Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
230. Harus Merasakan Juga


__ADS_3

Berhubung terjeda kegiatan panas di tengah perjalanan, Adip dan Jingga sampai di mess Yuli dan kawan- kawan menjelang subuh. 


Ada baiknya juga sih, jadi Adip dan Jingga tidak mengganggu- ganggu amat. Sebab jam 4an gitu anak- anak memang sudah waktunya bangun. 


“Ini rumah si Odah Bang?” tanya Jingga berbisik sambil masih memeluk.


“Iyah,” 


“Gede yah!” ucap Jingga menyaksikan dengan mata seksama rumah Odah. 


Rumah gedongan dua lantai dengan corak khas eropa. Meski jauh lebih besar rumah Baba, untuk kota kecil rumah Uwak, mewah.


“Gedean rumah Baba. Gedean rumah kita nanti,” jawab Adip enteng seperti tak peduli.


Seperti saat bersama Emak dan Bapak, Adip tidak masuk ke halaman atau parkiran rumah Uwak, melainkan ke rumah kecil disamping.  


“Itu tuh, rumah kamu, Bang! Rumah Bang Adip yang dia curi. Dia udah jahatin Ibu mertua, Abang dan adik Abang! Ishh gemesh Jingga,” ucap Jingga emosi dan bersungut- sungut. 


Adip tidak merespon Jingga dan tetap santai, Adip markirin motor di halaman mess Mang Jojo dan Udin. 


“Bang...,ini rumah siapa? Kok kesini? Nggak kesitu?” protes Jingga lagi. Kok Jingga dan Adip nggak masuk ke parkiran Uwak.


Pokoknya Jingga setelah kenal sama si dia nya Adip, benar- benar menjelma jadi Emak- emak sejati, cerwet.


Untung saja Adip tetap stay cool tidak menjawab. 


“Jangan berisik!” jawab Adip malah mengatai Jingga berisik.


“Haiish aku dikatai berisik?" gerutu Jingga tidak terima. "Bang...,” panggil Jingga menepuk punggung Adip.


Adip tetap stay cool.


"Iiih," gerutu Jingga ikut turun dan mencebik. 


Adip berhenti dan menoleh ke Jingga. 


“Jingga nggak sabar pengen maki- maki itu sih Odah, Bang. Kenapa Bang Adip ke rumah kecil begini, nggak kesana?” protes Jingga lagi.


Bukanya menjawab, Adip berbalik dan justru membungkam Jingga dengan kecupannya. Jingga pun terdiam. 


"Abang...," jawab Jingga tersipu dan langsung memerah Adip mah selalu memberi Jingga kejutan. Adip kemudian tersenyum.


“Katanya najis ke rumah Odah? Tujuan kita kesini, numpang mandi, pinjam baju, abis itu ke rumah sakit. Bapak sama Emak sendirian. Ingat! No bikin masalah! Kita juga harus urus kebakaran rumah. PR kita banyak!” tutur Adip pelan.


Daripada mementingkan emosi ternyata Adip lebih memilih memikirkan banyak hal yang memang harus segera dilakukan. Tapi kalau urusan si itu harus didahulukan, sampai nekad di gubug pinggir jalan.


Jingga terdiam, melirik ke rumah besar itu dan merelakan hasraat marah- marahnyam


“Ayok!” ajak Adip menggandeng Jingga. 


Mereka berjalan ke rumah bagian belaakang, lebih tepatnya tempat Yuli dan karyawan perempuan. 


“Thok.. thok...,” Adip mengetuk pintu. 


Yuli yang baru bangun segera membuka pintu rumahnya. 


Jingga dan Adip melebarkan senyumnya, sementara Yuli mengucek matanya setengah sadar..


“Adip? Teh Jingga?” pekik Yuli sangat kaget.


Lalu Yuli melongo, menatap seksama penampilan Jingga dan Adip yang tidak bisa dijelaskan, apalagi bau menyeruak dari Jingga dan Adip. 


Bau asap, keringat, pakaian Jingga yang basah, serta bau asam sisa cairan penyatuan mereka yang belum dibersihkan, menyatu jadi satu. 


“Uhuk...,” Yuli langsung menampakan ekspresi tidak tahan, mau menutup hidung tapi takut menyinggung Jingga. 


