Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
63. Tebar Pesona


__ADS_3

Gegara kejadian siang tadi, anak- anak jadi kenal nama Jingga. Beberapa anak laki- laki tampak iseng menggoda Jingga. Sementara beberapa anak perempuan tampak sinis ke Jingga. 


Jingga pun jadi kembali pendiam dan memilih duduk di belakang lagi selma kelas selanjutnya. Tama pun memilih sedikit menjauh dari Jingga. Pembekalan hari itu selesai. Anak- anak pun sibuk berkemas untuk keberangkatan besok dan outbond besok. 


“Gue dheg- dhegan nih? Kita ditaruh di kabupaten dan kecamatan mana ya?” tanya Tari. 


“Semoga kita deketan!” jawab Uti. 


“Semoga di tempat yang bagus banyak makanannya dan banyak tokonya!”  celetuk Jingga. 


Tari mengulangi kebiasaanya melempar bantak ke Jingga. 


“Kan udah dijelasin Jingga, daerah sasaran kita itu daerah tertinggal, kita aja naik perahu untuk transportasinya!” jawab Uti kesel ke Jingga. 


“Yaya, nggak usahh ngegas gitu juga kali. Kan gue cuman berharaap, apa salahnya sih berdoa!” jawab Jingga. 


“Woy... woy jangan ribut! Ngomong- ngomong kita besok dipencar apa tetap satu kelompok sih? Terus kira- kira Bang Adip kerjanya dimana ya?” celetuk Tari lagi. 


Kini gantian Uti melempar gulingnya ke Tari. 


“Adip- adip mulu lo! dibilangin, stop mengidolakan seseorang yang nggak mungkin buat Lo! Tuh terima cintanya si Ibra tuh!” jawab Uti sensi kalau temanya bahas cowok. 


“Sirik banget sih Lo!” jawab Tari. 


“Kayaknya kita bakal dipisah deh, secara kan jurusan kuliah kita sama, kita kan dibagi biar membaur!” ucap Uti berfikir. 


“Yah gue nggak punya temen dong!” cletuk Jingga. 


“Makanya Lo, jangan Isos Ngga!” sahut Uti. 


“Isos gimana?” tanya Jingga. 


“Ya lo pikir sendiri!” jawab Uti lagi. 


“Senyum kalau samaa orang, kenalan. Jangan diem wae. Jadi orang nggak anggep lo sombong!” jawab Tari menasehati. 

__ADS_1


“Hemmm ya!” jawab Jingga iya aja tapi tetep aja Jingga susah asal senyum ke teman baru meski perempuan. Jingga kan nurun Baba Ardi yang nggak ramah, nggak kaya Amer, Ikun dan Nika yang nurun Buna Alya. Jingga nggak ramah aja banyak yang suka apalagi kalau Jingga ramah, pasti akan banyak cowok ke Gran. 


Saat mereka sedang bercengkerama begitu. Pemberitahuan jam makan malam datang. Mereka pun bergegas ke dapur umum untuk makan malam bersama. 


Sepanjang bertemu dengan teman- temanya, Jingga mengingat pesan Tari untuk tersenyum dan ramah ke temen yang dilalui. Kebetulan dan kepasan, teman- teman Jingga yang Jingga temui adalah teman- teman cowok. Benar saja mereka jadi merespon berbeda bahkan menggeser Tari dan Uti untuk bisa kenalan dan deket- deket dengan Jingga. 


“He...” Jingga mencoba tersenyum sesuai saran Tari ke cowok yang menyapanya. 


“Namana Jingga ya?” sapa anak laki- laki bernama Andre mahasiswa dari provinsi lain. 


“Iya!” jawab Jingga mengangguk. 


“Boleh kenalan dong! Minta nomer hpnya boleh?” tanya cwok itu. 


Jingga yang selama ini hidup di dampingi pengawal, orang- orang juga sungkan mendekat jadi gelagapan dan keringetan di dekati sembarangan cowok apalagi terlihat rese. 


Pemandangan itu tidak luput dari mata Tama. Tama pun mengepalkan tanganya. 


“Ternyata lo mutusin gue buat centil – centil sama pria lain? Akan gue tunjukin letak lo seharusnya dimana, Baby!” batin Tama semakin datang ide jahat. 


“Pantes aja lo, dijahatin sama cowok, udah tau cantik, hobbynya mancing- mancing gitu!” batin Adip salah paham. 


