Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
232. Merpati Indah


__ADS_3

Lana tersenyum menggandeng istri cantiknya itu. Sementara Jingga berjalan dengan penuh tanda tanya.


Apalagi saat Adip memilih mengajak Jingga naik bajai. Sengaja banget Adip mengeejai istrinya.


"Bang kok naik bajai sih?" gerutu Jingga. Melihat aneh kendaraan yang hanya muat 4 orang, bersuara khas dan berac alam itu.


"Jalanya masuk, Sayang. Nggak ada angkutab yang lewat," jawab Adip beralasan.


Akhirnya Jingga diam dan patuh. Ikut saja.


"Kemana Bang?" tanya tukang bajai.


"Jalan Melawai Pak. Rumah Singgah Merpati Indah!" jawab Adip lagi.


"Oh ya. Siap Bang!" jawab Tukang bajai. Tukang bajai itu kemudian menoleh dan memperhatikan wajah Adip.


"Lhoh Bang Adip?" pekik Pak Bajai.


"Iya, Pak Bud. Ini saya!" jawab Adip akrab.


Pak Bajai yang dijetahui namanya Budi itu kemudian menoleh perempuan cantik berhijab yang tampak manja dan posesif memegang tangan Adip.


"Sekarang tambah gemuk, putihan juga. Pangling Saya, Bang!" jawab Pak Budi.


"Ah...Bapak bisa aja. Pak Budi juga tambah ganteng," gurau Adip.


"Pacar atau adek?"


"Istri, Pak!" jawab Adip Bangga.


"Lhoh kapan nikah?" tanya Pak Budi.


"3 hari yany lalu!" jawab Adip.


"Oh nggak kabar- kabar. Selamat ya. Barakallah, kenalin Neng. Saya Budi, teman ngopi Bang Adip!" ucap Pak Budi mengenalkan diri.


Jingga pun hanya tersenyum mengangguk dan menyeringai. "Kenapa Adip selalu populer?"


"Berangkat ya Bang!"


"Ayuk Pak!"


Pak Budi pun bersiap menarik pacuan kendaraan langka yang hanya diibukota itu. Benar saja, mereka hanya berjalan sebentar di jalan besar lalu setelah itu masuk ke jalan tikus di komplek perumahan.


"Kita kemana sih Bang? Ini bukan arah kampus Abang kayanya deh? Bukanya Bang Adip ngontrak di dekat kampus?" bisik Jingga lagi.

__ADS_1


Adip kan kampusnya berlawanab arah dengan araj yang dia tuju sekarang. Adip memang ngontrak di dekat kampus.


"Ya emang bukan Sayang!" jawab Adip.


"Lhah terus kemana?" tanya Jingga lagi.


"Nanti kamu tahu sendiri, Sayang! Udah diam aja!" jawab Adip menepuk telapak tangan Jingga.


"Apa susahnya sih kasih tahu?" gerutu Jingga kesal.


Adip malah tertawa. Sesaat mereka mulai masuk ke kawasan padat penduduk yang di pinggirnya asa sungai besar.


"Bentar lagi sampai!" bisik Adip.


Dari kejauhan terlihat gang dan ada gapuranya, tapi itu bujan gang komplek. Melaikan seperti ada sebuah gedung. Di atasnya ada tulisan Pondok Merpati Indah.


Bajai itu masuk dan berhenti di situ..


Dari luar Jingga lihat beberapa perempuan tua sedang memegang beberapa kain. Lalu seperti memilah beras di atas baki. Ada pula yang terlihat membuat adonan. Ada pula yang sedang menyapu dan menyiram tanaman.


Mereka semua berhenti dari aktivitasnya dan menoleh ke Adip. Semua mata tertuju pada Adip dan Jingga. Ditatap seperti itu Jingga pun jadi salah tingkah dan semakin memegang erat tangan suaminya.


Adip malah tampah ramah memberikan uang ke Pak Budi.


Setelah Pak Budi memutar kendaraanya barulah Adip menoleh ke Jingga.


"Ini tempat apa Bang? Siapa mereka?"tanya Jingga berbisik.


Adip tak menjawab dan justru tersenyum menyapa ramah para ibu- ibu yang bangun menyapanya.


"Adiip?" sapa mereka.


"Iya Maak, sehat semuanya?" sapa Adip.


Mereka semua tersenyum menyambut Adip. Adip pun melepaskan pegangan tangan Jingga, bersalaman satu oersatu dengan perempuan- perempuan itu.


"Siapa dia Dip?" tanya mereka.


"Kenalkan ini Jingga istriku!" jawab Adip ramah, "Ayo Yang... kenalan mereka semua mamaknya Abang!" ucap Adip.


Jintga hanya menyeringai dan menuruti kata suaminya.


Setelah itu mereka masuk. Betapa kagetnya Jingga setelag masuk. Ternyata itu seperti sebuah pabrik makanan..


Di bellang pabrik itu ada sebuah rumah kecil. Lalu di sampingnya juga ada rumah petak-petak.

__ADS_1


Para ibu- ibu itupun mempersilahkan Jingga duduk dan tanya mau makan apa?


"Nggak usah repot- repot Mak. Kita mau istirahat dulu. Mana kuncinya" tanya Adio.


Salah satu Emak itu memberikan kunci rumah kecil yang tampak Asri dan sederhana.


Adip pun menggandeng Jingga masuk. Rumah lantai satu dengan gaya minimalis dan teras depan yang asri. Tampak sepi tapi sepertinya cukup terurus. Jingga pun terbengong


"Masuk, Sayang!" sapa Adip membujakan pintu Bak ke Tuan Putri.


"Ini rumah siapa?"


"Rumah kita!" jawab Adip.


"Kita?"


"Yah. Ini rumah Abang!"


Jingga masih bingung mereka pun masuk rumahnya bersih rapi, ada beberapa foto Adip memegang piala banyak. Ada foro Bapak dan Emak juga. Tapi yang dipajanh Adip memegang piala.


Adip pun mengajak Jingga masuk ke sebuah kamar yang letaknya di bagian belakang menghadap ke taman kecil.


"Abang...,jelasin dulu, ini rumah Abanh gimana maksudnya?" tanya Jingga.


Bukanya menjawab Adip malah memeluk Jingga erat dari belakang.


"Abang pernah bilang kan? Setelah kita nikah. Latihan mandiri dan jangan andelin Baba lagi. Ini yang Abang maksud,"


"Jingga suruh tinggal di sini?"


"Iyah. Sementara,"


"Ini beneran punya Abang?%


"Iyah. Abang dulu ikut lomba bikin proposal kewirausahaan. Melakikan percobaan gitu. Membuat aneka keripik dari limbah ternak. Abang menang. Abang sama kelompok Abanh buka usaha ini sambil kuliah!"


"Mereka siapa?"


"Mereka tuna wisama yang abanh temui dan dilatih ikut bikin,"


"Tapi kenapa Abanh miskin?"


"Karena uang hasil usaha yang di sinu sengaja Abanh serahkan ke mereka yang kelola. Tapi mereka juga setor laba ke rekening pribadi Abang. Rekeningnya Abang simpan di sini,"


****

__ADS_1


Maaf belum diedit.... besok pagi dibaca ulang yaa. ...


__ADS_2