
Adip terkekeh saat Jingga meminta pulang kerumah oraang tuanya, tapi Adip masih ingin di rumah kecilnya.
“Kenapa tertawa, Bang? Udah sampai sini kenapa harus balik lagi?” tanya Jingga.
“Itu rumsh, Bang Adip lho, Yang!” jawab Adip lagi, membrri kode Ingin merasakan rasanya tidur bersama istrinya di rumah sendiri.
Rumah Adip itu memang baru jadi di akhir kuliahnya, bahkan Emak dan Bapak juga belum tahu. Belum sepenuhnya jadi juga.
“Iya.. Jingga tahu,” jawab Jingga polos.
Jingga malah kepikiran ke Baba dan Bunanya, Jingga tidak sabar cerita dan memberitahu betapa hebat suaminya. Jingga juga ingin cari dukungan ke Baba dan Bunanya agar cegah mereka LDRan.
“Nggak suka yah? Makanya pengen cepat- cepat pulang ke Baba? Maaf kalau rumah Abang tak sebagus rumah Baba,” tanya Adip tersinggung.
“Bukan Bang!”
“Terus?”
“Ya kan ke nemuin orang tua lebih penting dan utama, kasih kabar ke mereka, Bang,” jawab Jingga.
“Tapi, manunaikan hak suami itu juga lebih utama daripada ke orang tua, setelah menikah, Sayang!” jawab Adip lagi menuntut. Mendengar itu Jingga melotot.
"Hak suami?" tanya Jingga.
"Iyah!"
“Lhah emang, Abang ingin, apa? Kan kita udah bareng terus Bang! Hak Abang apalagi yang belum, Jingga tunaikan?” jawab Jingga.
“Ehm... ehm...” Adip pun berdehem memberi kode. “Katanya di rumah sendiri itu lebih leluasa dan lebih nyaman, Sayang!” tutur Adip berusaha memperjelas.
“Ha?” pekik Jingga mengernyit. Jingga merasa sudah mematuh Adip, tapi masih belum paham kalau suaminya punya semangat membara. Entahlah mereka kan udah berhasil 2 kali kenapa Jingga belum mudeng.
“Iya.. di rumah sendiri lebih nyaman, Abang pengen rasain di rumah,” jawab Adip lagi khayalan nya sudah banyak dan tinggi.
“Ya Jingga juga setuju rumah sendiri pasti lebih nyaman,” jawab Jingga.
“Ya udah ayok ke rumah dulu!” jawab Adip lagi.
“Terus kita bolak balik ke rumah Baba?” tanya Jingga masih belum mudeng.
Mereka kan masih di salah satu mall abis beli handphone. Bukan handphone mahal, hanya android harga 2 jutaan.
Mall itu berada di arah jalan rumah Adip menuju rumah Baba, memang masih dekat dengan rumah Adip, tapi kalau ke rumah Baba tinggal lurus, kalau pulang balik dulu.
Mall ke rumah Adip perjalana normal 20 menit, kalau macet bisa sampai satu jam. Jingga kan nggak mau buang waktu.
“Iih nggak mudeng- mudheng sih, abang pengen lagi,” seru Adip kesal.
“Ups,” Jingga reflek menutup mulut Adip, “Jangan keras- keras malu,” bisik Jingga.
“Pingin itu?” tanya Jingga mengernyit mengkode dengan tangan menunjukan isyarat penyatuan.
Adip pun menangguk, "Iyah, Abang pengen lagi," lalu menoleh ke Jingga dan membelai pipinya.
“Kita semalam udah dua kali Bang,” jawab Jingga.
“Kamu nggak mau lagi?” tanya Adip lagi dengan muka betenya.
“Ya mau,” jawab Jingga tersipu dan menunduk.
“Ya udah ayok! Pulang dulu,”
“Di rumah Baba dulu aja, Bang. Bukan Jingga nggak suka rumah Bang Adip. Di sana banyak karyawan Bang Adip, Bang! Jinngga kan tadi belum kenal bener, Jingga malu. Ini juga kalau balik, pasti macet. Ke rumah Baba dulu, aja!” jawab Jingga ngotot nawar.
Adip menghela nafas dan berdecih kesal tapi masa mau berantem di mall gara- gara ingin begituan.
“kenapa tadi nggak kenalan dulu?” jawab Adip menyayangkan.
“Kan Bang Adip juga ajak Jingga buru- buru masuk ke kamar,”
“Abang kan pengen kasih kamu kejutan,”
“Jingga seneng Bang. Jingga suka, tapi..,”
“Tapi apa?”
“Pokoknya Jingga mau ke rumah Baba dulu!” jawab Jingga.
