
“Iya sama Iyu hari ini diantar Kak Nila sama Mbak ya!” tutur Buna lembut ke kedua anak kembarnya yang hendak pergi ke sekolah.
“Memang Buna kenapa nggak antar?” tanya Biru.
“Buna sam Baba mau ke rumah sakit, Sayang. Buna mau tengokin adik kalian!” jawab Buna lagi dengan tersenyum.
Dua anak kembar itu kemudian mengangguk mengerti.
“Kalian nggak mau ya sama Kakak?” tanya Nila lembut keluar dari kamarnya menenteng tas sambil memanyunkan bibirnya.
“Mau Kak!” jawab Iya sama Iyu kemudian berjalan menyambut miniatur Bunanya itu.
“Sekolahnya sama Kak Nila ya!” tutur Buna lembut.
“Iya Bun!” jawab kedua anak kembar aktif itu.
“Patuh sama Kak Nila, belajar yang baik ya! Salim dulu sama Baba!” ucap Buna lagi mengelus kepala kedua buah hati nya.
Baba Ardi yang sedang menelpon seseorang mendengar langkah ketiga buah hatinya pun segera mematikan ponselnya, mengulurkan tangan memberikan kesempatan putra putrinya berbakti padanya.
“Nila berangkat ya Ba, Bun!” pamit Nila sopan ikut mencium tangan Baba dan Bunanya.
“Anak Buna sudah besar- besar!” gumam Buna mengomentari Nila yang berjalan menjauh dari dirinya.
Nila terlihat sangat anggun dengan balutan gamis cantiknya. Seorang remaja putri yang 2 tahun terakhir ini resmi akhil baligh setelah mendapatkan menstruasi dan tahun ini akan masuk SMA.
Meski berbeda, tapi Nila tidak kalah cantik dari Jingga. Nila tampak sangat manis dan imut. Nila juga sangat santun dan lembut, meski lebih muda, bahkan pembawaan Nila lebid dewasa dari Jingga.
“Mereka semua kebanggan Baba, Bun!” jawab Baba merangkul bahu istrinya. Baba juga mencium puncak kepala Buna dan menurunkan tanganya mengelus perut Buna.
“Kalau besar nanti, jadilah seperti kakak Nila jangan seperti Kak Jingga ya Nak!” ucap Baba Ardi iseng dan nakal membuat Buna marah dan tersinggung. Buna pun langsung memukul tangan Baba, dan menghentikan tanganya.
“Plak! Baba Ih!”
Baba berhenti dan menatap istri manisnya.
“Kok Baba bandingin Nila sam Jingga? Mereka anak Buna semua, anak kita semua juga. Terus emang Baba tahu anak kita yang terakhir ini perempuan?” tanya Buna.
“Firasat Baba begitu!” jawab Baba dengan bangganya.
“Tapi nggak juga bandingin anak Ba! Buna nggak suka!”
“Baba hanya berdoa Bun, Baba tuh pengen anak kita tuh nurut sama Baba, nggak bikin Baba khawatir! Baba marah sama Jingga!” jawab Baba membela diri.
__ADS_1
“Jingga nurut Ba, Jingga hanya ingin nemuin jatidirinya!”
“Udah nggak usah berdebat, ayok berangkat!” jawab Baba tidak mau kalah.
Di saat yang bersamaan, Baba melangkah keluar, putri mereka kembali.
“Apa yang ketinggalan Sayang?” tanya Buna.
“Ada tamu Bun!” jawab Nila.
“Siapa?”
“Itu di depan, pria tampan bareng bapak ibunya!” tutur Nila tersipu.
Baba dan Buna saling pandang lalu berjalan memeriksa, dan mengintip ternyata clon besan. Ardi pun langsung menyunggingkan senyum bahagia dan ramah. Buna dan Nila di belakang.
“Mereka siapa Bun?” bisik Nila.
“Laki- laki yang Baba pilihkan untuk Kak Jingga!” jawab Buna memberitahu.
“Oh, ganteng Bun!” ceplos Nila jujur,
“Ish, anak Buna udah paham orang ganteng?” tanya Buna meledekputrinya, ternyata Nila juga sudah dewasa.
“Ya. Hati – hati!” jawab Buna.
Nila pun berangkat dan melewati ruang dimana Rendi dan orang tuanya berada. Nila pun berpamitan dengan sopan kepada Baba dan tamunya. Orang tua Rendi pun menyambutnya dengan ramah dan bahagia.
“Manis sekali, kalau boleh tau? siapa gadis tadi, Tuan?” celetuk Ummy Rendi suka melihat Nila.
“Dia adik Jingga, Ustadzah!” jawab Bunda Alya ramah.
