Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Pamit.


__ADS_3

Mendengar semua penjelasan Adip. Yang semua berisi kebaikan, bukan hanya kebaikan dunia, tapi akhirat. Cinta dan kekaguman Jingga bertambah berkali- kali lipat.


Kini tangisnya bukan tangis sedih lagi. Tapi tangis haru diberi suami sebaik Adip. Tangis bersyukur sama Tuhan dipertemukan laki- laki sebaik Adip.


Cinta dan cita- cita mulia Adip pun menjadi doppingan semangat dan kekuatan yanh dasyat untuk Jingga. Ya, Jingga tidak mau menjadi istri yang menghalangi. Justru Jinggalah yang harus mendorong Adip tetap maju.


Sebagai istri yang cinta pada suaminya, Jingga kini mengerti dan menerima.


Walau ini pertama kali dalam sejarah hidup Jingga menjalani sesuatu yang dinamakan berjuang. Menahan segala ego keinginan dan semua kesenangan. Jingga akan mencobanya.


"Tapi janji Bang Adip nggak selingkuh kan?" tanya Jingga lagi masih terisak.


Adip tersenyum lagi.


"Sayangku..., apa perlu, Bang Adip bikin surat pernyataan di atas kertas. Kalau sampai Bang Adip selingkuh. Nii... si adik kecil kamu, boleh kamu kebiri atau kamu potong deh. Abang rela Sayang," jawab Adip mantap.


Jingga masih manyun.


"Demi Alloh, demi apapun, hati Abang untuk kamu. Satu- satunya buat Abang. Kalau pun Alloh takdirin poligami, Abang hanya akan melakukan itu atas persetujuanmu,"


"Nggak Jingga mau dibagi! Janji ya!"


"Iya janji!"


"Tapi kalau nemuin kaya kita kemarin gimana?"


"Bang Adip akan lebih memilih nyawa Bang Adip yang dikorbanin jika nemuin kaya kemarin. Asal Jingga tahu, Bang Adip rela nyari kamu, mukulin Tama ya karena Abang cibta sama kamu, Sayang. Kalau Abang nggak cinta kamu, ngapain Bang Adip ajak pergi malam- malan. Masa bodo da! Pernikahan kita itu, bukan nggak disengaja, tapi sesuatu yang Abang ingin dan Abang minta sama Alloh." tutur Adip memberitahu semuanya sekarang. Kalau Jingga memqng pujaan hatinya yang dia sebut dalam doanya.


"Oh iya? Sejak kapan?" tanya Jingga malu.


"Dari Bang Adip ketemu kamu, Bang Adip jatuh cinta dan tertarik sama kamu. Ya meski belum ada rasa ingin memiliki. Tapi kamu buat Bang Adip tertarik dan penasaran. Masa kamu nggak ngerti sih?" tanya Adip lagi.


"Beneran sejak pertama?" tanya Jingga kini matanya berbinar bukan lagi sedih.


Adip mendekat dan mengacak- acak rambut istrinya sejenak.


"Ya.. tepatnya sejak kamu kasih Bang Adip uang 100 ribu!" tutur Adip ke pertemuan sejarah mereka yang bagi mereka sangat mengesankan.


"Isshhh....," desis Jingga manyun.


Adip pun gemas dan tangany terulur untuk memencet dan menarik pipi gembul dan mulus istrinya.


Sekarang kan halal mau ditinggal lagi. Pokoknya dipuas- puasin pegang- pegang istrinya.


"Waktu itu Abang tega banget sih sama Jingga. Jingga kan beneran nggak tahu Bang. Malah dikerjai dimintai uanh banyak lagi?" ucap Jingga kesal.


"Soalnya kamu cantik. Lucu lagi. Kamu perempuan paling cantik yang pernah Abang temui, Sayang. Seneng aja kerja ditungguin kamu. Waktu itu Abanh lagi sedig. Uwak marahin Banh Adip. Bang Adip kan kesana mau ke makam Ibu. Bang Adip malah dimaki dan disuruh- suruh. Ya udah. Abang seneng banget ketemu kamu," ucap Adip lagi.


Jingga mendengar itu jadi trenyuh, senang dan berbunga.


"Terus uang itu buat apa?" tanya Jingga lagi.


"Sekalian Bang Adip ajarin kamu ya. Jadi setiap pengolahan makanan di sini, Abang minta ke karyawan kita, sebagian buat pakan kucing liar. Selain itu juga tiap hari jum'at Abang sama temen- temen angklung kita kumpul bareng makan bareng. Kamu kenal Kak Vivi kan?" tutu Adip memberitahu sekaligus mengajari.


"Iyah!"