Pak Rendi yang sudah selesai makan di ruang khusus pemateri datang sengaja menemui Jingga. Pak Rendi mengintip dari luar. Melihat calon istrinya di kelilingi cowok- cowok Pak Rendi jadi tidak terima. Pak Rendi pun langsung masuk mendekat ke arah Jingga. 


“Ehm. Ehm!” Pak Rendi berdehem di belakang kursi Andre yang duduk di sebelah Jingga. 


Semua anak- anak di meja Jingga kemudian menoleh ke Pak Rendi. 


“Di sana masih ada meja kosong! Bisa pindah ke sana!” usir Pak Rendi sopan menunjuk ke kursi kosong di sudut dapur asrama. 


Anak- anak yang mengenal Pak Rendir sebagai dokter dan pemateri itu langsung sungkan dan mengangkat piringnya pergi. 


“Pak Rendi!” pekik Jingga. 


“Jangan suka tebar pesona pada pria yang nggak dikenal, bahaya!” bisik Pak Rendi. 

__ADS_1


“Tebar pesona?” tanya Jingga polos tidak menyadari. Jingga kan hanya berusaha mengikuti saran Tari agar di nanti punya teman saat berpisah dengan Uti dan Tari. Apa ini malah dikatai tebar pesona. 


“Cepat habiskan makananmu!” ucap Pak Rendi . 


“Ya!” jawab Jingga. 


Pak Rendi kemudian memperhatikan penampilan Jingga dari atas sampai bawah. Jingga memakai pakaian yang Pak Rendi berikan. Pak Rendi puntersenyum lega dan percaya diri. Pak Rendi yakin, sedikit demi sedikit Jingga akan jatuh cinta padanya. 


Di meja lain, Tama kegerahan melihat Pak Rendi duduk lebih dulu. 


“Kurang ajarrrr, dasar pria bangkotan!” umpat Tama. 


Tadinya, setelah Tama selesai makan Tama mau menghampiri Jingga dan menunjukan ke orang- orang kalau Jingga dalah pacaranya. Melihat Pak rendi datang duluan Tama jadi enggan dan tak berselera makan. Tama langsung bangun dan pergi.


Adip yang duduk di pojokan melihat Tama kesal dan pergi. adip tau Tama adalah pria yang semalam dia hajar. Adip juga tau, Pak Rendi adalah orang yang berkelas. Adip juga tahu siapa Jingga dan keluarganya. 


“Ada cinta segitiga rupanya, kasian sekali laki-laki itu jadi sad boys!” batin Adip menyimpulkan dari dalam hati. 


Adip kemudian memperhatikan Pak Rendi dan Jingga. “Apa motivasi gadis itu ikut kelas ini ya? Apa aku salah mengambil keputusan membuatnya ketrima ?” batin Adip berpikir lagi. 


Tidak ada yang tahu kecuali sahabat Adip di panitia, kalau Jingga ketrima itu Adip yang meminta menambahkan kuota tanpa mengurangi kuota yang seharusnya. Adip meminta dengan alasan mahasiswa yang berasal dari fakultas kedokteran itu langka, di pedalaman akan bermanfaat. Padahal tadinya Adip ingin mengerjai Jingga. 


Setelah memperhatikan dari dekat bagaimana perangai Jingga, betapa polos, bodoh, rapuh dan kupernya Jingga, Adip jadi merasa bersalah. Apalagi melihat Jingga diperlakukan tidak baik oleh Tama. Adip jadi merasa bersalah membuat Jingga ketrima. 


Sementara Jingga menyelesaikan makanya. Jingga melirik ke Tari dan Uti. Rupanya Tari dan Uti lebih dulu pergi dan lebih dulu selesai makan. 


Uti dan Tari berfikir Jingga sudah ada bersama Pak Rend, jadi mereka ninggalin Jingga. 


“Yah, kok mereka ninggalin gue?” batin Jingga. Melamun memegang piring kotornya. Melihat Jingga melamun, Pak Rendi langsung mengambil piring Jingga dan membawanya ke tempat piring kotor. 


“Saya bisa sendiri Pak!” 


“Sudah tunggu saja di sini, habiskan minummu!” ucap Pak Rendi dewasa dan penuh perhatian. 


Jingga mengangguk diam dan meminum minuman yang dia pegang. 

__ADS_1


__ADS_2