
Di saat orang lain terlelap, berlindung di balik selimut dari udara malam yang dingin berselimut kabut pegunungan. Dua insan yang sedang dimabuk cinta itu justru panas berpeluuh keringat. Mereka menyatu dalam alunan cinta yang katanya membawa pahala.
“Ouuuh..,” lengguuh Adip merasa seperti di puncak hampir seperti mengejang.
Jingga yang sedang practic by do ing juga mulai memahami situasi itu dan langsung beranjak bangun dan tergelelak di samping suaminya.
“Kenapa bangun?” keluh Adip merasa sangat jengkel.
Seharusya di puncak pelepasan seperti itu tetap pada tempatnya, seperti tadi pagi, jika harus digantung begitu, ternyata sangat menyiksa.
“Ingat.. Bang, pesan Oma dan Buna! Itu aja Jingga masih khawatir sama yang tadi pagi,” tutur Jingga sambil melemas juga.
“Hooooh.....,” Adip menghela nafasnya istiratah dan mengelap keringatnya yang bercucuran.
"Ya makanya kalau menurur Bang Adip udah terlanjur ada yang masuk ya udahlah, lanjut aja nggak usah KB KB," jawab Adip emosi.
"Punya anak juga harus dipersiapkan Bang!"
"Tapi kan hak mutlaknya Tuhan, Sayang. Orang tuamu aja anaknya banyak," ucap Adip.
Bukanya mesraaan mereka berdua malah berdebat. Jingga diam, Adip juga diam menenangkan nafas mereka yang masih tersengal.
“Pantas...,” gumam Jingga tiba- tiba.
“Pantas apa?” tanya Adip kaget dan langsung memiringkan tubuhnya menatap istri di sampingnya.
“Abang rasanya gimana?” tanya Jingga mengalihkan perdebatan.
“Rasa apanya?”
“Barusan! Lebih enak kan? Nggak bunyi ngkit ngkit juga kan?” jawab Jingga.
Adip kemudian tesenyum, kesalnya hilang juga.
“Bang Adip nggak nyangka, istri Abang yang polos ini, ternyata? Kamu pinter banget Sayang, buat Bang Adip seneng,” jawab Adip dengan tengilnya.
“Hehehe...,” Jingga malah ketawa kecil dengan muka malunya.
Mendadak senyum Adip hilang.
“Eh tunggu. Kamu tadi bilang, kamu lihat Buna dan Baba? Apa kamu pintar gegara liat baba dan Buna begituan?” tanya Adip kemudian.
Jingga mengangguk.
“Hoho...,” Adip terbengong antusias. “Nakal ya kamu jadi anak!” ucap Adip memencet hidung mancung istrinya.
“Isssh, nggak sengaja, Bang!”
“Kapan?” tanya Adip.
“Kemarin di hotel,” jawab Jingga dengan polosnya.
“Kok bisa?”
“Pas Bang Adip tidur, Jingga sedih banget, Bang Adip kaya kecewa banget sama Jingga. Jadi Jingga berniat mau curhat ke Buna, mau tanya dan minta tips gitu!” jawab Jingga dengan centilnya.
“Terus kamu diajarin langsung gitu sama Buna dan Baba, suruh lihat gitu!?” tanya Adip syok pikiranya sedengg.
“Plak!” spontan Jingga pukul lengan Adip yang menyangga kepalanya. Adip kan sedang miring menghadapnya.
“Nggaklah, emang Buna sama Baba apaan sampai ngajarin gitu. Ya nggak!” jawab Jingga galak dan spontan.
“Terus gimana ceritanya kamu lihat Baba dan Buna begituan?”
“Ya Jingga telepon Buna nggak diangkat. Ya udah, Jingga minta aja kunci kamar Buna. Jingga masuk!” ucap Jingga dengan polosnya.
“Daaan, Baba sama Buna lagi begitu?” tebak Adip.
“Hooh!” jawab Jingga tanpa rasa bersalah,
“Ck... dasarr... pamali tahu. Nggak boleh begitu! Pantas saja dari tadi siang, di kamar matanya nggak bisa tenang! Takut karma ya!” tanya Adip lagi.
“Hehehe iyah!” jawab Jingga.
Jingga memanh selalu curiga ada yang intip dan mendengarkan pertarungan mereka.
“Terus jadinya kamu tetep curhat nggak?”
“Tetep!” jawab Jingga.
