Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
84.Perhatian


__ADS_3

Tidak bisa dijelaskan dengan kata, karena hati lebih peka merasa. Meski tak terlihat dengan mata, tak berwujud dengan benda, tapi tajamnya kata mempu menembus dan menghunus menghunjam sakit ke akar jiwa.


Jingga melempar kasar sapunya lalu masuk ke bilik kamar sederhananya yang belum selesai dia tata. Kelopak mata yang penuh dengan genangan air matanya pun tumpah tak terasa.


"Hiks... hiks....," Jingga langsung meringkuk, memeluk lututnya sedih.


Jingga baru sadar, dirinya sekarang hanya berbekal pakaian sederhana pemberian Dokter Rendi, dokter sekaligus dosen dan calon suaminya itu. Uang, ponsel, laptop, flashdish, kamera, memory card, dan alat make up bahkan tumble minumanya hanyut entah kemana.


Bahkan Jingga merasa kulit wajahnya lengket berminyak dan tebal. Jingga merasa diringa sekarang dekil.


Jingga juga merasa semua orang memandang dirinya lebai dan merepotkan. Jingga melihat sekeliling, seperti berada di dunia lain. Hanya ada karpet tembikar dan bantal yang berisi kapas randu yang dibuat manual oleh warga sekitar dengan jahitan tangan yang terlukis rapih.


"Buna.... Jingga kangen! Benarkah Jingga anak manja Buna?" lirih Jingga tidak mampu menahan sedihnya. Jingga menangis dengan menengggelamkan wajahnya di lututnya tak ingin penghuni kamar sebelah mendengarnya dan membullynya lagi.


Yuri yang sudah selesai membuang sampah kemudian masuk.


"Kak Jingga!" panggil Yuri melihat Jingga bersimpuh.


Jingga tidak menjawab dan hanya menyeka air matanya. Mata Jingga merah dan sembab,bahkan area sekitar bibirnya ikut sangat jelek.


"Kakak, masih menangisi jeraawat Kakak?" tanya Yuri polos.


Jingga yang masih tersedu- sedu hanya menggeleng.


"Kakak menangis kenapa?" tanya Yuri ikut duduk, Yuri duduk bersila di hadapan Jingga dan memegang lutut Jingga perhatian


"Apa aku sungguh lebay?" tanya Jingga tidak kalah polosnya dengan Yuri


"Empt." Yuri ingin tertawa tapi dia tahan karena tak ingin menyakitinya.


"Iya yah? Aku lebay ya? Apa aku juga merepotkan? Kalian pasti nggak seneng ya aku di sini? Hiks.. hikss maafin aku?" lirih Jingga sangat baper karena kata- kata Adip yang terus memojokanya.


"Kak Jingga kenapa baper gini sih? Nggak kakaak, nggak ada yang direpotkan. Nyatanya Kakak udah bersihin rumah sendirian!" jawab Yuri menghibur.


Jingga diam dan tidak menjawab.


"Jangan nangis lagi Kak. Jangan peduliin kata orang! Nanti Kakak malah sakit di sini. Ingat ini hari pertana lho di sini! Hari kita di sini masih panjang!" tutur Yuri menasehati.


"Iya makasih!"


"Kak Jingga sakit hati sama Kak Adip ya? Apa sama Kak Nita?" tanta Yuri lagi.


Jingga diam lagi tidak menjawab.

__ADS_1


"Kak Nita mah nggak usah didengar!" ucap Yuri sok dewasa, kemudian Yuri mendekat ke telinga Jingga ingin kasih semangat. "Kak Nita itu sirik ke Kaka karena Kakak lebih cantik dari dia," bisik Yuri.


"Tapi yang bilang aku merepotkan nggak cuma Nita, Yuri!" jawab Jingga.


"Oh Bang Adip. Bang Adip tuh perhatian Kak, ke Kak Jingga!"


Jingga kemudian melihat tangan mulus dan halusnya. Ternyata di ruas jari tengah dan jari kelingking tangan kananya melepuh membentuk kapal, hanya saja belum sobek jadi tak terasa sakit. Yuri yang melihatnya kemudian menatap Jingga iba.


"Kakak di rumah nggak pernah nyapu ya?" tanya Yuri.


Jingga mengangkat wajahnya dan menatap Yuri tersipu dengan pipinya yang menggembung. Jingga menggelengkan kepalanya.


"Oh!"


