Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
114. Khawatir


__ADS_3

“Welcome to the hilir village!” ucap Adip ke Amer sambil memutar topinya. 


Mereka berdua sampai di desa T.


Adip memakai kaos dan kemeja kotak- kotak yang tidak ditautkan kancingnya, dan membawa tas ranselnya, sangat santai.


Sementara Amer memakai kaos oblong dengan merek mahal berwarna putih dan celana tiga perempat press body yang keren juga.


Jika Adip memakai sendal jepit biasa, Amer mengenakan sepatu mahal berwarna abu terang dengan corak kuning di bawahnya. 


Amer pun menatap jauh ke arah desa. Ada banyak tanya yang datang memenuhi otaknya, melihat jalan kecil tanpa aspal membentang ke arah desa. Meski di hilir desa itu sebuah bukit pegunungan.


“Kak Jingga tinggal di desa ini?” satu pertanyaan keluar dari mulut Amer masih tidak menyangka. Amer sampai menelan ludahnya. 


“Ya!” jawab Adip mengangguk dengan bibir yang mengatup rapat.


“Wuah? Kak Jingga sehat kan?” pertanyaan kedua keluar lagi. 


“Terakhir aku bersamanya, dia sangat sehat. Dia juga terlihat sangat bahagia!” jawab Adip mengingat pertemuan terakhirnya dengan Jingga di pantai. Adip menceritakan Jingga dengan mata berbinar. 


“Apa Bang Adip dekat dengan kakakku?” tanya Amer lagi menelisik padahal sebelumnya pernah menanyakan hal yang sama. 


“Ehm.... ehm...” tiba- tiba Adip salah tingkah ditanyai begitu. 


“Kita sesama pendatang dan mempunyai misi di sini, jadi kita akrabb!” jawab Adip menyamarkan geroginya, padahal akur baru sekali.


“Oh... aku masih tidak percaya kakakku ada di desa ini, apa dia tidak merepotkan?” gumam Amer lagi. Amer berdiri sejenak dan meletakan kedua tanganya di pinggang, menatap bukit yang tampak hijau di depanya itu. 


“Sangat!” jawab Adip lagi spontan.


Adip mengingat hari pertama saja Adip sudah dibuat lelah harus menggendong Jingga melewati jalan setapak dan naik turun, belum saat kaos Adip kena mutahan Jingga, belum lagi saat Adip harus mengajari Jingga menimba dan mengambil ember dan tali timba yang terjatuh. 


“Itu pasti, aku yakin itu! Di rumah, keluar kamar saja hanya kalau dipanggil Baba, energi tubuhnya sangat mahal untuk dia buang, dia sangat pemalas untuk bergerak tau Bang! Aku saja heran padahal, kamar Kak Jingga sangat jelek menurutku, tapi dia sangat betah! Bagaimana dia bertahan di sini?” Amer masih terus mengeluarkan banyak tanya yang tak ada habisnya. 


Adip hanya tersenyum, dan menghela nafasnya. Ternyata Jingga berjuang keras untuk berubah jika kebiasaan di rumah seperti yang Amer ceritakan.


“Kau tanya langsung saja padanya, ayo temui dia!” jawab Adip mengajak Amer segera melanjutkan perjalananya ke desa. 


“Dia pasti sangat bahagia aku datang ke sini, awas saja kalau dia merengek minta dibuatkan omelet...!” gumam Amer sambil berjalan, sungguh di luar dugaan Adip.


“Apa?” tanya Adip penasaran. 


“Kak Jingga itu pemalas, tapi suka makan, makanan tertentu sih, khususya masakanku. Kalau aku di rumah dia hanya mau masakanku!” jawab Amer ceria dan bangga.


Adip mendegarkan tersenyum, sepertinya Amer dan Jingga adik kakak yang akur dan seru. Meski Amer yang laki- laki, tapi lebih terampil Amer ketimbang Jingga. 


“Ya dia sangat rakus!” jawab Adip mengimbuhi. Adip ingat saat Jingga menghabiskan banyak air kelapa. 


“Bang Adip tahu itu? Maafkan kakakku ya? Dia benr- benar perempuan yang sangat payah, tidak ada  gengsinya sama sekali memalukan!” jawab Amer mengatai Kakaknya. 