“Kalau di rumah kamu, nanti kita lama ngobrol. Nggak enak kan kita berduaan di kamar terus,” jawab Adip beralasan.
“Nggak!”
“Kalau diganggu adik- adik kamu?”
“Nggak, kamar Jingga luas Bang, kita bisa sepuasnya, Abang mau Jingga pakai baju apa aja, Jingga juga punya sesuatu, dari Oma,” ucap Jingga lagi.
Mereka berdua malah berantem masalah tempat dimana mereka ingin menunaikan keinginanya. Jika Adip berfikir ingin segera tersalurkan, Jingga berfikir mempersembahkan yang terbaik.
Setelah berdebat dan Jingga mengatakan punya sesuatu dan pakai baju apa saja, Adip sedikit melonggar. Asik juga kalau liat Jingga pakai pakaian seksi.
“Emang baju apa?” tanya Adip, jadi penasaran.
“Ya Pokoknya kita pulang ke Baba, dulu!” jawab Jingga.
Akhirnya Adip pun mengangguk, mereka kemudian membelah kemacetan menuju rumah Baba.
Mereka masih dengan menggunakan motor NMAX, kendaraan Adip yang sesungguhnya yang membersamai kuliah dan ngojeknya. Di motor Adip, banyak Adip kasih stiker hewan lucu- lucu.
“Pegangan yang kenceng ya, Sayang!” ucap Adip menarik gasnya.
“Iyaah,” jawab Jingga setuju dan memeluk Adip erat. Tapi Jingga peluk bagian perut atasnya, tidak seperti semalam.
__ADS_1
“Kok nggak pegang bawah lagi seperti semalam, Sayang?” tanya Adip meledek Jingga.
“Nanti Bang Adip kaya semalam lagi, berhenti minta jatah, kan ini siang, nggak ada gubug!” jawab Jingga beralasan. Geli sendiri ingat kelakuan mereka.
“Tapi kan samping kanan kiri kita banyak hotel, Sayang, tinggal turun!” gurau Adip lagi.
“Nggak, Jingga pengen di kamar Jingga, biar istimewa,” jawab Jingga lagi.
Adip pun tesenyum, membayangkan entah kejutan apa yang nanti Jingga beri saat sudah sampai di rumah Baba.
“Oke,” jawab Adip.
Jingga pun mengeratkan pelukanya bahkan menyandarkan kepalanya pada Adip.
Kini Jingga mulai merasakan sisi keistimewaan naij motor dibanding naik mobil. Naik motor, Jingga bisa memeluk suaminya sepanjang jalan. Merasakan angin alami yang menyegarkan, meski terkena terik tapi itu tak begitu terasa. Keuntunyanya lagi, mereka bisa merasakan sensasi motor nyelap nyelip ke sela- sela mobil, naik mobil maah penuh dengan mengulur sabarm
Adip yang memang tanganya masih dibalut perban, hanya satu yang sehat jadi loss tang, tangan yang dijahit dia gerakan menepuk tangan Jingga lembut.
“Dulu pas ngojek kenapa nggak mau pegangan, Sayang?” tanya Adip lagi iseng.
“Iiiihm nggak usah tanya- tanya dulu, malu!” jawab Jingga.
“Jawab aja, sama suami masa malu!”
“Ya... dulu kan kita belum kenal! Terus Abang ngesellin,” jawab Jingga manja.
“Kalau sekarang masih ngesellin nggak?” tanya Adip lagi.
“Udah ih, yang fokus naik motornya,” jawab Jingga malu mau bilang kalaus suaminya bukan ngesellin tapi nyenengin.
Adip hanya senyum-senyum sendiri. Mengendarai motornya melawan terik siang itu. Kesampaian juga berjodoh dengan pelanggan ojeknya
Sekitar 1 jaman mereka sampai di mansion Baba. Awalnya pak Satpam bingung ada tamu naik motor, setelah helm Jingga dibuka barulah pada paham.
Pegawai Baba pun dibuat saling berbisik, mantunya Baba bodoh, ada banyak mobil, malah kemana- mana bawa motor.
Jingga memibya Adip langsung masuk ke halaman tengah dekat dengan taman.
Iya dan Iyu pun bergegas keluar tatkla mendengar suara motor memasuki rumah pribadi mereka. Jarang- jarang ada motor, seringnya mobil.
“Kakaaak...,” seru mereka setelah Jingga turun dan melepas helmnya.
Jingga dan Adip tersenyum mengangguk.
"Haaii bocill. Kakak pulang," jawab Jingga.
