Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
186. Berisik!!!


__ADS_3

"Ehm...."


Di saat Jingga dan Adip centil- centilan tebak- tebakan, Baba lewat sambil berdehem. Adip langsung menoleh ke Baba terdiam dan Jingga manyun reflek tanganya memegang tangan Adip.


"Kenapa liatin Baba begitu?" tanya Baba ke Jingga tersinggung.


"Jingga pengen ngobrol sama suami Jingga Ba! Pasti Baba mau usir Jingga lagi kan? Kenapa sih Ba? Kan kita udah halal! Ijinin kita ngobrol kenapa?" ucap Jingga percaya diri, kali ini nggak mau nangis ditinggal lagi.


"Haisshhh," desis Adip malu melirik ke istrinya, sambil memegang pelipisnya. Susah banget Jingga diajari elegan.


"GR kamu. Orang Baba mau ke kamar mandi!" jawab Baba ngeles.


"Oooh...," jawab Jingga malu, tapi senang.


Tapi kemudian langkah Baba terhenti dan menoleh ke mereka lagi.


"Dip!" panggil Baba.


"Ya Ba,"


"Setibanya di bandara. Apa rencanamu?" tanya Baba.


"Saya akan langsung bertolak ke rumah Abah Umi dan Bapak Mamak, Ba!" jawab Adip.


Karena waktunya sangat singkat Adip ingin langsung menjemput orang tuanya.


"Jangan! Mampir ke rumah dulu, kenalan sama Bunanya Jingga ya!" tutur Baba. "Biar ke pesantrenya ada sopir yang mengantar!" lanjut Baba lagi.


"Ya Ba!" jawab Adip patuh saja


Jingga yang tidak tahu, hanya memperhatikan lalu menatap wajah Adip dengan kerlingan mata tanda tanya.


"Ini mau ada apa sih?" tanya Jingga polos.


"Pletak!" Adip pun menyentil kening Jingga. Nggak tahu orang lain sibuk mikirin kepentingan Jingga malah Jingga nggak tahu apa- apa.


"Tanya baik- baik juga! Sukanya mukul!!" tutur Jingga kesal dan balas mencubit lengan Adip.


Adip bukan mengaduh tapi malah ketawa. "Kalau mau pegang- pegang ngomong aja. Nggak usah cubit- cubit, gitu," gurau Adip ke Jingga.


Dari awal ketemu sampai sekarang tidak ada yang berubah. "Dasar Jingga oon dan bawel!" batin Adip.


"Iiiiih. Malah ketawa!" omel Jingga lagi. "Abah Umi? Bapak Mamak? Siapa? Kan kita mau pulang ke rumahku kan? Kosan kamu ada di dekat kampus kan, Bang?"


"Kamu ikut yah, nanti kamu kenal sama mereka!" jawab Adip ingin mengenalkan orang tua asuhnya ke Jingga.


"Ih ogah!" jawab Jingga spontan belum tahu siapa mereka.


Jingga tahunya pas ditanya, berdasar jawaban Adip dan teman-temanya, Adip sebatang kara, tempat tinggalnya juga nggak menetap.


"Plethak!" Adip sentil kening Jingga lagi untuk kesekian kalinya dengan tatapan kesalnya.


"Iiih apa sih! Mukul lagi. Kamu kan yang pengen pegang- pegang aku!" balas Jingga.


Padahal dua- duanya sama- sama ingin pegang- pegangan.


"Kamu keterlaluan! Istri apaan sih?"


"Keterlaluan gimana?"


"Ya udah kalau kamu nggak mau nemuin mereka. Buat apa Bang Adip capek- capek ikut kalian. Dah Abang balik aja!" tutur Adip ngambek, sok- sokan mau bangun.


"Ih ya jangan atulah!" jawab Jingga menarik tangan Adip dengan mata centilnya.


"Abis kamu gitu, katanya jadi mau jadi istri Abang? Ke rumah Mamak saja nggak mau?"


"Abah Umi itu siapa? Bapak Mamak itu siapa? Jelasin makanya yang jelas!"


"Ingat mobil merah waktu itu?" tanya Adip mengingat pertama mereka bertemu.


"Hmmmm!"


Tentu saja ingat. Jingga pun jadi tersipu. Betapa bodohnya Jingga saat itu, sampai sekarang juga masih sih.


"Kita ke desa itu. Kita temuin Bapak Mamakku," tutur Adip.


"Wuah. Kamu masih punya orang tua?" pekik Jingga malah raut wajahnya kecewa.


"Kenapa?" tanya Adip.


"Yaah!" keluh Jingga mulutnya manyun dan matanya redup.


"Kok yah?" tanya Adip heran. Harusnya kan Jingga bahagia Adip punya keluarga.


"Bukanya katanya kamu udah sebatang kara?" tanya Jingga lagi.


"Ehm... ehm...," dehem Adip dengan mata nakal dan ingin menghakimi Jingga dan mulai harus kasih pelajaran nih ke Jingga.


"Maksudnya apa nih? Kamu lebih suka aku sebatang kara? Gitu?" tanya Adip tersinggung.