“Whoah? Berarti kamu berhentiin mereka, mereka tahu kamu lihat?” tanya Adip lagi.
“Ya nggaklah Bang. Malulah aku. Aku pergi, terus yang itu? Kan aku balik ke kamar, yang itu terus kita itu...,” jawab Jingga senyam senyum ingat mereka pas pagi- pagi di hotel.
“Oh yang kamu pegang- pegang Bang Adip?”
“Hooh,” jawab Jingga lagi malu, kan abis itu mereaka juga bercuumbu mesra.
“Terus curhatnya kapan?”
“Pas Buna ke kamar kita,”
“Kamu cerita gitu kalau kita gagal?”
“Iyah!”
“Aiiih,” Adip langsung menutup mukaya malu sambil mengubah posisi jadi tiduran tanpa sanggahan.
“Nggak boleh, Sayang, Bang Adip malu nih!”
__ADS_1
“Kan sama Buna Jingga, ibunya Jingga sendiri,” jawab Jingga bela diri.
“Tapi nggak boleh, itu rahasia kita!”
“Ya gimana, kita sama- sama amatir!” jawab Jingga lagi.
“Nggak! Bang Adip nggak amatir, itu alami! Bisa kok. Kamu ngrendahin bang Adip? Nyatanya kamu juga bisa keenakan gitu kan?” jawab Adip merasa tersinggung. "Kalau nggak percaya sekarang pun bisa Bang Adip buktikan!" lanjut Adip lagi merasa tertantang.
"Ssshh... nggak nggak capek!"
"Ya jangan raguin suamimu lah!"
“Iya iya. Eh tapi Bang Adip pernah liat film itu nggak?”
“Nggak!”
“Masa?”
“Beneran! Kalau sampai ketahuan kan dimaarahi Abah. Bang Adip nggak lulus lah kalau lihat begituan, selain itu, Bang Adip tahu, dosa!”
“Terus kok bisa? Bang Adip belajar darimana bisa bikin Jingga begini?” tanya Jingga iseng. Sebenarnya Jingga tahu, tapi ngetes aja.
"Pletak!" Adip malah jitak kening Jingga.
"Tuh kan KDRT. baru disenengin juga!"
“Ck. Laki- laki kan mimpi Sayang. Nggak! Nggak ada Bang Adip lihat- lihat begitu. Lihat punya kamu udah cukup sangat!”
“He...yaya, baguslah.” jawab Jingga sekarang mengerti dan percaya.
Adip orangnya sibuk di luar hape diliat kebiasaan di Pulah Panorama juga jarang pegang ponsel. Jingga yakin suaminta jujur.
“Pokoknya nggak boleh cerita- cerita lagi ya. Ini rahasia kita. Intip – intip orang juga nggak boleh! Dosa! Awas kamu tak jitak nanti! Mata kita nanti dimintai tanggung jawab lho!” tutur Adip menasehati.
“Ya...kalau baca atau lihat?” tawar Jingga lagi.
“Ya tergantung apa bacaanya, kalau niatnya untuk mencari kepuasan dan menyimpang ya tetap nggak boleh, tetap dosa. Agama kita kan ajarin, kita jaga ******** kita. Salurkan sesuai pada tempatnya. Boleh menyalurkan hanya pada pasangan halal kita yang diridzoi Alloh. Apapun bentuknya selain itu tidak boleh! Tapi beda, kalau bacaan kamu seperti tuntunan ilmu asal kamu jaga otak dan hati kamu, kamu kan dokter!” tutur Adip pelan dan dewasa, di sini Adip berperan sebagai pembimbing Jingga.
“Contonhnya?” tanya Jingga lagi centil- centil menggoda.
“Ya kamu, lebih tahulah dari Abang!” jawab Adip lagi.
Adip sekarang nggak mau tertipu lagi, Jingga sok sokan polos tahunya udah banyak tahu.
“Ya... yaa...,” jawab Jingga tersenyum.
Lalu Jingga memeluk tubuh suaminya dengan erat. Menyandarkan kepalanya di dada Adip yang kekar, nyaman sekali. Apalagi mereka masih sama- sama tanpa pelindung selain selimut.
“Bersih- bersih yuk!” ajak Adip kemudian sebelum memejamkan matanya.
“Mandi? Dingin Bang! Jingga nggak kuat nahan dingin, airnya kaya es gitu, besok pagi aja kenapa?” tanya Jingga manyun.
Sikat gigi aja kerasa banget dinginya. Jingga nggak sanggup jika harus mandi.