Tapi lucunya, Iya dan Iyu berseru memanggil kakaknya, bukan kangen ke Jingga tapi tertarik dengan stiker Adip motor Adip. Sehingga pada saat Adip dan Jingga merentagkan tangan si kembar melewatinya.
“Ini gambar Shark...,” celetuk Iya.
“Giginya besar,” sahut Iyu.
“Iyaa... Iyuuu... kok mainan motor! Kamu nggak kangen sama Kakak?” tanya Jingga memekik.
Iya dan Iyu malah cengengesan. Si kembar ini kan dekatnya sama Nila, mereka kemudian berlari mengacuhkan Jingga lagi.
Adip yang melihatnya jadi tersenyum mengejek ke Jingga.
“Sepertinya adikmu tak menyukaimu, kasian deh dicuekin!” ledek Adip.
“Issshh kata siapa? Biasanya mereka nempel sama aku kok!” jawab Jingga tidak terima.
Mereka pun masuk ke dalam, Iya dan Iyu ternyata bermain diluar karena Buna dan Baba juga di rumah.
Mereka terlihat berjalan mengantar Om Dika, rupanya Om Dika masih di rumah Baba. Om Dika dan Tante Dinda tampak mau berangkat pulang ke kotanya.
“Jingga Adip?” pekik semuanya. “Kapan sampainya? Kok nggak bilang- bilang?” tanya Buna.
“Assalamu’alaikum, Ba.. Bun.Om Tante,” sapa Jingga dan Adip mendekat dan menyalami orang tuanya.
“Tangan Adip kenapa? Kaki Jingga kenapa?” tanya Buna langsung jeli melihat menantu dan anaknya terluka.
“Ehm...,” Adip berdehem.
“Kita abis kena musibah, Bun!” jawab Jingga.
“Musibah?” tanya Om Dika kaget. Sebagai Om yang lama tak bertemu kan sangat peduli.
“Iya Om,” jawab Adip.
“Duduk... sini duduk!” tutur Baba memerintah.
Mereka kemudian duduk di sofa berkumpul sesuai mau Baba.
“Ada apa? Ceritkan! Tanganmu kenpa?” tanya Baba tidak sabar.
“Rumah, Emak dan Bapak dibakar orang, Ba... Bun!” tutur Jingga memulai.
Jarena meeeka orang tua Jingga, Jingga ya g banyak speak up.
“What?” tanya semuanya kaget. "Dibakar?"
“Dibakar gimana? Keadaanya sekarang gimana? bapak sama Emak gimana?” tanya Baba langsung memberondong pertanyaan.
"Rumah Bapak tidak bisa diselamatkan Ba. Semua barang Banh Adip ma Jingga hangus!" jawab Jingga.
"Kok bisa?" tanya Baba lagi.
“Waktu Jingga sama Abang lagi mau ke kamar mandi, kita lihat ada 3 motor terparki di sberangjalan, kita pikir itu tamu tetangga. Ternyata pas kita lagi duduk di belakang rumah, kita dengar ada suara. Kita lihat mereka udah siram bensin ke rumah Bapak, Ba!” jawab Jingga bercerita lagi.
“Astaghfirulloh...,” pekik Buna dan Dokter Dinda.
__ADS_1
"Bajiguuurrrr... berani cari mati dia!" guma Baba mengepalkan tangan.
“Terus gimana? bapak sama Emak gimana?” tanya Om Dika.
“Bapak waktu itu sedang pergi ke acara selamatan kelahiran anak teman Bapak. Emaak? Emak sekarang di rumah sakit,” jawab Jingga lagi menunduk mengingat Emak.
“Ya ampun... tapi baik kan Ngga? Emak gimana? Apanya yanh luka. Sadar kan? Kenapa kamu baru ngabarin sih!” omel Buna menyayangkan ke Jingga.
“Kan ponsel Abang sama Jingga di dalam rumah kebakar, Bun! Mana bisa kita hubungi Buna sama Baba, ini aja kita baju pinjam teman Abang...,” jawab Jingga membela diri
“Sudah-sudah ! Terus gimana? Berhasil tangkap pelakunya?” tanya Baba. Baba selalu bagian yang bertanggung jawab di belakang.
"Nggak, Ba,” jawab Jingga lagi.
“Adip minta maaf Ba. Adip kalah jumlah Ba... mereka bawa pisau, ada 6 orang, ini luka sayat karena mereka,"
"Ya ampun, kasian banget kamu Dip. Jahat banget sih merekq," sahut Buna matanya memerah.
"Tapi Adip sempat hafalin nomer motor mereka, kok. Udah Adip kasih ke polisi juga!” jawab Adip menimpali memberitahu.