“He..., tutup aja hidungnya Teh, aku emang bau, maaf menganggu,” Jingga nyengir paham, karena Jingga menyadari dirinya Bau.


Adip benar- benar seperti penyulap yang menyihir Jingga melepaskan almamater anak sultanya. Jadi jorok, sederhana, cerewet dan juga tahan banting. 


Yuli pun nyengir lalu menutup hidungnya. “Maaf ya!” ucap Yuli lirih. 


“Maaf ganggu, Yul... kita mau numpang mandi,” ucap Adip langsung.


“Ya udah jangan di pintu. Masuk dulu yuk, masuk! Kalian jam segini kesini ada apa? kenapa penampilan kalian begini? Kalian habis darimana?” tanya Yuli sambil berjalan dan menyiapkan bangku sederhana untuk duduk Jingga dan Adip.


“Ceritanya nanti, ya. Minta tolong, pinjam pakaianmu untuk istriku, kalau bisa yang panjang dan berhijab,” ucap Adip lagi. 


“Oh.. pinjam baju?” tanya Yuli lagi dengan speechless.

__ADS_1


Yuli lalu melirik ke Jingga, dan Jingga mengangguk nyengir tanda sungguhan dia butuh itu. Yuli semakin bingung, Adip dan istrinya yang sangat kaya ini, kenapa? 


“Iyah, cepet ya, kasian!” sambung Adip lagi 


“Pakaiaan dalamnya gimana?” tanya Yuli lagi dengan menyeringai ragu.


“Pinjam juga!” jawab Adip cepat.  


“Hoh?” pekik Yuli ragu. 


“Maaf, Teh... kita beneran nggak punya apa- apa. secepatnya aku ganti dan kembalikan,” sambung Jingga. 


“Ah... ya, tunggu ya!” jawab Yuli mengangguk. Yuli seperti malu berbagi pakaian dalam dengan Jingga.


"Tapi nggak apa- apa pakai punyaku? Nggak baru lhoh!" ucap Yuli lagi.


"Nggak apa- apa. Kulihat kamu ma istriku seimbang. Yang penting muat dan bisa ganti!" sahut Adip lagi. Sementara hanya nyengir dan mengangguk.


"Oke.. tunggu ya!"


Yuli kemudian masuk ke dalam. Adip kemudian berbisik pada Jingga. 


“Abang tinggal yah!” 


“Kemana?” tanya Jingga nggak mau pisah sama suaminya. 


“Ya mandi sama pinjam baju, ke samping doang, abang kan laki- laki,” 


“Oh... ya!” 


“Yuli baik kok, kamu yang ramah sama dia, ingat jangan sombong dan ketus. Kamu di sini istri Bang Adip, bukan lagi sebagai anak Baba Ardi!” tutur Adip menasehati. 


Adip melihat ekspresi Jingga yang matanya jelalatan seperti ragu dan sedijit prihatin dengan rumah sempit temlat mereka berada sekarang


“Iya,” jawab Jingga patuh. 


“Cup,” meski bau atau apapun itu, Adip tetap tak bosan cium kening Jingga, sebagai bentuk cinta dan pamitan. Adip pun berbalik.


“Bang..,” panggil Jingga mengentikan Adip. 


“Apalagi?” 


“Plethak,” meski baru saja, Adip cium, sekarang berganti masih di kening Jingga dia jitak.


“Uuuh, kebiasaan!” jawab Jingga mengusap keningnya. 


“Ya kamu, dalam hal darurat kek begini, ada orang yang mau tolong kita, kita harusnya bersyukur dan terima kasih, bukan negatif thingking!” tutur Adip menasehati. 


“Ya kan Jingga khawatir, Bang! Ini kan aset, kesukaan Bang Adip juga!” jawab Jingga berbisik.


“Sekarang gini pilihanya, kamu ganti atau tidak kamu akan teta sakit, baju kamu sekarang juga kotor, setengah basah, lembab dan banyak bakteri kan? Bau lagi, kalau nggak ganti kamu akan tetap kena sakit. Kedua kalaupun dia punya sakit panu, baju bersih, itu udah dicuci dijemur, kemungkinanya bakteri udah mati, resiko tertular hanya berapa persen! Pilih mana?” tutur Adip berbisik panjang dan menggerakan tanganya memukul kepala, meminta Jingga berfikir. Adip sambil melirik ke dalam jangan samlai temanya tahu.