Padahal Jingga rakus hanya pada orang tertentu. Orang yang tidak kenal Jingga tahunya Jingga sangat pemilih makanan, Jingga selalu jijik jika makanan itu berasal dari orang yang tidak dia kenal apalagi kalau tidak tahu cara masaknya. Tapi jika Jinga suka dan kenal, Jingga akan makan tiada henti, ya itulah jeleknya Jingga. 


“Hanya sesekali kok!” jawab Adip lagi.


“Sepertinya Bang Adip tahu banyak tentang kakakku!” sahut Amer. 


“Tidak juga!” jawab Amer. 


Rumah- rumah warga pun mulai terlihat, Amer semakin mengagumi desa itu. Rumahnya sangat unik. 


“Langsung ke rumah Kakakmu? Atau ke rumahku dulu?” tanya Adip memberi penawaran ke Amer. 


“Terserah Bang Adip aja! Amer kan nggak tahu!” jawab Amer menyerahkan pilihan ke Adip, Amer percaya pilihan Adip terbaik.


“Langsung ke kakakmu aja ya!” jawab Adip sambil tersenyum. 


“Oke!” jawab Amer setuju.


Adip kan juga rindu dengan Jingga, lebih dari Amer. 


Mereka berdua berjalan menuju ke rumah panggung yang ditempati mahasiswa. Di otak Adip pun datang bayangan Jingga menyambut adiknya dengan bahagia. Pasti Jingga terkejut dan syok melihat adiknya datang bersamanya dan mengenalnya.


Ah Adip tidak sabar menantikan itu.


Adip pun berjalan cepat seakan tak punya lelah. Padahal Amer sesekali meminta berhenti untuk mengelap keringat dan merilekskan kakinya yang mulai pegal. 


Amer juga tidak tahu kalau mereka sudah melewati rumah singgahnya Adip. Kalau Amer tahu  rumah  Adip baru saja dia lewati Amer pasti minta berhenti dan istirahat di rumah Adip.


“Masih lama Bang?” tanya Amer merasa rumah sementara kakaknya jauh. 


“Nggak, bentar lagi sampai!” jawab Adip semangat, Adip tidak sabar melihat Jingga jadi semangatnya membara.


“Huft...!” Amer menghela nafas berusaha mengurangi lelahnya. 

__ADS_1


“Ayok! Bentar lagi, segini doang kok. kakakmu aja kuat!” ucap Adip menyemangati Amer. 


“Oke” jawab Amer semangat lagi.


Mereka pun melanjutkan perjalanan melewati rumah- rumah. Semua warga yang mereka temui di jalan menyambut kepulangan Adip dengan ramah. Amer pun jadi terheran dan hanya ikut saja. 


“Ternyata Bang Adip begitu populer di desa ini?” bisik Amer memuji Adip. 


“Kakakmu lebih populer!” jawab Adip. 


“Wuah? Iya kah? Kakakku kan bisanya hanya menangis? Dia populer bukan karena membuat masalah kan?” tanya Amer lagi.


Adip semakin ingin tertawa mendengarnya. 


“Tidak, dia dokter yang hebat dan manis kok!” jawab Adip untuk pertama kali, mulutnya terlontar kata yang memuji Jingga. Padahal kalau di depan Jingga sangat enggan memuji. 


“Benarkah? Kok dokter sih? Dia masih mahasiswa! Bang!” jawab Amer tidak terima jika orang lain sudah memanggilnya dokter padahal Jingga belum berhasil menamatkan kuliahnya. Buat Amer itu tidak fair, untuk mendapatkan gelar orang harus berjuang keras dulu.


“Itu tempat prakteknya!” jawab Adip malah menunjuk poskesdes tempat Jingga melakukan tugas dadakanya. 


“Praktek?” tanya Amer semakin heran. 


“Emem!” jawab Adip mengangangguk. 


“Apa bisa Kak Jingga praktek? Dia bahkan belum lulus, wah bahaya Kak! Bisa mallpraktik nanti dia!”  jawab Amer semakin tidak percaya. 


“Dia berhasil menyelamatkan dua nyawa kemarin!” jawab Adip lagi dengan bangga. 


“Benarkah?” 


“Ya....!” 