"Itu temen organisasi Abang. Dia juga yang ijut dukung, kadang mau isi materi kalau pas kita ke panti dan kasih makaanan gratis ke anak jalanan. Abang sih pengen ajak mereka ke pantinya Buna. Tapi Bang Adip denger katanya kalau mau jadi anak asuh Baba dan Buna tetep ada seleksinya. Jadi Bang Adip, temen- temen Bang Adip punya kayak wadah gitu buat ajarin mereka dulu baca tulis. Bareng sama kak Vivi," tutyr Adip lagi


Mendengar penjelasan suaminya Jingga mewek lagi.


"Jadi Bang Adip nggak pacaran kan Sama Kak Vivi?" tanyq Jingfa lagi.


"Astaghfirulloh...mana ada Sayang, Bang Adip pacaran. Kamu perempuan pertama buat Bang Adip sayangku. Vivi itu rejan Abang,"


"Jadi uang seratus ribu, untuk dibagi- bagi?" tanyq Jingga.


"Iyah...," jawab Adip mengangguk


"Jingga cinta sama Bang Adip. Cintaa banget," ucap Jingga dengan wajah imut dan gaya manjanya.


Adip sangat senang dengar penuturan itu apalagi Jingga sambil nangis. Nangia terharu dan penuh cinta.


"Selama Bang Adip pergi. Kamu terusin ya. Teman- teman Banh Adip udah taju semua kok kamu istri Abang, kamu bisa gabung sama Vivi. Ada Sulis, ada Stefani. Besok sebelum Bang Adip berqngkat abanh ajak ke baskam. Oh Iya Tari sama Uti juga beberapa kali ikut!" tutut Adip lagi.


"Iyah!" jawab Jingga.


"Di sini kan semua organisasi udah jalan, banyak mahasiswa dan teman- teman volunteer yang ikut bantu. Makanya Bang Adip pengen tambah wawasan. Ruang Inspirasi itu, cita- cita Bang Adip dan banyak temen-temen Banh Adip yang udah rasain duni berbeda di sana. Kalau bukan kita anaj muda siapa lagi. Kalau tidak dari hal kecil nggak akan dimulai,"


"Bang Adip berharap kenal Baba. Kenal Pek Dhe Gery. Kenal Pak Dhe Farid. Kita bisa lanjutkan perjuangan. Jadi please.. kamu ngerti kan. Hal terbaik dalam hidup adalah saat kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Sayang kan Baba yang kaya raya kalau meninggal tanpa tinggalin jejak?"


"Baba udah setuju. Baba juga pernah nawarin Bang Adip untuk investasi, buka lahan pemukiman, perkebunan, peternakan sekaligus wisata di sana!" tutur Adip lagi.


"Jadi Bang Adip ingin kita nanti tinggal di sana dan bangun Pulau Panorama?" tanya Jingga mengambil kesimpulan.


"Kurang lebih begitu?"


"Bang Adip nggak takut pengalaman Bapak dan Ibu Bang Adip keulang lagi?" tanya Jingga


"Justru itu Sayang. Bang Adip nggak pengen ada orang- orang yang bernasib sama kaya Ibu Bang Adip. Banh Adip banyak berharap dari Pak Dhe Gery untuk lebih memperhatikan Pulau Panorama, Abanh juga bwrharap sama kamu, Sayang. Tapi kalau kamu nggak mau kerja nggak apa- apa. Jadi istri Bang Adip aja. Kasih Abang anak yanh banyak kaya Bun...," tutur Adip sambil bercanda.


"Iiiih....," keluh Jingga cubit pinggang Adip.


"Tapi tetep selesaikan kuliah ya. Bang Adip akan rasa bersalah sama Baba dan Buna kalau kamu nggak lulus. Demi Bang Adip.Kalau bisa kamu kejar sksnua biar lulus paling cepet,"


"Iyah... nanti Jingga minta tolobg sama Baba biat Jingga koas dan Intershipnya di sana," jawab Jingga.


"Jadi setuju kan kita tinggal di sana?" tanya Adip melebarkan senyum sumringahnya.


"Jingga mau minta belikan pesawat, sama kapal yang bagus!" jawab Jingga lagi.

__ADS_1


Adip tertawa..


"Emang minta ke siapa?"


"Baba lah. Baba kaya Bang...," ucap Jingga


Adip mengangguk. Mendadak minder.


"Tabungan Abang berarti terlalu sedikit yaa?" tanya Bang Adip.


"Banyak kok. Nanti Jingga belajar sama Tari!" ucap Jingga nah gitu dong


"Oh ya... Bang. Kalau nanti Jingga jalan- jalan jajan nonton bioskop gitu- gitu boleh?" tanya Jingga meminta ijin.


"Boleh asal nggak sama cowok!" jawab Adio.


"Mang kenapa kalau sama cowok?" tanya Jingga centil


"Oooh, tak jitak kamu!" jawab Adip maju ke Jingg gemas dan memencet hidung Jingga.


