
"Jingga berangkat ya Bund!" pamit Jingga ke Buna Alya.
"Pagi banget, Kak?" tanya Buna sedikit curiga. Buna melihat jam dinding masih jam 6 lebih jam kuliah kan tidak sepagi itu.
"He... iya Bun, berangkat awal lebih baik kaan? Daripada telat!" jawab Jingga beralasan.
"Oh ya... hati-hati Sayang, sama Mba Fitri ya!" ucap Buna.
"Siap Bun"
Jingga meraih tas punggung mahalnya dengan sepatu sneakers yang manis, bloues korean panjang warna krem dan rok span di bawah lutut warna hitam. Jinga tampak trendi. Rambutnya digerai rapih dan terawat. Jingga berjalan cepat.
"Ayuk Bu Fitri!" ajak Jingga.
"Ya Non!"
Jingga masuk ke mobil dan Bu Fitri langsung tancap gas.
"Huuft, yes gue bisa pergi lebih dulu!" batin Jingga, melihat ke belakang ke halaman rumahnya, masih sepi dan belum ada mobil yang datang.
Rupanya, subuh tadi Pak Rendi berhasil mendapatkan nomer wa Jingga. Baba mengijinkan Pak Rendi mendekati Jingga. Pagi ini pun Pak Rendi berniat menjemput Jingga, karena Bunda Alya sempat mengucapkan ke Baba, penasaran dengan kandidat dari Baba.
Jadwal kuliah hari ini adalah tinggal ujian blok akhir. Jamnya juga masih lama, Jingga ujian jam 10. Sambil jalan Jingga menginstal aplikasi yang sudah dia peljari lewat internet agar Jingga bisa pesan taksi online. Babanya kan di luar Negeri jadi Jingga tidak takut ketahuan.
Mereka kemudian sampai di kampus. Mba Fitri membukakan pintu mobil.
"Baba nggak di rumah Bu. Saya nggak perlu ditunggu. Jadi pulang aja ya, barangkali Buna butuh bantuan dan sakit mendadak!" ujar Jingga pintar tidak mau diawasi Bu Fitri.
"Iya Non!" jawab Bu Fitri patuh.
Jingga tersenyum bahagia.
"Terima kasih Bu. Hati-hati di jalan ya!" tutur Jingga bahagia.
Setelah Bu Fitri pergi Jingga tidak masuk ke kampus, Jingga memesan ojek online dan menuju ke alamat tempat seleksi ruang Inspirasi. Alamat tempat seleksi di kampus Negeri, tetangga kampus Jingga.
Ini pertama kalinya Jingga naik ojek online. Jadi Jingga sedikit dheg-dhegan.
Tidak lama seorang pria berseragam jaket hijau dan berhelm hijau datang. Dia berhenti tepat di depan Jingga. Mengambil ponselnya sebentar.
"Mbak Jingga ya!" tanya pria itu menoleh ke Jingga.
"Iya!" jawab Jingga mengangguk polos bersiap maju.
Lucunya laki-laki itu malah mematikan mesin motornya dan membuka helmnya.
__ADS_1
"Hai... ketemu lagi kita!" sapa pria itu nyengir tanpa dosa
"Hooh, oh my God. You! Hooh!" Jingga syok dan terbengong melihat laki-laki di depannya ini. Jingga kemudian menatap dengan seksama motor NMax warna merah, pemuda tampan yang sedikit berbeda dengan waktu itu. Tapi wajahnya sama. Jingga menelan ludahnya kesal.
"Oh iya. Kali ini aku driver beneran. Ini helmnya silahkan naik, aku antar sesuai tujuan!" ucap pria itu dengan gaya tengilnya.
"Eh lo tuh sebenarnya siapa sih? Kok Lo ada dimana-mana? Lo ngikutin gue ya!" tanya Jingga ketus dan kesal. Jingga nggak mau salah dan dikerjai lagi.
"Gue ngikutin lo? Hahahaha" jawab pria itu malah tertawa, dikatain ngikutin Jingga.
"Hish ketawa. Sinting lo ya!" ucap Jingga ngatain Si Tukang Ojek.
"Eh Mbak. Yang naik ke mobil saya duluan waktu itu siapa?" tanya pria itu.
Jingga diam menggerakan bibirnya ke samping tapi tidak bersuara. Kan Jingga yang salah masuk mobil.
"Terus sekarang? Yang pesan ojek online siapa?" tanya pria itu lagi tidak menunggu jawaban Jingga.
Jingga semakin terdiam tidak bisa menjawab.