"Hemmm," jawab Jingga malas masih ingin peluk Adip.
“Risih kan? Bau juga!” jawab Adip tetap membimbing Jingga untuk melakukan hal yang baik sebagaimana mestinya.
“Ya...” jawab Jingga.
Jingga pun akan selalu nurut, jika Adip sudah mengeluarkan sisi kedewasaanya. Bagaimana nggak nurut, mempunyai suami seperti Adip yang buat Jingga memenuhi semuanya Jingga sangat bersyukur.
Toh apa yang Adip katakan semua berimbas demi kebaikan Jingga di dunia ataupun di akhirat. Masa sekarang ataupun masa depan.
Mereka berdua kemudian segera mengenakan pakaian dan keluar ke bilik sumur mereka di belakang rumah yang letaknya terpisah.
“Dingin banget ya Bang, tapi bulanya cantik banget,” tutur Jingga melihat langit.
“Iyah... kamu suka?”
“Jadi ingat anak- anak desa Semilir Bang!” ucap Jingga lagi.
“Iyah. Bang Adip juga suka. Ya Udah yuk!” ajak Adip segera ke sumur.
“Ya!” jawab Jingga.
Mereka ke sumur, sesuai nasehat Adip, membersihkan sisa- sisa perhelataan panas mereka.
Jika sedang promil katanya memang sebagiknya dijeda. Tapi mereka kan biasa- biasa saja. Agar tidak mengundang kuman dan bau, mereka segera bersih- besrih.
Saat mereka di sumur mereka melihat ada 3 motor vickson yang tak biasa terparkir di seberang jalan depan rumah Emak.
“Kok itu banyak motor Bang? Di luar gitu nggak ada pencuri apa?” tanya Jingga ke Adip.
“Mana?” tanya Adip.
“Itu!” tunjuk Jingga.
Adip memperhatikan sejenak.
“Itu sepertinya bukan motor Wak Ujaang,” gumam Adip. Memelototkan matanya dan melihat sekilas plat nomernya.
“Terus motor siapa?” tanya Jingga.
Adip kemudian melihat sekeliling semua terasa masih sepi dan tak terlihat ada orang.
“Entahlah, tamu mungkin!” jawab Adip positif thingking.
“Sekarang jam 10 Bang,”
__ADS_1
“Ya kita kan nggak tahu kepentingan orang lain! Udah yuk masuk yuk!” ajak Adip ke Jingga masuk ke rumah dan tak usah paranoid.
“Jingga pengen liat, bulan Bang!” ucap Jingga manja.
“Katanya dingin?”
“Peluk Abang dong!” jawab Jingga kini penyakit agresifnya sudah kembali.
“Okeh,” jawab Adip menyambut dengan riang.
Adip lalu mengajak Jingga duduk di batanganan akar kayu yang dilebutkan Bapak menjadi kursi. Kursi sederhana yang biasa Emak pakai saat Eemak bekerja merapihkan kayu bakar, memilah dan membersihkan hasil tani, dan sebagainya.
Mereka duduk di balik tiang bambu dan ada beberapa barant Emak yang diususun. Dari arah rumah mereka tak terlihat.
Lama pasangan suami istri itu duduk berdua di tengah malam menikmati langit bertabur bintang dan dihiasi rembulan.
Adip merangkul dan memeluk Jingga agar hangat. Jinggapun menyandarkan bahunya.
“Jingga mau di samping Bang Adip terus!” ucap Jingga kemudian.
“Ya.. kan kita emang udah suami istri, memang seharusnya kamu di samping abang. Sampai tua nanti. kaya Emak dan Bapak. Kaya Baba dan Buna, kita menua bersama!” jawab Adip.
“Maksud, Jingga, Jingga nggak mau LDR, Bang!” ucap Jingga lagi.
Adip diam dan mengeratkan pelukanya sambil mengambil nafas berat, lalu menelan ludahnya. Jangankan Jingga, maunya Adip pun begitu, apalagi baru saja mereka mencicip indahnya dunia dan sedang candu- candunya. Tentu sangat berat.
“Satu tahun itu cepet Sayang!” jawab Adip.
“Lama...” jawab Jingga tidak terima.
“Ya terus gimana? Sayang kan kuliahmu!” jawab Adip.
“Ya Abang yang undurin diri, aja!” jawab Jingga lagi.
“Nggak bisa!” jawab Adip.
