Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
74. Tak Bertenaga


__ADS_3

Tidak diketahui Nita dan Siska, bahwa Aji sama sekali bukan selera Jingga. Sekelas Tama saja Jingga tolak padahal mengejar- ngejar Jingga. Dokter dan Dosen yang mereka sampai melongo pas diajar juga ternyata berjuang mati- matian mengejar Jingga, Nita dan Siska sudah bersuudzon dengan Jingga. 


“Hai... asik banget? Boleh gabung nggak nih?” tanya Aji menyapa Tari, Jingga dan yang lain. 


“Boleh Kak, hayuk mangga!” jawab Tari. 


“Lah, Kak Aji mana makanya?” tanya Lili yang juga akan satu tim dengan Aji. 


“Oh ya, ya, aku belum ambil!” jawab Aji. 


“Ya udah Lili ambilin, Kak Aji mau sama apa?” tanya Lili ramah, Lili memang sebaik dan seperhatian itu. 


“Terserah kamu, yang penting masakan halal ya!” jawab Aji memperingati, karena Aji juga muslim sementara Lili bukan. 


“Oke!” jawab Lili mengerti. 


Lili kemudian mengambilkan makanan untuk Aji denganwajah ceria dan riangnya tanpa dosa. Lili sendiri tidak tahu menahu kalau ada orang yang ikut acara ruang inspirasi ini demi kepentingan pribadi. Kalau Lili kan benar- benar tulus, jadi Lili menjalani dengan riang dan gembira. 


Sambil menunggu Lili, Aji pun menyampaikan niatnya. 


“Oh ya, Tari, Jingga, sebelum perahu datang setelah makan ikut aku ya!” ucap Aji. 


“Kemana Kak?” tanya Tari. 


“Kalian berdua mahasiswa kedokteran kan?” tanya Aji. 


“Iyah!” jawab Jingga dan Tari mengangguk serentak. 


“Ada pembekalan dan pembagian tugas dari Dokter Martin!” tutur Aji memberitahu. 


“Tugas?” tanya Jingga memastikan, kan waktu pembekalan di pulau S dan saat pendaftaran mereka nanti akan dibimbing olleh pegawai asli, tugas mereka adalah membuka inspirasi dan semangat belajar anak- anak agar rajin belajar dan mengenal banyak profesi, lalu ini tugas apa?


“Iya, ya udah makanlah dulu, pokoknya nanti temui  beliau di puskesmas!” jawab Aji. 


“Emang siapa yang kasih tahu kami mahasiswa dokter?” tanya Jingga lagi. 


“Ya kan ada datanya, terus semalam gue, Bang Adip, Dokter Reza dan yang lain ngobrol ma Pak Markus!” jawab Aji tidak menyebutkan Adip yang memberitahu, Aji juga ingin terlihat keren di depan Jingga. 


“Oh!” jawab Jingga mengangguk. 


Lili yang sudah selesai mengambil makanan kembali bergabung. 


“Ini Kak! Kurang nggak?” tanya Lili.

__ADS_1


“Pas kok! Makasih ya!” jawab Aji lalu mereka sarapan bersama. 


Setelah sarapan Aji kembali bersama teman- teman lelaki meninggalkan rumah ketua suku. Jingga dan yang lain pun bersiap- siap menunggu jemputan kapal. 


Di pulau P itu lalu lintas antar desa di tempuh dengan perahu ketimping. (perahu kecil yang terbuat dari kayu) jika antar kecamatan dengan speedboard, jika antar kabupaten atau lebih jauh dengan pesawat perintis atau kapal besar jika daerahnya dekat dengan laut. 


Saat berangkat ke desa, Tarin dan Jingga akan terpisah. Jingga pun bersama Yuri bergabung ke Nita, Siska dan Prilly lagi. 


“Kak, Nita punten!” ucap Jingga pamit ke Nita ketua tim. 


“Hmm!” jawab Nita ketus. 


“Kata, Kak Aji, Jingga harus kumpul ke puskesmas dulu!” ucap Jingga lagi pamitan baik-baik. 


Sayangnya pamitanya Jingga justru membuat Nita naik pitam, kenapa yang disuruh kumpul Jingga bukan dirinya sebagai ketua tim. 


“Emang kumpul apaan?” tanya Siska nimbrung. 


“Jingga juga belum tahu Kak, tadi Kak Aji yang panggil Jingga!” jawab Jingga lagi dengan jujurnya, Jingga tidak tahu semakin Jingga menyebut nama Aji semakin membuat darah Nita mendidih. 


“Gue aja yang kumpul! Lo di sini!” ucap Nita tidak sadar diri tidak tahu menahu duduk persoalanya. 


“Tapi, Kak, ini katanya berhubungan dengan jurusan kuliahku!” jawab Jingga mencoba memberitahu. 


“Oh ya? Kalau emang ini ada hubunganya dengan jurusan kuliahmu, kenapa Aji ikut- ikutan? Aji satu fakultas dan satu jurusan sama gue! Gue ketua kelompok di sini!” jawab Nita ketus. 


Jingga menelan ludahnya tidak menyangka dan tidak mengerti kenapa tiba- tiba Nita ketus begitu. 