“Wah Buna harus tau ini. Aku saja ragu, kakakku bisa menamatkan kuliah dan menjadi dokter sungguhan! Dia di sini malah sudah praktek? Wah ini emejing!” jawab Amer lagi. 


Adip ikut tertawa, sepertinya jika kakak adik ini bertemu nanti akan seru. 


“Itu rumahnya!” ucap Adip menunjuk rumah kayu di dekat bangunan sekolah dasar. 


Di depan rumah tampak gadis sederhanan dengan rambut pendek seleher sedang menyapu halaman. 


“Hai, Yuri!” sapa Adip menyapa Yuri.


“Bang Adip!” pekik Yuri kaget. Yuri kemudian terdiam menatap Amer yang tingginya melebihi Adip, kulitnya sangat bersih berbeda dengan Adip yang sedikit lebih gelap. Wajah Adip pun cute abis, sampai Yuri menjatuhkan sapunya. 


“Hah? Jingga?” tanya Yuri gugup karena ada Amer di depanya. 


“Iya, kenalkan dia Amer, adiknya Jingga!” tutur Adip memperkenalkan Amer.


“Ha? Adik Jingga?” tanya Yuri spontan dan terbengong. "Kenapa Jingga tak pernah cerita punya adik tampan bak Pangeran berkuda putih dari Romawi?" batin Yuri.


“Hai, Kak! Saya Amer Gunawijaya! Adik Kak Jingga!” tutur Amer tersenyum memperkenalkan diri, semakin membuat jantung Yuri meleleh. 


“Gunawijaya?” tanya Yuri lagi tambah bingung.


Selama ini meski satu kamar dengan Jingga, Jingga tak pernah menceritakan kedudukan sosial orang tuanya ke teman- teman barunya. 


“Ya.. bisa panggilkan kakakku?” tanya Amer meminta.  


“Ah... ya. Maaf, Jingga pergi Bang!” jawab Yuri lesu ke Adip.


“Pergi?” tanya Amer dan Adip bersamaan.


Adip sangat kecewa setiap datang tak pernah bertemu dengan Jingga, Adip pun menghela nafasnya mendadak tubuhnya jadi lemas.


“Iya... ayo masuk dulu, yuk! Ngobrol di dalam!” jawab Yuri sopan mengajak tamunya naik ke teras.


“Nggak usah makasih! Jingga pergi kemana?” jawab Adip cepat menyerobot.


Padahal Amer sudah melangkahkan kaki dan menjawab Iya. Amer kecapekan dan kehausan, sementara Adip merasa gundah gulana tak pedulli yang lain. Meski tekad hati ingin mengikhlaskan Jingga, tapi keinginan untuk melihatnya begitu besar. Hanya ingin melihat keadaanya dan kabarnya.


Yuri jadi bingung mau menjawab Adip tapi melihat respon Amer ingin masuk. 


“He... masuk dulu aja, Bang. Adik Kak Jingga sepertinya lelah!” jawab Yuri peka.


Amer mengangguk setuju, tapi Adip tidak. 


“Katakan dulu dimana Jingga?” tanya Adip ngotot sampai Amer dan Yuri jadi menatap bingung, "Kenapa malah Adip yang ngotot ingin tahu Jingga? Kan yang mau ketemu Amer."


“Jingga ke kota Bang, Jingga merujuk Bu Maysa ke puskesmas!” jawab Yuri menjelaskan.


“Oh! Berangkat kapan?” jawab Adip mengangguk dan tersenyum lega. 


"Tadi, pagi katanya sore ini balik kok!"

__ADS_1


“Ha? Kak Jingga merujuk pasien?” sementara Amer bengong tak percaya. Bahkan Kakaknya melakukan pekerjaan yang dinamakn rujuk, sungguh di luar ekspektasi Amer.


Karena sudah tenang tanpa dipersilahkan Adip dengan cepat berjalan naik ke rumah panggung bahkan mendahului Amer. 


“Aku haus banget, minta minum ya!” ucap Adip dengan santai tanpa tahu malu. Amer pun ikut berdecak.


“Siap Bang! Mau minum apa?” 


“Apa aja deh, sama makanan boleh!” ucap Adip lagi sok akrab dan ngelunjak. Padahal nama Yuri saja Adip tidak hafal, Adip emmang begitu, sok akrab dan baik ke orang dan sering buat perempuan jadi baper dan GR. 


