
"Hhh!" Adip sampai ke rumah dinasnya dan langsung membanting pintu sembari menghela nafas kasar.
Yusuf, Marcel dan Adam yang sedang bermain gundu sampai heran memperhatikan Adip.
"Huuuuft Haaaah!" Adip duduk mencondongkan tubuhnya ke depan sembari menyanggah keningnya dengan kedua tangan yang ditangkupkan.
Entah kenapa berhadapan dengan Jingga Adip menjadi sangat emosional. Adip tidak mampu menguasai dirinya sendiri. Adip merasa kesal, ingin marah tapi Adip juga selalu tidak tegas dan merasa sakit sendiri, melihat Jingga menangis. Ingin memeluk menghentikan tangisnya, tapi Adip sadar tidak hak baginya melakukan itu.
"Gue salah bawa dia ke sini? Apa gue kasih tau aja kalau sebenarnya dia tidak masuk kualifikasi untuk ada di sini? Apa sebaiknya dia aku suruh pulang?" batin Adip ragu.
"Tapi dia tampak antusias ingin ke sini? Untuk dia ikut kalau bagini" batin Adip lagi.
Adip kemudian diam. Akal sehat Adip bilang begitu ingin menyuruh Jingga pulang, tapi hati Adip berkata lain. Jiwanya meronta, ingin terus melihatnya, menatap indahnya. Bahkan jadwal Adip yang pertama sebenarya adalah desa tempat Tari yang warganya lebih banyak, tapi Adip memilih menjadwalkan bulan depan Adip melakukan bimbingan ke sana.
Adip tidak menyadari dirinya sendiri yang ingin di dekat Jingga, mengawasi dan memastikan keamanan Jingga. Adip tidak menyadari kalau emosinya meletup letup ingin dekat dengan Jingga tapi tak bisa, karena keinginan itu dibabat habis dengan akal pikiranya sendiri, Jingga calon istri Dokter Rendi.
Adip berjalan ke dapur mengambil air minum. Anak- anak kemudian mendatanginya,tau- tau sudah di belakang Adip sampai kaget.
"Astaghfirullah, kalian!" pekik Adip kaget memuncratkan air di mulutnya saat menoleh ke belakang 3 serangkai anak kecil itu di hadapanya.
"Kakak tampak gusar sekali-e. Ada apa kakak ganteng?" tanya tanya Marcel.
"Ah tidak apa- apa ini masalah orang dewasa!" jawab Adip menggaruk kepalanya malu.
"Kalau Kakak ganteng gusar dan galau tapi tidak mau bercerita pada kami, ya sudah!" jawab Adam.
"Hemmm, kalian anak kecil tidak usah bertanya tentang urusan orang dewasa. Kalian tidak akan mengerti!" jawab Adip.
"Tapi kami bisa obati Galaunya Kakak Ganteng!" ucap Marcel.
"Oh iya?" tanya Adip lagi.
"Kami akan ajak Kakak ganteng ke suatu tempat indah. Maukah?" tanya Marcel cerdas dan baik.
"Tempat indah?" tanya Adip.
__ADS_1
"Iya, ini su sore. Pasti sangat bagus_ e." jawab Yusuf ikut menimpali.
"Oke. oke, kalau begitu, Kakak sholat Asar dulu ya!" jawab Adip.
"Baik. Kakak! Kami tunggu!" jawab anak- anak.
Adip kemudian menunaikan sholat Ashar segera karena sudah masuk waktu Ashar. Adip mengajak Yusuf dan Adam ke mushola.
"Kalian sudah bisa adzan?" tanya Adip lagi.
"Bisa, Kakak!" jawab Yusuf.
"Ya sudah. Kamu adzan ya!" ucap Adip meminta.
"Malu, kakak, kalau ashar tak pernah ada yang adzan. Kenapa sekarang tiba- tiba adzan kan lucu!" jawab Yusuf dengan polosnya.
Karena warga sekitar bermata pencaharian petani dan nelayan, saat dzuhur dan Ashar mereka jarang di rumah. Mushola hanya difungsikan saat magrib atau jika ada agenda pengajian. Isya dan subuhpun jarang, apalagi tidak semua warga muslim.
Adip kemudian tersenyum. Meski Adip sering bergaul dengan kawan jalanan bahkan sering ngamen dan bergabung dengan komunitas angklung, Adip ingin menghidupkan mushola kecil di desa terasing itu.
"Nggak apa- apa. Adzanlah, kakak ingin dengar!" ucap Adip.
*****
Seperginya Adip dari puskesmas pembantu yang kecil dan sempit di belakang mushola itu, Jingga yang masih terisak, menjadi terpaku dan tidak bergerak.
Jingga berusaha menetralkan nafasnya yang sesak. Agar normal kembali sambil berfikir. Jingga menoleh ke sekeliling dengan seksama.
Sebuah rumah kayu kecil, bahkan ada bagian yang berlubang karena pakunya lepas. Ukuranya rumahny hanya 3x6 meter. Itupun dibagi menjadi 3 bagian, yang masing- masing ruangan berukuran 2 kali 3, sangat senpit dan tidak memenuhi standar klinik seharusnya.
Di situ juga tidak ada etalase kaca obat seperti yang ada di klinik- klinik atau rumah sakit pada umumnya. Yang ada hanya tempelan rak kayu di dinding dan kardus yang disusun berdasar kreatifitas bidan yang bertugas.
