Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
173. Ke Bukit


__ADS_3

"Kenapa liatin Baba!" bentak Baba ke Amer, Pak Dino dan Pak Nur.


Selepas Adip pergi, Amer langsung menatap tajam Babanya.


"Nggak usah gerogi gitu Ba, ketemu sama Bang Adip," ledek Amer sangat berani ke Babanya. Kalau Pak Dino kan Pak Nur cuma ngebatin, nasib pekerjaan mereka lebih penting daripada hasrat ingin tertawa.


"Kamu bilang Baba gerogi? Enak saja, tidak ada Baba gerogi!" tanya Baba tidak terima.


"Menolak ajakan silaturrahim orang itu dosa Ba. Baba udah tua, jangan banyak ngedumel dan malu-maluin Ba!" tutur Amer lagi menasehati Babanya.


"Baba malu- maluin? Jangan sembarangan ngatain kamu. Aku ini Bapakmu! Tidak sopan kamu ya! Baba stop uang bulananmu!" ucap Baba lagi masih tidak terima.


“Tuh kan? Baba gitu sukanya kalau diingetin, main ancem uang bulanan. Amer juga udah bisa cari uang sendiri Ba. Ba... Amer tahu, semua orang juga tahu, Baba itu, ayahnya Amer yang paling ganteng, yang kasih nama anaknya sesuka hatinya, yang nggak mikirin anaknya pas dewasa malu kalau diajak kenalan sama orang. Tapi sekarang anak Baba sudah dewasa. Amer kasih tahu yang bener ke Baba,” tutur Amer panjang dan menyindir Baba. 


“Tuh kan? Nih pasti gara- gara kamu dekat- dekat dengan anak kurang ajar tadi inih, jadi pintar ngelawan orang tua,” 


“Ya Ampun, Ba... anak kurang ajar siapa sih, Ba? Bang Adip? Amer ngelawan gimana sih?” 


“Hemmmm,” 


“Bang Adip kurang ajar gimana sih, Ba? Perasaan Bang Adip baik- baik saja, malah Baba yang aneh, diam bae daritadi. Katanya penasaran? Jauh- jauh ke sini mau ketemu Bang Adip, diajakin kenalan malah diam aja, dia itu menantu Baba lho, Ba!” 


“Menantu- menantu, menantu apaan? Baba mertuanya, tapi sama mertua nggak perhatian. Salah Jingga milih dia. Masa kita disuruh istirahat di sini, ditinggal pergi lagi. Udah pulang aja kita!” jawab Baba ambek lagi.


“Lah Baba mau pulang kemana emang? Sebentar lagi asar, malam- malam naik perahu bambu resiko, nggak ada lampu, nggak ada yang mau anter Ba. Baba bisa pulang sendiri? Nggak ada signal juga. Baba mau minta tolong sama siapa kalau ada buaya!” jawab Amer ke Baba nakut- nakutin seperti lagi ngomong sama Iya dan Iyu. 


“Ya habis, kita di sini kaya pengungsi, gelandangan, terdampar di tempat kaya gini, dicuekin lagi! Ditinggal pergi, kurang ajar itu memang menantu!” 


“Iyalah Bang Adip pergi, Baba diam gitu? Makanya jadi orang itu yang ramah Ba!” jawab Amer lagi. 


“Ramah- ramah, Baba ini orang tua, kalau dia mau anak Baba seharusnya dia baik sama Baba, ambil perhatian Baba, bukan cuek begitu?” jawab Baba lagi akhirnya keceplosan ingin diperhatikan menantunya. 


“Ck.” Amer pun hanya berdecak ke bapaknya itu. 


“Baba udah tua Ba... udah bukan waktunya cari perhatian, udah nih makan aja! Udah tua, nanti masuk angin lho Ba.. kalau perutnya kosong,” tutur Amer akhirnya malas meladeni Baba. 


“Ehm,” Baba hanya berdehem, melirik makananya. Lalu menatap ke Pak Dino dan Pak Nur yang menjadi pendengar setia dan terlihat bersandar nyaman di dinding gubug kayu. Mereka memilih tidak mau ikut campur di antara perseteruan anak dan orang tua.


Baba masih tengsin.


“Makan, Ba... kalau sakit rumah sakit jauh, Buna masih cantik lho, Ba!” lanjut Amer lagi meledek Babanya. 


