
“Buna...,” pekik Jingga begitu menoleh, Ibunya duduk menunggunya.
Buna melebarkan senyum hangatnya. Senyum terindah yang pernah Jingga terima dari sosok yang melahirkanya dan menyayanginya setulus hati.
Buna tersenyum, putrinya yang bawel kini jauh terlihat dewasaa. Bahkan dulu, jika Jingga marah Jingga akan protes dan merajuk mengurung di kamar, kini Buna melihat Jingga terisak mengadu pada Rabbnya. Buna yakin semua karena Adip, dan Buna yakin Jingga sedang tidak baik – baik saja.
Sebab kalau lihat Nila sholat sunnah dzuha atau tahajud, Buna sudah biasa. Tapi kalau Jingga pasti ada apa-apa.
20 tahun umur Jingga juga ini baru kedua kalinya Buna lihat Jingga sholat sunnah menangis tanpa disuruh. Pertama saat setelah akad bersama Adip. Kedua ya sekarang ini.
“Are you oke, Honey?” tanya Buna lembut.
Jingga diam mendekat sambil berfikir.
Jingga ingat nasehat Adip, ‘setelah nikah, kamu juga harus bedakan mana yang harus kamu ceritakan ke Buna dan Baba. Apalagi masalah urusan raanjang kita, itu rahasia kita. Permasalahan kita juga, kalau ada apa- apa kita selesaikan dulu. Aib kamu aib Abang, aib abang ya aib kamu. Kita harus saling jaga. Jangan pernah ceritakan kesusahan kita ke Buna dan Baba ataupun Emak dan Bapak. Pokoknya kita harus bahagia untuk mereka’
Jingga ingat semua nasehat Adip. Jingga pun tersenyum ke Buna, menyembunyikan pilu dan laranya.
“I am Oke Bun!” jawab Jingga.
Buna kemudian meraih tangan Jingga mendekat dan duduk di tepi ranjang berhadapan.
“Budhe Anya dan Bu Dhe Mira nanyain kamu. Uminya Rendi juga, di bawah sedang kumpul keluarga nggak enak kalau kamu menyendiri begini,” tutur Buna menasehati.
“Iya Bun!” jawab Jingga.
Entah kenapa, meski Jingga jawab baik- baik Buna tetap merasa janggal. Buna jadi berfikir dan menebak sendiri.
“Buna tahu, kamu pasti rindu suamimu yah?” tanya Buna lembut.
Jingga yang sedari tadi menahan diri ditanyai tentang Adip jadi terbawa emosi. Jingga hanya menunduk menahan tangis.
“Sabar Sayang..., Buna yakin, putri Buna istri yang kuat, menantu Buna juga laki- laki yang setia. Meski Buna tidak pernah merasakanya, Buna tahu itu ini berat, tapi Buna yakin anak Buna bisa melalui ini, sabar yah!” tutur Buna lagi.
Dinasehati begitu, Jingga jadi tidak tahan menitikan air matanya.
Jingga bukan hanya rindu. Tapi Jingga seperti kehilangan pegangan. Jingga butuh Adip untuk banyak mengadu dan bercerita. Jingga baru merasakan indahnya dekapan Adip, tapi terasa seperti ditarik paksa untuk berjauhan
Jingga yakin jika bukan karena buru- buru dan memikirkan banyak hal, Adip pasti berfikir tenang dan mendengarkan Jingga. Jingga yakin Adip akan percaya dan punya solusi untuk Jingga.
“Jangan menangis Sayang” tutur Buna menyeka air mata Jingga.
“Jingga butuh Bang Adip Buna!” jawab Jingga akhirnya buka suara.
Buna mengangguk.
Buna tahu betul bagaimaa Buna juga tak bisa tanpa Baba dan Baba tidak bisa jauh dari buna.
“Sayang, Buna pernah dengar begini, dua insan yang Tuhan takdirkan berjodoh, diikat dengan tali pernikahan yang suci, apalagi saling mencintai karena Alloh, itu satu. Tali itu akan membuat kita terhubung satu sama lain. Buna tahu, kalian pasti saling merindukan dan membutuhkan. Kalian akan tetap saling terhubung dan akan kembali sati. Ingat cinta yang kuat, adalah cinta yang sudah terbukti dan teruji. Humm?” tutur Buna ke Jingga.
“Iya Buna!”
“Setiap orang akan punya ujiannya sendiri- sendiri. Buna punya rahasia yang belum pernah Buna ceritakan ke kamu!”
__ADS_1
“Apa itu Buna?”
“Tepat di hari saat Buna tahu kehadiranmu di perut Buna, Baba dan Buna bertengkar hebat, Buna sampai kabur dari rumah Baba,”
“Oh ya?” tanya Jingga antusias.
“Huum?”
“Kenapa?”
“Karena Buna bodoh? Makanua Buna nggak mau kamu salah,”
“Bodoh gimana Bun?”
“Satu kunci penting dalam hubungan adalah percaya. Mau Jingga jauh atau dekat dengan suami Jingga, kalau Jingga punya senjata kepercayaan, Jingga bisa takhlukan apapun itu rintanganya. Tapi kalau nggak percaya semuanya akan hancur, meskipun setiap hari kita bersama!” tutur Buna lagi.
“Maksud Buna?”
“Buna waktu itu, tidak percaya Baba, Buna sakiit sekali saat semua orang memberitakan hal buruk tentang Baba. Bahkan semua nampak seperti nyata. Sampai Buna pernah berfikir untuk mengakhiri pernikahan. Tapi Baba terus berjuang dan tunjukan ke Buna, Baba kasih cinta ke Buna dan buat Buna percaya. Selamatlah pernikahan Buna, sampai sekarang. Entah bagaimana kalau dulu Buna tetap tidak percaya. Hal yang menyakitkan dan membunuh kita adalah menanggung keraguan! Hilangkan itu!”
