Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
61. Tari dan Uti Tau


__ADS_3

Hari pertama pembekalan semua mahasiswa semangat mengikuti materi, mereka dikumpulkan di aula. Diawali dengan senam kebugaran dan yel- yel. Setelah itu materi dari Pak Rendi. 


Keahlian mengajar dan keterampilan bicara Pak Rendi tidak diragukan lagi. Pak Rendi menyampaikan materi dengan baik. Mahasiswa juga antusias mendengarkan dan melakukan sesi tanya jawab. Bahkan banyak mahasiswa dari luar kampus Jingga ingin lama- lama diajar dosen sekaligus dokter calon suami pilihan Baba Ardi. 


Adip sendiri juga sempat menanyakan beberapa materi yang berkaitan dengan kasus yang sering Adip temui di lapangan. Pak Rendi juga mejawabnya dengan bijak. Meskipun mereka sempat terlibat dalam diskusi yang lumayan panjang. Karena Adip juga selalu mempunyai jawab di setiap pernyataan Pak Rendi. Kecakapan Adip memang tidak diragukan lagi. 


Jingga yang dari kemarin saat kumpul bersama lebih suka, fokus bermain ponsel dan menunduk. Kini dia juga cukup antusias mendengarkan. Jingga juga jadi semakin penasaran dengan sosok Adip. 


“Duh Babang aku keren amat sih!” ucap Tari lagi. Bahkan Tari diam- diam mencuri foto Adip, saat Adip berdiri bertanya. 


“Ck!” Jingga berdecak melihat kelakuan si Tari. Perasaan dulu pas Jingga naksir Tama nggak segitunya.


Materi Pak Rendi selesai, mahasiswa pun diberi jeda untuk istirahat. Mereka kemudian berhambur keluar Aula. Tama terlihat ingin menghampiri Jingga. Tapi Jingga terus menempel dengan Tari dan Uti. Sementara Tari dan Uti curi- curi pandang mengedarkan matanya mencari Adip. 


Sayangnya Adip tak keliatan batang hidungnya. Adip berjalan cepat bersama teman- temanya tak terlihat entah kemana perginya. 


“Yah. Ilang lagi kan?” gumam Tari cemberut. 


“Siapa sih?” tanya Jingga. 


“Siapa lagi!” jawab Tari. 


“Haiish , nggak usah mimpi lo dapetin Bang Adip. Udah sih balik ke kamar, aus nih gue!” jawab Uti kasar dengan gaya tomboynya. 


Jingga yang juga ingin bertemu Adip dengan niat yang berbeda diam. “Ya nggak ada salahnya kan Cuma pengen liat. Gue kan juga penasaran penempatan Kak Adip nanti dimana. Secara kan Kak Adip akan stay di pulau P, sampai setahun ke depan. Kapan lagi gue bisa lihat orang seganteng dia. Semoga sih satu kecamatan dan satu desa ama gue!” jawab Tari. Pokoknya Tari fans berat Adip, bagi Tari Adip lelaki paling sempurna yang pernah dia lihat. 


Kalau diperhatikan lama- lama selain manis Adip juga terlihat macho. Perkataan Adip juga terdengar ramah dan sangat mengayomi terhadap sesama teman. 


“Pengumuman penempatan kapan sih?” tanya Uti. 


“Besok pagi, terus malamnya kita berangkat!” jawab Tari. 


Jingga yang dari tadi menyimak langsung menoleh dan ikut nimbrung. 


“Besok sore?” tanya Jingga. 

__ADS_1


“Ya!” 


“Bukanya kita pembekalan di sini 3 hari?” tanya Jingga menyanggah. 


“Kelamaan di sini nanti kita di sananya Cuma sebentar!” jawab Uti. 


“Lo emang nggak tahu Ngga? Kan gegara kita kebarengan sama peserta rapat perkumpulan mahasiswa itu, kita diajuin, berangkatnya!” jawab Tari.


“Nggak!” jawab Jingga menggeleng, Jingga memang belum tahu apapun. 


“Lah, mereka kan rapat doang, di kota dan tempat wisata. Ngapain ikut pembekalan yak? Cuma seminggu doang juga kan di sini?” sanggah Uti tidak terima. 


“Pemerintah kan juga memperhitungkan harga tiket pesawat coy! Mereka dibarengin sama kita kan biar irit. Peswat yang kitan naiki kan muat banyaak! Kalau pesawat komersil mahal. Susah juga kan penerbangan ke sana musim begini!” jawab Tari. 