"Huum!" jawab Jingga polos tanpa ada rasa salah.


"Haiiissssh!" desis Adip gemes hanya bisa mengepalkan tangan tapi tidak berani mukul.

__ADS_1


Jingga pun hanya menyeringai.


"Kenapa kamu ingin aku sebatang kara aja?" tanya Adip.


"Ya enak aja gitu. Aku jadi pemilikmu satu- satunya! Nggak ada saingan!" jawab Jingga kembali mengeluarkan kerlingan mata centil dan agresif.


"Yakin hanya itu?" tanya Adip curiga.


"Emmm... banyak sih!" jawab Jingga cengir.


Adip mengulum lidahnya dengan tatapan nakal dan mengangguk. "Terus apa lagi?"


"Harus ya disebutin?" tanya Jingga.


"Ya lah!"


"Hehehehe," gantian Jingga malah tertawa.


"Kenapa kamu lebih suka aku setang kara?" tanya Adip lagi.


"Mertua itu kan comel, cerewet, suka nyuruh lagi!" jawab Jingga jujur lagi.


"Huuu dasar kamu!" jawab Adip, kali ini tanganya tidak bisa ditahan buat memencet pipi Jingga.


Jingga menjerit kegelian, dan berusaha menghindar tapi Adip tetap memencetnya sehingga anak buah Baba Ardi jadi menoleh, semua juga termasuk Baba dan Amer. Pokoknya dunia serasa milik berdua. Jingga tertawa dan menjerit sesukanya.


Amer pun menyindir.


"Nggak bisa sabaran dikit apa, sweet sweetannya nunggu sampai rumah, di kamar aja!" sindir Amer.


"Iya jangan berisik, Baba mau tidur bentar lagi berangkat!" imbuh Baba ikut marahin Jingga.


Adip pun menarik tanganya.


"Hiish pada sirik semua," cibir Jingga.


Sementara Adip hanya diam karena malu. Untung di pesawat pribadi jadi tidak dimarahi. Jingga kemudian meninggikan pembatas biar nggak keganggu.


Pegawai Baba memberi instruksi pesawat akan segera berangkat. Semua pun berdoa. Pesawat tiba- tiba hening. Jingga pun usil lagi lirik- lirik Adip yang tiba- tiba diam melihat langit.


"Marah ya!" sindir Jingga.


"Iyah!" jawab Adip pura- pura.


"Jangan marah atulah!" rayu- rayu Jingga lalu menghadap Adip dan dengan berani mengambil tangan Adip.


Adip menelan ludahnya lalu memperhatikan tangan Jingga yang mengambil tanganya. Padahal Jingga hanya menyentuh tangan Adip, tapi tiba-tiba Adip jadi panas dingin, ditatapnya Jingga yang sedang nyengir manja.


"He.... emang kamu masih punya orang tua ya? Cerita dong! Yang banyak!" tanya Jingga.


"Kamu katanya suka aku sebatang kara kok. Kamu nggak sayang ke orang tuaku. Huh!" jawab Adip pura- pura ngambek padahal Adip menahan panas dingin karena Jingga sangat centil dan agresif, coba kalau di hotel kaya tadi, Adip lansung eksekusi, tapi kan sekarang di pesawat ada Baba, Amer dan yang lain, kan Adip jadi tersiksa.


"Ishhh... ya bukan gitu," jawab Jingga mengeluarkan jurus sok polos dan merendahkan suaranya, karena takut menyinggung.


"Kalau kenyataanya emang masih ada orang tua. Jingga akan jadi menantu yang berbakti kok. He...," rayu Jingga lagi.


Adip kemudian menatap Jingga dengan tatapan ragu dan tengilnya ingin balas mengerjai Jingga.


"Ehm... yakin mau jadi menantu yang berbakti?"


"Huum!" jawab Jingga sok imut lagi. "Demi kamu!" imbuh Jingga merayu.


"Sungguh?" tantang Adip lagi malah ingin meledek Jingga.


Adip kan tahu Jingga tipe menantu pemalas. Tidak bisa melakukan apapun lagi.


"Sungguh!"


"Janji?" lanjut Adip masih ingin meledek Jingga.


"Haish. Pakai Janji segala!" jawab Jingga akhirnya kesal dan memukul tangan Adip lagi dari tadi nggak cerita malah Adip ngledekin Jingga terus.


"Auhh," keluh Adip memegang tanganya yang dipukul Jingga. Tapi Adip senang melihat ekspresi Jingga yang manyun.


"Jangan- jangan orang tuamu beneran bawel ya? Disuruh cerita juga," cibir Jingga kesal.


Adip sangat suka ngledek Jingga. Abis Jingganya centil, kalau diledek juga mudah cemberut.


"Iya bawel. Bawel banget!" lanjut Adip lagi.


"Kok gitu?"


"Iya beneran. Kalau mau jadi istri aku harus memenuhi syarat! Dan ada ospeknya?"


"Huh. Benarkah? Emang seperti apa?"


"Ya nanti deh tau sendiri!" jawab adip.


"Kasih tau! Biar aku siap- siap!"