“Baba difitnah?”
“Ya padahal Buna dan Baba juga selalu bersama. Kita tidak akan pernah luput dari semua cobaan. Seseorang mengirim bebrapa foto Baba di hotel, seseorang mengaku mempunyai anak dari Baba! Dan itu saat Buna hamil kamu Nak! Kamu bisa bayangkan kan bagaimana Buna?” tutur Buna bercerita.
Mendengar cerita Buna, Jingga meneteskan air matanya.
“Jadi... baik dekat atau jauh, tunjukan kamu bisa jaga kepercayaan Adip dan kamu harus percaya Adip. Nggak boleh lemah, harus kuat yah. Kita harus percaya pada diri kita dan pasanhan kita meski tak ada orang lain yang percaya. Buna aja percaya anak Buna dan mantu Buna. Kalian juga harus percaya bisa!"
"Buna percaya Adip akan jauh dari terpaan fitnahan seperti itu, mungkin jalanya Tuhan, Alloh uji kamu dengan jarak,”
“Iya Buna!”
“Yakin bisa takhlukan ini ya. Rasakan dihatimu. Kalian itu satu! Oke."
Jingga hanya mengangguk
"Tersenyumlah, adikmu kan sedang berbahagia, kamu juga harus bahagia,”.
Karena Buna menyinggung Adik (Nila) Jingga pun ingin mengadukan semuanya. Ini kan bukan masalah rumah tangga jadi boleh cerita ke Buna.
“Jingga khawatir sama Nila Buna,” tutur Jingga akhirnya.
Buna pun mendelik.
“Khawatir kenapa Nak?”
“Pak Rendi bukan orang yang baik Buna, liat dan dengarkan ini Buna!” ucap Jingga menunjukan video Rendi salah sebut namanya di ijab qobul dan dimarahi Baba.
Buna menghela nafasnya, Buna berusaha bersikap bijak.
“Jingga takut, Nila ke depanya akan sakit hati. Pak Rendi sungguhan pernah mengancam Jingga. Dia bilang dia masih cinta dengan Jingga Buna. Dia masih berusaha mendekati Jingga Buna!” tutur Jingga berderai mata berusaha mengatakan sebuah kejujuran.
Buna sebenarnya cukup tersentak dengan semua perkataan Jingga. Akan tetapi di sini Buna lebih dewasa menyikapi sesuatu. Buna juga paham sifat suaminya.
__ADS_1
Buna pun tersenyum, menggenggam tangan Jingga.
“Jingga nggak bohong Buna! Jingga jujur dan beneran adanya begitu!” lanjut Jingga lagi.
Buna pun mengangguk.
“Buna percaya Nak!!”
“Terus Nila gimana?”
“Semua orang bahkan Nila tahu permasalahan awal ini bagaimana? Buna juga tidak menyangka, Nila sendiri yang menawarkan diri ke Baba. Buna juga berkali- kali meyakinkan Baba dan Nila untuk tidak salah melangkah. Tapi hari ini sudah terjadi Nak,” jawab Buna.
“Kenapa Buna tidak mencegahnya?” tanya Jingga.
“Karena Buna percaya Budhe Anya dan Abahnya Rendi. Setelah mendengra Nila akan tetap terjaga sampai lulus SMA, Buna tenang.” Jawab Buna
“Tapi bagaimana kalau selama tiga tahun itu, Pak Rendi tidak berubah dan Tetap tidak bisa mencintai Nila, Buna!” jawab Jingga lagi.
“3 Tahun itu, kita yang harus menempa Nila untuk kuat menghadapi Rendi, kamu mau dengar lagi cerita Buna?” jawab Buna lagi.
"Apa itu?"
Buna tersenyum lagi.
"Pak Dhe Gery dan Pak Dhe Farid dulu juga bertengkar dengan Baba karena Buna. Orang ya g dekat denhan Buna adalah Pak Dhe Farid. Tapi lihatlah sekarang!" tutur Buna lagi.
Kali ini Jingga terdiam. Dan tiba-tiba terdengat seseorang menyahut.
“Nila akan baik- baik saja Kak!” sahut Nila di belakang Buna dan Jingga.
“Nila..” pekik Buna dan Jingga.
Ternyata sedari tadi Nila berdiri mendengarkan.
“Kenapa kakak tidak percaya pada Nila? Nila sudah katakan pada Kakak berkali- kali kan? Kelak Nila akan dewasa, Nila akan tumbah tidak menjadi anak kecil lagi. Nila yakin Alloh tidak akan sakiti Nila dan jaga Nila! Nila akan hadapi suami Nila seperti apapun dia!” jawab Nila.
Buna dan Jingga jadi tercekat.
“Maafkan kakak meragukanmu, Kakak sayang sama kamu Dhek!” tutur Jingga.
“Nila tahu itu!” jawab Nila.
Jingga kemudian memeluk Nila. Buna pun ikut memeluk kedua putrinya.
“Kita turun yuk! Masak kita tuan rumah malahh nggak ada!” sahut Buna.
Jingga dan Nila mengangguk.
“Jingga ganti baju dulu ya Bun!” jawab Jingga.
Buna mengangguk. Jingga pun berdiri ke kaca, dan menata rambutnya.
“Bang Adip, sesuai inginmu. Malam ini Jingga akan pulang ke rumah kita, demi menjaga martabatmu, aku akan menjadi perempuan kuat dan selalu tersenyum bahagia. Menikah denganmu bukan cobaan untukku, tapi anugerah yang membuatku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.Aku percaya secepatnya kita akan bersama”
__ADS_1