“Iya...” jawab Jingga. 


“Di pulau Panorama juga pinjam semua kan bajunya, kamu tetap sehat cantik dan mulus kan?” cebik Adip menyindir dan nyengir.


“Iya... ya,” jawab Jinga lagi.


Adip kemudian pergi meninggalkan Jingga. Tidak lama Sarti keluar. Tapi Yuli belum.


“Mbak Jingga,” sapa Sarti kikuk, dan syok melihat penampilan Jingga,  


“Pagi Mbak,” sapa Jingga tersenyum, “Maaf ganggu ya?” 


“Iyah... aku kira Yuli bohong barusan dia bilang ada Mbak Jingga, ternyata Mbak Jingga beneran,” ucap Sarti jujur. 


"Iyah... maaf bertamu jam segini, ngrepotin!" jawab Jingga.


"Mbak Jingga abis darimana? Kok begini?" tanya Sarti.


"Ceritanya panjang Mbak, kita abis kena musibah..," jawab Jingga terpotong.


"Hah? Musihah?" pekik Sarti.


Di saat bersamaan, Yuli keluar membawa handuk dan lengkap pakaian sampai hijabnya. Yuli lama keluar, dia gerogi dan takut Jingga yang anak orang kaya tidak suka model bajunya. Yuli pun mencari pakaian terbaiknya.


Sarti dan Jingga jadi terpotong ngobrolnya.


“Maaf lama menunggu, ini, Teh bajunya, maaf kalau bajunya nggak bagus, maaf juga kalau nggak sesuai, tapi insya Alloh ini bersih udah Yuli strika!” tutur Yuli ragu, Yuli menyodorkan bajunya.

__ADS_1


Yuli dan Sarti masih ingung, Jingga dan Adip ampai harus pinjam baju begitu. Ada apa sebenarnya. 


“Makasih banget mba. Saya yang minta maaf, karena merepotkan kalian. Apalagi ganggu pagi- pagi begini," jawab Jingga mendadak rasa bersalah, Yuli sangat baik dilihatnya bajunya juga bagus, gamis payung polos warna dongker, bahanya juga adem. Kenapa Jingga tadi berfikir buruk.


"Semoga muat ya Teh" jawab Yuli.


"Dimana kamar mandinya?” tanya Jingga. 


“Ikut saya Mbak!” jawab Sarti. 


Jingga kemudian mengikuti Sarti ke kamar mandi sederhana dan sempit.


Itu juga baru pertama buat Jingga menemui bilik kecil kamar mandi di sebuah rumah permanen tapi tanpa keramik melainkan susunan bata. Hampir seperri saat di asrama persinggahan di Pulau S. Tapi di Pulau S sudah berkeramik. Saat itu Jingga kira di Pulau S mengerikan, ini lebih mengerikan dan memprihatinkan.


Jika di Pulau Panorama kan di alam, meski sederhana tapi sejuk, Jingga betah. Kalau di sini di dalam rumah, pengap dan sempit. Di pintu juga terdapat tempat make up yang digantung sebab airnya hanya di bak ember.


Jingga hampir ragu, jijik dan ingin mengeluh, tapi dia selalu ingat apa kata Adip. Syukuri apa yang ada di depan kita, atau kita tak melakukan atau dapatkan apapun. Mandi seadanya atau tidak sama sekali? 


Jinggapun segera mandi.


Sementara Yuli dan Sarti yang masih setengah sadar saling berbisik, ada apa? Jingga dan Adip aneh. Lalu mereka menyalakan kompor, mereka bekerja sama, masak untuk menyuguh tamunya. 


Karena di kamar mandi yang tak senyaman di rumah, Jingga hanya butuh waktu 10 menit untuk menyelesaikanya. Yang penting diguyur disabun bilas. Padahal kalau di rumah Baba, bisa berendam satu jam.


Setelah mandi, Jingga pun kembali menjelma menjadi bidadari cantik, yang semuanya sangat mencolok dari Yuli dan Sarti. Meski sampo dan sabun murahan tetap membuat Jingga wangi.


“Udah selesai Mbak Mandinya?” tanya Sarti. 


“Udah,” jawab Jingga sambil mngeringkan rambutnya dengan handuk. 


