Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
60 Penasaran.


__ADS_3

Sebagai dosen tamu dan pemateri. Setelah menemui Jingga tadi, Pak Rendi menyiapkan materi untuk mahasiswanya. Setelah itu bercengkerama dengan beberapa pemateri lain. Jadi Pak Rendi tidak lagi mengawasi Jingga. 


Pak Rendi sendiri saat mengetahui Jingga berteman dengan Uti dan Tari sedikit lega. Bagi Pak Rendi berteman dengan mereka berdua lebih baik daripada berteman dengan Faya dan yang lain. 


Begitu Oma dan Buna menanyakan perihal event yang akan diikuti Jingga Pak Rendi juga sedikit syok, gadis manja incaranya itu ternyata ada ketertarikan dengan kegiatan seperti itu. Pak Rendi berfikir itu semua adalah salah satu dampak baik dari Jingga berteman dengan Uti dan Tari. 


Pak Rendi berfikir, Jingga akan menjadi istri yang tidak manja lagi nanti saat dirinya mendapatkan pengalaman hidup di luar istananya Babanya. Itulah sebabnya, Pak Rendi ikut membantu meyakinkan Baba Ardi dan Buna Alya. 


Pak Rendi hanya memeriksa administrasi dari kawanya, jika pembagian daerah Jingga tempat mengabdi adalah daerah aman. Kelompok kerja Jinga juga semua perempuan. Tidak ada kekhawatiran bagi Pak Rendi. Selama beberapa angkatan, alumni dari event ruang inspirasi ini juga selalu berdampak baik bagi masyarakat ataupun bagi mahasiswa yang menghabiskan liburanya dengan kegiatan bermanfaat, bukan menghabiskan uang. 


“Huuft!” Pak Rendi menghela nafas dan meregangkan tanganya. Power poiny materinya selesai di buat. 


Pak Rendi melirik ponselnya. Pak Rendi tersenyum lega melihat ada pesan dari Jingga. Jingga mengirim screenshoot, bahwa dirinya sudah memutus hubungan dengan Tama dan mengakui Pak Rendi adalah pria pilihan Babanya. 


“Bagus., Anak baik! Percayalah kamu kan jadi miliku!” batin Pak Rendi tenang dan percaya diri. 


Bagi pria semapan dan sematang Pak Rendi sangat yakin, jika sudah mengantongi restu orang tua akan sangat mudah mendapatkan seseorang perempuan menjadi istrinya. Toh cinta kan akan datang sejalan beriringnya waktu. 


Pak Rendi pun mengirim pesan balasan ke Jingga. 


“Terima kasih calon istri, jadilah istri solekhah ya!” ketik Pak Rendi ke Jingga. 


Setelah itu Pak Rendi membereskan laptopnya dan menuju ranjangnya beristirahat. 


**** 


“Iyuh....” batin Jingga membaca pesan Pak Rendi. 


“GR an banget dia , aku kan kirim bukti itu biar dia nggak aduin ke Baba, bukan biar jadi istrinya. Dasar!” batin Jingga. 


Jingga memilih tidur di ranjang tingkat paling bawah, sementara Unti dan Tari di atasnya. Suasana sangat sepi karena ternyata Uti dan Tari sudah tidur. 


Jingga memejamkan matanya tapi tidak bisa tidur. Apa yang Jingga temui benar- benar mengganggunya. Jingga sangat ingin membuktikan Adip adalah si pria tukang ojek dan si Veteriner yang Bunga ceritakan. 


“Waktu di sini dan waktu di tempat Buna kan ada jarak 1 jam ya? Bunga masih terjaga berarti. Ku telpon Bunga aja ah!” batin Jingga mempunya ide. 


Jingga kemudian menelpon sepupunya itu dan menanyainya. 


“Iya, Kak! Namanya Bang Adip. Tapi Bunga nggak punya fotonya. Emang kenapa sih Kak Jingga nanyain? Kemarin aja suruh nemuin nggak mau!” jawab Bunga di seberang sana. 

__ADS_1


“Hemmm. Kamu punya nomernya nggak? Kak Jingga minta dong!” jawab Jingga. 


“Kak Jingga nggak salah nanyain nomer ponsel cowok? Kak Jingga kan punya pacar!” 


“Ish kamu anak kecil, kak Jingga kan Cuma mau tanya sesuatu. Minta nomor kan nggak selalu negatif. Lagian Kak Jingga udah putus, sama pacar kakak!” jawab Jingga.


“Oh... oh ya kakak katanya sekarang di luar pulau, gimana Kak? Asik?” tanya Bunga malah ngelantur. 