Terlihat stetoskop menggantung di kursi kayu yang warnanya pudar. Di tembok mennggantung, saku kantong catatan perkiraan hari lahir beberapa pasien perbulanya, bu bidan desa itu cukup telaten dan bertanggung jawab memperhatikan pasienya.
Di tempat yang sama dengan susunan rak kardus yang amat sederhana, berbagai macam obat- obatan analgesik, antipiretik, antibiotik, antihistamin, vitamin dan lainya berjajar rapih. Bu Bidan yang di situ memanfaatkan kardus bungkus obat disusun dan dilem agar menjadi rak.
__ADS_1
Untuk yang berjajar di lemari kayu, ada partus set (alat menolong lahiran standar dasar), heacting set (alat set untuk menjahit luka dasar) dan resusitasi set (alat bantu nafas sederhana)
Di samping lemari kayu juga berdiri dua tabung oksigen portable yang besinya sudah karatan. Meski masih sangat terbatas, rupanya desa itu sempat mendapatkan perhatian dari pemrintah, hanya sumber daya manusianya yang kurang.
"Buna? Apa Jingga salah? Jingga kan hanya berusaha jadi warga negara yang taat aturan. Jingga kan belum punya STR meski Jingga bisa melakukanya?" ucap Jingga bermolog dalam hati masih terus membenarkan pendapatnya.
"Kenapa Jingga terkesan jadi orang jahat di sini?" batin Jingga air matanya menetes lagi.
Jingga kemudian meraih pintu kayu usah itu, Jingga duduk termenung lama.
Meski Buna tidak praktek dan lama meninggalkan profesinya demi anak- anak dan suaminya. Buna punya ruang khusus sendiri. Buna juga merawat anak- anaknya dengan tanganya jika ada yang sakit.
Sebenarnya Jingga sejak kecil sudah bersahabat dengan tindakan- tindakan kecil. Bahkan, jika Jingga ke rumah Oma Nurma. Jingga selalu menempel pada Opa Nando yang notabenya dokter Bedah senior dan handal.
Dibanding Bunga yang cucu kandungnya, Jingga lebih dekat dengan Opa Nando yang hanya kakek sambung. Jingga sering diajak ke rumah sakit Om Gery dan ke klinik Aunty Mira. Itulah sebabnya Jingga sangat tertarik dengan dunia kedokteran.
Hanya saja yang Jingga temui semua berjalan sesuai standar yang seharusnya. Rumah sakit dengan segala prosedur ketat terawasi, fasilitas yang serba ada dan canggih, dan juga tenaga terampil dan profesional. Bahkan beberpa dokter spesialis, seperti spesialis jantung, Opa Nando datangkan dari luar negeri.
Kini Jingga dihadapkan dengan sesuatu yang berbanding terbalik. Boro- boro ada dokter spesialis, dengan kecamatan yang jaraknya sangat jauh dan terdiri dari banyak desa, dokter umum tetap hanya ada satu, satunya dokter kontrak. Di desa yang Jingga tempati bahkan tidak ada nakes satupun baik perawat atau bidan.
Jingga merenung dan hatinya mulai tergelitim, saat memeriksa catatan pasien yang ditinggalkan bidan desa tersebut. Bisa Jingga bayangkan betapa hebat pengabdian nakes di tempat itu.
Saat Jingga menyeka matanya dan mulai menyadari kesalahanya Jingga mendengar suara adzan Yusuf yang berada di dekat rumah itu. Tidak indah seperti muadzin yang ada di masjid besar di ibukota, bahkan makhroj Yusuf dan nadanya terdengar amburadul.
Tapi entah kenapa, suara Yusuf menggetarkan jiwa Jingga. Suara adzan Yusuf terdengat begitu polos, menggaungkan ketulusan dan penghambaan yang hakiki dan penuh cinta tanpa syarat pada Tuhanya. Seperti seruan kebahagiaan ingin bersua pada Dzat memberi mereka kehidupan, tidak seperti adzan yang Jingga dengar begitu indah tapi sering terabaikan.
Jingga kemudian menutup catatan pasien bidan desa yang sedang cuti lahiran pulang ke kampung halamanya itu. Jingga terpanggil untuk ikut sholat ke mushola panggung kayu itu.
Karena sederhana dan apa adanya, tempat wudzunya masih tercampur antara laki- laki dan perempuan. Meski Mushola dan balaidesa sudah ada listriknya, tapi tetap saja belum ada pompa air, jika harus wudzu masih harus menimba dan mengisi dalam bejana yang dialirkan.
Saat Jingga mendekat arah situ, Adip yang wudzunya batal karena kentut wudzu lagi. Mereka pun bertemu dalam tatapan keheningan.
Adip menatap Jingga sekilas dengan banyak kata dalam matanya, tapi bibirnya terkunci dan mengatup sempurna. Sementara Jingga langsung mengalihkan pandangan dan menyembunyikan mata merah sembabnya.
Jingga juga tidak ingin terlihat tampak gugup dan salah tingkah. Meski sebelumnya Jingga berani menamparnya, saat berhadapan di situasi begini, Jingga jadi tak berkutik, detak jantungnya berdegub kencang tak beraturan. Jingga ada rasa marah, ada rasa bersalah, ada juga terbersit kagum mulai mencerna jalan pikiran Adip ada benarnya dan mulai mengajak Jingga berfikir dengan sudut pandang lain.
__ADS_1
Seperti biasa, Adip berjalan mengacuhkan Jingga untuk masuk ke mushola dan menjadi imam sholat untuk anak- anak.
Jingga pun menyusul menjadi makmumnya.