"Nanti tau sendiri. Nggak serulah kalau dikasih tau!"


"Aih kasih tahulah!"

__ADS_1


"Nanti lah!"


"Apa aku akan disuruh masak kalau ke rumahmu? Duh...?" keluh Jingga menebak? Jingga kan nggak bisa masak.


"Di rumahmu kayak di desa Teras apa udah modern? Aku boleh bangun siang nggak? Udah ada sanyo kan? Kita akan tidur bersama kan? Orang taumu petani atau bukan? Aku nggak disuruh ke ladang kan? Aaah kasih tau!" lanjut Jingga mulai kambuh penyakit paranoidnya.


Adip pun tertawa kekel sambil menahan suaranya agar tidak meledak.


Jingga melirik ke Babanya dan yang lain yang rupanya memejamkan mata. Merasa aman, Jingga pun gemas kali ini mencubit perut Adip sekuatnya, karena kesal.


"Aaauuh Sayang. Jangan pukul perut! Sakit beneran!" keluh Adip lagi kali ini juga dengan suara agak keras.


"Ya abisnya kamu gitu! Susah banget suruh cerita dan kasih tau!" omel Jingga.


"Nggak! Nggak! Orang tuaku baik kok. Baik semua!"


"Yakin?"


"Yakinlah!"


"Ya udah ceritain!"


"Kamu benar, aku sebatang kara kok. Tapi aku punya Bapak Mamak yang rawat aku kecil. Aku juga punya Abah sama Umi, yang ajarin aku ngaji! Kamu harus ketemu sama mereka yah!" tutur Adip kali ini serius.


Jingga pun mendengarkan dengan wajah manis dan mengangguk patuh. Adip pun tersenyum dan mengusap pipi Jingga. Kalau lagi kalem begitu, Jingga sangat manis dan anggun.


"Kalau orang tua kandung kamu gimana?" tanya Jingga kemudian. Selama ini Adip menghindar kalau ditanya.


Kali ini pun Adip diam, seperti berat kalau ingat. Jingga jadi diam lagi.


"Bapakku meninggal dibunuh!" jawab Adip kemudian.


"Dibunuh?" tanya Jingga.


"Iya... di pulau Panorama!" lanjut Adip lagi.


"Hoh!" pekik Jingga kaget.


"Bapakku seorang Tentara! Dia lagi tugas jaga!" lanjut Adip kali ini tidak berani menatap Jingga.


"Maaf!" ucap Jingga takut membuat Adip sedih.


"Aku yang minta maaf. Kamu perlu tahu siapa mertuamu!"


"Ibumu? Saudaramu?" tanya Jingga.


"Ibuku meninggal karena sakit bersama adikku. Sepeninggal Bapak, kami hidup miskin,"


"Ooh gitu. Sabar yah!" tutur Jingga meraih tangan Adip memberi dukungan.


Adip pun mengangguk.


"Apa kamu tidak masalah menikah dengan laki- laki miskin sepertiku?" tanya Adip serius.


"Tidak. Aku kan kaya!" jawab Jingga dengan polosnya, sebenarnya sombong tapi ekspresinya centil, yang tadinya Adip mau melow jadi gatal lagi.


"Oke, yah. Anggaplah aku beruntung menikahi wanita kaya!" jawab Adip lagi.


"Hehehehe. Ya iya makanya, kamu jangan macam'- macam sama aku. Apalagi berani centil- centil dan selingkuh. Habis kamu!" jawab Jingga malah mulai bergaya, sambil mempraktekan memenggal leher Adip.


"Haiiishh mulai lagi. Siapa juga selingkuh. Lagian di pulau panorama aku mau selingkuh sama siapa?"


"Ya kali!"


"Kan kamu tahu sendiri anak lulus SD udah pada nikah!"


"Yaya! Pokoknya habis lah kamu kalau macam- macam!" jawab Jingga mengancam lagi.


Tiba- tiba.


"Bug!"


Sebuah bantal terjatuh mengenai mereka berdua yang asik mengobrol.


Jingga pun menoleh ke arah datangnya bantal.


"Baba....!" pekik Jingga. Ternyata Baba belum tidur.


Babanya iseng banget gangguin anaknya yang lagi ngobrol.


"Diusuruh diam. Berisik! Perjalanan itu diam. Doa! Biar selamat!" omel Baba tidak bisa tidur karena ternyata daritadi nguping. Padahal yang lain menyalakan headset


"Hummm.yaya!" jawab Jingga mencibir.


Adip hanya menelan ludahnya ternyata daritadi ada yang nguping. Adip dan Jingga juga kelepasan intonasi suaranya tidak dikontrol.


"Ya udah kita tidur yuuk!" jawab Adip berbisik.


*****


Ya udah karena visualnya nggak cocok nggak usah kasih ya.


Tapi intinta tuh bayangan Jingga dan Adip tuh gemes2 centil sweet gimana gitu mereka.

__ADS_1


Jingganya centil, agresif tapi oon.


Kalau si Adip banyak tenangnya tapi kalau ke Jingga juga gemas2 cinta gitu. Hahaha


__ADS_2