"Semua pekerjaan rumah dikerjakan pelayan. Babaku akan marah kalau aku kelelahan atau bekerja keras!" ucap Jingga bercerita.


Jingga ingat sekali saat Jingga bermain tanah di luar rumah berlarian lewat waktu asar mbaknya Jingga dimarahin habis- habisan ke babany hanya karena Jingga terlihat lelah dan keringeta. Bahkan guru olahraga Jingga hampir dilabrak Baba karena Jingga main lompat jauh terjatuh dan lututnya lecet.


"Waaah, Babanya Kak Jingga sayang banget ya sama Kak Jingga!" ceplos Yuri.


"Bantu aku ya! Aku janji nggak akan repotin kamu!" ucap Jingga


"Iyah Kak. Kakak Nggak repotin aku. Pokoknua kita di sini kerja bareng, nggak usah pedulikan omonhan orang yang bikin Kakak down. Tunjukin kakak nggak seperti mereka dan kakak lebih baok dari mereka. Mereka akan tertampar malu sendiri nanti!" jawab Yuri lagi.


"Ya..."


"Makasih ya!" ucap Jingga.


"Sama- sama!"


"Oh ya. Katamu Bang Adip perhatian ke aku?" tanya Jingga tiba- tiba.


Yuri pun mengangguk tersenyum.


"Perhatian apaan? Dia selalu ngatain aku dan marahin aku! Laptop aku barang- barangku hilang. Kamu tau nggak dimana?" tanya Jingga kemudian.


"Lhoh ya Kak Jingga kok tanya aku?"


"Aku kan nggak ingat juga!" jawab Jingga.


"Kak Adip tuh yang selamatin Kak Jingga!" tutur Yuri.


"Tau kalau itu!" jawab Jingga.

__ADS_1


"Dia panik banget dan keren lho pas selamatin Kakak. Dia juga kasih nafas buatan ke kakak!" tutur Yuri lagi dengan senyum centilnya


"Hoh? Benarkah?" tanya Jingga sembari reflek memegang bibirnya, Jingga kemudian tersipu mendengar cerita Yuri.


"Emanh kakak nggak ingat?"


"Aku ganya ingat, aku sesak nafas sakit banget sama pusing. Sampai sekarang nafasku masih berat. Kakiku juga kram!" jawab Jingga.


"Yang penting sekarang udah baikan kan?" tanga Yuri.


"Iya. Ibu Natalie mengobatiku!" jawab Jingga.


"Kaka dokter kaan?"


"Baru kuliah belum lulus juga!" jawab Jingga.


"Ya tapi harusnya tau dong ilmunya!"


"Hee..." jawab Jingga nyengir


"Kenapa kakak sampai terpeleset sih?" tanya Yuri lagi.


Jingga tidak pernah berjalan kaki jauh apalagi di bawah terik matahari. Jadi ketika Jingga berjalan dari rumah kepala suku kecamatan ke dermaga sungai, kaki Jingga jadi linu pegal dan kram. Saat duduk di perahu kaki Jingga juga nekuk lama,langsung bangun, awalnya kaya kesemutan biasa tapi saat Jingga mau melangkah dan lompat ternyata sakit.


"Kakiku kram!" jawab Jingga


"Oh! Tapi Kakak bisa renang kan?"


"Tuh kan? Apa kamu sama seperti Bang Adip tidak percaya? Aku sunggug bisa renang, tapi berenang di sungai dan di kolam itu beda. Aku kram aku panik!" jawab Jingga sedih lagi


"Aku percaya kok Kak! Lain kali hati- hati ya!"


"Iya!" jawab Jingga


"Ya udah yuk ditata pakaian kita!"


"Ayuk. Oh ya, aku sekatang nggak punya laptop. Kalau aku butuh, aku boleh pinjam punyamu kan?" tanya Jingga


"Boleh dong!"


"Makasih ya!"


"Huum!"

__ADS_1


Jika dulu di kampus Jingga jadi orang terkaya yang selalu pertama kali mempunyai barang elektronik keluaran terbaru, kini barang butut pun Jingga meminjam. Tapi walau begitu tidak berpengaruh sih,karena di desa itu yang sudah ada penerangan listrik hanya di rumah Tuan Abraham, di sekolah dan di masjid.


Jingga dan Tari kemudian kembali beberes menata pakaian mereka. Setelah itu malam ini mereka akan ada temu kumpul dan perkenalan dengan masyarakat sekitar


__ADS_2