“Tunggu Bang!” 


Yuri masuk mengambilkan makanan dan minuman. Amer masih terbengong dan memperhatikan satu persatu bagian di rumah yang ditinggali Kakaknya. 


“Kak Jingga sungguh tinggal di sini?” bisik Amer ke Adip.


“Ya!” 


“Bahkan satu rumah ini dengan kamar Kak Jingga lebih luas kamar Kak Jingga, bagaimana Kak Jingga bisa tidur?” tanya Amer berbisik. 


Adip pun hanya tersenyum, adik Jingga yang satu ini cerewet sekali. Sekaya apa sih keluarga Jingga ini?


Tidak lama Yuri keluar, membawa ubi rebus dan kopi khas tempat itu. Tidak lama Nita, dan Prilly datang. Mereka ngobrol sejenak saling berkenalan, lalu Amer ikut Adip ke rumah singgah Adip.


“Lhoh kita balik Bang?” tanya Amer baru sadar kalau rumah Adip itu dekat dengan sungai dan sudah mereka lewati. 


“Ya, rumahku di ujung sana!” jawab Adip menunjuk rumahnya.


“Haish kenapa tidak bilang kalau tadi kita sudah lewat rumah Bang Adip? Aku kan ingin minum tadi!” jawab Amer.


Adip hanya tertawa.


"Sekarang udah nggak haus lagi kan?"


Kalau tau Jingga tidak di rumah, Adip pun akan memilih ke rumah dulu.


Mereka kemudian bersih- bersih badan dan bersantai mengobrol dengan anak- anak.  mer sangat antusias berkenala dengan trio lincah, sementara Adip tidak fokus dan terus melihat ke arah dermaga. 


“Sudah mau maghrib, kok Jingga belum tiba ya?” gumam Adip.


Setiap ada rombongan perahu datang Adip memperhatikan dari teras orang yang turun dan berjalan. Adip menunggu Jingga pulanh. Sayangnya Adip tak melihat Jingga berjalan lewat jalan di dekat rumahnya. 


“Mer!” panggil Adip. 


“Ya, Bang!” 


“Ke dermaga yuk!” ajak Adip. 


“Ngapain? Seharusnya kakakmu sudah sampai sini sejak dua jam lalu, coba kita tanya ke tukang perahu!” jawab Adip sedari tadi entah kenapa mengkhawatirkan Jingga. 


“Oke!” 


Adip dan Amer mendatangi dermaga. Rombongan perahu terakhir di hari itu tiba. Adip pun langsung menanyainya. 


“Wah, Kakak Dokter sudah tiba di sini lagi? kKenapa tadi tidak lihat saat d dermaga kota ya? Apa kabar, Kakak?” tanya warga. 


“Kami naik perahu dari kota kabupaten!” jawab Adip. 


“Tadi kami juga bersama dengan Nona Dokter!” jawab tukang perahu menceritakan Jingga tanpa ditanya. 


Adip pun langsung membulatkan matanya mendadak dheg- dhegan. 


“Jingga maksudnya?” 


“Ya!” 


“Dimana dia? Kenpa tidak ikut pulang kesini?” tanya Adip panik. 


“Dia turun di desa S, tadi ada kawanya, dia bilang awalnya mau pulang ke sini, tapi pas lewat desa S dia buru- buru ingin turun!” jawab tukang perahu bercerita. 


Adip langsung terdiam dan berfikir. 


“Tari kan di desa P, bukan desa S, bahkan setahu Adip di kecamatan ini yang ada rombongan mahasiswa datang hanya desa T dan P, ngapain Jingga di turun di desa S?” 


“Jingga bersama kawanya? Siapa kawanya itu?” tanya Adip lagi. 


“Kawanya laki- laki Kakak Dokter!” jawab tukang perahu memanggil Adip juga dokter, pokoknya apapun lulusan pendidikanya dan bagaiamana statusnya, kalau orang yang membantu menyembuhkan sakit dipanggil dokter. 


Mendengar cerita tukang perahu, baik Adip ataupun Amer langsung panik. 


“Kita harus susul Jingga!” ucap Adip panik. 


“Bagaimana caranya?” tanya Amer. 

__ADS_1


__ADS_2