“Berapa?” tanya Baba singkat.
Adip kemudian mengeja nomer polisi yang dia hafal. Baba wajahnya langsung memerah, mengenal almamater plat nomor itu.
Sesuai kata Adip, karena anaknya ada di depanya dan sehat wal afiat, Baba dan Buna lebih tenang. Kalau kasih kabar lewat telepon pasti Buna dan Baba meradang.
Buna pun langsung memeluk Jingga peduli dan memeriksa pakaian Jingga. "Tapi kamu nggak apa- apa Nak?"tanya Buna berbisik ke Jingga.
"Ini kaki Jingga Bun," jawan Jingga menunjukan betis mulus Jingga ada luka menganganya.
"Aaih..ck!" Baba yang sangat Sayang Jingga langsung menatap ngeri melihat luka Jingga. Rasanya ikut ngilu.
"Dia harus dikuliti juga!" gumam Baba, mengepakan tanganya.
“Ya sudah kalian istirahatlah dulu, sana! Kalian baru sampai kan?" tanya Baba.
Jingga menatap Adip, mau jawab kalau mereka sudah mampir ke rumah Adip. Tapi Adip keburu mengangguk
"Iya Ba!"
"Istirahat dulu, malan dulu. Biar Baba urus semuanya!” jawab Baba mengayomi.
“Om juga akan tunda pulang kalau gini. Om stay di sini," sela Om Dika.
"Tidak apa- apa kalau kalian mau Pulanh. Adip dan Jingga anakku, orangku akan bereskan semua!" jawab Baba tenang.
"Tapi aku juga Omnya. Mas!" jawan Om Dika.
"Nggak apa- apa. Pekerjaan kalian penting. Kasian terbengkalai!" tutur Baba bijak.
"Baiklah kalau begitu. Sebenarnya saya ingin kasih pelajaran juga. Apa mungkin ini ulah si Odah penipu itu?!” tutur Om Dika bertanya.
“Menurur Jingga gitu juga Om. Jingga kesal banget” sambung Jingga
“Sepertinya bukan,” jawab Baba dingin tapi tegas.
“Bukan? Terus siapa Ba?” tanya Jingga menoleh.
Baba baru mendapat kabar dari polisi kalau Tama mangkir dari panggilan polisi untuk dilakukan pemeriksaan, itu berarti masih berkeliaran.
Sejak Ikun memberitahu, siapa Tama, Baba jadi berfikir, tama seperti Om dan Tantenya, tidak bisa dikasih hati. Padahal, Baba sudah memakai cara kemanusiaan untuk menghadapi musuhnya, tapi sepertinya minta dihukum dengan cara berbeda.
“Tama!” jawab Baba dingin.
“Tama?” pekik Jingga dan Adip.
“Apa dia tega melakukan itu, Ba? dia terlihat pemuda biasa?” gumam Adip mengingat wajah Tama, dikira pemuda yang polos.
“Tama itu sepupu dari Lila dan Tito, bandar narkobaa yang pernah Baba penjarakan! Mereka musuh lama Baba. Membunuh bukan hal baru untuk mereka,” ucap Baba menjelaskan.
“Hoh!” pekik Jingga kaget.
Adip pun tertegun dan sekarang mulai merasa kalau Jingga perlu teman.
“Ya... Ikun yang temukan kenyataan ini.”
“Tapi bukanya, dia udah ditangkap polisi Ba?” tanya Jingga lagi.
“Dia mangkir dari panggilan polisi, dan jadi buronan! Makanya Baba bilang mereka nyalinta besar dan nekad,” jawab Baba lagi.
“Yang Tito mantan calon dokter Mira?” tanya Dokter Dinda.
“Iya” jawab Baba mengangguk. “Tentang kecelakaan Jingga, Dia sengaja nyerang Baba dengan cara sakitin Jingga! Dia pacarain kamu dan deketin kamu, memang sudah direncaakan!” lanjut Baba lagi.
Jingga menunduk dan merasa menyesal ingat Tama. "Amoora!" geram Jingga.
Jingga menoleh Adip malu. Adip kemudian memegang tangan Jingga dan mengelusnya lembut.
“Nggak apa- apa, sudah berlalu,” bisik Adip lembut.
“Sudah... sana kalian istirahat saja!” jawab Baba.
“Ya.. Ba!” jawab Adip cepat.
Mereka berdua kemudian bangun dan ingin segera ke kamar.
“Luka kalian sudah diobati, kan?” tanya Buna nyeletuk menghentikan langkah mereka.
“Sudah Bun!” jawab Adip.
“Oke...,” jawab Buna.
__ADS_1