Sesaat Yuli dan Sarti terkesima melihat betapa cantik istri temanya itu. Yuli tak setinggi Jingga, sehingga bajunya di Jingga sedikt ketat pada bagian dada.


Untung gamis payung, jadi bagian bawahnya tidak press. Ternyata Jingga berisi, hehe lebih tepatnya dua tonjolanya sekarang lebih memadat setelah dipijat Adip.


Kalau baju Sarti, mah jelas nggak muat. Sarti kecil dan pendek. 


“Aku mau numpang Sholat!” ucap Jingga membuyarkan tatapan Sarti dan Yuli yang sedang mengagumi kecantikan Jingga.


“Oh ya... ayo Mbak ikut saya!” ajak Sarti. 


Sarti mengajak Jingga masuk ke bilik kamar sempit, sangat sempit karena banyak barang.


Ruangan ukuran 2x3. Hanya cukup satu dipan, itu saja untuk dua orang. Lalu baranng- barang Sarti dan Yuli berjejer ditata serapi mungkin agar muat di pinggirnya, bertumpuk. Lalu satu lemari plastik kecil dan itu juga seperti untuk berdua. 


Jingga sholat di celah antara dipan dan lemari itu. Sangat miris. Hanya pas untuk menggelar sajadah. Jingga sholat seperti terhimpit. Jingga jadi berfikir, apa setiap hari Sarti dan Yuli juga sholat di situ. Kasian sekali.


“Maaf ya Mbak, berantakan!” ucap Sarti malu setelah tahu Jingga anak pemilik hotel yang luaas kamarnya banyak bersih bagus. Ah tidak bisa dibandingkan dengan Sarti.


Jingga mengangguk dengan tatapan menyeringai.


"Nggak apa- apa!" jawab Jingga tersenyum.


Lalu Jingga segera menunaikan sholat subuh. Setelah selesai sholat Jingga lama duduk dan memperhatikan kamar itu. Dengan kamar ART di rumah Jingga ma jauh. Jingga sampai meneteskan air matanya di situ. Dunia macam apa yanh seranh dia masuki sekarang.


Bukan di Pulau Panorama yang jauh, tapi di dekat ibukota di bagian kecil dari daerah tempatnya tinggal ada kehidupan yang masih memprihatinkan. Kalau di Pulau Panorama masih mending, lahanya luas, bersatu dengan alam. Meski sederhana tapi nyaman. Nah ini, pasti pengap dan menyedihkan.


“Kata Emak, dulu Ibu mertua di buatkan kamar terpisah di dekat rumahnya? Apa ini juga rumah yang ditempati ibu mertua?” gumam Jingga mendadak rasanya ngeri dan sakit. 


“Ya Tuhan..., jahat sekali si Odah itu.” gumam Jingga. Lalu dari celah jendela Jingga mengintip rumah besar bercat abu tegas dengan lantai dua itu. “Jauh berbeda,”. "Biadaaap!" Jingga meremas ujung mukena Sarti.


Hati Jingga teriris. “Bang Adip tahu semua kenyataan ini, kok bisa sih dia nggak marah dan bertahan begitu aja. Mana bisa dibiarin. Ini harus ditindak. Odah juga harus merasakan tinggal di tempat begini. Enak aja!” gumam Jingga geram. 


Jingga keluar kamar, tercium aroma kopi dan teh. 


“Udah selesai Mbak?” tanya Sarti membawa namoan berisi 3 gelas teh dan 3 gelas kopi berjalan keluar.


“Udah,” jawab Jingga mengikuti arah Sarti berjalan.


“Bang Adip udah nunggu, tuh,” ucap Yuli menyusul membawa sepiring singkong goreng. Dan sepiring tahu goreng. 


Jingga sampai bengong, cepet banget mereka masak, apa beli? Beli dimana? 


Benar saja, suami tampanya yang selalu membuatnya menawan sudah duduk di ruang tamu sempit bersama dua temanya.


Satu terlihat lebih tua jauh, satu lebih muda dari Bang Adip. Jingga tak asing, mereka semua kemarin yang membawa hantaran.


“Pakai hijab!” pekik Adip menatap ke Jingga kesal.


Adip tidak ikhlas Mang Jojo dan Udin melihat leher dan dada Jingga yang menawan.

__ADS_1


"He...,ya!" jawab Jingga nyengir dan segera berbalik.


__ADS_2