Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
138. Pulanglah.


__ADS_3

Angin laut bertiup kencang menerpa dedaunan, membuat mereka bergoyang, menari diiringi nyanyian alam, kicauan burung- burung hutan. Mereka berbahagia. Langit begitu cerah sampai di hari itu.


Adip dan Amer duduk bersisihan menatap ke laut luas yang ada di bawah sana karena mereka di atas bukit.


"Ehm..." Amer berdehem tidak nyaman.


Sementara Adip duduk tenang menunggu.


Amer menatap Adip sesaat merasa tidak nyaman. Amer pernah merasa takut merepotkan Adip, ternyata malah Adip dan Jingga ada hubungan.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Adip santai.


"Sory Bang! Kak Jingga udah cerita ke Adip, dan.." Amer hendak memberitahu Adip,menegaskan kalau Baba mereka sudah menentukan tanggal pernikahan Jingga.


"Maaf!" jawab Adip bijak.


"Aku yang bawa Jingga sampai sini!" tutur Adip kemudian.


"Hah!" pekik Amer di luar dugaannya. "Bagaimana bisa?"


"Maaf, aku sudah jatuh cinta terhadap kakakmu. Aku tahu mungkin aku lancang, aku tidak pantas meminang kakakmu. Tapi aku mencintainya!" lanjut Adip secara jantan dan berani ke Amer.


Amer hanya bisa menelan ludahnya.


"Sejak kapan Bang Adip kenal Kak Jingga?"


"Belum lama," jawab Adip kemudian tersenyum mengingat pertama kali mereka bertemu.


"Amer nggak masalah Bang, tapi Baba Amer bukan orang yang mudah melepaskan Kak Jingga. Tentang kasus Kak Jingga dan Tama saja, pasti Baba akan marah!" jawab Amer bercerita.


Amer juga menjelaskan ke Adip tentang aifat ayahnya yang sangat posesif dan tidak mau dibantah.


Tentang bagaimana Jingga di rumahnya selalu melawab ayahnya. Amer juga cerita tentang adik- adiknya dan Bunanya.


Sebenarnya semua itu sudah Adip cari tahu lewat internet. Adip pun mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


"Aku bisa mengerti. Besok pulanglah,bawa Kakakmu kembali ke ibukota!" ucap Adip menepuk bahu Amer kemudian.


"Aku minta maaf Bang. Aku tidak bermaksud mencegah hubungan Bang Adip dan Kak Jingga, aku hanya memberitahu keluargaku!" tutur Amer merasa bersalah.


Adip tersenyum lagi,


"Santai aja! Aku tahu kok!" jawab Adip lagi.


"Apa kakak akan melepaskan Kak Jingga?" tanya Amer lagi.


Adip tidak menjawab hanya mengalihkan pandanganya menatap ke laut yang lepas. Menghela nafas dan berfikir.


Adip masih mempunyai tanggung jawab kontrak kerja dengan dinas terkait di pulau Panorama. Adip juga belum mempunyai pekerjaan tetap. Sebagai laki- laki yang berfikir berdasae logika, Adip butuh waktu dan persiapan untuk menemui Baba Jingga.


"Aku perlu bicara pada Kakakmu!" ucap Adip.


****


Sementara Jingga di dalam gubuk memejamkan matanya, mengalihkan pandangan dunia nyatanya dan membuka dunia anganya sendiri.


Dada Jingga pun berdetak dan mengembang berbunga dan merekahkan senyum bahagia. Besok pagi hukumanya akab berakhir,Jingga tidak sabar kembali ke desa T.


Hari itupun Adip lebih banyak bersama Amer. Amer juga tidak memberi kesempatan Jingga dekat- dekat dengan Adip. Hingga malam tiba, Adip meminta ijin ke Amer berbicara dengan Jingga.


Jingga pun tersipu dan tersenyum riang menyangka Adip sedang mengajaknya berkencan.


Di hadapan api unggun kecil yang Adip nyalakan mereka berdua duduk sambil melihat bintang.


"Apa kita sedang berkencan?" tanya Jingg centil membuka percakapan.


Adip tersenyum melihat ke Jingga yang tampak polos dan imut itu.


"Besok ikutlah Amer ke kota!" ucap Adip langsung lada intinya.


"Hoh?" pekik Jingga kecewa. Lalu Jingga menghitung tanggal mereka sampai dan kontrak pengabdianya.

__ADS_1


"Bukankah masih ada 10 hari lagi? Aku mau di sini!" jawab Jingga.


"Jangan jadi anak durhaka!" lanjut Adip lagi.


"Aku tidak durhaka! Aku justru buat Buna Bangga. Buna dan Baba juga pasti akan bangga padaku. Amer juga harus liat aku praktek!" ucap Jingga menggebu.


"Pulanglah. Bidan desanya akan segera kembali. Kau akan jadi mallpraktek!"


"Tapi aku masih ingin di sini. Apa kamu mengusirku? Bukanya kamu bahagia aku di sini?" tanya Jingga lagi.


"Aku akan banyak bekerja di balai veteriner, kandang akan segera jadi, aku tidak selamanya di desa. Apa kamu akan tetap mau tinggal di sini?" tanya Adip menguji niat Jingga.


Jingga diam sejenak dan menatap Adip, tiba- tiba wajah Jingga memucat dan wajahnya memerah sedih menyadari perkataan Adip.serius mengisyaratkan pisah.


"Jadi kamu tidak ke desa T lagi?" tanya Jingga.


Adip menggelengkan kepala.


"Kan aku pindah- pindah. Tugasku meneliti dan memastikan hewan- hewan pakan di sini sehat!" jawab Adip.


Adip ingin menguji, apakag Jingga hanya sebataa ingin main- main dan jatuh cinta sesaat dengan dirinya. Adip ingin tahu, apa Jingga benar- benar sudah adaptasi dan menikmati suasana di desa.


"Aku tetap ingin menyelesaikan tugasku di sini. Apapun itu, aku tidak mau pulang bersama Amer!" jawab Jingga kekeh.


Adip bernafas lega. Jingga benar- benar sudah berubah.


****


Maaf kaak.


dari kemarin sampai lebaran sepertinya akan sibuk..


Mood nulisnya juga jadi beda. Kalau maksain Up takut nggak dapet feelnya.


Tapi seberapapun popularitas Jingga, aku cinta kok sama Jingga dan semua isinya. Jadi akan tetap akan aku lanjutin. Cuma, maaf kalau nggak rajin Up nya.

__ADS_1


__ADS_2