"Kamu kan? Lo kan yang manggil gue kesini? Enak aja gue ikutin Lo! Lo kali yang ngefans ke gue dan diam-diam ikutin gue!" ucap pria itu kemudian.
"Hoh. Gue ngefans ke Lo. Ih amit-amit!" jawab Jingga spontan dan dengan nada menghina serius.
"Ya udah oke. Terus ini gimana? Lo jadi order gue nggak? Ayok naik. Saya antar sesuai tujuan!" tanya pria itu.
"Oke nggak masalah kalau lo nggak mau anter. Tapi mana bayaran gue. Dan tolong sekarang juga kasih gue bintang lima di aplikasi!" ucap si pria itu enteng.
"What? Gueh suruh bayar Lo? Kasih bintang? Idih gue kan nggak jadi diantar lo? Ngapain gue bayar. Oh ya waktu itu lo bohongin gue kan. Nggak ada tarif angkot di sini sampe 100 ribu. Balikin duit gue!" jawab Jingga bersungut-sungut malah bertengkar dengan laki-laki manis dan tampan di depanya itu.
"Hellow. Mbak cantik dan baik. Ingat kesepakatan kita kemarin. Gue nggak maksa lo naik mobil gue. Gue juga udah katakan kalau gue bukan tukang angkot manusia. Lo bersedia dong. Salah gue dimana? Gue udah baik anter lo?" jawab pria itu ngeyel tidak mau balikin uang Jingga.
"Tapi lo ngerjain gue. Balikin!"
"Nggak ada istilah uang balik setelah dibayarkan, dalam kamus gue. Yang ada hatu ini lo udah bikin gue Rugi. Gue udah datang ke sini dan lo mau asal cancel pesenan lo. Gue nggak terima!"
"Kok nggak terima sih? Hak gue dong nolak!" jawab Jingga
"Ya kalau nolak ngapain pesen gue?"
"Ya mana gue tau kalau dirvernya itu Lo!"
"Lo pake aplikasi kan? Lo baca nama gue kan?"
"Ehm, tetep aja. Gue kan belum kenal lo!"
__ADS_1
"Oh lo mau kenalan sama gue? Oke kita kenalan, Nih baca!" ucap pria itu menunjukan ID cardnya sebagai sopir resmi.
Jingga diam dan melirik sekilas, mencocokan foto dan wajah si pria bertopi ini, sama. Di bawah foto ada tulisan Adip.
"Ehm!" Jingga berdehem tetap tidak mau kalah dan disalahkan.
"Gue nggak mau tau ya. Gue nggak mau kena kartu kuning dari kantor gue, gara-gara lo cancel gue. Gue nggak masalah lo nggak mau anter gue. Tapi karena gue udah jauh-jauh ke sini. Bayar uang tagihanya dan kasih bintang lima ke profil gue!"
"Kok maksa!"
"Lah. Apa salahku coba? Aku udah profesional datang jauh-jauh ke sini. Lo batalin gitu aja"
"Ya salah siapa drivernya itu lo. Lo itu masih berhutang sama gue!"
"Hhhh.. " pria itu kemudian menghela nafasnya dan mentap kesal Jingga yang berdiri membuang muka itu.
"Mana ponsel lo?" tanya Adip itu mau maksa Jingga buat kasih bintang
"Ih ngapain jangan!"
"Lo sadar nggak sih? Sikap lo yang begini rugiin gue!"
"Ya lo juga udah rugiin gue!"
"Gue bisa dipecat gara-gara Lo!"
"Masa bodo!"
"Eh lo nggak boleh gitu dong! Wah bahaya nih kalau begini? Ini nih orang nggak tahu diri yang semena-mena. Kubuat viral lo!" ucap si tukang ojek tidak sabar dan mengambil foto Jingga.
"Eh jangan foto-foto gue. Kurang ajar. Hapus foto gue nggak!"
"Pencet bintang lima di profil gue dan bayar tagihan gue!"
"Ya Tuhan!" ucap Jingga geram
"Lagian lo ribet banget banget sih. Lo mau ke kampus UN... ya udah sih naik aja. Ngapain ngajak ribut. Lo untung gue untung!" ucap pria itu.
Jingga melihat jamnya karena Jingga daftar terakhiran Jingga mepet waktu seleksinya. Ini hari terakhir dan nggak boleh telat.
"Ehm!" Jingga berfikir ulang.
"Gue kasih bintang. Anterin gue. Tapi gratis. Uang gue kan masih di Lo!" ucap Jingga akhirnya.
"Ya udah, ya udah iya. Tapi kasih bintang 5!"
__ADS_1
"Ya.. "