“Oh adiknya?”
“Iya?”
“Kenapa sangat berbeda?” tanya Ummy Rendi lagi sehingga membuat Buna Alya sedikit tersinggung.
“Ehm!” Buna pun berdehem bingung mau jawab apa.
“Maaf, maksud saya, Nyonya Alya berhijab, Adiknya Nila juga iya, kenapa Jingga calon mantu saya belum?”
“Ummi!” pekik Rendi lirih menyenggol kaki ibunya, bagi Rendi pertanyaan ibunya tidak penting ditanyakan.
__ADS_1
“Insya Alloh setelah menikah, anak kami akan memakainya!” jawab Baba Ardi sedikit meninggi juga.
“Aamiin, semoga begitu!” jawab Ibu Rendi.
Setelah percakapan itu, Ayah Rendi menyampaikan kedatanganya. Keluarga Rendi memberikan oleh- oleh dari kampung karena ayah Rendi baru tiba. Ayah Rendi datang juga ingin membicarakan kelanjutan perjodohan anak mereka.
Baba Ardi yang memang ingin segera menikahkan putrinya pun menyambutnya dengan bahagia. Mereka pun membuat jadwal untuk membahas keseriusan itu.
“Lusa kami kembali ke kampung, tidak baik meninggalkan Pesantren terlalu lama!” ucap Ayah Rendi.
“Oh begitu? Kalau bagitu, bagaimana jika nanti malam kita makan malam di kafe Berlian!” jawab Baba Ardi.
“Ya!” jawab Ayah Rendi.
Mereka melihat Buna yang meneneng tas pun menanyai agenda Buna, setelah dijawab mereka hendak ke rumah sakit. Orang tua Rendi pun berpamitan.
Buna dan Baba mengantarkan tamunya ke depan setelah itu ikut pergi ke rumah sakit. Sepanjang jalan Buna diam dan kesal mengingat pertanyaan calon besanya, sementara Baba Ardi tampak tersenyum lebar merencakan sesuatu.
Walau Nila dan Jingga sama- sama anak Buna, tetap saja Buna sakit kalau salah satu di antaranya dijelekan. Jingga memang salah tidak menutup auratnya, tapi lebih dari itu, Jingga anak yang baik. Jingga juga tidak pernah neko- neko. Buna juga membesarkan Jingga dengan penuh cinta.
Jingga terbiasa belum menutup auratnya juga karena sewaktu kecil terlalu dimanjakan Oma Opanya. Oma Rita sebelum Opa meninggal juga tidak berhijab. Itulah sebabnya Jingga merasa dirinya bebas menentukan kapan dirinya akan memutuskan mengenakan penutup aurat itu.
“Buna punya tanggal cantik untuk pernikahan Jingga nggak Bun?” tanya Baba Ardi percaya diri.
“Baba apaan sih? Jingga belum pulang Ba, yang mau menikah kan Jingga, tanya Jingga dulu!” jawab Buna.
“Baba akan kirimkan seseorang untuk jemput Jingga Bun!”
“Biarkan Jingga melakukan apa yang Jingga mau Ba!”
“Baba sudah banyak membiarkan Jingga melakukan apa yang Jingga mau. Baba akan berdosa membiarkan anak perempuan Baba begitu, Buna dengar sendiri kan? Nila dan Jingga berbeda. Baba berharap Jingga akan patuh pada Rendi nanti!” jawab Baba.
“Baba... apa yang salah dengan Jingga Ba? Buna ada orang jelek- jelekin anak Buna begitu!”
“Bun, siapa yang jelekin anak Baba? Baba hanya ingin yang terbaik untuk anak kita, Baba akan menanggung dosa kalau sampai Jingga salah jalan Bun,” tutur Baba Ardi mengeluarkan unek- unek dan prinsipnya. Sebenarnya benar kata Baba, meski Buna kesal, Buna pun diam.
“Baba akan tenang kalau Jingga kesayangan kita sudah berada dalam pengawasan orang yang tepat, Bun! Yang membimbing Jingga dunia dan akhirat, yaitu nak Rendi dan keluarganya!” tutur Baba lagi.
“Tapi Buna nggak suka anak kita dibandingin!”
“Orang tua Rendi tidak bermaksud bandingin, Nila juga anak kita, nyatanya mereka menerima Jingga dan siap membimbingnya, Baba malah seneng Bun!” jawab Baba lagi.
“Hhh...!” terserah Baba, tapi jangan sakiti Jingga.
__ADS_1
“Baba yakin, Jingga itu kaya Buna. Awalnya aja nolak, nanti setelah terbiasa, dan Rendi memperlakukanya dengan baik, Jingga pasti bisa mencintai suaminya dengan baik!”