“Hemm yayaya. Coba aku jadi Raja ya. Akan beli pesawat yang banyak!” jawab Uti meghyal. 


Jingga diam saja. Padahal kalau Jingga mau, Jingga bisa telepon Babanya, mereka berangkat pakai pesawat Babanya tanpa harus bareng rombongan Tama. Ah Jingga memilih diam dan tidak mau menyombongkan diri siapa keluarganya. 


“Aku mau beli baju dulu ya! Kayaknya depan udah buka deh. Masa iya aku pinjam baju kalian terus!” tutur Jingga menghentikan pembicaraan Uti dan Tari yang bahas Bang Adip dan pesawat. 


Jika di kampus Pak Rendi bersikap jaim dan jaga jarak dengan Jingga berbeda dengan sekarang. Pak Rendi tidak canggung mendekati Jingga. Bahkan saat Jingga terang- terangan bersama teman- temanya. Pak Rendi justru ingin menunjukan pada semua orang kalau Jingga adalah kepunyaanya dan tidak ada yang boleh mendekatinya. 


“Jingga!” panggil Pak Rendi mengejar Jingg yang tampak berjalan sambil asik mengobrol. 


Tari, Uti dan Jingga berhenti dan menoleh. 


“Pak Rendi!” pekik Uti dan Tari, lalu mereka menoleh ke Jingga. Ini kali kedua Pak Rendi menghentikan langkah mereka dan memanggil Jingga. Uti dan Tari kemudian jadi curiga, ada apa antara Pak Rendi dan Jingga.


“Ini untuk kamu, pakaialah!” ucap Pak Rendi menyerahkan paper bag besar. 


Jingga menoleh ke teman- temanya canggung. 


“Apa ini Pak?” tanya Jingga sopan. 


“Aku tahu, dari kemarin kamu memakai pakaian bukan milikmu kan? Buna memberitahuku! Pakailah ini. Aku membelinya semalam!” ucap Pak Rendi di luar perkiraan Jingga, apalagi Tari dan Uti. 

__ADS_1


“Omo...!” bisik Tari dan Uti sambil tersenyum berbisik. “Fiks ini mah, Jingga ada sesuatu dengan Pak Rendi.


Jingga diam dan ragu menerimanya. Tapi Tari dan Uti cekikina menyuruhnya terima saja. 


“Aku bisa beli sendiri Pak!” jawab Jingga menolak. 


“Pakailah, semoga ukuranya cocok. Aku membelinya jauh lho, sampai pinjam motor ke teman pegawai Asrama!” jawab Pak Rendi memaksa Jingga menerima. 


Jingga pun menerimanya. 


“Nah gitu dong. Temui Bapak setelah aku setelah makan malam!” ucap Pak Rendi singkat kemudian pergi. 


“Eciee.....” ledek Tari dan Uti. 


“Apaan sih?” jawab Jingga mendengus kesal. 


“Gue baru tahu lhoh, lo ada sesuatu sama Pak Rendi! Lo pacaran sama dia? Gimana rasanya pacaran sama dosen sendiri?” tanya Uti menyerang Jingga dengan banyak pertanyaan. 


“Apaan sih? Siapa juga yang pacaran. Nggak ya!” jawab Jingga mengelak. 


“Lah, jujur aja. Pantes lo mutusin Kak Tama, diem- diem ya Ngga, aku kira kamu gadis polos lhoh!” ledek Tari. 


‘Apaan sih? Kalian ini. Suer aku nggak pacaran sama Pak Rendi!” jawab Jingga masih terus mengelak. 


“Nah ini apa? Sampai Pak Rendi nungguin kamu entar malam!” jawab Uti lagi menyanggah. 


“Gue dijodohin sama bokap!” celetuk Jingga tidak tahan dibully. 


“What!” pekik Tari dan Uti. 


“Udah sih, nggak usah gitu. Aku nggak suka kok!” 


“Kok nggak suka? Kita dukung Ngga..., meskipun lebih kerenan Bang Adip, tapi Pak Rendi juga ganteng dan matang!, nanti kasih bocorn ujian yak!” gurau Tari. 


“Iya, jangan- jangan nilai lo selalu bagus karena dia ya?” gurau Uti. 

__ADS_1


“Ih apaan! Nggak ya. Nilaiku bagus ya karena belajar!” jawab Jingga. 


__ADS_2