“Eh kamu punya nggak nomernya? Si veteriner itu? Kak Jingga minta!” 


“Bunga nggak punya, tadi pagi ponsel Jingga ke reset. Tanya Kak Amer aja Kak!” jawab Bunga. 


“Kok Amer?” 


“Iya. Dia telponanya sama kak Amer!” jawab Bunga. 


“Oke makasih!” 


Jingga menutup telponya dan mengakhiri pembicaraanya dengan sepupunya. Sejenak Jingga diam, ini sungguh di luar dugaanya. Kalau si tukang ojek dan si idola Tari bener Adip yang dimaksud Bunga ternyata kenal dengan adik kandungnya Jingga. Waah minta dikepret itu si tukang ojek. 


Jinga kemudian menghubungi adik kandungnya yang sedang kuliah di luar negeri itu. Kebetulan Amer adalah adik Jingga yang rasa kakak. Amer lebih dewasa pemikiranya dibanding Jingga, bahkan bagi Jingga untuk beberapa hal Amer lebih bijak dari Baba Ardi. 


Anak hasil didikan Buna Alya memang mantul. Produk gagalnya justru di anak pertama si Jingga sendiri. Jingga anak tertua, tapi paling manja, paling tidak sesuai keinginanya dengan orang tuanya. 


“Kak, kata Baba, Kak Jingg mau nikah ya?” tanya Amer malah mengalihkan pembicaraan saat Jingga tanya kabar dan tanya nomer Adip. 


“Ish apaan sih? Nggak!” 


“Kok nggak sih? Kata Baba gitu!” jawab Amer. 


“Kak Jingga nggak sudak Amer! Bantu Kak Jingga makanya biar, Baba dan Buna berubah pikiran!” jawab Jingga. 


“Yah , Amer nggak jadi otewe jadi Om ganteng cepet dong!” jawab Amer. 


“Woy apa woy!” terdengar si Ikun ikut menimpali percakapan kedua kakaknya. Ikun terlihat sedang aktif bermain ponsel. 


“Dasar kalian. Bantu kakak dong makanya!” 


“Ya, Amer kan harus ketemu dulu sama Baba dan calon pilihan Baba Kak!” jawab Amer. 

__ADS_1


“Tapi bener ya , bantu Kakak buat gagalin!” ucap Jingga lagi. 


“Buat Kaka Amer yang cantik, Amer akan lakuin apapun tapi ada syaratnya!” 


“Apa?”


“Bantu Amer juga biar diijinin pelihara kucing lagi kalau pulang ke rumah!” jawab Amer meminta. 


“Ish!” jawab Jingga mendesis. 


Baba Ardi kan alergi kucing. Menakhlukan Baba Ardi untuk bisa suka dengan kucing sama susahnya dengan mematahkan keinginan Baba. 


“Deal nggak?” tanya Amer. 


“Ya!” jawab Jingga. 


“Kak Jingga telpon Amer untuk tanya ini doang?” tanya Amer. 


“Bukan!” jawab Jingga. 


“Apalagi?” 


“Kata Bunga kamu temenan sama Veteriner yang namanya Adip?” tanya Jingga. 


“Iyah, kenapa? Kakak sekarang udah mulai suka kucing?” tanya Amer menebak. 


“Bukan! Kaka mau minta nomer ponsel dia!” jawab Jingga. 


“Untuk apa? Kaka kenal? Sejak kapan kaka suka hewan?” tanya Amer lagi. 


“Minta aja, kepo banget sih!” jawab Jingga. 


“Yaya!” jawab Amer. 


Malam itu pun Jingga mendapatkan nomer ponsel Adip. Jingga berharap Jingga bisa lihat foto profilnya. Jingga juga ingin membuktikan kesamaanya dan kebeenaranya. Sama nggak dengan nomor ponsel di aplikasi ojek online nya. 


“Kok beda!” batin Jingga kecewa. 


“Apa iya ada orang yang kembar nama dan wajah? Nggak deh, aku nggak salah!” batin Jingga masih tidak terima kalau penilaianya salah. 

__ADS_1


“Besok gue miscall aja kali dia depanku. Aku harus cari dia!” batin Jingga nekat. 


Meski status kepetingan dan jabatan mereka sama. Tapi karena mereka akan sama- sama pergi ke pulau P. Mereka akan diberi pembekalan yang sama. Jadi Jingga bisa cari dan temui Adip lagi dan pastikan kebenarnya. Tentunya menunggu Pak Rendi balik ke Ibukota. 


__ADS_2