Baba kan paling nggak rela kalau Buna jadi janda terus nikah lagi


“Ya...,” jawab Baba akhirnya mau makan, Baba menghabiskan sisa gorengan tepung dari singkong yang dicapur kelapa itu, tinggal 3 potong sih, sengaja disisakan buat Baba.


“Amer mau tidur ya Ba,” tutur Amer sopan merebahkan badanya. 


Baba diam, melihat Pak Dino dan Pak Nur juga istirahat di atas alas kayu itu.


Akan tetapi Baba tidak ikut tidur. Baba turun dari gubug panggung itu dan melihat sekeliling. Pertama Baba memperhatikan puskesmas pembantu milik tempat Bidan Risa mengabdi. Melihat detail bangunanya, jalanya. Baba juga melihat ada banyak yang mengantri berobat. 


Baba kemudian berjalan lebih jauh lagi ke arah dimana Adip dan warga sedang menyelesaikan pekerjaanya.


Meski dari kejauhan Baba memperhatikan apa yang sedang Adip lakukan. 

__ADS_1


Ternyata Adip benar- benar mengutamakan kewajibanya dahulu, memastikan warga paham, bentuk ukuran dan struktur kandangnya sesuai mau dia.


Adip mau saat dia meninggalkan desa, warga bisa melanjutkanya dengan mandiri. Jika kandang pertama itu berhasil nanti masing- masing kepala rumah tangga juga bisa mempunyai kandang sendiri di rumah. 


Adip juga mengajari petani untuk menanam tanaman- tanaman yang bisa dijadikan sumber pangan untuk hewan ataupun manusia. Adip terlihat mencangkul dengan semangat.


Karena Baba memperhatikan dari jauh, tiba- tiba Adip hilang dari pandangan Baba. 


Baba kemudian pergi dan berjalan- jalan lagi melihat sekeliling, memperhatikan struktur rumah- rumah di desa itu. Meski ibu- ibu sempat bertany- tanya siapa Baba? Baba hanya menganggukan kepala tersenyum.


Baba kemudian elihat tebing yang menjulang tinggi di desa itu. Entah apa yang Baba pikirkan, tapi beberapa kali dan setiap Baba berhenti Baba menyalakan ponselnya dan mengambil gambar.


Setelah Baba lelah dan matahari mulai turun Baba kembali gubug. 


Di gubug, ternyata Amer dan rombongan yang tadi tidur semua sudah bangun menunggu dengan wajah kesalnya ke Baba.


Akan tetapi ada hal yang membuat Baba tertegun, Amer tak sendirian melainkan ada orang lain. Jika dilihat rambut dan penampilanya lebih tua dari Baba, hanya saja tidak ada Adip. 


Baba pun berjalan mendekat dan menganggukan kepala menyapa. 


“Selamat sore, Bapak!” sapa orang – orang itu. 


“Selamat sore?” jawab Baba kali ini Baba bisa bersikap normal selayaknya orang berumur dan berilmu. 


“Baba habis darimana? Bang Adip nyariin Baba,” bisik Amer menarik ujung baju Babanya. 


“Saya dengar, anda Ayahnya Nona Jingga?” tanya salah seorang warga. 


“Ya, benar, saya ayahnya,” jawab Baba tersenyum tenang dan dingin. 


Saat kepala desa dan kepala suku hendak menjawab mereka terhenti, dari arah belakang Baba, Adip datang dengan nafas terengah- engah. 


“Alhamdulillah, Baba sudah di sini,” tutur Adip nyeletuk seenaknya memanggil Baba Ardi dengan sebutan Baba seperti istrinya dan adik- adiknya. Adip benar- benar terlihat khawatir dan berusaha mencari Baba. 


“Ehm...,” Baba melirik Adip "Percaya diri sekali manggil Baba," batin Baba. Adip terlihat tersenyum lega dan keringetan. 


Adip juga bahagia, kemudian mendekat ke rombongan kepala suku. 


“Selamat sore, Guru tua, bapak kepala suku? Terima kasih sudah datang kesini,” sapa Adip ke Guru Tua. 


Guru Tua mengangguk dengan tatapan teduhnya sebagai sesepuh, sejak tidak ada badai dan hukuman selesai, guru tua berbalik sayang ke Adip. Apalagi setelah bidan Risa mengutarakan pendapatnya kalau Jingga korban Tama.


