang urusanya kalau Buna sudah marah.
“Minggir, jangan halangi jalanku, Tuan Ardi Gunawijaya!” jawab Buna menatap suaminya sangat kecewa, sampai memanggil suaminya dengan namanya saking geramnya.
“Glek!”
Buna mendorong Baba sekuat tenaga.
Baba menelan ludahnya mulai panik, jika Buna sudah tidak memanggil Baba dengan nama kesayanganya berarti Buna sungguh- sungguh marah.
Bukan suami takut istri, Baba akan merasa sesak dan tersiksa kalau didiamkan istrinya. Baba paling tidak bisa kalau didiamkan apalagi dijauhi, Buna.
“Buna maafin Baba!” ucap Baba merayu lagi.
Buna diam tidak menjawab dan memilih berjalan maju ke kamar Iya dan Iyu.
“Bun...!” panggil Baba lagi.
Buna tetap diam tatapanya lurus ke depan tidak goyah, membawa emosi yang membuncah.
Buna berjalan cepat setengah berlari, anak- anak mereka sampai geli sendiri melihat orang tuanya seperti anak ABG. Amer dan Ikun sendiri sudah puber tapi masih selow.
Baba mengejar Buna, tapi dengan cepat Buna masuk lift dan lift langsung tertutup.
Baba berusaha mengejar lewat tangga karena kamar Iya dan Iyu di lantai dua. Sesampainya di atas, Buna langsung berjalan cepat ke kamar.
“Bun,... Buka pintunya!” teriak Baba menggedor pintu.
Buna diam tidak menjawab.
“Bun, Baba minta maaf, Baba janji. Baba akan bawa Jingga pulang. Jangan marah gini dong. Dengerin penjelasan Baba dulu!” jawab Baba.
Buna masih tidak menjaawab dan malah mematikan lampu kamar.
"Baba tidak pernah membandingkan anak Baba dengan anak orang lain. Anak- anak Baba sangat berharga buat Baba. Buna ibu terhebat, anak- anak kita yang terbaik. Bun!" rayu Baba lagi.
Kamar semakin sunyi.
"Buuun Buka pintunya!"
Entah apa yang akan Buna lakukan di kamar Iya dan Iyu mengobati marahnya. Buna tidak menjawab.
****
Baba menggedor pintu seperti Iya dan Iyu, saat menerima hukuman dari Jingga karena rewel. Baba sendirian di depan pintu.
Lama Baba merayu Buna sampai memakai aksi menendang- nendang pintu, nihil.
Lelah merayu, Baba kemudian menelpon anak buahnya untuk memblokir Bandara dan mencekal ktp atas nama Jingga.
Baba juga memerintahkan ke Dino dan orang rumah untuk melacak keberadaan Jingga.
__ADS_1