“Kenapa?”
“Kan Bang Adip udah tanda tangan kontrak,” jawab Adip menjelaskan.
“Undurin diri aja. Baba bisa kok bantu buat bayar pengunduran diri dari kontrak itu,” jawab Jingga mulai mengandalkan Babanya.
“Sayaaaang,” tegur Adip dengan wajah dewasa. Adip kini menatap Jingga
“Ingat ya kesepakatan kita. Kita hidup harus berlatih tanggung jawab dan komitmen," ucap Adip matanya serius.
"Dunia itu hanya sementara dan waktu akan terasa sangat cepat berjalan. Jangan hanya memprioritaskan kesenangan dan nafsu kita. Kita sudah menikah. Harus ada yang namanya perjuangan, target dan kebermanfaatan. Agar kelak kita tidak menyesal, memanen apa yang kita tanam. Boleh melibatkan orang tua di hal urgent yang kita sudah tidak bisa.” tutur Adip lagi.
Jingga yang manja jadi diam, manyun dan melepaskan pelukanya.
Rasanya berat sekali jika harus berpisah, meski sementara.
Apalagi harus menunggu. Jingga tidak bisa membayangkan betapa beratnya hari- harinya di depan jika harus menahan rindu di setiap harinnya.
“10 bulan 3 minggu lagi kok, kita akan kumpul lagi. Di dalam 11 bulan itu, kita juga bisa saling kunjung tiap libur. Sebentar kok sebentar Sayang. Kamu fokus kuliah pasti nanti nggak kerasa!” rayu Adip memberi pengertian.
Jingga masih manyun, rasanya masih tetap sama, berat. Apalagi otak Jingga suka overthingking dan cemburuan.
“Tiap bulan Abang kan ke kota. Nanti Bang Adip telpon kamu. Kamu tiap libur kuliah kan juga bisa ajak Baba berkunjung. Baba sepertinya tertarik untuk bangun desa di sana!” ucap Bang Adip lagi.
Jingga masih diam malah matanya berkaca- kaca.
“Abang janji Sayang. Cinta Abang cuma buat kamu, kamu seorang, Jingga Pelangi Putri, abang janji nggak ramah- ramah sama gadis- gadis atau ibu- ibu, semua punya Bang Adip punya kamu seorang, janji!” rayu Adip lagi.
Jingga masih tidak menjawab tiba- tiba hidung Jingga mengendus sesuatu.
“’Kaya bau bensin nggak sih Bang?” celetuk Jingga tiba-tiba.
“Heessshh hessshhh...,” Adip ikut mengendus bau itu.
Merka berdua kemudian melihat sekeliling dan menoleh ke belakang.
“Astaghfirulloh, Bang,” pekik Jingga kaget.
Mata Adip pun terbelalak. Mereka langsung bangun.
“Grudak...,” terdengar suara orang berlari. Begitu Adip dan Jingga berdiri. Mereka sepertinya kaget dan tidak tahu Adip dan Jingga di luar.
“Tolooong...,” spontan Jingga langsung berteriak gemetaran.
Terlihat Api menyambar di rumah Emak bagian depan. Tapi masih sedikit.
“Wooy jangan lari woy!” teriak Adip langsung sigap berlari mengejar, melihat dua orang melempar drigen bensin. Adip yakin itu disengaja, jadi harus tangkap si pelaku.
Jingga yang ditinggal Adip kebingungan.
“Tolooong! Toloong kebakaran!” teriak Jingga ekencangnya.
Jingga berlari ke sumur mencari selang. Sayangnya Jingga tidak menemukan itu.
Jingga kemudian menyalakan kran air dan mengisinya ke ember sambil panik melihat perkembangan api. Apinya ternyata begitu cepat merambat, rumah Emak kan bukan permanen. Apalagi cuaca hari ini panas dan terang.
“Aduh bagaimana ini? Airnya terlalu sedikit mana cukup?” Jingga sangat panik.
“Emak,” pekik Jingga teringat Emak.
“Emaaak.. masih di dalam, bagaimana ini?” Jinga berfikir cepat.
Jingga langsung menyambar semua handuk yang ada di sekelilingnya.
__ADS_1
Jingga memasukan semua handuk ke ember. Jingga juga menceburkan diri ke bilik penampungan air. Tidak peduli air sangat dingin, meski sweaternga tebal yang penting basah.
Jingga berlari ke dalam membawa tumpukan handuk basah itu mencari Emak.