“Perkenalkan, Ini ayah kami, Pak Ardi Gunawijaya, ini Pak Dino, sekertaris, Ayah kami, dan ini Pak Nur, asisten Pak Dino,” tutur Adip lagi ke Guru Tua dengan percaya diri menyebut Baba ayahnya.


Pak Dino dan Pak Nur mengangguk tersenyum.  Baba hanya diam melirik Adip tapi ikut mengangguk dan tersenyum pada kepala suku.


“Apa itu sekertaris dan Asisten?” tanya kepala suku.  


Baba jadi mengernyit, Guru Tua dan Kepala suku terlihat tua dan berwibawa ternyata tidak tahu apa itu sekertaris dan asisten.


“Sekertaris dan asisten itu, orang yang bekerja pada ayah kami dalam usaha berdagangnya,” jawab Adip menjelaskan dengan bahasa simpel. 


“Oh...,abdi?” jawab kepala suku mengangguk dan menyamakan posisi dengan seorang abdi.


“Bisa dibilang begitu,” jawab Adip. 

__ADS_1


“Oh ya, Guru Tua, kami mohon ijin untuk menggunakan rumah di atas bukit untuk kami menginap malam ini, hanya satu malam, bolehkah?” tutur Adip meminta. 


“Ya silahkan! Dua malam juga silahkana!” jawab Guru Tua. 


Ternyata Adip pergi selain menyelesaikan tugasnya, berpamitan besok tidak kerja. Adip juga mendatangi rumah kepala suku dan meminta ijin menginap di rumah kosong tempatnya dihukum, untuk mertuanya istirahat.


Adip memikirkan kenyamanan ayahnya di desa itu, tidak seperti yang Baba pikirkan, kurang ajar dan tidak perhatian. 


“Terimakasih, bapak tua,” jawab Adip membungkukan kepala sopan. 


“Selamat datang di desa kami, Bapak- bapak, menginaplah dengan nyaman. Kebetulan besok sore ada upacara persembahan laut, datanglah kalian bisa menikmati hidangan terbaik kami,” ucap Guru Tua menyambut ramah Baba Ardi. 


Baba Ardi pun tertegun mendengar undangan itu. Baba reflek menganggukan kepala dan membungkukan badan, setuju.


“Siap, Bapak! Kami akan datang,” jawab Adip ikut menghormati kepala suku.


Adip kan belum berbincang dengan Baba dan belum tahu kalau istrinya sedang dalam perjalanan menemui dirinya. 


Guru Tua dan Kepala suku kemudian pergi. Kini Adip jadi berhadapan dengan Baba yang daritadi tengsin. 


“Mari, Ba, kita ke gubug di bukit hukuman, di sana lebih luas dan nyaman,” tutur Adip lagi kini dengan berani memanggil Baba.


Adip kan tidak tahu kalau daritadi pria di depanya ini mengeluhkan sikapnya, jadi cuek.


Adip dengan percaya diri dan sok kenal, manggil Ba... bukan Tuan lagi. Adip memang suka ngeledek mertuanya. 


"Percaya diri sekali kamu memanggilku, Ba. Memang kamu siapa?" jawab Baba ketus.


"Gleg," Adip menelan ludahnya.


tapi Adip tidak tersinggung atau minder, dalam hati Adip. "Persis nih manyunya kayak Jingga pas ketemu pertama di mobil angkot merah,"


Adip pun tersenyum.


"Maaf Tuan, mari ikut saya, kita bisa istirahat di rumah yang lebih luas dan nyaman di atas sana. Anda ingin bertemu dengan saya kan?" tutur Adip lagi santai dan tenang siap meladeni Baba dan ikut alurnya.


"Ehm....," Baba pun berdehem mati kutu, kenapa Adip tidak pucat atau gentar dicueki.


Tanpa di suruh, Amer mengkode Pak Nur dan Pak Dino untuk berjalan lebih dulu meninggalkan menantu dan mertua yang sedang pedekate itu.


Akhirnya mau tidak mau mereka berjalan naik ke atas bukit. Adip berjalan di belakang Baba. Baba jadi tengsin mau ajak ngobrol tapi malu.


*****


Ketemu Jingganya lama yaa???


Iya maaf...


Jingga udah mau nyampe kok, sabar yaaaa.... author mah emang gini. Hihi...gimana dong?


Makasih atas sayangnya ke Baba Ardi.


Hehehehe.


Insya Alloh double Up hari ini.

__ADS_1


__ADS_2