"Abaang iih," teriak Jingga manja. Karena dipencet hidungnya menghindar dan terjatuh di kasur. Adip pun menyusul meniindih di atasnya.


"Kamu punya Bang Adip seorang!" ucap Adip di atas Jingga.


Kini mereka berhadapan sangat dekat


Tak menyiakan kesemlatan selagi masih bersama Jingga mengulurkan tangabya menangkup kedua pipi suaminya.


Jingga kemudian menautkan bibirnya dan mencium Adip.


Adip membalasanya sehingga berlanjut. Menjadi ciuman yang brutal dan penuh semangat.


Mereka saling menautkan bibir meluapkan rasa cinta yanh begitu besar. Saling mengutarakan kerinduan yang pasti nanti akan sangat menyiksa.


Tidak hanya ciumaan. Mereka berdua kemudian melakukan penyatuan cinya mereka untuk yang kesekian kalinya. Tanpa lelah tanpa ada ujung dan rasa bosan


Berhenti sejenak, istirahat lalu berlanjut lagi, entah berapa kali mereka saling melepaskan haasrat dan puncak rasa nikmat mereka. Yang pasti keduanya sama-sama menggebu. Sama- sama ingin memberi.


"Haaaahhh....," sekitar jam 5 pagi mereka mengakhirinya.


Adip kemudian merbahkan tubuhnya di samping Jingga.


Jika tadi terdengar suara desaaahan yang saling bersahut- sahutan, tiba- tiba terdengar terisak.


"Kamu menangis?" tanya Adip menoleh.


Benar saja Jingga menangis.


"Bang Adip over ya? Apa sakit lagi?" tanya Adip memeluk Jingga yang terisak dan meringkuk.


Adip pikir Jingga kelelahan


Tapi Jingga menggelengkan kepala, lalu berbalik dan memeluk Adip erat.


"Huuuft....," Adip tidaj bisa menjawab dan hanya bisa mengeratkan pelukanya.


"Semakin cepat berganti, akan semakin terlalui. Sayang...yuk bangun yuk!" ajak Adiip bangun mengingat sebentar lagi subuh tapi mereka masih bertubuh polos dan bersatu.


Bukanya bangun Jingga malah semakin merapatkan tubuhnya, seakan sangat berat untuk berpisah dan meninggalkan oeraduan mereka.


"Capek banget yah?" tanya Adip ke Jingga.


Adip benar- benar merasa kalau dirinya hajar Jingga habis- habisan, tapi Jingga tak mengeluh sama sekali dan justru dia yang membangunkan dan meminta lagi.


"Nggak cuma pegel dikit!" jawab Jingga sekarang sudah tidak kesakitan lagi.


"Ya udah bangun yuk!"


"5 menit lagi, Jingga pengen peluk Bang Adip begini," ucap Jingga mereka berpelukan tanla batas apapun.


Adip membiarkanya sejenaka, dan membelai rambut Jingga sejenak.


"Sayang. Dosa lho kalau ninggalin sholat, bangun mandi sholat abis itu boleh tidur lagi," bisik Adip merayu.


"Gendong!" jawab Jingga manja.


Pagi itu dengan sisa- sia tenaga yang ada. Adip memanjakan Jingga. Memperlakukanya seperti Putri raja. Mandi bersama, saling memilihkan pakaian ganti.


Lalu Adip secara spesial masak untuk Jingga. Tidak banyak sih hanya masak mie instan tapi banyak topingnya. Jingga sendiri yang tadinya tiduran jadi memaksa bangun dan belajar buat minuman hangat untuk suaminya.


Mereka berdua kemudian makan semangkuk berdua.


"Suapin yak," ucap Jingga


"Aaak,"Adip pun memberikan suapan mi instan.


sampai mereke berbut dan makan mie sambil mainan. Satu mi saling dimakana dari ujung kw ujung sampai berujung saling menauutkan bibir lagi.


Entahlah mereka tak ada bosan melakukan itu. Serasa di kedua bibir mereka adan candunya.


"Abang mau lagi?" tanya Jingga saat tangan Adip gemas berada di atas dua bulatan Jingga, tapi berhenti.


"Enggak. Kita harus segera ke Emak," jawab Adip kemudian melepas tanganya.


"Iyah. Bentar lagi Baba dan Buna telepo pasti!" jawab Jingga.


"Kamu nggal ngantuk kan?" tanya Adip.


"Kita tidur diperjalanan nanti!" jawab Jingga dewasa.

__ADS_1


Ya setelag berunding semalam Jingga sekarang lebih dewasa bersikap. Jingga sudah bertekad bersiap dan ambil konsekuensi.


Mereka kemudian bangun.


"Jingga yang cuci Bang!" ucap Jingga merebut mabgkok mereka..


