Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
218. Kertas Apa Itu?"


__ADS_3

Buna langsung sibuk menyelamatkan Putrinya agar tidak terlihat bodoh di hadapan mertuanya. Segimana kedudukan atau status sosial besan Buna, Buna tetap mengajari Jingga hormat, jaga sikap dan jaga aib.


Ya, perjuangan dan kasih sayang ibu memang sebesar itu. Bahkan Jingga sudah menikah Buna masih memikirkan segalanya.


Jingga si pelaku malah hanya nyengir malu. Sementara Adip hanya bisa menghela nafas lesu. Ya apapun kekurangan istrinya, saat dia sadar mengucapkan ijak qobul, semua kekurangan Jingga harus diterima.


Adip pun cekatan hendak masuk ke dalam menyelamatkan serangan haus dan hasrat ingin mual yang menimpa tamunya, terutama Pak Arman yang lelah menyetir.


"Ikut Abang, sini Abang ajari!" bisik Adip menyenggol Jingga.


"Ya...," jawab Jingga sambil manyun patuh ke Adip. Pokoknya setelah sah jadi istri tidak ada kata tidak menolak ajaran Adip.


Saat Adip dan Jingga masuk, Emak tampak keluar membawa camilan. Mereka pun berpapasan di depan pintu dapur. Adip dan Jingga pun berhenti begitu juga Emak.


"Ini buat mertuamu. Emak belum masak. Tak buatin bala-bala ya! Mertuamu mau nginep nggak? Mak potongin ayam ya? Apa itik? Emak rica- rica ya?" tutur Emak gugup. Emak hendak memberikan nampan berisi buah- buahan agar Adip menyajikanya untuk besanya dan meminta pendapat Adip.


Adip tersenyum lembut ke Emak dan memundurkan nampanya tetap di Emak.


Emak tidak tahu kalau kedatangan mertuanya bukan untuk silaturrahim biasa apalagi makan-makan. Mereka ingin menjadi reporter dadakan dan menjadikan emak narasumber.


"Maak... jangan repot- repot. Baba dan Buna nggak nginep, kok. Ini semua udah cukup!"


"Kok gitu? Tapi kamu nginep kan?" tanya Emak kecewa sekaligus khawatir. Emak kan sudah membayangkan ajak Jingga ketemu teman- temanya. Emak kan juga sudah senang sekali ada tamu besan yang sangat baik dan kaya raya ini, Bak tamu Agung.


"Insya Alloh Adip nginep. Emak nggak usah repot- repot. Udah sana cepat keluar. Baba sama Om Dika mau ngobrol sama Emak," tutur Adip memberitahu.


"Ngobrol sama Emak? Lha kalian mau kemana?" tanya Emak ke Adip dan Jingga.


"Pak Arman kan supir, tehnya kurang, masih haus, mau Adip bikinkan kopi biar seger. Sama ambil air putih Buna kan lagi hamil!" jawab Adip menutupi aib istrinya.


Padahal tamunya belum ada yang minum, teh buatan Jingga semuanya dibuang Buna ke bawah pot tanaman. Semoga aja tanaman Emak nggak mati.Hehe.


"Oh yayaya," jawab Emak.


"Sana, biar Emak akrab sama besan!" tutur Adip ingin Emaknya santui, sebab Emak terlihat gugup.


Emak pun keluar. Adip dan Jingga masuk ke dapur.


Jingga jadi penguntit Adip, tidak ada rasa bersalah yang ada rasa kalah dan malu dari wajah Jingga. Sehingga bibirnya manyun dan tidak berani melihat mata Adip.


"Huuuuft," Adip melirik Jingga gemas, ingin marah tapi juga ingin tertawa. Tapi mau bagaimanapun juga, wajah Jingga terlalu sayang untuk dimarahi, sebab begitu cantik dan imut.


"Kenapa sampai bisa ambil micin sih Yang?" tanya Adip ke Jingga sambil membuka lemari bumbu Emak letaknya di lemari kayu kecil di bawah.


Tempat Bumbu Emak mini dan sederhana, tidak seperti di rumah Baba bak di kafe mahal, di rak berkilau yang tersusun rapih bahkan ada nama setiap isinya dan toplesnya cantik.


"Ya orang, nggak ada namanya. Warnanya kan sama putih berkilau dan lembut?" jawab Jingga membela diri.