“Lo mau ngerayu Aji kan? Makanya lo deket-deketin dia?” imbuh Siska sok tahu. 


“Woah? Ngerayu?” ceplos Jingga merasa kaget dan tidak terima dibilang merayu. 


“Lo itu nggak usah sok kecakepan di sini kalau lo mau selamet. Lo nggak usah deket- deket Aji!” ujar Nita ketus dengan wajah merah padamnya. 


Meski takut dan dheg- dhegan, tapi Jingga tidak terima kalau dituduh semurah itu.Tidak ada dalam kamus Jingga merayu pria. Jingga saja sangat jaga jarak dan jual mahal.


"Maaf Kak. Kakak suka sama Kak Aji? Kalau iya, katakan saka pada orangnya. Jingga sama sekali nggak ada minat dan berniat untuk memikirkan hal seperti itu!" jawab Jingga mengeluarkan keberanian kualitas Jingga yang sebenarnya. Jingga menjawab Nita dengan sangat tenang di luar perkiraan Siska,karena dari luar Jingga terluhat lemah.


Mendengar jawaban Jingga Nita emosi. Nita pun maju dan mencengkeram krah Jingga seperti preman.


"Kalau emang kamu nggak minat? Ngapain kamu dekat- dekat dengan dia? Hah. Kamu di sini bukan siapa- siapa? Ngerti!" bentak Nita.


Jingga mendengarnya pun semakin tidak mengerti. Seorang putri Gunawijaya, ini pertama kalinua Jingga dikasari dan dituduh. Jika di Ibukota, pengawal Jingga pasti akan maju dan langsung mematahkan tangan Nita.

__ADS_1


Nita dan Siska memang tidak satu kampus dengan Jingga jadi mereka tidak tahu siapa Jingga. Prilly dan Yuri sesama anak polos dan baik hanya diam ketakutan dan tidak berani berkutik. Apalagi Nita melakukanya di belakang rumah panggung dan tidak di dengar orang lain.


Kini Jingga pun menghadapi sendiri, berusaha melawan teman- teman jahatnya itu.


"Lepas! Uhuk!" Jingga mengeluarkan sekuat tenaganya melepaskan cekikan tangan Nita.


"Jingga!" pekik Tari dari kejauhan menghentikan ulah Nita.


"Uhuk!" Jingga berusaha melonggarkan nafasnya sangat syok.


Benar kata Baba Ardi, di dunia ini memang ada orang yang berhati jahat. Sebenarnya bukan hanya di dunia ini bahkan di ibukota sebenarnya Jingga sudah di kelilingi orang jahat yang berkamuflase seperti Tama, Faya, Amora dan yang lainya. Mereka baik karena tau status Jingga dan tau Jingga di kawal.


Kini saat Jingga sendirian semua terlihat nyata oleh Jingga.


"Tari!" pekik Jingga bersyukur ada teman yang menolongnya.


Tari yang hendak ke puskesmas menunggu Jingga tapi di kamar tidak ada orang. Tari pun mencari Jingga. Melihat ada perundungan terhadap temanya Tari pun berlari menolong.


"Apa yang kalian lakukan? Hah!" bentak Tari.


Karena ada Tari, Yuri pun berani bergerak dan mendekat ke Jingga.


"Kak Nita marah, dia cemburu melihat Kak Aji deketin Jingga!" ucap Yuri berbisik.


"Woh? Hahahaha!" mendengarnya Tari pun tersenyum mengejek ke Nita.


"Eh kalian. Dasar ya perempuan nggak punya harga diri. Bar bar banget sih, begini cara kalian nunjukin cinta kalian? Kalau cemburu sama Jingga, ngrasa tersaingi sama Jingga, buktikan dong dengan kualitas! Jangan main preman begini. Kita di sini tim lhoh!" omel Tari keras.


Siska dan Nita sebenarnya merasa tertohok dengan ucapan Tari, tapi mereka kepalang malu.


"Satu lagi. Kalau kalian mencemburui Jingga itu salah besar. Jingga tuh udah punya calon. Kalian tau dokter Rendi, dosen ganteng kami.Dia calon suami Jingga. Jadi kalian nggak usah khawatir pacar kalian direbut Jingga!" ucap Tari lagi panjang.


Semua terdiam malu. Jingga pun diam tidak menampik atau mengiyakan.


"Ngerti nggak? Kalau kalian,kek gini lagi.Gue akan laporin kalian ke kepala suku di sini!" ancam Taru kemudian.


"Yok ,Ngga!" ajak Tari ke Jingga menuju me puskesmas.


Jingga pun menurut.


Semua tidak menyangka Jingga ternyata calon istri Pak Rendi. Lebih dari Nita dan Siska, ternyata Adip yang datang untuk makan di kloter kedua, dia turun hendak cuci tangan dan mendengar perkataan Tari.


Adip, berdiri dan mengulum lidahnya dengan tangan dimasukan ke saku.

__ADS_1


"Oh jadi benar, dia calon istri Dosen itu?" batin Adip lalu berbalik dan menuju ke sumur. Entah kenapa Adip tiba- tiba merasa sesak dan tak bertenaga.


__ADS_2