"Abang aja!"


"Nggak apa- apa. Bang Adio siapin yang buat Emak aja!" jawab Jingga


Adip pun mengangguk. Mereka bekerja sama melakikan pekerjaan rumah.


Setelah siap benar saja, Baba dan Buna jenguk mereka. Kali ini jiga bersama Oma.


Adip dan Jingga pun langsunh menyapa Baba dan Buna.


"Masuk dulu. Minum teh dulu Ba," tutur Adip ramah.


"Langsung aja kali yaak. Biar kita lebih banyak waktu di sana!" jaawab Buna bijak.


"Ya Buna," jawab Adip dan Jingga lalu ke belakang ambil tas.


"Oy ya Ba... kalai minta tolong bawa barang- barang ini di bagasi bisa?" tanya Adio.


"Apa ini?" tanya Baba


"Kado dari teman- teman Adip. Daripada Jingga dan Adip.Emak lebih butuh!" jawab Adip.


Baba mengangguk


"Oke!" jawab Baba.


Mereka pun bertolak ke kampung Emak. Menjenguk Emak dan bapak.


Kabar dari Om Dika kemarin, setelah seharian Om Dika berbincang dengan polisi semua bukti kejahatan Uwak terkumpul. Uwak dijadikan tanhana penggelapn dana orang tua Adip, memalsukan surat kuasa, memalsukan Kk ktp dsb.


Bahkan Uwak juga ada kasus sengketa lain. Karena Uwak sakit Uwak masuk ke rumah sakit khusus tahanan. Pagi ini rumah mereka di beri garis polisi.


Sementara anak- anaknya juga sudah tidak diperkenankan tinggal di rumah itu.


Awalnya, Mang Jojo sesuai mau Adip dan kesepakatan mereka boleg tinggal di tempat anak- anak. Tapi mereka menolak.


Mang Udin dan yang lain lebih memilih tidur di rumah sakit menemani Bapak dan merawat Emak selagi Adip belum tiba.


"Beli makanan dulu kali ya?" tutur Buna di jalan melihat area tempat makanan


"Boleh Bun," jawab Jingga.


"Emak sama Bapak sukanya apa Dip?" tanya Buna lagi perhatian.


"Suka semua Bun," jawab Adip


"Oke!" jawab Buna


Jingga dan Buna hendak turun


"Sayang..." panggil Adip ke Jingga


"Ya...,"


"Anak- anak juga belikan!" tutur Adip.


Mereka pun memborong makanan untuk Emak Baba. Mang Jojo. Mang Udin Yulia dan yanh lain.


Setelah sampai semua pun bahagia. Emak sudah bisa diajak berkomunikasi meski perban ada dimana- mana mengingat Emak paling banyaj kena api dan bara.


Sambil berbincang mereka makan bersama Si kaya dan si miskin tetap tak asa beda. Makan di lorong rumah sakit.


Sementara Iya dan Iyu yang tidak boleg masuk berlarian di area bermain anak- anak.


Di kesempatan itu Adip pun membuka suara.


"Baba.. Bapak.Emak Buna.. sekalian selagi kumpul.Adip mau ngomong ya?" ucap Adip membuka.


Semua yang tadinya memegang makanan terhenti.


"Ada apa Dip?"


"Adip minta maaf ya Mak. Adip nggak bisa tunggu Emak sampai sembuh," ucap Adip.


"Ya nggak apa- apa. Kan ada Bapak dan yang lain. Yang penting kamu tetap sesekali menjenguk kan?" jawab Bapak


"Maaf Pak. Adip mau berangkat lagi!" jawab Adip.


"Berangkat?" pekik Oma Rita.


"Berangkat ke mana Dip?" tanya Buna


"Adip harus berangka lusa ke Pulau Panorama. Tapi kan Adip belum tahu makam Ayah Adip. Jadi besok pagi. Jadi hari inu, Adip pamit ke Emak Bapak sama makam ibu ma Adek. Besok pagi pamit temen-temen Adip ma ke makam Bapak. Lusa Adip berangkat," pamit Adip menjelaskan


"Kok cepet banget sih?" ucap Buna kecewa.


Lalu Buna menatap Jingga yang menunduk.


Sementara Emak yang sudah hafal sifat Adip tak berkomentar, tapi matanya berkaca- kaca. Baba dan Bapak, sendiri sebagai laki- laki diam.


"Kamu siap Nak?" tanya Buna ke Jingga.


"Kami sudah berunding dan membuat kesepakatan Buna!" jawab Jingga.

__ADS_1


"Apa tidak bia diperpanjanh cutinya Dip. Atau sudah, mundur saja. Paling ganti rugi kan?" tanya Oma


"Adip punya tanggung jawab Oma, Adip. Mohon maaf," jawab Adip tegas.


__ADS_2