"Ck!" Adip berdecak kesal, sambil membukakan gula pasir untuk buatkan kopi tamunya, Adip sekalian ajari Jingga.


"Nih... icip satu- satu! Perhatikan satu-satu. Bedakan mana gula? Mana micin mana garam!" tutur Adip ke Jingga mengeluarkan tidak toples bekas bungkus permen. Meski begitu, Adip masih sempat sambil meracik kopi.


"Yaa....," jawab Jingga beneran patuh, dengan polosnya icip satu- satu ketiga bumbu itu.

__ADS_1


"Udah!" jawab Jingga sambil mengelap lidahnya meludah ke kain di lenganya


"Gimana? Bisa bedain?" tanya Adip.


"Hmmm," jawab Jingga malu


"Micin itu bentuknya pipih lembut Sayang, gula cenderung putih kekuningan, buliranya lebih bulat lebih keras dan lebih besar. Garam juga beda sedikit tidak beraturan lebih lembut dari gula tapi tidak berkilau seperti penyedap!"


"Ya tahu!" jawab Jingga.


"Awas salah lagi. Nih bawa ke depan sana!" ucap Adip menyerahkan nampan berisi 3 cangkir kopi dan satu teko tanah air putih.


"Lhoh kenapa Jingga yang bawa? Abang mau kemana? Kita bareng aja!" tanya Jingga, karena Adip malah bersandar bertumpu di meja menatap Jingga.


Adip tersenyum dan berbisik ke Jingga. "Abang mau perisiapin medan perang kita!" bisik Adip dengan kerlingan mata maskukinya.


"Hoh!" pekik Jingga kaget nampanya hampir oleng tapi langsung ditangkis Adip. Bahkan salah satu cangkir kopinya bergoyang, airnya sudah koyak dan tercecer sedikit.


"Tau kan maksudnya? Awas aja nolak! Pokoknya harus berhasil! Malam ini!" tutur Adip lagi dengan wajah nakalnya yang hanya dia tunjukan ke Jingga seorang.


"Ehm...," Jingga berdehem.


Jingga mendadak merinding sekujur tubuhnya dan menelan lidahnya oleng. Adip juga bisa menangkap ekspresi tekejut Jingga yang lucu dan membuatnya semakin tidak sabar bertemu malam.


"Iyah!" jawab Jingga lirih dan malu. Adip tersenyum lagi.


"Sudah sana bawa keluar. Kasian Pak Arman!" tutur Adip lagi.


"Tuh! Mulai sekarang jadi kamarmu juga!" jawab Adip menunjuk pintu di depan mereka.


Jingga mengangguk dan menelan ludahnya. Sambil berjalan keluar Jingg melirik, memperhatikan dinding kamar Adip.


Dindingnya bambu, tanpa ternit, dindingnya juga tak sampai full atap. Melihat jarak saka bambu ujung dan ujung tak terlalu luas sekitar 2.5 meter saja.


Jingga jadi tak sabar lihat dalamnya, otak Jingga langsung travelling. Jika dindingnya bambu tanpa ternit itu berarti tak kedap suara seperti di hotel atau di rumah Baba.


Hooh, Jingga harus menutup mulut rapat- rapat selama pertarungan di kamar nanti berarti.


"Haisssh," desis Jingga mengusir otak kotornya sambil berjalan keluar.


Adip tersenyum dan berjalan dengan tangan dimasukan ke saku celananya. Adip masuk ke kamar.


Sebenarnya Adip ke kamar bukan hanya memeriksa kamar masa kecilnya yang selalu dia rindu dan sudah lama dia tinggal.


Adip kan merantau dan sibuk. Adip jarang pulang, kadang sebulan sekali tapi seringnya 3 bulan sekali. Meski begitu Adip rutin kirim uang untuk Emak, padahal kan Adip masih kuliah. Emak sampai bingung, bukanya Emak dan bapak biayain kuliah Adip malah Adip yang kirim uang.


"Semoga masih ada," gumam Adip membuka lemari kayunya, dan mulai menyisir di tumpukan ijazah- ijazah SD- SMA.


Ternyata Adip hendak mencari beberapa data diri peninggalan ibunya. Adip temukan itu saat dihukum Uwak karena berantem dengan sepupunya dan dikurung di gudang.


Adip menemukan satu map berisi beberapa surat kematian ayah Adip dan berkas rumah sakit tempat ibunya dirawat. Banyak kertas yang ada di dalam map itu. Terbengkalai dan tertumpuk barang- barang di gudang.


"Alhamdulillah, ketemu!" gumam Adip menepuk-nepuk map kertasnya yang lusuh.

__ADS_1


Adip menelan ludahnya dan mendadak matanya memerah. Sebenarnya map itu hanya Adip simpan bertahun-tahun tanpa Adip tahu isinya atau baca. Sebab Adip baru membaca beberapa lembar tapi sudah sangat takut melanjutkan.


Yang Adip baca seperti surat kematian dan kepengurusan pencairan uang kematian ayahnya yang jumlahnua tidak sedikit. Adip tidak berani mengetahui lebih jauh merasa dirinya masih kecil, bukan prioritas dan tidak punya keberanian bertanya.


"Sebenarnya Ibu tertular sakit apa?" gumam Adip membuka lembaran kumpulan beberapa berkas rumah sakit ibu Adip.


Lembar berijutnya berisi beberapa nota obat rumah sakit. Surat kontrol dan lain- lain. Adip dulu takut membacanya.


Jika dulu Adip berfikir tidak ingin membuat masalalu jadi menghantuinya, membuat Adip sedih dan minder. Adip memilih tidak tahu, fokus ke depan, melakukan yang terbaik yang ada di depanya dan memaafkan semuanya.


Adip berfikir yang penting hidupnya sekarang dan ke depan bahagia, jadi sebaik- baik manusia yang bermanfaat sebisanya, menghabiskan waktunya beramal baik.


Tapi kini berbeda. Adip sudah dewasa dan mandiri, masa depan Adip sudah cerah gemerlap, tak ada yang Adip takutkan lagi.


Peran suami dan pemimpin, sudah bertengger di bahunya. Cepat atau lambat Adip akan jadi seorang ayah dan membuat dunia baru.


Untuk bisa menyusun dan membangun dunia baru itu, Adip harus selesaian PR yang dia tinggalkan. Mengetahui jati dirinya sendiri.


"Positif... HIV?" gumam Adip mengeja tulisan di tanganya. Dada Adip bergemuruh bak di serang ribuan tentara perang. Ada sakit yang menghunjam.


Kertas di tangan Adip langsung terjatuh. Deretan huruf yang terususun di kertas yang tercecer itu berbunyi kalau Ibu Adip dulu terkena HIV.


"Gleg!" Adip bernafas sejenak, seakan dunia terhenti.


"Apa ini sebabnya Uwak begitu benci padaku? Kenapa Ibu sampai sakit HIV?" gumam Adip terbengong tidak disadari air matanya menetes.


"Apa Jingga akan tetap menerimaku? Tapi aku rutin donor darah. Aku juga melakukan medikal check up sebelum kerja. Aku sehat? Kenapa ibu sampai sakit begini?" ribuan tanya menyerang otak Adip.


Jadi yang benar dokter di Pulau P atau Uwak Odah. Hanya saja yang Adip dengar Ibu Adip memang terkena penyakit menular bukan dari dirinya yang salah. Tapi Ibu Adip yang notabenya perawat di tempat tertinggal pernah bertemu pasien darurat tanpa APD yang lengkap.


Adip terbengong meneteskan air matanya tanpa tahu Jingga berdiri di depanya.


"Abang...!" panggil Jingga di depan pintu.


Adip kaget dan segera meremas kertas itu. Jingga sudah meletakan kopinya dan berniat memanggil Adip. Emak dan Om Dika butuh Adip untuk bicara serius.


"Ehm!" dehem Adip segera menyeka air matanya.


Jingga tidak berkata-kata dan langsung mendekat berusaha meraih tangan Adip dan meminta kertasnya.


"Kertas apa itu Bang? Jingga lihat Bang!" pinta Jingga curiga suaminya menangis dan langsung meremas kertas hasil lab ibunya.


"Jangan!"


*****


Hehehe.


Yang episode sebelumnya maap kalau garing. Tapi beneran lho. Karena author jarang baca cerita karya org lain, banyaknya ide author dr pengalaman keseharian.


Makanya nggak pemes kali yaa? Terserahlah Hahaha.


(Mamakku pernah beneran salah masukin bumbu masak ke adonan agar- agar dikira agar2)

__ADS_1


__ADS_2